17/01/21

Cara Suami Menceraikan Istri Nikah Siri

Cara Suami Menceraikan Istri Nikah Siri
CARA SUAMI MENCERAIKAN ISTRI YANG DINIKAH SIRI

Assalamualaikum ustadz,

Saya sudah 18 tahun menikah dgn suami saya, Alhamdulillah rumah tangga sy berjalan baik-baik saja dan sudah di karuniai 2 orang Putri. Tetapi bulan Oktober 2019 saya di kejutkan dengan chat dari seorang wanita di handphone suami sy. Isinya meminta kiriman uang untuk biaya anaknya yg ternyata anak wanita itu dgn suami sy.

Sy tidak sengaja mengetahui karena saat itu ingin meminta WiFi dr HP suami sy, sy marah besar saat itu dan meminta penjelasan yg sebenarnya. Suami menceritakan mengenal wanita tersebut akhir tahun 2016 di tempat hiburan malam. Lama tidak berjumpa sekitar Maret 2017 mereka bertemu lg dan mulai saat itu mulai intens bertemu dan akhirnya melakukan hubungan intim. Kemudian di bulan Oktober mereka berpisah, awal tahun 2018 mereka di pertemukan kembali oleh teman mereka dan saat itu wanita itu mengaku hamil anak suami saya.

Suami sy tidak mau menikah tp karena ancaman wanita itu akan memberitahukan kepada istri ( saya) maka dengan berat hati akhirnya mereka menikah. Dan lahirlah bayi tersebut awal Mei 2018, setelah terjadi pernikahan suami sy dan wanita itu tidak pernah bertemu dan saat melahirkan hanya mengirimi foto anaknya sj. Agustus 2018 suami sy melihat anak tersebut. Setelahnya tidak pernah bertemu lagi sampai 0ktober 2019, di saat itu pun hanya di kirimi foto saja dan kemudian meminta nafkah untuk anak tersebut.

Saya marah besar dan dgn segala pertimbangan sy memasukkan gugatan cerai sy di PA, hal tersebut membuat suami sy tersadar dan meminta maaf dan akan menceraikan wanita itu. Dia sudah mengucapkan ikrar Talak tapi tidak di depan wanita tersebut. Dan akhirnya sy mengalah dan memilih bertahan dlm pernikahan ini.

Yang perlu di ketahui wanita tersebut sejak awal suami sy kenal dan sampai saat ini adalah seorang Pemandu Lagu di tempat hiburan malam yg terkenal menyediakan layanan Plus2, sudah menikah sebyk 3 kali dan memiliki 2 orang anak, tidak tau pasti apakah statusnya bercerai dgn suami sebelumnya atau tidak.

Yang ingin saya tanyakan
1. Apakah pernikahan suami sy dengan wanita tersebut sah menurut Islam?. Wali nikah adalah tetangganya menurut keterangan wanita itu. Sementara wanita tersebut masih memiliki saudara laki-laki, paman dan sepupu dr garis ayahnya. Dan hanya di hadiri oleh suami sy, wanita tersebut serta penghulu yg suami sy juga tidak tau keabsahannya karena wanita itu yg menyiapkan, Jd hanya mereka bertiga.

2. Jika pernikahan siri tersebut sah bagaimana cara yang betul menurut Islam untuk mentalak wanita itu?

3. Apakah wajib bagi suami sy menafkahi anak tersebut sementara waktu di nikahi usia kandungan sudah menginjak 5 bulan?

4. Apakah salah jika setelah ini sy melarang suami sy bertemu lg dengan wanita itu dan anak tersebut. Selain tidak ingin suami kembali berhubungan dgn wanita itu, sy juga tidak ingin suami sy terjerumus kembali ketempat maksiat (klub malam).

Sebelumnya sy ucapkan terimakasih banyak dan sy mohon untuk tidak mempublish nama sy. Ini menyakut perasaan anak2 saya yang sangat bangga terhadap ayahnya.

JAWABAN

1. Pernikahan seorang wanita dewasa yg dinikahkan oleh pria yang ditunjuknya sebagai wali itu boleh dan sah. Baca detail: Menikah dengan Wali Hakim

asal syarat lain juga terpenuhi yaitu adanya dua saksi. Baca detail: Pernikahan Islam

2. Suami cukup menyatakan pada istrinya: "Aku cerai kamu", maka sudah jatuh talak 1.

3. Ya, wajib. Selagi dinikahi saat hamil, maka anak itu sah menjadi anaknya secara agama. Baca detail: Status Anak Pernikahan Wanita Hamil Zina

4. Tidak salah kalau memang wanita itu sudah dicerai. Namun demikian, tetap wajib bagi suami anda untuk menafkahi anaknya. Baca detail: Kewajiban Ayah Menafkahi Anak

RUMAH TANGGA: ISTRI MENTALAK SUAMI

Assalamu'alaikum wr. wb

Mohon pencerahan dari pertanyaan saya berikut :

1. Jika seorang istri berkata pada suami "ini uang 100rb. Ambillah dan jatuh talak 3" jika suami mengambil uangnya apakah berlaku talak 3 ?

2. Jika seorang istri berkata dalam hati ditujukan untuk suami.
" jika kamu tak pulang 3 hari maka jatuhlah talak 3" kemudian suaminya tidak pulang lebih dari 3 hari. Apakah berlaku talak sedangkan itu hanya dalam hati ?

3. Jika seorang istri berkata secara langsung pada suami " jika kamu tak pulang selama 3 hari maka jatuhlah talak 3" jika suami tidak pulang lebih dari 3 hari apakah jatuh talak 3 ?

4. Seorang istri membaca komik dan ada narasi yg bersuarakan "aku terima cerai darimu" dan itu di ucapkan oleh sang istri. Apakah berlaku talak di dalamnya ?

5. Dan bagaimana hukumnya jika istri bericara pada suami " jika kamu tidak pulang dalam 3 hari maka jatuh talak 3 " sedangkan saat itu si suami tidak memperhatikan dan tidak mendengarkan istrinya.
Lalu si suami tidak lebih dari 3 hari.
Apakah jatuh talak 3 ?

Sekian. Mohon jawabannya.

Terima kasih

Wassalamu'alaikum wr.wb.

JAWABAN

1. Tidak jatuh talak. Karena talak itu baru jatuh apabila pernyataan talak itu keluar dari mulut suami. Ucapan talak dari istri itu tidak ada dampak apapun secara hukum agama.

2. Tidak jatuh talak. Baik ucapan itu dalam hati atau secara lisan. Alasannya sama dg no. 1: karena istri tidak punya otoritas untuk memutuskan pernikahan. Yg punya hak dan otoritas untuk memutuskan pernikahan itu ada dua pihak yaitu suami atau hakim pengadilan.

3. Tidak jatuh talak. Lihat jawaban 1 dan 2.

4. Tidak berlaku talak.

5. Tidak jatuh talak.
Baca detail: Cerai dalam Islam

13/01/21

Pendidikan Anak Tiri Tanggung Jawab Siapa?

Pendidikan Anak Tiri Tanggung Jawab Siapa?
PENDIDIKAN BAGI ANAK TIRI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

Bogor, 24 Desember 2019

Ustadz, saya hampir 4tahun menikah dengan seorang duda yang memiliki 2 orang anak (laki 15th dan perempuan 11th) sedangkan saya sendiri membawa 3 anak (2laki 9th & 5th dan 1perempuan 7th).

Dari awal saya selalu terapkan kepada anak-anak saya tentang kedisiplinan dalam beragama. Alhamdulillah 3 anak saya masih dalam koridor baik, dalam artian masih menuruti nasihat saya khususnya dalam beribadah(sholat,menutup aurat, tilawah,tahfidz,murojaah dan belajar Alhamdulillah sudah menjadi agenda rutin mereka tiap hari)

Anak saya dari suami dari sejak kecil memang tidak pernah di kerasin ayahnya. Ayahnya selalu menuruti apa maunya anak. Dan alhasil anak-anaknya tantrum, saat ada yg tidak sesuai dg keinginannya maka mereka marah2 meletup2 sampai banting2 barang..

Anak perempuan suami saya sekarang usianya 11th dan sudah baligh sejak usia 10th padahal anaknya pendiam, namun sering sekali anak saya ini berbohong, jika diminta sholat dia pura2 wudhu memakai mukena masuk kamar tapi ternyata tidak sholat hanya duduk2 lalu buka mukena keluar kamar, (sering sekali saya intip dari jendela hampir setiap hari seperti itu dilakukan untuk mengelabui ayahnya) dan juga kata asisten rumah dia sering ambil uang belanjaan diam2 tanpa ijin..
Tapi saya tidak pernah laporkan ke suami karena khawatir ia tidak berkenan..

Memang anak perempuan suami saya ini sepertinya kesayangan ayahnya, jd jika saya tanyakan anaknya didepan ayahnya kenapa tidak pernah sholat padahal sudah baligh? Suami saya hanya diam dan tidak berusaha ikut menasihati mungkin khawatir anaknya tersinggung.. saya agak sedih, kenapa hal sholat didiamkan dan sepertinya bukan hal besar..

ayahnya lebih fokus bagaimana anak2nya senang didunia, dituruti semua maunya anak, apalagi soal makanan, anak perempuan suami saya memang sangat suka makan makanan enak dan setiap keinginannya selalu dipenuhi ayahnya, kadang menurut saya berlebihan, nafsunya makannya selalu dipenuhi ayahnya padahal saya pikir sudah cukup makannya tapi ayahnya selalu menawarkan makanan lagi dan lagi, saya melihatnya hal ini menjadikan anak menjadi seorang yang tamak dan serakah.
Untung saja anak saya sendiri makannya tidak banyak, jadi ketika kakaknya makan makanan enak anak2 saya juga tidak pernah berebut..

