13/06/19

Cara Niat dalam Ibadah

Cara Niat dalam Ibadah
CARA NIAT DALAM IBADAH SHOLAT, WUDHU, MANDI JUNUB, PUASA

Assalamu'alaikum

1. Pak ustadz saya mau bertanya. Ada sebagian orang yang berniat dengan lafadz dalam hati sebagai berikut :

A. Niat saya ( sholat (fardhu atau sunat)/wudhu/mandi wajib/puasa dan ibadah lainnya ) karena Allah

B. Sengaja atau sahaja saya sholat (fardhu atau sunah)/ wudhu/ mandi wajib/ puasa dan ibadah lainnya ) karena Allah

Apakah niat diatas sah untuk beribadah dan sama artinya ?

2. Untuk mengatadi was-was dalam berniat bagaimana pak ustadz ? Sering saya berniat seperti ini "saya niat/berniat (ibadah) karrna Allah" nah pada saat lafadz niat/berniat saya sering was-was takut kalau lafdz yang saya niatkan itu bacaannya bukan lafadz "niat" karrna setiap kali saya menyusun huruf dan membayangkan lafadz niatnya sering kali hurufnya abstrak misalnya lafadz yang seharusnya niat karena was-was saya takut lafadznya jadi miat/liat/diat dll sehingga saya sering was-was pada lafadz bagian "niat" tersebut. Maaf kalau penjelasannya "kusut". Pada intinya saya was-was kalau saat melafadz kalimat "niat", susah untuk memfokuskan agara dalam pikiran tersusun huruf yang membentuk kata "niat", sering takut kalaunyang saya lafafznya dalam hati itu bukan kata "niat" tetapi liat/miat/diat dll. Mohon solusinya pak ustadz agar saya terbebas dari was_was ini, sudah saya coba dan saya upayakan untuk tidak menghiraukannya tetapinkarena saya takut niat saya tidak diterima makanya saya ulang-ulang terus sampai tersusun dengan benar dipikiran.

3. Pak ustadz apakah kotoran yg ada dikuku saya ini menghalangi mandi wajib atau wudhu saya ? Untuk menghilangkannya cukup menyita waktu karena dibutuhkan senter dan atau pengeriknya, kadang ada kotoran yang kecilnya juga sehingga perlu konsentrasi untuk melihatnya.

JAWABAN

1. Kedua model niat itu sama-sama sah. Yang penting dalam berniat adalah menyebutkan jenis ibadah yang diniati untuk membedakan dengan ibadah yang lain. Misalnya, untuk shalat zhuhur, maka yang terpenting adalah menyebutkan kata 'shalat' dan kata 'zhuhur'. Baca detail: Cara Niat

2. Abaikan rasa was-was. Dan tidak perlu was-was. Islam melarang seorang muslim was-was. Syariat Islam memaafkan kekurangan seandainya itu terjadi asal tidak disengaja. Apalagi kalau yang anda lakukan bukan kesalahan. Jadi, tidak ada alasan untuk was-was. Sekali lagi, obat was-was adalah dengan mengabaikannya. Mengabaikan was-was mendapat pahala. Baca detail: Cara Sembuh Was-was Najis, Wudhu, Mandi, Shalat

3. Tidak menghalangi. Tidak perlu dihapus. Apalagi kalau membahayakan anda, misalnya bisa melukai, dll. Yang menghalangi itu apabila berupa benda padat dalam jumlah yang cukup banyak. Baca detail: Kotoran Kuku dan Koreng jadi Penghalang Mandi dan Wudhu?

NIAT IBADAH TANPA KATA 'NIAT', SAHKAH?

Pertanyaan untuk jawaban no.1

Berarti jika hanya mengucap lafadz dalam hati "sholat fardhu isya" itu sudah cukup tanpa menyebut saya niat dan sejenisnya ?

Bagaimana kalau niat untuk ibadah selain sholat ? Apa kah sama ? Atua harus dengan lafdaz "niat saya", "saya niat" atau "sengaja saya" ?

JAWABAN

Ya, betul. Cukup menyebut 'sholat fardhu isya' untuk niat.
Imam Nawawi dalam kitab Roudotut Tolibin, hlm. 1/224, menjelaskan cara niat sbb:

والنية : هي القصد فيحضر المصلي في ذهنه ذات الصلاة ، وما يجب التعرض له من صفاتها كالظهرية والفرضية وغيرهما . ثم يقصد هذه العلوم ، قصدا مقارنا لأول التكبير

Artinya: Niat adalah bersengaja atau bermaksud (untuk melakukan sesuatu). Orang yang shalat hendaknya menghadirkan dalam hatinya shalat yang akan dilakukannya dan menampakkan sifat shalat yaitu, misalnya, zhuhur dan fardhu-nya...

Ibadah selain shalat juga sama seperti itu. Untuk puasa Ramadan, misalnya, maka cukup bagi kita untuk menghadirkan dalam hati kata 'puasa fardhu ramadan'.
Baca detail: Puasa Ramadan

Untuk wudhu, maka niatnya harus mengandung kata "menghilangkan hadas kecil".
Imam Nawawi dalam kitab Roudotut Tolibin, hlm. 1/49, menjelaskan:

أما كيفية النية ; فالوضوء ضربان : وضوء رفاهية ; ووضوء ضرورة . أما الأول : فينوي أحد ثلاثة أمور . أحدها : رفع الحدث ، أو الطهارة عن الحدث

Artinya: Cara niat wudhu adalah menyebut salah satu dari tiga: pertama, menghilangkan hadas; kedua, bersuci dari hadas, ....

Dalam penjelasan di atas, niat wudhu cukup dengan "menghilangkan hadas" atau "bersuci dari hadas".

Dalam masalah mandi junub, Imam Nawawi menjelaskan

ثم إن نوى رفع الجنابة ، أو رفع الحدث عن جميع البدن ، أو نوت الحائض رفع حدث الحيض ، صح الغسل

Artinya: Apabila orang yang mandi mandi wajib berniat "menghilangkan jinabah" atau "menghilangkan hadas dari seluruh badan" maka mandinya sah.
Baca detail: Cara Wudhu dan Mandi Wajib

"NIAT WUDHU" ATAU "NIAT MANDI WAJIB" SAJA, APAKAH SAH?

Kalau misalkan niat mandi wajib atau wudhu dengan lafadz hanya " niat saya mandi wajib dan niat saya wudhu" apakah belum memenuhi keharusan niat pak ustadz ? Karena selama ini saya berniat untuk bersuci menggunakan lafadz seperti "saya niat wudhu" dan saya niat mandi wajib pam ustadz.

JAWABAN

Hukumnya sah berniat wudhu atau mandi wajib dengan hanya mengatakan "Niat wudhu" dan "Niat mandi wajib".

Salim Al-Hadrami dalam Ghayatul Muna Syarah Safinatun Naja, hlm. 137, menyatakan:

ولو قال: نويت الوضوء صح، بخلافه في الغسل لو قال: نويت الغسل فقط
فانه لا يصح

Artinya: Apabila mengucapkan niat dengan ucapan "Aku niat wudhu" maka itu sudah sah. Berbeda dengan mandi wajib, apabila ia berkata "Aku niat mandi" saja, maka itu tidak sah. (Karena tidak ada kata "wajib" atau "fardhu"-nya. Berbeda kalau berkata "Aku niat mandi wajib" maka hukumnya sah).
Baca detail: Cara Niat

06/06/19

Hukum Shalat Kafarat Jumat Akhir Ramadhan

Hukum Shalat Kafarat Jumat Akhir Ramadhan
SHALAT KAFARAT DI AKHIR JUMAT BULAN RAMADAN APAKAH SUNNAH?