Saya sering sekali pesankan kepada anak2 saya jangan pernah sekalipun tinggalin sholat, berbuat jujurlah karena Allah Maha Melihat, saya sengaja keraskan biar dia juga dengar, saya selama ini tidak berani marah sama dia, padahal kepada anak2 saya sendiri saya sangat keras khusunya urusan ibadah (kadang anak2 saya bertanya kok kakak boleh kok kakak tidak pernah dimarahin ibu?, Alhamdulillah saya sudah jelaskan dan mereka faham)

Pernah sekali semua anak saya dibelikan makanan kecil oleh tetangga sebelah, dan saya bilang ke semuanya untuk bilang terima kasih dulu sebelum makan makanannya, namun anak perempuan suami saya ini langsung banting makanannya, mukanya merah padam marah, menutup telinga teriak-teriak banting-banting barang dan muka saya dilempari barang..

Saya pernah komunikasikan tentang hal ini kepada suami namun sepertinya suami tidak berkenan dan bilang, biar 2 anaknya ini dia saja yang didik.. sejak saat itu saya tidak berani terlalu intervensi terhadap didikan anak2 suami saya..

Anak laki2 suami saya saat ini di pesantren, jika pulang kerumah hanya main hp kadang sampai subuh, saat azan malah tidur dan akhirnya sholatnya terlewat, waktu kembali ke pesantren saya pernah cek di hpnya (sengaja dibeliin hp oleh ayahnya) ternyata ada aplikasi konten dewasa, saya sampaikan ke ayahnya, tapi ayahnya sepertinya santai saja.. saat SD juga sering marah2 banting2 barang berantakin rumah jika apa yg dia mau tidak dituruti.. ia juga sama tidak banyak bicara, namun soal sholat sepertinya ayahnya kurang menganggap penting, kadang lebih kasihan anaknya kalo sedang kecapekan dibiarkan tidur daripada kasian harus dibangunin untuk sholat.. sedih liatnya..

Yang mau saya tanyakan ustadz :
1. Bagaimana saya harus bersikap ustadz, karena nasihat saya pun selalu diacuhkan dan seolah olah tidak mendengar..
2. Apakah didikan anak suami saya menjadi tanggung jawab saya? Walau anaknya sudah baligh?

Semoga Allah bukakan pintu hidayah untuk anak2 saya

Mohon bimbingannya ustadz, Jazakallah Khoir..
Semoga Allah membalas kebaikan ustadz sekalian dengan kebaikan yang melimpah aamiin

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

JAWABAN

1. Cukup bagi anda untuk menyampaikan nasihat yang baik. Selanjutnya itu terserah yang menerima nasihat untuk menerima atau tidak. Yang lebih wajib dari anda adalah ayah kandungnya.

2. Tidak. Ia menjadi tanggung jawab ayah kandungnya. Namun anda sebagai ibu tirinya yang dekat secara lokasi, maka sudah sepantasnya anda memberi perhatian dan nasihat yang baik baginya. Tidak perlu kesal apabila nasihat itu tidak diikutinya. Doakan saja yang terbaik agar dia menjadi anak yang saleh dan penurut. Baca doa berikut dan khususkan untuknya agar dia bisa berubah: Doa agar Hati Tenang


WALI NIKAH

Assalamualaikum Ustad...
Langsung saja, kronologinya begini...

Saya perempuan (19), sedang kuliah. Di saat yang bersamaan, ada seorang laki laki yang ingin menikahi saya. Memang sebetulnya dia bukan orang baru di kehidupan saya, karena itu setelah pendekatan kembali secara singkat dan tanya jawab visi misi kedepannya, saya yakin akan menerima lamarannya.
Yang jadi masalah adalah ketika saya membicarakan hal tersebut kepada orang tua. Mereka menolak mentah mentah dengan alasan saya masih kuliah. Saya pun sudah berkata saya akan tetap melanjutkan kuliah, karna menurut saya menikah bukan penghalang untuk itu, bahkan di beberapa kasus justru bisa menambah semangat. Namun mereka malah meremehkan dan tetap menolak, bahkan ketika dia sudah datang ke rumah saya.
Menurut beberapa pembahasan di website islami, alasan tersebut termasuk alasan tidak syar'i untuk menolak lamaran. Karena itu saya ingin mengajukan permohonan wali adhal di pengadilan agama setempat.
Namun gagal karena syarat administratif yang membutuhkan KTP mereka.

Yang ingin saya tanyakan adalah
1. Apakah benar alasan orang tua saya termasuk alasan tidak syari?
2. Saya merasa sudah siap fisik dan mental untuk menikah dan calon saya pun memiliki pekerjaan. Salahkah saya yang ingin menyegerakan menikah karena ingin beribadah kepadaNya??
3. Sempat terpikir untuk menikah secara siri, namun kami khawatir tidak sah karena bukan wali nasab yang menikahkan. Berdasarkan kronologi di atas, apakah jika kami memilih menikah siri akan sah di mata islam?
4. Apakah kami benar benar tidak ada pilihan selain siri?

Sebagai tambahan,
1. Saya tidak punya saudara dan saya tidak mengenal keluarga dari garis ayah.
2. Prosedur permohonan wali adhal:
Mendaftar nikah di KUA -> Keluar surat penolakan dari KUA -> Membuat permohonan di Pengadilan Agama dengan persyaratan surat penolakan KUA
Faktanya untuk pendaftaran nikah tidak diterima apabila tidak lengkap walaupun sudah dijelaskan tentang wali adhal.

Terima kasih ustad...
Wassalamualaikum

JAWABAN

1. Ya, itu termasuk alasan tidak syar'i.

2. Tidak salah.

3. Nikah siri dalam arti menikah dengan wali hakim itu sah dan dibolehkan. Baca detail: Menikah dengan Wali Hakim

4. Kalau ayah tetap tidak mau jadi wali, maka pilihannya adalah nikah dengan wali hakim.

Dalam madzhab Syafi'i, kalau wali utama, yakni ayah, tidak mau jadi wali, maka wali berikutnya adalah wali hakim. Bukan wali nasab yang lain. Baca detail: Pernikahan Islam

19/06/20

Laundry Syariah

LAUNDRY SYARIAH


Jadi saya menemukan ada laundry syariah di kota saya.
cara mencucinya ialah..

pakaian yang ada najisnya di mesin cuci dg deterjen, dibilas dan kemudian diberi softener. Nah setelah itu baru baju disucikan kembali dengan air mengalir.
Pertanyaan saya :

1. Apakah tahapan mencuci seperti itu sudah benar ? Karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya jika menggunakan detergen berarti najis bercampur dengan sabun bahkan softener.

2. Saya masih bingung ttg standar baju yang suci daru najis ketika dibilas dari deterjen. Apakah cukup melihat dari tidak adanya busa di baju, atau hingga air bilasannya mengalir dari baju itu bebas dari busa sama sekali ?

Karena saat saya membilas.. Baju sudah tidak ada busa, tapi air yang mengalir dari baju tersebut masih ada gelembung2nya sedikit dan kecil2.. Tanda bahwa airnya mengandung detergen.

3. Apa dimaafkan sisa wangi detergen atau sisa sabun sedikit pada baju najis yang telah dibersihkan dg detergen dan telah disucikan/ dibilas dg air ?

JAWABAN

1. Tahapan mencuci baju yang benar sebenarnya tidak sulit. Rinciannya ada dua sbb:
a) Apabila baju itu terkena najis: (i) dibuang najisnya; (ii) dibilas satu persatu dengan air mengalir/air kran. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

NAJIS YANG SUDAH TERLANJUR MENYEBAR


Assalamualaikum warahmatullah ustadz saya ingin bertanya.

Apakah ada kaidah fiqh tentang najis yang sudah terlanjur tersebar karena lupa atau kecerobohan ?

Misalnya ada najis yang lupa dihilangkan lalu terinjak2 dan terkena karpet/baju. Namun kita mencuci baju tersebut secara biasa karena tadinya ( karena lupa/belum sadar) menganggap baju tersebut tidak ada najisnya.

Kalau saya mencuci seluruh baju saya lagi dan membilas mesin tadi akan terasa berat karena terlalu banyak. Apakah ada keringanan ?

Atau misalnya najis sudah disucikan tapi kita baru ngeh setelah menghilangkan najis itu bahwa sebelumnya ternyata najis itu sudah tersebar kemana kemana karena kurang teliti dengan penyebaran najis tersebut.

Bagaimana ya it ustadz ? Terimakasih sebelumnya.

JAWABAN

Kalau najisnya sudah menjadi hukmiyah, dalam arti benda najisnya sudah tidak tampak, maka najis itu tidak akan menular ke mana-mana menurut madzhab Maliki. Anda bisa ikut pendapat ini. Baca detail: Najis Hukmiyah Kering Terkena Benda Basah Menurut Madzhab Maliki

NAJIS DAN PENULARANNYA


Assalamu'alaikum ustadz
Maaf sebelumnya saya izin bertanya tentang najis.
1.)sebelumnya saya membaca artikel yg isinya" benda suci menjadi najis apabila bersentuhan dg benda najis ( air kencing org dewasa, bayi lk2, bayi pr)baik salah satunya basah /sama2 basah,kecuali sama2 kering".jika yg di maksud basah bukan karena air saja.tapi,yg lainnya juga( keringat, minyak dll). Apakah hukumnya sama saja?