Maaf ustad saya ingin bertanya, saya mendapatkan Pesan tentang Shalat Kafaroh,
1. Apakah shalat tersebut di sunnahkan?
2. Apakah Dalil yang di pesan tersebut benar, ? Mohon jawabannya agar saya tidak tersesat.!

Ini Pesan saya dapatkan di Group WA..
SHALAT KAFARAH DI HARI JUM'AT TERAKHIR BULAN RAMADHAN

Shalat kafarah Bersabda Rasulullah SAW : " Barangsiapa selama hidupnya pernah meninggalkan sholat tetapi tak dapat menghitung jumlahnya, maka sholatlah di hari Jum'at terakhir bulan Ramadhan sebanyak 4 rakaat dengan 1x tasyahud (tasyahud akhir saja, tanpa tasyahud awal), tiap rakaat membaca 1 kali Fatihah kemudian surat Al-Qadar 15 X dan surat Al-Kautsar 15 X

Niatnya: ” Nawaitu Usholli arba’a raka’atin kafaratan limaa faatanii minash-shalati lillaahi ta’alaa”

Sayidina Abu Bakar ra. berkata :
"Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sholat tersebut sebagai kafaroh (pengganti) sholat 400 tahun dan menurut Sayidina Ali ra. sholat tersebut sebagai kafaroh 1000 tahun. Maka bertanyalah sahabat : umur manusia itu hanya 60 tahun atau 100 tahun, lalu untuk siapa kelebihannya ?". Rasulullah SAW menjawab, "Untuk kedua orangtuanya, untuk istrinya, untuk anaknya dan untuk sanak familinya serta orang-orang yang didekatnya/ lingkungannya."
.
Setelah selesai Sholat membaca Istigfar 10 x :

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعِظِيْمِ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَ أتُبُوْا إِلَيْكَ

Kemudian baca sholawat 100 x :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا محمّد

Kemudian menbaca basmalah, hamdalah dan syahadat
Kemudian membaca Doa kafaroh 3x :

اَللَّهُمَّ يَا مَنْ لاَ تَنْفَعُكَ طَاعَتِيْ وَلاَ تَضُرُّكَ مَعْصِيَتِيْ تَقَبَّلْ مِنِّيْ مَا لاَ تَنْفَعُكَ وَاغْفِرْ لِيْ مَا وَلاَ تَضُرُّكَ يَا مَنْ إِذَا وَعَدَ وَفَا وَ إِذَا تَوَعِدُ تَجَاوَزَ وَعَفَا اِغْفِرْ لِيْ لِعَبْدٍ ظَلَمَ نَفْسَهُ وَأَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ بَطْرِ اْلغِنَى وَجَهْدِ اْلفَقْرِ إِلَهِيْخَلَقْتَنِيْ وَلَمْ أَكُنْ شَيْئًاً وَرَزَقْتَنِيْ وَلَمْ اَكُنْ شَيْئاً وَارْتَكَبْتُ اْلمَعَاصِيْ فَإِنِّيْ مُقِرٌّ لَكَ بِذُنُوبِيْ فَإِنْ عَفََوْتَ عَنِّيْ فَلاَ يَنْقُصُ مِنْ مُلْكِكَ شَيْئاً وَإِنْ عَذَبْتَنِيْ فَلاَ يَزِدُ فِيْ سُلْطَاِنكَ شيئاً اَللَّهُمَّ إِنَّكَ تَجِدُ مَنْ تُعَذِّبُهُ غَيْرِي لَكِنِّيْ لاَ أَجِدُ مَنْ يَرْحَمْنِيْسِوَاكَ فَاغْفِرْ لِيْ مَا بَيْنِيْ وَبَيْنَكَ وَمَا بَيْنَ خَلْقِكَ اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَيَا رَجَاءَ السّائِلِيْنَ وَيَا أَمَانَ اْلخَائِفِيْنَ إِرْحَمْنِيْ بِِرَحْمَتِكَ الْوَاسِعَةَ أَنْتَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَاَلمِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ ِللْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَتَابِعِ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِ ربّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَ أَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ وصل الله على سيّدنا محمّد وعلى ألِهِ وصحبه وسلّم تسليمًا كثيرًا والحمد لله ربّ العالمين. أمين.

Diambil dari kitab “Majmu’atul Mubarakah”, susunan Syekh Muhammad Shodiq Al-Qahhawi.
.
(oleh: Habib Munzir al-Musawa dan dari berbagai sumber lain.)
Waktu : Yaitu, shalat sunnah kafarat yang hanya kesempatannya di hari Jumat akhir Ramadhan batasnya antara waktu dhuha dan Ashar.

Semoga bisa mengamalkan dan ada manfaatnya.

Allahuma sholi 'ala sayidina Muhammad nabiyil umiyi wa 'alihi wa shohbihi wa salim

JAWABAN

Ringkasan:

1. Tidak benar. Shalat kaffaroh tidak sunnah.
2. Dalil yang dipakai untuk shalat sunnah kafarat adalah hadits palsu.

URAIAN

Hadits yang anda tulis terjemahannya tersebut redaksi asalnya dalam bahasa Arab adalah sbb:

من فاتته صلاة في عُمُره ولم يحصها فليقم في آخر جمعة من رمضان وليصل أربع ركعات بتشهد واحد ، يقرأ في كل ركعة فاتحة الكتاب ، وسورة القدر خمس عشرة مرة ، وسورة الكوثر كذلك ، ويقول في النية : نويت أصلي أربع ركعات كفارة لما فاتتني من الصلاة" ) ! فما مدى صحة هذا الحديث

Adapun status hadits ini adalah palsu (maudhuk).

Dr. Atiyah Saqar, ulama Al-Azhar Mesir, menyatakan:

لم أعثر على هذا الحديث في الكتب الصحيحة، وعلامة الوضع فيه ظاهرة، فالصلاة التي تفوت الإنسان لا يكفرها إلا قضاؤها ، ومن المعلوم أنه من ترك الصلاة ناسياً لا يكفرها إلا قضاؤها كما صح في الحديث ، وإذا كان هذا في الصلاة التي نام عنها أو سها عنها الإنسان فكيف بالصلاة المتروكة عمداً ؟! إن قضاءها أولى بالوجوب .

Artinya: Aku tidak menemukan hadits ini di kitab-kitab hadits yang sahih. Tanda kepalsuan hadits ini sangat jelas. Shalat yang tertinggal tidak ada tebusannya kecuali diqadha. Sudah maklum bahwa orang yang meninggalkan shalat karena lupa tidak bisa menebusnya kecuali dengan mengqadhanya sebagaimana terdapat dalam hadits sahih. Apabila kewajiban qadha itu pada shalat yang ditinggal karena lupa atau tertidur, maka bagaimana dengan salat yang tertinggal secara sengaja? Kewajiban mengqadanya jelas lebih besar.

Ada juga hadits serupa yang mendasari pendapat tersebut di atas. Haditsnya sbb:

من صلى في آخر جمعة من رمضان الخمس الصلوات المفروضة في اليوم والليلة قضت عنه ما أخل به من صلاة سنَته

Artinya: Barangsiapa shalat di akhir Jumat bulan Ramadan lima shalat fardhu pada hari dan malam, maka shalat tersebut telah mengqadha (mengganti) shalat yang tertinggal selama setahun

As-Syaukani dalam Al-Fawaid Al-Majmuah fi Al-Ahadits Al-Mauduah, hlm. 54, menyatakan terkait hadits di atas sbb:

"حديث ( من صلى في آخر جمعة من رمضان الخمس الصلوات المفروضة في اليوم والليلة قضت عنه ما أخل به من صلاة سنَته ) : هذا موضوع لا إشكال فيه ، ولم أجده في شيء من الكتب التي جمع مصنفوها فيها الأحاديث الموضوعة ، ولكنه اشتهر عند جماعة من المتفقهة بمدينة " صنعاء " في عصرنا هذا ، وصار كثير منهم يفعلون ذلك ! ولا أدري مَن وضعه لهم ، فقبَّح الله الكذابين" انتهى

Artinya: Hadits ini palsu (maudhuk), tidak diragukan lagi. Aku tidak menemukannya sedikitpun dari kitab-kitab yang disusun terkait hadits mauduk. Akan tetapi hadits ini masyhur di kalangan ahli fikih kota San'a di masa sekarang ini. Banyak dari mereka mengamalkannya. Aku tidak tahu siapa yang memalsukannya. Semoga Allah membuka aib para pembohong.

28/05/19

Hukum Mengubah Penggunaan Harta Wakaf

WAKAF: MENGUBAH PENGGUNAAN HARTA WAQAF

Assalamu'alaikum wr. wb.

1. Bila wakaf tanah dan bangunan yg semula oleh wakif dimaksudkan untuk pesantren tapi oleh nadzir dijadikan sekolah, bagaimana hukumnya?

2. Setelah dikelola alhamdulillah berjalan dan berkembang,apakah boleh hasil (keuntungan) dari pengelolaan tersebut masuk kantong pribadi yang mengelola?

3. Bila keuntungan tersebut dibelikan tanah & bangunan baru untk pengembangan sekolah(wakaf), bisakah tanah tersebut diklaim milik pribadi yang mengelola sehingga sewaktu-waktu bisa dijual?

4. Bila kemudian keluarga wakif berkeras ingin turut serta mengelola wakaf tersebut, apakah memang wajib ditaati sehingga kemungkinan harus memberhentikan beberapa pengurus lama?

Mohon jawabannya. Terima kasih.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

JAWABAN


1. Hukum asalnya tidak boleh. Namun bisa dilakukan apabila dianggap lebih maslahat oleh nazhir waqaf.

Ibnu Hajar Al Haitami dalam Al Fatawa Al Kubro, hlm. 3/338, menyatakan:

إن قصد الواقف يراعى بحيث إذا حدد طريقة صرف الوقف فإن ذلك يعتبر، أو عرف مقصده بأن جرت العادة في زمنه بأشياء مخصوصة، فينزل عليها لفظ الواقف.
Artinya: Tujuan dari waqif (pewakaf) harus dijaga dalam arti apabila dia memberi batasan atas penggunaan harta wakaf maka hal itu dianggap (harus dilaksanakan). Atau diketahui tujuannya berdasarkan kebiasaan yang berlaku di zamannya dengan sesuatu yang khusus, maka ucapan waqif diarahkan padanya (apabila tidak ditentukan secara khusus).

Namun, sebagian ulama madzhab Hambali membolehkan pengalihan manfaat apabila dianggap lebih maslahat. Mustofa Al Rohibani dalam Matolib Ulin Nuha fi Syarhi Ghayatil Muntaha, hlm. 4/370, menyatakan:

يجوز تغيير شرط واقف لما هو أصلح منه، فلو وقف على فقهاء أو صوفية واحتيج للجهاد صرف للجند. اهـ
Artinya: Boleh merubah syarat yang diucapkan waqif (pemberi wakaf) pada tujuan yang lebih maslahat. (Misalnya) apabila waqif mewakafkan hartanya untuk ulama fikih atau sufi lalu harta itu dibutuhkan untuk jihad, maka boleh digunakan untuk biaya tentara.

2. Tidak boleh. Haram, kecuali secukupnya untuk gaji. Tentang nilai gaji, apabila sudah ditentukan di muka, antara waqif dan nazhir wakaf, maka jumlah yg ditentukan itu yang boleh diambil. Apabila belum ditentukan, maka bisa mengambil gaji menurut aturan yang berlaku umum (ujroh misil).
Al-Khatib Al-Syarbini dalam Mugnil Muhtaj ila Makrifati Alfazhil Minhaj, hlm. 3/553-554, menyatakan:

: [(ووظيفتُهُ -أي ناظر الوقف-) عند الإطلاقِ أو تفويضِ جميع الأمور (العمارةُ والإجارةُ وتحصيلُ الغلة وقسمتُها) على مستحقيها وحفظُ الأصولِ والغلاتِ على الاحتياط؛ لأنه المعهود في مثله.. ولو شرط الواقف للناظر شيئًا من الريع جاز وإن زاد على أجرة مثله؛ كما صرح به الماوردي] اه
Artinya: Tugas dari nazhir wakaf secara umum adalah mengurus, menyewakan, menghasilkan laba dan membagikannya pada yang berhak serta menjaga harta pokok dan laba secara hati-hati... Apabila waqif (pemberi wakaf mensyaratkan pada nazhir bagian dari keuntungan, maka itu dibolehkan walaupun itu melebihi gaji umum sebagaimana dijelaskan oleh Al Mawardi.
Baca detail: Hukum Wakaf dalam Islam

3. Tidak bisa. Seluruh keuntungan dari harta wakaf statusnya sebagai harta wakaf yang penggunaannya sesuai dengan ucapan dari waqif. Nazhir hanya berhak pada bagian gaji yang sudah disepakati atau gaji umum sebagaimana disebut dalam poin 2.

4. Soal ini sifatnya tidak prinsip. Jadi lebih ke masalah sosial. Apabila memasukkan keluarga waqif itu lebih maslahat untuk menjaga kelestarian dan transparansi harta wakaf, maka itu lebih baik.
Baca detail: Wakaf dalam Islam

Ingat, harta wakaf adalah harta amanah untuk keperluan sesuai pesan dari waqif. Menggunakan untuk kepentingan pribadi sama dengan mencuri hak dari mustahiq dan mengkhianati waqif dan melanggar syariat. Hukumnya dosa besar. Baca detail: Dosa Besar dalam Islam

27/05/19

Menelan Air Liur dan Dahak Saat Puasa

Menelan Air Liur dan Dahak Saat Puasa
MENELAN DAHAK DAN LUDAH AIR LIUR SAAT PUASA

assalamualaikum kiyai/para ustadz yg saya hormati.. saya ada permasalahan terkait ilmu yg belum sempurna saya perihal pembatalan puasa.. yg mana krn ilmu belum smpurna itu seringkali membuat saya was-was karenanya.

mohon kiranya kiyai/ustadz bisa membantu memberikn solusi dg jawaban berserta referensinya, mohon dengan sangat _/\_

yg saya ketahui dari belajar saya, diantara yg membatalkan puasa itu bila dg sengaja memasukkan sesuatu (dari benda dunia) melalui mulut hingga masuk rongga dalam, dikecualikan air liur murni yg masih berada d wilayahnya (yg artinya, jika liur sudah di luar wilayah jika kemudian ditelan maka membatalkan puasa)..