2.)Jika tangan /kaki terkena najis (basah karena tadi) dan ada org sengaja tidak mencucinya,terus mengenai (menginjak/memegang)benda suci lainnya.
Apakah benda2 tersebut harus di bersihkan setiap hari, bahkan setiap org tersebut menginjak/mengenai benda suci lainnya?
Sama halnya seperti org yg habis buang air kecil/besar,lalu percikannya atau air bekas bersuci tersebut mengenai kaki (antara terkena atau tidak, banyak/sedikit).lalu menginjak kain lap kamar mandi atau benda suci lainnya.
Apakah harus di cuci terus menerus?

Saya merasa sangat terganggu/was2 akan hal tersebut Dan sangat sulit untuk menghindarinya Karena hal tersebut terjadi setiap waktu Dan setiap hari.mohon solusinya Ustadz

Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh

JAWABAN

1. Ya, sama saja.

2. Najis itu ada dua jenis: najis makfu (yg dimaafkan) dan najis yang tidak makfu. Najis makfu itu hampir sama dg suci. Artinya, tidak masalah apabila terkena najis makfu. Salah satu bentuk najis makfu adalah percikan kecil dari najis.
Baca detail:
- Najis yang Dimaafkan (Makfu)
- Percikan Kencing Najis yang Dimakfu

CATATAN

Hilangkan rasa was-was dengan cara:
a) miliki wawasan yg cukup terkait masalah najis (baca 2 link di atas)
b) Abaikan rasa was-was yg muncul di pikiran. Baca detail: Cara Sembuh Was-was Najis, Wudhu, Mandi, Shalat


17/06/20

Agar Pacar Mau Jadi Mualaf

CARA AGAR PACAR BISA MASUK ISLAM

Assalamuallaikum
Saya seorang muslim dan saya mempunyai pasangan Non muslim

Saya ingin menanyakan bagaimana cara nya agar seseorang yang saya cintai bisa masuk islam karena saya niat nikahi bila dia mau masuk islam dan bagaimana bila orang tua dari dia tidak menyetujui
Mohon penjelasanya ya kaa

Wassalamuallaikum

JAWABAN

Anda harus bisa membujuk pacar anda bahwa kalau hubungan ini ingin sampai ke pernikahan, maka dia harus masuk Islam agar kondisi keluarga kelak bisa kondusif. Baca detail: Cara Masuk Islam Menjadi Mualaf

Karena tanpa itu, keadaan rumah tangga akan sulit untuk nyaman dan tenteram karena perbedaan agama akan berakibat pada perbedaan dalam banyak hal. Mulai dari masalah najis, makanan yang bisa dimakan, pakaian dll. Baca detail: Cara Harmonis dalam Rumah Tangga

Apabila dia setuju sedangkan orang tuanya tidak setuju, maka itu tidak masalah. Restu orangtuanya dalam pernikahan tidak diperlukan. Karena kalau dia mualaf, maka yang menikahkan bukan orangtuanya melainkan wali hakim (penghulu atau ustadz). Baca detail: Menikah dengan Wali Hakim

HUKUM MEMBIARKAN ORANG BERZINA DI RUMAH KITA


Assalamualaikum,
Mohon izin bertanya, apa hukum dan akibatnya bila kita membiarkan seorang dalam rumah kita (salah seorang anggota keluarga) yg duda berhubungan dengan seorang janda dirumah kita berlama lama tanpa menikah?

Mohon pencerahannya Terimakasih

JAWABAN

Sebaiknya anda pastikan lebih dulu apakah mereka berdua sudah menikah siri atau belum. Kalau sudah menikah siri, maka tentunya tidak masalah. Namun kalau belum menikah berarti mereka telah melakukan perbuatan zina yang merupakan dosa besar.

Apa yang harus anda lakukan adalah mengingatkan dia untuk segera menikahi janda tersebut. Kalau ternyata dia tidak menggubris nasihat anda, maka anda sudah bebas dari tanggung jawab amar makruf nahi munkar. Jangan lupa, lakukan nasihat dengan cara yang baik. Kalau anda lebih muda, maka mintalah ijin dan awali dengan meminta maaf. Baca detail: Amar Makruf Nahi Munkar

Bisa juga dipertimbangkan untuk dilaporkan ke aparat setempat akan hal ini. Itu lebih baik daripada anda atau siapapun main hakim sendiri.

DITINGGAL PERGI PACAR KARENA ZINA

Assalamualaikum saya mau tanya, semisal jika ada seorang laki laki dan perempuan melakukan dosa zina, dan si perempuan menyesali dan takut hingga si perempuan meninggalkan/memutus si laki laki, sampai si laki laki sakit hati. padahal sebenarnya dalam islam tidak boleh menyakiti perasaan orang lain. bagaimana hukumnya?

JAWABAN

Sudah benar apa yang dilakukan si perempuan. Dia menyesal telah berbuat zina dan ingin bertaubat. Baca detail: Cara Taubat Nasuha

Satu-satunya cara untuk bertaubat adalah menjauhi pria yang berzina dengannya. Karena si pria itulah sumber dosanya. Agar supaya tidak terulang lagi perbuatan zina itu. Kecuali kalau si pria mau menikah dengannya. Baca detail: Wajib Menjauhi Lingkungan Pergaulan Buruk

Jadi, cara berpikir si laki-laki sangat aneh. Dia tidak merasa berdosa pada Allah atas dosa yang dia perbuat? Justru si laki-laki hendaknya penuh penyesalan dan juga melakukan taubat nasuha. Baca detail: Cara Taubat Nasuha

JODOH LEWAT CHAT

Gini, saya lagi suka sama seseorang, terus saya pengen hubungan kita tuh bisa meningkat gitu, tapi sy dilema gitu,sebenernya sih ya gak pngen pacaran juga, tapi saya mau sering chatan gitu, padahal pernah saya baca itu juga dosa, tapi tuh rasanya klo di zona ini gak nyaman aja gitu jadi berasa serba salah, pngen hubungan meningkat, dosa, ingin gini aja, gak enak beneran deh
Semoga di respon
Wasslalam

JAWABAN

Berbicara dengan lawan jenis tidak secara langsung melainkan melalui chat di medsos hukum dasarnya adalah boleh. dengan syarat: tidak berbicara tentang hal-hal yang dilarang. Baca detail: Hukum Bicara dg Lawan Jenis via Medsos

KAKAK BELUM NIKAH: TERIMA LAMARAN ATAU TIDAK

Assalamualaikum
Saya mau tanya, bagaimana jika laki-laki (atau bisa di sebut pacar) datang ke rumah dengan niat baik mau ngelamar, tapi di sisi lain saya kurang enak kareka mempunyain saudara perempuan yang belum menikah. Terima lamaran itu atau bagaimana?
Makasih

JAWABAN

Biasanya yang menentukan diterima atau tidak itu bukan yang dilamar tapi orang tua wanita yang dilamar. Jadi, soal ini serahkan pada orang tua anda saja. Namun kalau orang tua sudah setuju, maka tidak masalah anda menerima lamaran tsb kalau anda merasa cocok dengan pria yang melamar anda. Baca detail: Cara Mendapat Jodoh


11/06/20

Salah dalam Menyucikan Najis

SALAH DALAM MENYUCIKAN NAJIS

Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh saya ingin bertanya bagaimana jika kita telah melakukan kesalahan dalam membersihkan najis karena waktu itu saya pernah lupa dalam hal ini karena waktu itu saya langsung menyiram najis darah yang ada di lantai dengan air padahal mungkin seharusnya saya menghilangkan najis di lantai terlebih dahulu

dan apakah yang saya lakukan itu tidak sah karena saya tahu cara nya tapi lupa karena saya takut air yang saya siram tadi sudah menyebar mana mana dan sudah mengenai benda lain terimakasih assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh

JAWABAN

Pertama, menghilangkan dan menyucikan najis yang terlihat (najis ainiyah) memang semestinya dilakukan dg dua tahap: a) menghilangkan benda najisnya dg kain atau tisu kering; b) bekas najis yang sudah tidak terlihat kemudian disiram dg air suci. Dg cara ini, maka bekas air siraman hukumnya tetap suci sehingga tidak menularkan najis apabila air menyebar ke mana-mana. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

Kedua, cara yang anda lakukan tidak masalah. Dalam arti tetap bisa menghilangkan najis darah tersebut asalkan najis yang disiram itu hilang dari lokasi asal. Akan tetapi, siraman pertama hukumnya najis dan apabila mengalir ke tempat lain maka tempat lain itu ikut tertular najis.

Namun tidak usah kuatir, apabila air najis tadi sudah mengering maka statusnya menjadi najis hukmiyah. Najis hukmiyah bisa suci dg cara cukup disiram dg air suci satu kali sebagaimana diterangkan di poin "pertama" di atas. Baca detail: Menyucikan Najis Hukmiyah

Sedangkan terkait kesalahan yang tidak disengaja atau karena tidak tahu, maka dimaafkan. Ke depannya harap lebih hati-hati. Baca detail: Hukum Melakukan Perkara Haram karena Tidak Tahu

TERKENA LEBIH DARI SATU JENIS NAJIS MAKFU

Assalamualaikum.

Adakah jika LEBIH dari SATU jenis najis dimaafkan mengenai pakaian/ bagian-bagian tubuh yang berlainan masih dihukum Makfu?

Contohnya seseorang itu terkena sedikit debu jalanan yang diyakini najis. Kemudian dia terkena pula najis sedikit yang tidak dapat dilihat mata. Seterusnya dia terkena pula percikan basuhan najis.

JAWABAN

Iya masih dimaafkan. Baca detail: Najis yang Dimaafkan (Makfu)

AIR PUTIH DI MULUT

Assalaamu’alaikum...