[1] yg jd pertanyaan saya adalah perihal air liur (murni) ini ustadz..

(a) itu yg dimaksud dari batasan wilayah mulut yg tdk membatalkan bila menelan liur itu bagiannya mana saja ustadz ?

(b) ada beberapa ustad menerangkan, batasannya gigi (artinya jk liur sdh diluar batas gigi jk kemudian ditelan mk membatalkan), kalau seperti itu, saya merasakan itu sulit ustadz,, krn liur itu sifatnya cair, lagi pula mulut pun sering digerakkan, yg sudah pasti ada saja yg melewati batasan gigi (terlebih bila giginya renggang/ompong).. saya kira tidak mungkin ada org yg bisa menjaga kalau seperti itu ,.

(c) atau apakah hingga bibir? jk iya batasanya sebelah mana ? bibir bagian dalam saja atau hingga bagian luar?

(d) terus bagaimana jika liur seringkali ada di pojok bibir luar, juga yg sedikit yg seringkali ada pada bagian bibir yg berdempet di saat mingkem, karena, namanya mulut bila digerak2kan pasti saja ada liur yg sampai ke situ. jika harus dihilangkan setiap saat itu sulit..


[2] kemudian juga masalah dahak..
saya juga termasuk org yg tenggorokannya mudah berdahak ustadz..
dari yg saya tahu sewaktu belajar,, bila dahak berada di makhroj ha/'ain, bila ditelan maka puasanya batal,, jd harus dikeluarkan.. sementara yg biasa saya alami, dahak bila di tenggorokan itu seringkali di makhroj itu (kadang juga di makhroj kho).. terlebih bila sedang pilek, dahak lebih banyak.. (sy pun org mudah pilek)...

[3] o iya ustadz,, saya pernah mendengar/baca, kaidah bahwa kemasyaqatan dalam mengerjakan sesuatu juga kemadaratan bila melakukan sesuatu itu dpt menjadikan hukum berubah atau menjadi ringan, itu kaidah seperti bgmn ya ustadz? dan apakah itu berlaku utk kasus apapun atau hanya utk kasus2 tertentu saja? apakah biasa diterapkan untuk kasus saya ini? ataukah ada qaul lain yg lebih ringan dan bisa diamalkan?

mungkin kiranya sekian pertanyaan dr saya. mohon maaf bila tulisannya terlalu panjang, kalimatnya tidak rapi dan tidak sopan.. inilah saya dan mampu saya, ustadz.. namun saya berharap bahasa saya dipahami dan ditanggapi pada setiap titik poinnya, agar bisa melawan was-was saya... dan atas jawabannya saya berucap terima kasih..jazakumullah..

wassalamu'alaikum wr wb

JAWABAN

1A. Menelan air liur saat puasa tidak membatalkan puasa berdasarkan kesepakatan ulama dari empat madzhab (ijmak).

Imam Nawawi dalam al-Majmuk, hlm. 6/341, menyatakan:

ابتلاع الريق لا يفطر بالاجماع إذا كان على العادة لانه يعسر الاحتراز منه
Artinya: “Menelan air liur itu tidak membatalkan puasa sesuai kesepakan para ulama. Hal ini berlaku jika orang yang berpuasa tersebut memang biasa mengeluarkan air liur. Sebab susahnya memproteksi air liur untuk masuk kembali.”

al Malibari di dalam kitab Fathul Muin, hlm. 56, menjelaskan bahwa air liurnya harus murni air liur, tidak bercampur benda lain:

(و) لايفطر (بريق طاهرصرف) اي خالص ليبتلعه (من معدنه) وهو جميع الفم ولو بعد جمعه على الأصح
Artinya: Tidak membatalkan puasa sebab menelan ludah yang suci dan murni dari sumbernya yakni dari semua bagian mulut meskipun setelah dikumpulkan (ludahnya terlebih dahulu) demikian menurut pendapat yang paling shahih.

Adapun batas air liur di mulut di jelaskan dalam kitab Hasyiyah Qalyubi wa Umairah, hlm. 2/73, bahwa tidak ada batasan tertentu:

ومثله َلَوْ أَخْرَجَ اللِّسَانَ وَعَلَيْهِ الرِّيقُ ثُمَّ رَدَّهُ وَابْتَلَعَ مَا عَلَيْهِ لَمْ يُفْطِرْ فِي الأَصَحِّ , لأَنَّ اللِّسَانَ كَيْفَمَا تَقَلَّبَ مَعْدُودٌ مِنْ دَاخِلِ الْفَمِ فَلَمْ يُفَارِقْ مَا عَلَيْهِ مَعْدِنُهُ ) .
Artinya: Apabila ia (orang yang puasa) mengeluarkan lidahnya yang ada air liurnya lalu menarik lidahnya dan menelan liur yang ada maka hal itu tidak membatalkan puasa menurut pendapat yang paling sahih. Karena lidah itu bagaimanpun pergerakannya itu dihitung termasuk mulut bagian dalam...

2. Tidak ada kewajiban untuk mengeluarkan dahak apabila memang sering mengalami hal tersebut.

Zakaria al Anshari dalam kitab Fathul Wahhab Bi Syarh Minhajit Thullab, hlm. 1/120, menjelaskan:

(لاَ) ترك (قلع نخامة ومجها) فلا يجب فلا يفطر بهما لأن الحاجة اليهما مما تتكرر (ولو نزلت) من دماغه وحصلت (في حد ظاهر فم فجرت) الى الجوف (بنفسها وقدر على مجها أفطر) لتقصيره بخلاف ما إذا عجزعنه.
Artinya: Tidak wajib mengeluarkan dahak dan melepehnya. Maka tidak wajib dan tidak membatalkan puasa disebabkan mengeluarkan dan melepehkan karena dibutuhkannya akan hal tersebut secara berulang-ulang. Apabila dahak itu turun dari otaknya dan sampai pada batas luar mulut lalu mengalir ke jauf (rongga) dengan sendirinya dan dia mampu untuk melepehnya (tapi tidak dikeluarkan) maka itu membatalkan puasa karena dianggap sembrono. Beda halnya apabila dia tidak mampu melakukan itu (maka tidak batal puasanya).

Dalam penjelasan di atas dalah batal menelan dahak apabila mampu mengeluarkan. Apabila tidak mampu, maka tidak batal.

Atiyah Saqar, dalam Mausu'ah AhsanAl Kalam fi al Fatawa wal Ahkam, hlm. 4/638, menjelaskan adanya perbedaan ulama antar madzhab soal ini:


البلغم الخارج من الصدر ومثله النُّخامة النازلة من الرأس، فإن وصل إلى الفم ثم بلعه الصائم بطل صومه على ما رآه الشافعية، إذ يصدق عليه أنه شيء دخل إلى الجوف من منفذ مفتوح، ولا يشق الاحتراز عنه. وقال بعض العلماء: إن بلعه في هذه الحالة لا يضر ما دام لم يتجاوز الشفتين، بل قاسه آخرون على الريق العادي فقالوا: إن بلعه لا يبطل الصوم مطلقًا، وفي هذا القول تيسير على المصابين بحالة يكثر فيها البلغم، أما غير هؤلاء فيتبعون أحد القولين الأولين.