Pak Ustad, setelah minum air putih saat sahur, saya merasa kesulitan untuk meyakinkan diri saya apakah air putih yang ada di sekitar bibir dan di dalam bibir sudah benar-benar hilang atau belum, pertanyaannya:

1) Bagaimana cara menghilangkan sisa air putih yang ada di antara bibir yang saling bertemu saat mulut menutup?
Apakah dengan membasahi bagian tersebut dengan lidah yang terdapat air liur bisa langsung menghilangkan air putih tersebut? Padahal kan malah air liur menjadi bercampur dengan air putih.


2) Apa bukti kalau air putih yang ada di dalam mulut, di sekitar bibir, dan pada bagian antara kedua bibir saat mulut menutup memang sudah benar-benar hilang?

3) Misalkan saya meludahkan air wudhu yang ada pada mulut, kan pasti terdapat sisa air wudhu pada bibir dan yang terletak di bagian antara bibir yang saling bertemu saat mulut menutup. Itu bagaimana cara menghilangkan airnya?

Saya tidak tahu apakah yang saya tanyakan tersebut merupakan karena kurangnya ilmu dari diri saya atau karena malah mempersulit diri saya sendiri.

Tolong Pak Ustad, untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut dengan jelas dan lengkap, dengan harapan saya tidak menjadi ragu-ragu lagi berkaitan dengan hal tersebut.

Demikian dari saya,
Wassalaamu’alaikum...

JAWABAN

Anda sedang menderita was-was. Sembuhkan lebih dulu was-was anda agar supaya pertanyaannya lebih relevan. Baca detail:  Cara Sembuh Was-was Najis, Wudhu, Mandi, Shalat

NAJIS DAN PERPINDAHANNYA, APAKAH SATU QODIYAH?

Assalamu'alaikum,, Pa Ustad saya mau bertanya, apakah najis dan perpindahannya adalah satu qodiyah atau qodiyah yg berbeda ??

JAWABAN

Ya, satu qodiyah. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

NAJIS KERING ATAU LEMBAB?

Assalamualaikum

Saya berjalan di jalan yang agak lembab. Setelah beberapa langkah (agak banyak), saya terpijak tanah bernajis yang kering.

Saya was-was sama ada tapak sandal saya lembab atau kering. Jika kering saya yakin ia tidak najis. Tetapi jika lembab pastinya akan menular najis daripada tanah itu.

Apakah saya bisa mengaggap tapak sandal saya sudah kering kerana telah berjalan agak jauh? Atau perlu dianggap lembab aja?

JAWABAN

Pertama, tanah yang anda anggap bernajis itu apakah sudah pasti najis? Kalau masih belum jelas dan masih dugaan, maka tanah itu pada dasarnya suci. Baca detail: Yakin Tidak Hilang oleh Keraguan

Kedua, kalau memang tanah itu pasti najisnya dalam arti ada kotoran najis di tanah tsb. maka anda harus pastikan sandal anda kering atau basah. Kalau memang lembab, maka berarti sandal anda tertular najis. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

10/06/20

Hukum Merahasiakan Kebutuhan Pribadi Dari Orang Tua

Hukum Merahasiakan Kebutuhan Pribadi Dari Orang Tua

Assalamualaikum.

Selama saya kecil saya & adik saya cenderung dimanja bahkan kadang saat kami tidak sopan dibiarkan saja. Sampai saat kami beranjak remaja & dewasa, kami jadi perlu adaptasi lagi dengan akhlak kami. Sayangnya orang tua kami cenderung menuntut tanpa menyadari kesalahan didikan mereka juga.

Dukungan moral khususnya tentang agama tidak terlalu terasa oleh kami, paling hanya diminta shalat tepat waktu & berbakti pada orang tua. Kami berdua punya trauma masa kecil karna didikan orang tua yang beberapa kali membentak meski tidak sampai memukul. Padahal kami berdua termasuk anak yang perlu pendekatan dari hati ke hati & saya suka jika orang tua mulai hijrah (orang tua saya cenderung ajaran agama nya cuma ikut masyarakat umumnya seperti membolehkan bank ribawi, kurang teliti menyucikan najis, dll tanpa tahu hukum nya seperti apa, saya juga sama masih belajar hijrah).

Akhirnya kami berdua jadi cenderung tertutup dengan masalah pribadi kami. Jika kami curhat sesekali pun responnya hanya datar saja. Khususnya saya mungkin perempuan lebih sensitif, lebih menyukai curhat dengan guru kepercayaan saya & teman dekat.

Pertanyaan saya:

1. Apakah kami berdosa jika menutupi masalah pribadi dari orang tua? (saya sudah 23 & adik saya 19 tapi masih sering tidak dipercaya orang tua)

2. Saya ada rencana kerja sama bisnis online dengan adik saya. Tapi saya perlu rekening baru adik saya. Kebetulan saya punya penyakit kejang yg bisa kambuh tanpa sebab & kapan saja meski sudah sangat jarang. Itu membuat saya tidak boleh keluar rumah sendiri (meski jika saya memang ada keperluan pribadi terpaksa saya sembunyi-sembunyi keluar rumah karena orang tua kerja). Jujur saya tertekan sebenarnya meski tujuan orang tua sangat baik. Bolehkah saya tidak bilang kepada orang tua jika saya harus ke bank dengan adik saya?

3. Untuk sementaran supplier bisa dihubungi online. Tapi jika harus ke tempat supplier, apa boleh kami berdua pergi tanpa bilang? Karna kami berdua takut ada tekanan jika bilang tentang bisnis ini (dropshipper baju gamis) apalagi jika ada comment yang tidak enak. Benar saya tidak boleh diporsir, tapi saya juga punya alasan tidak berambisi jadi pns meski nanti saya akan ikut tesnya. Alternatif saya bisnis online barang atau passion saya jasa IT. Pernah teman minta tolong, saya malah disuruh bohong bilang capek padahal cuma bantuan ringan. Ridho orang tua ridho Allah, tapi tipe orang tua saya cenderung melihat hasil bukan proses. Jadi usaha sukses saya harus ada hasil baru mungkin diridhai selama halal. Prosesnya mau gimana kadang disepelekan.

Masalah utama keluarga inti saya itu komunikasi & kepercayaan antara orang tua & anak. Saya sering berpikir pesimis untuk menikah karna takut anak-anak saya akan merasakan apa yang saya rasakan dengan semua sifat & kekurangan saya. Saya tidak pernah meminta izin untuk mencari pengajian karna saya takut jawabannya "tidak" & alasan yang menyakitkan, hanya akan menumpuk penyakit hati & rasa kesal pada orang tua

Terima kasih banyak.

JAWABAN

1. Tidak berdosa. Anak yang sudah mukallaf (sudah dewasa) hanya dituntut untuk berbakti pada orang tua dalam bentuk berusaha membantu orang tua kalau diperlukan (secara finansial) dan mentaati perintah orang tua selagi bukan perintah maksiat. Baca detail: Hukum Taat dan Berbakti pada Orang Tua

2. Boleh. Anak yang sudah dewasa dan berakal sehat dibolehkan untuk pergi dan bertransaksi sendiri. Namun karena anda menderita penyakit khusus, maka sebaiknya tidak pergi sendirian sesuai saran orang tua.

3. Boleh sebagaimana disebutkan dalam poin no. 2. Asalkan saran orang tua untuk tidak pergi sendirian itu tetap diikuti. Dalam soal bisnis, tidak harus meminta ijin orang tua. Ini juga berlaku dalam masalah jodoh atau tempat belajar. Baca detail: Batasan Taat Dan Durhaka Pada Orang Tua

Terkait hijrah, itu hal yang baik. Namun hati-hati. Jangan sampai salah dalam memilih ustadz. Karena bisa-bisa anda masuk aliran sesat tanpa anda sadari. Termasuk aliran sesat adalah: Salafi Wahabi, HTI, LDII. Baca detail: Kriteria Ahlussunnah Wal Jamaah

STATUS PERNIKAHAN SUAMI MENGAJAK CERAI DI PENGADILAN

Assalamu'alaikum Wr. Wb
Saya telah menikah 27tahun, terus keadaan ini mulai 2013 an
Begini ceritanya istriku mengetahui isi facebooks saya pada seorang karyawati dikantor, terus saya mencoba mencerita kronologi saya kirim percakapan difacebooks tersebut, yang intinya dan kenyataannya saya tidak ada hubungan perselingkuhan dengan si wanita itu dan seterusnya istri bersikukuh kalo saya punya selingkuhan dan pernah dipertekaran itu saya bilang kalo kamu (istri) yakin saya berselingkuh ya udah ceraikan aku (dalam bahasa jawa saya mengatakannya : yo wis cerainen aku) nah dari situ istri dengarnya saya menjatuhkan talak dan bersikukuh seperti itu dan sampai sekarang istri bilang kalo sudah mati rasa pertanyaan :
1. Bagaimana status pernikahan saya (pernah saya mengajak istri untuk diselesaikan dipengadilan agama istri nggak mau dia bilang ya sana urus sendiri sing penting itu nanti kethok palu sepihak aku (istri) tidak.
2. Apa yang harus saya lakukan dengan keadaan seperti ini yang jelas saya nggak mau ada perceraian dan kami bisa rukun"
Terima kasih atas saran, jawaban dan solusinya
Wassalamu'alaikum wr wb

JAWABAN

1. Tidak jatuh talak. Talak baru jatuh apabila suami menceraikan istri, seperti ucapan suami: "Aku ceraikan kamu"

2. Tetap tunjukkan sikap sayang pada istri dan terbuka dengan akun medsos anda. Selain juga, baca doa berikut setiap selesai shalat: Doa Agar Disayang

BERCUMBU DENGAN ISTRI SAAT NIFAS, TAPI TIDAK BERSETUBUH

Assalamualaikum ustadz
Mohon maaf sebelumnya saya ingin bertanya, hukum bercumbu dengan istri dan di onanikan istri pada saat nifas menurut Islam bagaimana. Mohon pencerahannya.
Terima kasih.