وعلى القول بأن بلعه يبطل يجب بصقه حتى لو كان في الصلاة، على ألا يطرحه في المسجد فإن تلويثه ممنوع بل يكون ذلك في نحو منديل بحركة خفيفة لا تبطل الصلاة.انتهى.
Artinya: Dahak yang keluar dari dada dan yang turun dari kepala, apabila sampai ke mulut lalu ditelan oleh orang yang puasa, maka batal puasanya menurut madzhab Syafi'i. Karena hal itu sama dengan masuknya sesuatu ke dalam rongga dari tempat/lobang terbuka. Dan tidak sulit menghindarinya. (Tapi) sebagian ulama berkata: Menelan dahak dalam kondisi ini tidak membatalkan puasa selagi dahaknya tidak melewati kedua bibir. Bahkan ulama lain mengiyaskan (menganalogikan) dengan ludah yang biasa. Mereka berkata: Menelan dahak tidak membatalkan puasa secara mutlak. Pendapat ini mempermudah bagi orang yang sering keluar dahak. Sedangkan bagi yang tidak mengalami hal ini, maka bisa mengikuti salah satu dari dua pendapat pertama. ....

Kesimpulan: dalam masalah dahak ini, anda bisa mengikuti pendapat yang tidak membatalkan puasa. Baik pendapat kedua atau ketiga.

3. Inilah relevansi dari kaidah fikih yang anda tanyakan: المشقة تجلب التيسير (Kesulitan merubah hukum menjadi mudah). Namun tentu saja perubahan hukum itu harus berdasarkan pada analisa ahli sebagaimana disebut di jawaban no. 2.
Baca detail: Puasa Ramadan

21/05/19

Begini Cara Menghitung Zakat Penghasilan

CARA MENGHITUNG ZAKAT (2)

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Terima kasih atas jawaban yang diberikan sangat komprehensif. Namun masih ada beberapa yang masih belum jelas terutama praktiknya/simulasinya, menurut sepemahan saya dari tulisan Antum, sbb:

A. Hitungan zakat metode Imam Hanafi

- 200 juta x 2,5 % = 5juta
- emas 100gram x 2,5 % = 2,5 gram (konversi harga emas 700rb/gram maka Rp. 1,75jutaan)


B. Metode Imam Syafii

Contoh:

Riwayat penambahan harta uang dari Ramadhan 1439 H - 1440H:

- Ramadhan 1439H : 90 juta
- Syawal 1439H: +15 juta = 105 juta
- jumadil awal 1440H: +45 juta = 150 juta
- jumadil akhir 1440H: +10 juta = 160 juta
- Rajab 1440H: +40 juta = 200juta
- Syaban 1440H: +10 juta = 210 juta
- Ramadhan 1440H: +10juta = 220 juta

Berarti bayar zakatnya:

- Ramadhan 1440H = 90 juta x 2,5%

- Jumadil Awal 1441H = (150 - 90 = 60 juta) x 2,5%

--> asumsi 60 juta sudah masuk Nisob emas 85gram atau 59 juta.

- Syaban 1441H = (210-150= 60 juta) x 2,5 %.

Pertanyaannya:
1. Betulkah pemahaman saya dalam menghitung di A dan B?

2. Jika Poin 1 saya benar dan saya menghitung dengan metode B, jika pada bulan Jumadil Awal 1441 H sisa uang saya 140juta? Apakah menjadi tidak jadi zakat karena berkurangnya penambahan dari bulan Jumadil Awal 1440 H tdk mencapai Nisob? Bagaimana praktik penghitungan zakat saya?

3. Terkait zakat emas, jika riwayat penambahan emas:

- Ramadhan 1439 H : 90 gram
- Rajab 1440 H : +10 gram = 100 gram

Jika menggunakan metode Imam Syafii, bagaimana praktik menghitung zakatnya?
Apakah:
Ramadhan 1440 H : 90 gram x 2,5%
Rajab 1441 H : 100 gram x 2,5 %
(Artinya ada double zakat)

Atau bagaimana?

4. Jika Poin 1 saya benar, saya lebih menyukai Metode A karena lebih mudah walaupun zakat yang dibayarkan relatif lebih besar. Namun, dalam praktek Fiqih sehari-hari, saya bermadzhab Imam Syafii. Menurut antum mana yang lebih utama saya praktekkan dan alasannya?


Demikian terima kasih, Jazakumullah.

JAWABAN

1. Untuk metode A sudah betul. Dalam arti, harta tambahan yang belum sampai haul diikutkan dan digabungkan pembayarannya dengan harta yang sudah sampai haul menurut madzhab Hanafi.

Perlu juga dipahami, bahwa harta uang dan harta emas itu menjadi satu kesatuan dalam total harta yang akan dizakati. Jadi pada dasarnya, kalau anda punya harta yang sudah haul senilai 200 juta dan 100 gram emas (kalau emas 700 ribu/gram), maka harta anda dalam rupiah adalah 200 juta + 70 juta = 270 juta x 2.5% = zakat yang dikeluarkan tahun 1440.

Untuk metode B (madzhab Syafi'i) tidak tepat. Merujuk pada angka-angka yang anda pakai, begini penghitungannya (dengan asumsi nisob 59 juta):

KASUS 1

- Syawal 1439H: 15 juta. Uang 15 juta tidak ditambahkan ke harta sebelumnya (menurut metode Syafi'i), melainkan dihitung tersendiri. Karena belum sampai nisob, maka penghitungan haul tidak dimulai dari sini.
- jumadil awal 1440H: +45 juta -> uang 45 juta ditambahkan dengan uang 15 juta = 60 juta. Uang sudah sampai nisob. Maka, penghitungan haul dimulai dari bulan Jumadil Awal. Kelak pada bulan Jumadil Awal 1441, anda wajib mengeluarkan zakat 2.5%

KASUS 2

- jumadil akhir 1440H: +10 juta. Uang tambahan 10 juta tidak sampai nisob. Masa haul belum dihitung.
- Rajab 1440H: +40 juta ditambah 10 juta dari bulan jumadil akhir menjadi 50 juta. Berarti belum sampai nisob. Masa haul belum dihitung dari bulan ini.
- Syaban 1440H: +10 juta -> 10 juta + 40 juta (penghasilan bulan rojab) + 10 juta (simpanan bulan jumadil akhir) = 60 juta -> sudah sampai nisob. Masa haul dimulai dari bulan Syaban ini dan kelak pada bulan Syaban 1441 wajib bayar zakat 2.5%

- Ramadhan 1440H: +10juta -> tambahan ini tidak dizakati dan tidak dihitung nisob sampai terkumpul tambahan yang sampai nisob pada bulan2 berikutnya.

Jadi, dalam KASUS 1 jumlah total simpanan bulan Syawal dan Jumadil Awal dibayar zakatnya pada bulan Jumadil Awal 1441. Namun, kalau pun mau dizakati pada bulan Ramadan 1441 juga boleh karena menyegerakan zakat itu dibolehkan asal sudah mencapai nisob.

Juga, dalam KASUS 2, simpanan harta bulan Jumadil Akhir, Rajad dan Syaban 1440 dizakati pada bulan Syaban 1441. Tapi boleh dizakati pada Ramadan 1441 (ta'jiluz zakat - menyegerakan zakat sebelum waktunya).

2. Lihat jawaban poin 1.

3. Kalau harta simpanan anda di bulan Rajab hanya emas 10 gram, maka tidak wajib zakat karena tidak ditambahkan ke emas sebelumnya. Ini menurut metode Syafi'iyah.

Namun perlu diketahui, bahwa zakat harta itu gabungan dari seluruh harta yang wajib zakat baik harta yang berupa uang maupun berupa emas. Misalnya, bulan Rajab ada tambahan harta simpanan 10 gram dan simpanan uang 50 juta, maka 10 gram + 50 juta = 70 JUTA X 2.5%

4. Sudah disebutkan di jawaban sebelumnya bahwa kami menyarankan anda untuk memakai metode madzhab Hanafi dalam soal zakat untuk lebih mempermudah. Dan itu tidak masalah. Dalam hal zakat, pandangan madzhab Hanafi banyak dipakai di Indonesia yg bermadzhab Syafi'i ini. Salah satu yang populer adalah zakat fitrah dengan uang yang menurut mayoritas ulama madzhab Syafi'i harus dengan makanan.

Baca juga:
- Panduan Zakat
- Zakat Profesi

Cara Menghitung Zakat Profesi

CARA MENGHITUNG ZAKAT PENGHASILAN

Latar Belakang:

- Saya memiliki pekerjaan sebagai penulis dan analis dengan penghasilan yang berbeda-beda setiap bulannya (kisaran 15-25 juta/bulan, terkadang lebih, tergantung project).

- Diketahui pada 16 Ramadhan 1439H saya memiliki simpanan harta sebesar Rp. 90 juta dan 90 Gram Emas. Kemudian pada 16 Ramadhan 1440 sisa simpanan harta saya (dari hasil pekerjaan saya dikurangi dengan kebutuhan2/pengeluaran2) sebesar Rp. 200 juta dan 100 Gram Emas .

Pertanyaannya:

1. Apakah saya wajib membayar zakat? jenis zakat apa yang saya bayar?

2. Jika saya wajib membayar zakat, bagaimana cara menghitung zakatnya (termasuk Nishob dan Haulnya), berapa zakat yang dikeluarkan, dan bagaimana cara mengeluarkan zakatnya (bolehkah keseluruhan dalam bentuk uang)?

3. Bolehkah saya berniat membayar zakat melebihi wajib zakat untuk kehati-hatian dengan niat kelebihannya diniati shodaqoh?
sebagai contoh: emas yang saya miliki saat ini sebenarnya 76 gram emas murni (24 karat) dan 24 gram emas perhiasan yang disimpan, dengan kadar karat berbeda-beda (namun tidak diketahui berapa karat), sehingga sebagai bentuk kehati-hatian saya hitung zakat untuk 100 gram emas murni, kelebihannya saya niati shodaqoh.

4. Untuk zakat periode/tahun selanjutnya, apakah saya harus menghitung secara detail penambahan harta setiap waktu hingga tiba Haul zakat, atau cukup mengitung sisa simpanan harta?

Jika tidak merepotkan disertai ibaroh dari Madzhab Imam Syafii dan diambilkan pendapat yang mashur, namun memudahkan untuk penghitungan dan pelaksanaannya (jalan tengah).

Terima kasih. Jazakumullah.

JAWABAN

1. Ya, anda wajib bayar zakat karena sudah terpenuhi dua syarat yaitu haul (masa setahun) dan nishob (batas minimum) karena nishob zakat harta adalah senilai 85 gram emas. Jenis zakatnya adalah zakat harta.

Syekh Wahbah Az-Zuhayli dalam Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, hlm. 3/1949, mengatakan:

وَالْمُقَرَّرُ فِيْ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ أَنَّهُ لَا زَكَاةَ فِي الْمَالِ الْمُسْتَفَادِ حَتَّى يَبْلُغَ نِصَاباً وَيَتِمَّ حَوْلاً
Artinya, “Ketetapan dalam 4 madzhab bahwa tidak ada kewajiban zakat dalam harta penghasilan kecuali mencapai satu nishab dan sempurna satu tahun.”

Sedangkan batas satu nishob uang penghasilan profesi adalah satu nishab senilai harga emas 85 gram atau kurs harga perak 543,35 gram. Nilai persentase yang wajib dikeluarkan adalah 2,5 persennya.

2. Yang wajib bayar zakat adalah harta simpanan yang sudah mencapai haul. Yakni harta yang pada Ramadan 1439 sudah sampai nishob maka harta tersebut pada Ramadan 1440 sudah mencapai haul dan wajib bayar zakat. Sedangkan harta lain yang belum sampai haul bulan ini (Ramadan) maka tidak wajib dizakati pada bulan Ramadan tahun ini. Misalnya, pada bulan Dzulhijah 1439 ada tambahan harta yang mencapai nishob, maka harta tersebut baru wajib zakat pada bulan Dzulhijah 1440. Namun boleh dibayarkan bersamaan dengan yang Ramadan karena hukum mempercepat pembayaran zakat itu boleh.

An Nawawi dalam Minhajut Tolibin, hlm. 39, menyatakan:

لا يصح تعجيل الزكاة على ملك النصاب ويجوز قبل الحول، ولا تعجل لعامين في الأصح. انتهى
Artinya: Tidak boleh mempercepat sebelum nishob, tapi boleh sebelum haul. Tapi tidak boleh menyegerakan zakat untuk dua tahun ke depan menurut pendapat yang paling sahih.

Al Romli dalam Nihayatul Muhtaj, hlm. 3/141, menyatakan:

يجوز تعجيلها في المال الحولي قبل تمام الحول فيما انعقد حوله ووجد النصاب فيه؛ لأنه صلى الله عليه وسلم أرخص في التعجيل للعباس
Artinya: Boleh mendahulukan pembayaran zakat harta sebelum sempurnanya masa haul apabila sudah sampai nishob karena Rasulullah pernah membolehkan hal itu pada Al Abbas.

Pembayaran zakat dilakukan dalam bentuk uang. 2.5 persen dari harta. Untuk zakat emas, maka konversi ke mata uang menurut harga emas waktu mengeluarkan zakat.

3. Boleh. Yang tidak boleh dan tidak sah apabila kurang dari 2.5 persen.

4. Apabila mengikuti madzhab Syafi'i, maka harus jelas membedakan dan memisahkan harta yang sudah sampai nisob dan haul dengan harta tambahan yang sudah sampai nisob tapi belum sampai haul. Di mana harta yang sudah nisob dan sampai haul wajib dizakati segera, sedangkan harta yang sudah nisob tapi belum sampai haul ada dua pilihan: a) wajib dibayar ketika sudah sampai haul; b) boleh disegerakan. Sedangkan menurut madzhab Hanafi, kedua harta (yang sudah haul dan yang belum haul) harus digabungkan jadi satu.

Cara termudah adalah apabila mengikuti madzhab Hanafi. Di mana anda bisa langsung menghitung seluruh harta simpanan anda lalu dikalikan 2.5% zakatnya. Tanpa harus repot-repot memisahkan dulu mana harta yang sudah sempurna setahun, dan mana yang belum sampai haul. Apakah boleh ikut madzhab Hanafi dalam soal ini? Boleh. Apalagi secara prinsip tidak ada perbedaan mendasar antara madzhab Syafi'i dan madzhab Hanafi. Hanya beda cara saja. (untuk ibarot, lihat di bawah).