JAWABAN

Hukumnya boleh apabila tidak sampai bersetubuh (jimak). Istri nifas sama dengan istri haid. Baca detail: Bersetubuh saat Haid dan Nifas

Sering Keluar Madzi

SERING KELUAR MADZI


Pak ustad, saya sering keluar madzi setetes atau kurang dari itu. Biasanya keluar setelah bangun tidur dalam waktu lama. Dan hampir selalu tidak terasa apa2 saat keluar

Namun akhir2 ini keluarnya lebih sering. Saya suka iseng cek kemaluan saya, dan ternyata akhir2 ini madzi saya suka keluar pada waktu sebelum ashar ataupun sesudahnya. Kadang juga di waktu dhuha

Padahal saya tidak terangsang (seringnya mengalir sendiri) namun kadang keluar beberapa waktu setelah melihat perempuan atau hal tertentu yg tidak begitu merangsang. Hal itu ditandai dgn ujung lubang kemaluan saya yg memantulkan cahaya karena ada sedikit cairan bening ataupun kedua bagian dinding lubang kelamin yg menempel seperti di lem.

Itupun bekas madzi nya sangat sedikit, biasanya gk terlihat/sulit terlihat di celana dalam. Yang mau saya tanyakan :

1. Apakah najis sedikit yg seperti itu (setetes atau kurang) dimaafkan klo kena pakaian?

2. Jika saya sedang di kampus dan sulit untuk ngecek ke kamar mandi tiap saat kemudian saya tetap lanjut sholat ashar tanpa ngecek kemaluan, apa sholat saya sah?
3. Saya pernah baca di web. Disitu tertulis, katanya menurut imam Ahmad madzi sedikit dimaafkan klo mengalir sendiri, tidak wajib dicuci di tubuh ataupun pakaian. Bolehkah saya mengambil pendapat ini?

4. Seringkali saat bangun sebelum subuh, pas saya mau bersihin madzi diujung kelamin yg belum/sudah kering dari madzi terkadang kemaluan saya kena baju atau celana. Apa tetap wajib dibersihkan meskipun cuma sedikit? Saya agak kesusahan karena hal ini.

5. Misalkan klo saya lagi diluar rumah & tetap sholat seperti biasa tanpa ngecheck lagi kelamin ataupun celana dalam. Apa sholat saya tetap sah? Karena bisa aja madzi keluar waktu gk dicek

6. Maksud dari najis sedikit dimaafkan secara mutlak tanpa rincian menurut Imam Abu Hanifah apa? Apa itu termasuk madzi setetes di celana dalam? Bolehkah saya ikut pendapat ini?

JAWABAN

1. Ya dimaafkan kalau sedikit. Baca detail: Najis yang Dimaafkan menurut madzhab Syafi'i

2. Sah karena tidak ada kewajiban mengecek kemaluan.

3. Boleh. Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab

4. Najis makfu tidak wajib dibersihkan. Baca detail: Percikan Kencing Najis yang Dimakfu

5. Sah.

6. Ya semua najis. Boleh. Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab

SAAT KELUAR MANI APA JUGA KELUAR MADZI?

Assalaamu’alaikum...

Pak Ustad, tolong yang ini dijawab ya Pak. Gini Pak, kan air madzi itu keluar saat syahwat memuncak atau keluar saat membayangkan jima’/hal sejenisnya. Nah, misalkan saat saya melakukan onani kan juga membayangkan tentang jima’/hal sejenisnya. Pada saat ejakulasi, saya mengeluarkan air mani, tetapi saya tidak tahu apakah air mani itu bercampur dengan air madzi atau tidak.

Padahal kan kalau dihukumi bercampur dengan air madzi itu masih disebut perkiraan sehingga membuat saya ragu, sedangkan air mani yang keluar itu memang sudah dapat diyakini keberadaannya dikarenakan sudah tahu keberadaannya.

1) Yang saya tanyakan, apakah air mani yang keluar tersebut memang benar tercampur dengan air madzi?

2) Misalkan kalau setelah mimpi basah, kan keluar air mani, apakah air mani itu juga bercampur dengan madzi. Padahal bisa saja saat kita tidur, syahwat kita memuncak sehingga air madzi keluar terlebih dahulu sebelum keluar air mani. Bagaimana ini Pak Ustad?

Demikian pertanyaannya,
Wassalaamu’alaikum...

JAWABAN

1. Ya, benar.

2. Tidak masalah mana yang keluar lebih dulu. Yang terpenting dalam hal ini adalah bahwa kalau orang syahwat sampai keluar mani, maka madzi yang bercampur dengan mani dihukumi makfu dalam arti tidak najis karena mani itu suci. Baca detail: Beda Mani, Madzi dan Keputihan bagi Wanita

MIMPI BASAH, MANI ATAU MADZI?


Assalamu’alaikum ustadz
1. Saya mau bertanya jika saya mimpi basah dan terbangun menemukan cairan sedikit cuma stetes apakah ini air mani atau madzi?karena saya ragu itu mani atau bukan karena saat keluar tidak memancar kayak biasanya,jumlah ny sedikit/stetes,dan bau nya tidak percis seperti mani

Terimakasih

JAWABAN

Kalau mimpi basah dan ternyata keluar cairan, maka kemungkinan besar itu adalah mani. Lagipula bagaimana anda bisa mengatakan bahwa ia keluar tidak memancar sementara anda sedang tidur? Baca detail: Beda Mani, Madzi, dan wadi


Najis Hukmiyah

NAJIS HUKMIYAH

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Saya baru tahu tentang najis hukmiyah, dan saya jadi cemas dan was-was setiap hari karena mencurigai setiap sudut dan perabotan di rumah saya sudah terkena najis. Perasaan was-was itu disebabkan oleh sikap saya sebelumnya yang kurang begitu memperhatikan saat istinja, cara buang air kecil yang benar dan cara membersihkan najis yang melekat di barang-barang di rumah saya. Pertanyaannya:

1. Jika kita sadar bahwa najis hukmiyah sudah terlanjur menyebar ke setiap pelosok rumah kita, bagaimana cara pembersihannya? Saya jadi merasa kesulitan karena banyaknya barang-barang yang kemungkinan besar terkena sentuhan dan pegangan tangan saya, contohnya barang-barang elektronik seperti HP, laptop, headset, dsb. Begitu pula dengan perabotan seperti lemari, meja, furnitur, sampai-sampai setiap pegangan laci juga saya khawatirkan terkena najis hukmiyah.

2. Jika kita sudah tahu tentang najis hukmiyah itu, apakah boleh jika kita tidak membersihkannya dan berhati-hati saja untuk ke depannya? Karena jika dituruti, saya jadi meyakini kalau seluruh benda-benda di rumah saya sudah kena dan membersihkannya pasti sangat merepotkan dan membutuhkan waktu lama dan tenaga ekstra. Sejauh ini saya hanya mengepel lantai. Apakah itu sudah cukup?

3. Apakah benar di madzhab Maliki menganggap najis hukmiyah tidak menular meskipun salah satu medianya basah / lembap? Dan apakah kita boleh mengikuti madzhab Maliki khusus di bagian najis hukmiyah itu saja sementara kita sholat dan yang lainnya tetap mengikuti madzhab Syafi'i? Soalnya yang saya tahu sejak dulu bahwa najis itu cukup hilang saja warna, rasa dan baunya, maka tempat itu sudah suci.

4. Saya selalu dihantui was-was seperti ada kencing yang keluar, baik itu ketika melakukan kegiatan sehari-hari ataupun shalat 5 waktu. Ada syeikh yang mengatakan bahwa itu hanya perasaan saja, karena syetan ingin mengganggu kita beribadah. Tapi pernah suatu ketika saya buang angin, terasa seperti ada air kencing yang keluar, dan saat saya periksa ternyata ada noda-noda air yang muncul di celana dalam saya. Tapi kebanyakan, dari kejadian buang angin itu tidak menyebabkan noda apapun di celana dalam saya alias kering-kering saja. Pertanyaannya: Jika saya mengikuti saran syeikh tersebut untuk tidak mempedulikan apapun yang saya rasakan dan membiarkannya begitu saja, apakah itu boleh? Karena rasa was-was itu selalu mempengaruhi saya, dan saya tidak bisa lagi membedakan yang mana perasaan "keluar kencing" yang palsu dan yang asli karena saking miripnya, dan membuat saya terus-menerus menduga bahwa kencing saya keluar dan memaksa untuk mengecek celana dalam saya lagi dan lagi. Tapi jika benar-benar ada yang keluar seperti kejadian yang saya alami sebelumnya, apakah Allah akan mengampuni saya karena tindakan ketidakpedulian saya dengan tidak mengecek sama sekali itu? Dan apakah shalat saya sah? Saya sangat takut shalat saya tidak sah dan ditambah lagi malah menyebabkan najis hukmiyah yang baru.

5. Akhir-akhir ini saya jadi sangat boros menggunakan air di kamar mandi rumah saya karena was-was bahwa ada bagian tubuh saya yang masih belum bersih saat istinja. Di dalam hati saya selalu ada ancaman bahwa najis hukmiyah itu akan kembali lagi jika saya tidak banyak menggunakan air. Pertanyaannya:

a. Khusus untuk laki-laki, jika kita buang air kecil (dengan berjongkok), biasanya akan ada percikan di paha dan betis. Lalu jika kita siram, biasanya percikannya akan mengenai dinding kamar mandi dan dinding bak. Lalu, jika kembali masuk kamar mandi lagi dan kita terkena dinding kamar mandi / dinding bak itu, apakah bagian dari diri kita yang terkena dinding itu jadi bernajis?

b. Jika kita istinja setelah buang air kecil, berapa kali kita harus membasuh kemaluan (untuk laki-laki)? Lalu bagaimanakah tata caranya? Apakah dibasuh yang di bagian luar saja, atau airnya dimasukkan sedikit ke dalam lubang kemaluan? Karena saya selalu was-was kalau-kalau sisa kencingnya masih ada dan bisa-bisa membasahi celana dalam saya.

c. Jika kita membersihkan kaki kanan kita dari percikan kencing, lalu kemudian membersihkan kaki kiri, tapi saat mencuci kaki kiri, air basuhan dan percikannya mengenai kaki kanan kembali, apakah kita harus mencuci kaki kanan lagi? Kejadian itu terus-menerus menimpa saya dan akibatnya saya jadi frustrasi karena harus menyiram kedua kaki saya silih berganti dan air bak mandi pun banyak yang terkuras. Bagaimanakah cara yang benar supaya bisa menghemat air?

6. Apabila tangan kita basah dan menyentuh kain bekas air mani dan madzi yang dalam keadaan sudah mengering begitu saja (bukan karena cahaya matahari), najis apakah yang menular ke tangan kita? Ainiyah atau hukmiyah?

Terima kasih...
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

JAWABAN

1. Najis Hukmiyah adalah najis yang sudah tidak ada benda najisnya. Hanya tinggal statusnya masih najis karena belum disucikan dengan air. Adapun hukum najis hukmiyah, apakah menular atau tidak, ulama berbeda pendapat. Menurut madzhab Syafi'i menularkan najis apabila ada yang basah di salah satu pihak.

Namun menurut madzhab Maliki, najis hukmiyah tidak menularkan najis. Anda bisa mengikuti pendapat ini agar tidak lagi bingung dan was-was. Baca detail: Najis Hukmiyah Kering Terkena Benda Basah Menurut Madzhab Maliki

SISA MANI SETELAH MANDI


Assalamualaikum pak ustadz izin tanya.

1. Bagaimana hukumnya sisa mani yang keluar saat mandi wajib ? Apakah membatalkan mandi wajib yang sedang dikerjakan ? Atau hanya membatalkan wudhu ?

2. Saat mencoba membersihkan kemaluan saya tidak ada tanda-tanda seperti licinnya mani, yang saya rasakan waktu itu seperti keluar sesuatu. Sebelumnya saya membasuh kemaluan dari arah depan kemaluan drngan shower dengan siraman yang agak sedikit deras. Sebelum merasakan seperti ada yang keluar itu sebelumnya saya sudah buang air kecil terlebeih dahulu, bahkan saya buang air kecil 2 kali, sebelum mandi dan saat mandi untuk memastikan tidak ada sisa mani lagi. Apakah yang saya rasakan seperti ada yang keluar itu adalah air yang saya siramkan ketika membasuh kemaluan atau itu sisa mani pak ustad ? Tetapu jika itu sisa mani, sewaktu saya coba bersihkan kemaluan tidak ada tanda-tanda seperti licin mani.

JAWABAN

1. Kalau yakin mani yang keluar, maka itu membatalkan mandi wajib yang sedang dikerjakan. Baca detail: Satu Mandi untuk Junub dan Haid

Namun kalau yang keluar itu madzi atau wadi, maka hanya membatalkan wudhu saja. Baca detail: Beda Mani, Madzi, dan wadi

2. Kemungkinan sisa air yang keluar atau bisa saja wadi. Dari dua kemungkinan itu tidak mewajibkan mandi wajib lagi. Hanya perlu dibasuh karena najis. Baca detail: Cara Wudhu dan Mandi Wajib


09/06/20

Fidyah dan Cara Niat

NAJIS BABI DAN FIDYAH


Assalamu'alaikum Wr. Wb.. Ustadz, mohon bertanya ;

1. Kalau fidyah itu harus pakai niat kah ? Seperti zakat. (Dan kalau harus niat, niatnya bagaimana ?) Lalu apakah orang yang kita kasih fidyah harus tahu kalau beras tersebut beras fidyah, dan apakah dia (orang yang kita kasih fidyah) harus tahu "dari siapa" fidyah tersebut ?, juga apakah dia harus tahu penyebab fidyahnya ? (Misal karena menyusui, dsbg.) Jadi misalnya saya akan kasih fidyah ke si A, saya harus terus terang "(saya niat fidyah) lalu saya bilang Ini fidyah saya, sebab saya menyusui" atau tidak usah seperti itu, jadi saya hanya kasih saja berasnya tanpa mengucap alasannya ?

2. Saya baru tahu kalau kuas eterna china bristles itu mengandung bulu babi, sedangkan setiap membersihkan bak mandi, kami pakai itu. Lalu saya cari hukumnya dan ketemu di website Alkhoirot juga ternyata bulu babi itu suci menurut Imam Maliki, kami bisa taqlid ke sana.

Pertanyaannya, apakah saya sah jika taqlid ke Imam Maliki setelah kita memakai bulu babi itu ? Karena setahu saya di dalam ibadah itu yang wajib kita yakini ada 2 ; dzonn mukallaf dan nafsul amri, sedangkan gambaran saya di sini, saya belum tahu itu dari babi, saya pun belum tahu pada hukum Imam Maliki, setelah saya tahu dari babi, saya telah memakainya, saya tiba-tiba taqlid, itu bagaimana ?

Lalu jika ternyata tidak sah, berarti sholat saya sekeluarga, para tamu yang pernah berkunjung ke rumah dan memakai kamar mandi tersebut, itu tidak sah juga ? Dan semua alat-alat rumah, pakaian-pakaian itu najis mugholadzoh ? Mengingat pasti tercampur dengan air dari bak mandi tersebut.

Mohon pencerahannya ya Ustadz, ini berat sekali buat kami, kami mana sanggup menyucikan serumah dengan 7x cucian dan salah satunya pakai tanah itu, kami juga merasa berat harus mengqodlo sholat bertahun-tahun, dan kami mana sanggup memberi tahu para tamu masalah ini, dan lain-lain. Tapi tolong tetap katakan saja hukumya walau berat, tapi semoga ada rukhsoh di fiqih nya 🙏 syukron Ustadz

Wassalamu'alaikum Wr. Wb

JAWABAN

1. Membayar fidyah harus ada niat. Ar-Ramli dalam kitab Fatawa Ar-Ramli fi Furu' Al-Fiqh Al-Syafi'i, hlm. 200, menyatakan:

سئل: هل يلزم الشيخ الهرم إذا عجز عن الصوم وأخرج الفدية النية أم لا، وما كيفيتها؟ وما كيفية إخراج الفدية هل يتعين إخراج فدية كل يوم فيه أو يجوز إخراج فدية جميع رمضان دفعة سواء كان في أوله أو في وسطه أو لا

فأجاب: بأنه تلزمه النية لأن الفدية عبادة مالية كالزكاة والكفارة فينوي بها الفدية لفطره ويتخير في إخراجها بين تأخيرها وبين إخراج فدية كل يوم فيه أو بعد فراغه، ولا يجوز تعجيل شيء منها لما فيه من تقديمها على وجوبه لأنه فطرة. انتهى.

Artinya: Ar-Ramli ditanya, apakah orang tua yang tidak mampu berpusa lalu mengeluarkan fidyah apakah wajib niat atau tidak dan bagaimana cara niatnya? Apakah harus mengeluarkan fidyah setiap hari atau boleh mengeluarkan fidyah seluruhnya sekaligus baik di awal atau di tengah atau tidak? Ar-Ramli menjawab: Niat bayar fidyah itu wajib karena ia merupakan ibadah harta seperti zakat dan kafarat, maka ia harus berniat membayar fidyah karena tidak puasa. Adapun waktu mengeluarkan fidyah maka boleh memilih antara membayar di akhir atau bayar fidyah setiap hari atau setelah habisnya puasa. Tapi tidak boleh mempercepat bayar fidyah karena itu berarti mendahului kewajiban.

Adapun niat bayar fidyah sbb:

a) Niat membayar fidyah bagi wanita hamil dan menyusui:

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ فِدْيَةَالْمُرْضِعِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالٰى

"aku berniat mengeluarkan fidyah bagi orang yang menyusui fardhu karena Allah Ta'ala"

Niat membayar fidyah bagi orang sakit parah yang diperkirakan susah atau tak kunjung sembuh lagi:

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ فِدْيَةَالْمَرَضِ الَّذِيْ لاَ يُرْجٰى بَرَؤُهُ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالٰى

"aku berniat mengeluarkan fidyah bagi orang yang sakit fardhu karena Allah Ta'ala."

Memberitahu yang dibayari fidyah itu tidak wajib. Namun memberitahunya itu lebih baik agar tidak terjadi pembayaran fidyah dua kali. Namun kalau tidak memberitahu juga tidak apa-apa. Oleh karena itu, membayari fidyah orang yang sudah meninggal, atau berkorban untuk orang meninggal, hukumnya sah.