Terkait harta berupa emas, ada dua jenis emas, yaitu emas perhiasan perempuan dan emas simpanan. Emas perhiasan yang dipakai dan dimiliki perempuan tidak wajib zakat. Sedangkan emas selain itu, yakni emas lantakan dan emas perhiasan tapi dimiliki laki-laki maka wajib zakat apabila sampai nisob dan haul.

An Nawawi dalam Roudoh At Tolibin, hlm. 2/260, menjelaskan:

: أَمَّا الْحُلِيُّ الْمُحَرَّمُ فَتَجِبُ الزَّكَاةُ فِيهِ بِالْإِجْمَاعِ انتهى
Artinya: Perhiasan emas yang diharamkan maka wajib bayar zakat berdasarkan ijmak (kesepakatan ulama).

Apa maksud emas yang diharamkan? Dalam Al-Mausuah Al-Fiqhiyah, hlm. 18/113, dijelaskan:

اتفق الفقهاء على وجوب الزكاة في الحلي المستعمل استعمالاً محرماً , كأن يتخذ الرجل حلي الذهب للاستعمال
Artinya: Ulama sepakat atas wajibnya zakat atas perhiasan yang dipakai dengan pemakaian yang haram seperti laki-laki memakai perhiasan emas.

URAIAN

Harta penghasilan (al-mal al-mustafad) terbagi dalam dua jenis: pertama, harta simpanan yang bertumbuh (nama' al-ashl) seperti laba perdagangan atau hasil produksi, maka laba tersebut digabung dengan harta pokok dan membayar zakat juga digabungkan dengan harta pokok (berdasarkan omset) walaupun harta tambahan tersebut belum sampai setahun.

Kedua, harta simpanan yang tidak bertumbuh (ghair nama' al-ashl) seperti zakatnya harta hasil simpanan dari kelebihan gaji bulanan seperti dalam kasus Anda. Dalam hal ini ada dua pandangan ulama yang berbeda.

a) Madzhab Hanafi berpendapat bahwa harta simpanan digabungkan pada harta pokok walaupun tidak bertumbuh darinya. Dengan demikian, maka wajib bagi pegawai penerima gaji bulanan untuk menghitung kapan hartanya sampai nishab. Kemudian, setelah tiba masa haul (setahun) menurut hitungan hijriah, maka dia hendaknya membayar zakat seluruh harta yang dia miliki termasuk harta simpanan gaji yang belum sampai setahun. Ini hukumnya wajib.

b) Madzhab Syafi'i dan Hambali berpendapat berbeda. Menurut kedua madzhab ini, harta simpanan yang tidak bertumbuh itu dihitung secara tersendiri. Misalnya, ketika harta mencapai nishab seperti bulan Ramadan 1439, maka saat itulah si pemilik mulai menghitung waktu dan menunaikan zakat pada Ramadan 1440. Sedangkan harta kelebihan gaji yang dihasilkan pada pertengahan tahun, misalnya bulan Rajab 1439, maka ia dikeluarkan zakatnya pada bulan Rajab 1440. Namun demikian, apabila pemilik harta hendak membayar zakat dari harta kedua itu bersamaan dengan harta pertama pada bulan Ramadan 1440, maka itu dibolehkan dengan niat menyegerakan zakat (ta'jil al zakat). Karena menurut madzhab Syafi'i dan Hambali, menyegerakan bayar zakat yang belum waktunya ditunaikan itu dibolehkan.

Ibnu Qudamah dalam Al Mughni, hlm. 2/258, menjelaskan (ini ibarot dari jawaban di atas):

وإن كان عنده نصاب لم يخل المستفاد من ثلاثة أقسام: أحدها: أن يكون المستفاد من نمائه كربح مال التجارة، ونتاج السائمة، فهذا يجب ضمه إلى ما عنده من أصله، فيعتبر حول بحوله، لا نعلم فيه خلافاً، لأنه تبع له من جنسه، فأشبه النماء المتصل، وهو زيادة قيمة عروض التجارة. الثاني: أن يكون المستفاد من غير جنس ما عنده، فهذا له حكم نفسه، لا يضم إلى ما عنده في حول ولا نصاب، بل إن كان نصاباً استقبل به حولاً وزكاة، وإلا فلا شيء فيه، وهذا قول جمهور العلماء.. الثالث: أن يستفيد مالاً من جنس نصاب عنده قد انعقد عليه حول الزكاة بسبب مستقل، مثل أن يكون أربعون من الغنم مضى عليها بعض حول، فيشتري أويتهب مائة، فهذا لا تجب فيه الزكاة حتى يمضي عليه الحول أيضا وبهذا قال الشافعي، وقال أبو حنيفة يضمه إلى ما عنده في الحول ، فيزكيهما جميعا عند تمام حول المال الذي كان عنده ،
Artinya: Apabila dia memiliki harta yang mencapai nisob, maka penghasilannya tidak lepas dari tiga macam: pertama, penghasilan dari harta yang bertumbuh seperti laba harta dagangan, hasil ternak, maka wajib digabungkan dengan harta pokok. Maka masa haulnya ikut pada haulnya harta pokok. Dalam hal ini ulama sepakat. Karena ia ikut pada jenisnya sehingga menyerupai pertumbuhan yang terkait yaitu bertambahnya harta barang dagangan. Kedua, penghasilan tidak sejenis. Ini memiliki hukum tersendiri dan tidak digabungkan dengan harta yang lain dari segi haul dan nisob. Apabila ia mencapai nisob maka ia disendirikan dari segi haul dan zakatnya. Apabila tidak sampai, maka tidak ada kewajiban zakat atasnya. Ini pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Ketiga, memiliki penghasilan harta sejenis dengan yang dimiliki sebelumnya, maka sah baginya haul zakat dengan sebab yang tersendiri. Misalnya, memiliki 40 kambing yang sudah lewat masa haul. Lalu dia membeli atau menerima hadiah 100 kambing lagi. Maka, kambing yang terakhir tidak wajib zakat kecuali setelah sampai masa haul juga. Ini pendapat madzhab Syafi'i. (namun) menurut Abu Hanifah (madzhab Hanafi) harta kedua dikumpulkan atau digabung dengan harta pertama yang sudah mencapai haul. Jadi, kedua harta tersebut dizakati bersamaan ketika harta pertama sudah sampai haul.

Baca detail:
- Panduan Zakat
- Sedekah

17/05/19

Baju Terkena Bangkai Semut, Shalatnya Batal atau Sah?

Baju Terkena Bangkai Semut, Shalatnya Batal atau Sah?
PAKAIAN TERKENA BANGKAI SEMUT, BOLEHKAN DIPAKAI SHALAT?

Bismillahirohmanirrohim...
Assalamu'alaikum wr.wb.
Pak ustad saya mau bertanya..
Mengenai pakaian yang dipakai untuk sholat. Dari kasus saya ceritanya tadi saya duduk dilantai rumah. Secara tidak sengaja saya menduduki beberapa semut tersebut dan ternyata semut nya mati. lalu menurut mazhab saya (mazhab syafi'i) apakah masih boleh saya menggunakan celana saya tersebut untuk digunakan menunaikan ibadah sholat pak ustad ?
Sebelumnya terima kasih banyak. Apabila berkenan memberikan jawaban atas pertanyaan saya semoga menjadi amal jariyah pak ustad. Aamiin
Wassalamua'laikum wr.wb

JAWABAN

Boleh. Bangkai semut termasuk najis yang dimakfu Karena semut termasuk binatang yang tidak mengalir darahnya.

Diryah Al-Ithah dalam Fiqhul Ibadat ala Madzhab Al-Syafi’i, hlm. 1/54, menyatakan:

ميتة لا دم لها سائل (كالذباب والنحل والنمل والبق والخنفساء والبعوض والصراصير) إن سقطت في الماء من نفسها، أو بسبب الريح، أو كانت ناشئة فيه (كالدود الناشئ في الماء، ويقاس على ذلك دود الفاكهة والخل والجبن، فيعفى عنه)
Artinya: Bangkai hewan yang darahnya tidak mengalir seperti lalat, tawon, semut, kumbang, nyamuk, kecoa … maka dimakfu (dimaafkan najisnya).

Baca detail: Najis yang Dimaafkan menurut madzhab Syafi'i

Memang ada perbedaan pendapat ulama madzhab Syafi'i terkait hal ini. Sebagian berpendapat bangkai semut itu dimakfu di luar shalat tapi tidak boleh dibawa shalat secara sengaja.

Ba Alwi dalam Bughiyah Al-Mustarsyidin, hlm. 106 menyatakan:

واعلم أن النجاسة أربعة أقسام : قسم لا يعفى عنه مطلقاً وهو معروف ، وقسم عكسه وهو ما لا يدركه الطرف ، وقسم يعفى عنه في الثوب دون الماء وهو قليل الدم لسهولة صون الماء عنه ، ومنه أثر الاستنجاء فيعفى عنه في البدن ، والثوب المحاذي لمحله خلافاً لابن حجر ، وقسم عفي عنه في الماء دون الثوب وهو الميتة التي لا دم لها سائل حتى لو حملها في الصلاة بطلت ، ومنه منفذ الطير
Artinya: Najis itu ada empat bagian: (a) najis yang tidak dimaaafkan (dimakfu) secara mutlak dan itu sudah maklum; (b) najis yang dimakfu yaitu najis yang tidak terlihat mata; (c) najis yang dimakfu di baju tidak di air yaitu darah yang sedikit karena mudahnya menjaga air darinya, termasuk juga bekas istinjak maka dimaafkan di badan, dan pakaian yang lurus dengan tempatnya najis berbeda dengan pendapat Ibnu Hajar; (d) najis yang dimaafkan di air tidak di pakaian yaitu bangkai hewan yang darahnya tidak mengalir sehingga kalau membawanya dalam shalat maka batal shalatnya, termasuk kotoran burung.

Sebagian lagi menyatakan dimakfu secara mutlak baik di luar shalat atau terbawa shalat.

Al-Bakri dalam Ianah At-Tolibin, hlm. 1/108, mengutip pandangan Ibnu Hajar Al-Asqalani, menjelaskan:

وأفتى الحافظ ابن حجر العسقلاني بصحة الصلاة إذا حمل المصلي ميتة ذباب إن كان في محل يشق الاحتراز عنه
Artinya: Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani berfatwa sah shalatnya orang yang membawa bangkai lalat apabila berada di tempat yang susah menghindarinya.

Al-Romli dalam Nihayatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, hlm. 1/81, menyatakan:

( ويستثنى ) من النجس ( ميتة لا دم لها سائل ) عن موضع جرحها إما بأن لا يكون لها دم أصلا أو لها دم لا يجري كالوزغ والزنبور والخنفساء والذباب … وقيس بالذباب ما في معناه من كل ميتة لا يسيل دمها
Artinya: Dikecualikan dari najis adalah bangkai hewan yang tidak mengalir darahnya dari tempat lukanya baik karena tidak ada darah sama sekali atau ada darah tapi tidak mengalir seperti tokek, tawon, kumbang, lalat… dianalogikan dengan lalat yaitu semua hewan / serangga yang tidak mengalir darahnya.

Al-Qoffal, salah satu ulama madzhab Syafi'i, bahkan menyatakan bangkai hewan yang tidak mengalir darahnya itu suci sehingga sah dipakai shalat secara mutlak.

Al-Bakri dalam Ianah At-Tolibin, hlm. 1/108, mengutip pendapat Al-Qaffal, menjelaskan:

(وكميتة) ولو نحو ذباب مما لا نفس له سائلة، خلافا للقفال ومن تبعه في قوله بطهارته لعدم الدم المتعفن، كمالك وأبي حنيفة.
Artinya: Bangkai (itu najis) walaupun dari hewan yang tidak mengalir darahnya seperti lalat. Ini berbeda dengan pendapat Al-Qaffal dan ulama yang sepakat dengannya yang menyatakan sucinya bangkai lalat dan semacamnya karena tidak adanya darah yang berbau sebagaimana pendapat Imam Malik dan Abu Hanifah.

Apabila mengikuti pendapat Al-Qaffal ini, maka shalatnya orang yang membawa bangkai saat shalat adalah sah secara mutlak baik sengaja atau tidak.

Baca detail:
- Najis dan Cara Menyucikan
- Kotoran Lalat, Kelelawar Najis Makfu

01/04/19

Suami Mengiyakan Cerai Istri Apakah Jatuh Talak?


SUAMI MENGIYAKAN CERAI ISTRI APAKAH JATUH TALAK?

assalamualaikum ustadz, saya seorang istri dan telah menikah selama 7tahun (2011-sekarang),umur saya dan suami 21tahun sudah dikaruniai 2 anak.Saya dan suami sama-sama tidak tahu hukum talak. Saya mau bertanya :

1. Awal nikah 2011 kami bertengkar hebat dengan sama-sama emosi suami saya mengucap "GW CEREIN LO" (tipe suami saya orangnya sabar dan diam dan ini marah sampai saya ​takut). Lalu saat itu juga saya tanya, kamu cerein aku? suami jawab: IYA. Kemudan ​setelah reda suami minta maaf dan dia bilang secara lisan mau rujuk dan saya ​mengiyakan (cara rujuk saya baca di internet).

A) Apakah ini sudah termasuk talak 1 ustadz?

2. Masih 2011, saat bertengkar saya minta cerai terus menerus tapi suami saya hanya diam ​sampai jam 3 pagi padahal besok kami kerja, saya tidak membolehkan tidur sebelum dia jawab "IYA" . Karena sudah lelah dan nganttuk akhirnya suami jawab "IYA" (tanpa niat ​setelah ditanya besoknya) dan saya bilang "kamu udah iya ya berarti udah sah". suami ​saya hanya diam. Lalu kami rujuk kembali dengan saksi teman kami (cara rujuk lihat di ​
internet). Disini kami rujuk karena saya takut kalau sudah cerai dan tidak sah di hadapan Allah, walaupun disini suami tidak niat cerai tapi dia mengikuti saya untuk rujuk ​karena dia merasa saya paksa.

A) Bagaimana hukumnya kalau hanya IYA saja tapi tidak ada niat karena suami sudah berani sumpah alquran dan demi allah ?

B) Bagaimana hukumnya setelah suami jawab IYA saya mengesahkan sudah cerai tapi suami diam saja?

3. Sampai saat ini saya was-was takut suami bilanng "IYA CERAI" bukan "IYA SAJA" karena kejadian sudah lama saya takut suami lupa, tapi suami saya berani bersumpah demi allah dan alquran kalau dia hanya jawab "IYA" dan