Rujukan lain terdapat dalam beberapa kitab berikut:

(a) An-Nawawi dalam kitab Al-Majmuk, hlm. 6/260, menyatakan:

"اتفق أصحابنا على أنه لا يجوز للشيخ العاجز والمريض الذي لا يُرجى برؤه تعجيل الفدية قبل دخول رمضان، ويجوز بعد طلوع فجر كل يوم، وهل يجوز قبل الفجر في رمضان؟ قطع الدارمي بالجواز، وهو الصواب".

(b) dalam Mughnil Muhtaj, hlm. 2/176, menyatakan:

"وليس لهم -أي الهرم والمريض- ولا للحامل ولا للمرضع تعجيل فدية يومين فأكثر، كما لا يجوز تعجيل الزكاة لعامين، بخلاف ما لو عجل من ذكر فدية يوم فيه أو في ليلته فإنه جائز.

(c) dalam Syarhul Muqaddimah Al-Hadhramiyah, hlm. 578, menyatakan:

"لو أخر نحو الهرم الفدية عن السنة الأولى، لم يجب شيء للتأخير؛ لأنّ وجوبها على التراخي.

2. Tidak masalah ikut madzhab Maliki dalam soal ini. Prinsipnya, orang awam tidak wajib ikut satu madzhab. Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab


SIKAT BEKAS MENYIKAT NAJIS APAKAH NAJIS?


Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Maaf ustadz menyambung pertanyaan tadi

1. Apakah sikat yang di pakai untuk menyikat teras yang dilaluinya juga najis,, namun najisnya tidak terlihat

JAWABAN

1. Apabila mengikuti pandangan madzhab Syafi'i maka hukumnya najis. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

Kalau ikut madzhab Maliki maka tidak najis. Baca detail: Najis Hukmiyah Kering Terkena Benda Basah Menurut Madzhab Maliki


NAJIS KENCING DI TOILET YANG SUDAH DISIRAM, APA MASIH NAJIS?


Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Maaf sebelumnya ustadz,, saya bertanya

1. apakah lantai di kamar mandi akan menjadi najis jika seseorang kencing dilantai kamar mandi tetapi sudah disiram dengan air bersih

2. Jika ban motor terkena bangkai tikus ketika hujan, apakah cara mensucikannya seperti pada sendal

Terima kasih ustadz sebelumnya

JAWABAN

1. Kalau najis kencing sudah disiram dengan air suci, maka latainya menjadi suci. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

2. Apabila bekas bangkai tikusnya sudah tidak ada di ban, maka dianggap sudah suci karena terkena air hujan. Tapi kalau bangkainya masih ada di ban maka cara menyucikannya adalah dg membuang bangkai itu sampai bersih setelah itu disiram dengan air. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan


07/06/20

Hukum Bermazhab Syafii dan Maliki, Bolehkah?

MENCAMPUR AJARAN MADZHAB


Mohon maaf tanya lagi ustad.
Saya dan muslim di tempat tinggal saya bahkan di Indonesia mayoritas bermahzab syafii. Mengenai najis kotoran anjing tadi apakah boleh saya memakai ajaran mahzab imam Maliki hanya untuk najis anjing ini? Mengenai ibadah yang lain saya ikut mahzab Imam Syafii.

Apakah boleh mencampur ajaran mahzab seperti itu ustad.?

Sebab kalau tentang air liur dan bersentuhan dengan anjing InsyaaAllah bisa dihindari dan itupun jarang terjadi. Kalaupun terkena akan saya basuh 7 basuhan dan pakai tanah. Tapi kotoran anjing sangat susah untuk dihindari karena anjing buang kotoran sembarangan. Kotorannya kadang terinjak, kadang tergilas ban motor. Motor saya kalau malam dimasukkan ke dalam rumah, dan tentunya bannya mengenai lantai rumah. Dan itu akan menimbulkan was was najis akan menyebar ke lantai lain karena terbawa jejak ban dan injakan orang rumah jika dalam keadaan kaki sedang basah. Akan sangat menyulitkan jika membasuh seluruh lantai rumah dengan 7 basuhan dan pakai tanah.

Mohon pencerahannya ustad.
1. Apakah boleh mencampur ajaran mahzab untuk keadaan serperti yang saya ceritakan diatas?
2. Apakah saya termasuk menyepelekan /meringan-ringankan ajaran agama jika saya memakai ajaran mahzab yang lebih mudah dan tidak menyulitkan saat beribadah?
Tujuan saya hanya untuk membunuh was was yang mengganggu saat beribadah.
Contohnya seperti perlakuan saya mensucikan najis kotoran anjing ikut mahzab Maliki sedangkan saya bermahzab Syafii. Hanya untuk perlakuan najis anjing saya pakai mahzab Maliki, itupun perlakuan pada najis kotorannya, untuk ibadah yang lain saya ikut mahzab Syafii.

Mohon maaf saya banyak tanya ustad. Saya masih dalam proses belajar.
Terima kasih banyak sebelumnya atas bantuannya. Semoga Allah membalas kebaikan ustad dan selalu diberkahi Allah. Aamiin.

JAWABAN

1. Boleh. Tidak masalah memakai madzhab Maliki untuk soal najis anjing dan untuk masalah lain memakai madzhab Syafi'i. Karena pada dasarnya orang awam tidak wajib ikut satu madzhab. Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab

2. Tidak akan dianggap seperti itu. Pindah-pindah madzhab dibolehkan apabila diperlukan dan bertujuan untuk memberi solusi pada kehidupan sehari-hari. Baca detail: Hukum Ikut Beberapa Madzhab

KERINGAT WANITA SAAT HAID


Assallamuallaikum wr. wb.

Izin bertanya, saya pernah baca jika keringat wanita haid di bagian manapun ia letaknya di tubuh, statusnya tetap suci. Lalu apakah keringat wanita haid yg berada di sekitar kemaluan statusnya tetap suci? Mengingat keringat mungkin saja bertemu dengan darah haid.

Wassallamuallaikum wr. wb

JAWABAN

Ya, keringat hukumnya suci. Adapun keringat di dekat kemaluan maka tetap suci selagi tidak bercampur dengan darah haid. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

AIR CIPRATAN PERMUKAAN NAJIS


Assalammualaikum.

Baju saya basah dan airnya (suci) menetes ke permukaan yang bernajis (juga ada air bergenang di atas permukaan ini) dan kemudiannya terciprat terkena saya. Adakah air yang terciprat terkena saya ini menjadi najis?

Bisakah saya menganggap air yang terciprat ini SUCI karena tidak tahu air ini telah berubah sifat (warna, bau atau rasa) atau tidak?

Terima kasih.

JAWABAN

Ya, menurut madzhab Syafi'i air suci yang mengena benda najis maka cipratannya menjadi najis. Akan tetapi najis yang dimakfu. Baca detail: Najis yang Dimaafkan (Makfu)

Baca juga: Air Cipratan Menyiram Najis

PAKAIAN BEKAS DIPAKAI DOSA APA BOLEH BUAT SHALAT?


Assalamu'alaikum wr. Wb. Pak ustad saya mau bertanya apakah pakaian bekas digunakan maksiat lalu dipakai sholat, sah dan diterimakah oleh Allah SWT. Sholatnya? Mohon penjelasannya.terima kasih. Wassalam.

JAWABAN

Shalatnya sah selagi pakaian tersebut dalam keadaan suci. Tidak terkena najis. Karena syarat pakaian yg boleh dipakai salat adalah apabila suci. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

Terkait masalah diterima atau tidak oleh Allah, maka itu tergantung dari apakah kita sudah bertaubat nasuha atas dosa yang kita lakukan. Apabila kita sudah taubat nasuha, maka insyaAllah dosa kita akan diterima. Baca detail: Cara Taubat Nasuha


Menyucikan Benda Mutanajis Dengan Sekali Siram

MENYUCIKAN BENDA MUTANAJIS DENGAN SEKALI SIRAM


assalamualaikum warahmatulahi wabarokatuh saya ingin bertanya seputar najis yang saya ingin tanyakan adalah
a.apakah bisa menyucikan benda yang terkena air mutanajis dengan sekali siraman atau haruskah lebih dari satu siraman

b.bolehkah menyiram lantai kamar mandi yang terkena air kencing hanya di daerah yang terkena air kencing tersebut atau yang harus disiram adalah seluruh lantai kamar mandi karena seluruh lantai di kamar mandi saya basah namun bukan karena air kencing

c.bagaimana jika saya lupa sudah membersihkan najis atau belum kemudian saya berpikir itu hanyalah was was namun jika ternyata saya belum menyucikan najis tersebut apakah itu dimaafkan karena saya menganggap itu hanyalah was was

d.bagaimana hukum berganti ganti mazhab untuk menghindari was was
terima kasih
assalamualaikum warahmatulahi wabarokatuh

JAWABAN

A. Tergantung: kalau sudah berupa najis hukmiyah maka cukup sekali siram. Kalau masih najis ainiyah (najisnya terlihat) maka harus sampai hilang najisnya.

B. Cukup yang terkena najis. Namun kalau airnya mengalir ke tempat yang tidak najis juga, maka yang teraliri najis itu juga menjadi najis dan harus disiram.

C. Tergantung mana yang diyakini lebih dulu. Kalau yakin ada najis lalu lupa apakah sudah membersihkan atau belum, maka dianggap belum membersihkan. Jadi, harus dibersihkan/disiram air. Kalau asalnya tidak ada najis lalu ragu apakah ada najis atau suci, maka kembali ke asal benda tersebut: kalau asalnya suci maka dianggap suci. Contoh, anda masuk ke toilet lalu ragu apakah lantai toilet najis atau suci, maka kalau tidak ada tanda-tanda najis maka dianggap suci. Baca detail: Kaidah: Suci tidak hilang karena Asumsi Najis

D. Berganti-ganti madzhab boleh apabila diperlukan. Termasuk diperlukan untuk menghindari was-was. Baca detail: Hukum Ganti Madzhab

NAJIS DAN SUCI:


Assalaamu’alaikum...

Pak Ustad tolong untuk pertanyaan ini segera dijawab :(. Dulu saya pernah mengalami ada darah sedikit dibagian dalam kuku, setelah berhari-hari, darah sedikit tersebut berada di bagian luar kuku saya dalam keadaan menempel. Yang mau saya tanyakan yaitu:

1) Apakah darah kering yang berada di bagian bawah kuku tersebut bisa disebut sebagai koreng?

2) Kalau misalkan memang koreng, dan saya melakukan wudhu ketika ada koreng tersebut, apakah wudhu yang telah saya lakukan sah?

Saya menduga kuat, bahwa darah kering tersebut menghalangi terkenanya air di bagian kuku.

Demikian pertanyaannya,
Wassalaamu’alaikum...

JAWABAN

1. Ya. Atau sebut saja darah kering. Hukumnya dimakfu.

2. Sah wudhunya karena dimaafkan. dan dianggap bagian dari tubuh. Baca detail: Kotoran Kuku dan Koreng jadi Penghalang Mandi dan Wudhu?

NAJIS TANAH JALANAN


Assalamualaikum.

Sepatu saya terkena tanah bernajis semasa berjalan. Saat di dalam mobil, sepatu ini (bagian yg bernajis) terkena/menyentuh sedikit kursi mobil. Saya tidak pasti sama ada najis tanah itu benar-benar menempel pada kursi atau tidak karena susah untuk dilihat.
Setelah beberapa lama, kaki saya terkena bagian ini.

Adakah kaki saya dianggap bernajis?

JAWABAN

Bagaimana anda yakin tanah itu bernajis? Apakah anda melihat langsung ada najisnya atau hanya asumsi? Apabila hanya dugaan najis, maka tanah itu sebenarnya tidak najis karena dugaan. Jadi status tanah kembali ke status awal yaitu suci. Baca detail: Yakin Tidak Hilang oleh Keraguan

Apabila anda melihat memang ada benda najis di tanah itu, seperti kotoran hewan, darah, dll, maka kalau sedikit dimakfu (dimaafkan) dan kalau banyak dianggap najis. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

Terkait kaki anda, kalau tidak pasti menyentuh najis tersebut, maka dianggap tidak najis. Baca detail: Yakin Tidak Hilang oleh Keraguan

JADI WAS-WAS KARENA BAK MANDI KURANG DARI 2 KULAH


Assalamu'alaikum, Pa Ustad Afwan saya mau bertanya masalah najis,,
Dirumah saya bak mandinya kurang dari dua qullah,terus saya sering kena was was tentang kesuciannya,pertanyaanya,,

1.apakah saya boleh talfiq ke mazhab maliki,bahwa air yg sedukit itu tdk najis kalau kejatuhan najis asal tdk berubah sifatnya ??
2.maaf ustad kalau saya tetap mengikuti mazhab safi'i,saya selalu menguras air d bak itu,dan itu sangat memberatkan disampinh itu juga memubazirkan air,mohon solusi dan penjelasannya,sebelummnya saya ucapkan terimakasih,wassalamu'alaikum wr.wb

JAWABAN

1. Boleh ikut madzhab Maliki dalam soal ini saja sedang masalah lain ikut madzhab Syafi'i. Baca detail: Hukum Ikut Beberapa Madzhab

Namun sebenarnya anda tidak perlu sampai pindah madzhab, karena Imam Ghazali sendiri (ulama madzhab Syafi'i) memiliki pandangan yang sama denga madzhab Maliki: yaitu bahwa air yang kurang dua kulah tidak najis walaupun terkena najis apabila tidak berubah sifatnya. Baca detail: Najis menurut Imam Ghazali

Baca juga: Air Dua Kulah

Air Kurang Dua Kulah menurut Al-Ghazali

AIR KURANG DUA KULAH MENURUT IMAM AL-GHAZALI


Assalaamu’alaikum...

Pak Ustad,
1) apakah menurut Imam Ghazali, air suci mutlak kurang dari dua qulah bila terkena najis baik najis ainiyah maupun najis hukmiyah itu dimaafkan selagi tidak ada rasa, bau, dan warna pada air?

2) Misalkan dalam masalah najis, ada yang saya gunakan pendapat dari mazhab Syafi’i, tetapi dalam masalah najis yang lain, saya menggunakan mazhab Imam Malik. Apakah saya boleh mencampurkan penggunaan mazhab dalam masalah najis?

3) Apakah masalah najis termasuk satu ibadah dengan sholat?

Demikian,
Wassalaamu’alaikum...

JAWABAN

1. Ya. Baca detail: Najis menurut Imam Ghazali

2. Boleh kalau memang diperlukan. Karena pada dasarnya ikut satu madzhab itu tidak wajib bagi orang awam. Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab

3. Ya. Masalah najis dan suci walaupun bukan ibadah secara langsung tapi menjadi sarana sahnya ibadah shalat. Dalam kaidah ushul fikih: Sesuatu yang menjadi sarana atas suatu kewajiban, maka ia juga menjadi wajib (ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب)

Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan


NAJIS DAN SUCI


assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
saya ingin bertanya seputar najis
jadi waktu itu saya memiliki selimut yang basah lalu di selimut itu
terlihat bangkai semut karena setahu saya bangkai semut adalah najis namun diampuni bila di air jadi saya buang saja bangkai semut nya jadi yang ingin saya tanyakan apakah yang saya lakukan benar lalu bagaimana hukum selimut tersebut apakah menjadi najis dan bagaimana hukum nya bila dari selimut basah tersebut menetes air apakah air itu najis meskipun bangkai semut itu sudah saya buang

terima kasih
assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

JAWABAN

Semut mati atau bangkai semut termasuk najis yang dimakfu. Yang anda lakukan sudah benar. Hukum selimut tidak najis. Air yang menetes dari selimut juga tidak najis. Baca detail: Najis yang Dimaafkan (Makfu)


MASALAH NAJIS KENCING YANG TIDAK KELIHATAN


Bismillah
Assalamu'alaikum
Keponakan saya beser saat mau menuju ke kamar mandi. Saya tidak tahu dia mulai beser dari sebelum pintu kamar mandi atau sesudahnya. Saya melihat jelas hanya setelah masuk pintu kamar mandi. Dan sisi2 dekat kamar mandi saya cek ada sedikit bau seperti bau kencing cuma saya ragu iya atau tidak, jadi cuma saya lap pakai tangan dan air beberapa kali untuk hati-hati (untuk warna tidak jelas karena kondisi kamar mandi memang basah).

Sesudah itu saya lap dengan tisu kering, namun masih ada baunya. Sehingga saya beranggapan kemungkinan itu bukan bekas air kencing. Memang bau saja. Semakin hari saya jadi berat hati karena sudah belakangan ini dilanda was-was najis, sehingga semakin membuat sedih dan sesak di hati saya. Pun, karena keponakan saya yang masih kecil dan suka tidak terkendali saat buang air. Saya sangat kesal karena khawatir jika terkena najis akan mempengaruhi sholat saya. Kekesalan saya juga jadi ke semua orang dan saya merasa bersalah telah bersikap buruk kepada anak kecil dan keluarga saya.
1. Bagaimana status kamar mandi saya tersebut? Apakah sudah suci atau najis?
2. Bagaimana solusinya untuk keluarga yang punya balita yang terkadang tidak terkendali membuang air? Apakah itu dianggap darurat dan dimaafkan?
3. Benarkah najis sedikit yang tidak diketahui pasti letaknya seperti kasus saya itu dimaafkan? Karena saya sudah berusaha semampu saya untuk menjauhinya. Namun, saya benar-benar takut jika memang ada najisnya di sisi lain kamar mandi
4. Apa saya berdosa jika mengambil yang yakin bahwa najisnya mulai dari tempat yang saya yakini saja?

JAWABAN

1. Kamar mandi yang terkena najis harus disiram dengan air. Kalau itu sudah dilakukan maka sudah suci.

2. Setiap najis harus disucikan. Caranya, tempat yang terkena najis dilap pakai tisur kering lalu disiram pakai air.

3. Ya, dimaafkan. Baca detail: Percikan Kencing Najis yang Dimakfu

4. Tidak dosa. Bahkan boleh menganggap tidak ada najis kalau memang tidak melihat najis itu. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

HUKUM AIR BEKAS NAJIS HUKMIYAH MENGALIR KE NAJIS HUKMIYAH LAIN


Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh saya ingin bertanya bagaimana hukumnya jika air bekas mensucikan najis hukmiyah mengalir ke najis hukmiyah yang lainnya apakah najis tersebut menjadi suci atau justru air tersebut menjadi najis dan bagaimana hukumnya najis hukmiyah yang sudah dibersihkan tadi apakah harus dibersihkan ulang?
Terimakasih assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh

JAWABAN

Najis hukmiyah yang terkena air bekas menyucikan najis hukmiyah hukumnya tetap najis. Karena air tersebut termasuk mustakmal yang tidak dapat menyucikan najis. Najis baru bisa suci apabila dialiri air mutlak yang suci dan menyucikan. Baca detail: 4 Jenis Air

Sedangkan air hukmiyah tadi menjadi najis karena ketularan najis menurut madzhab Syafi'i. Namun suci (tapi tidak menyucikan) menurut mazhab Maliki. Baca detail: Najis Hukmiyah Kering Terkena Benda Basah Menurut Madzhab Maliki

Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan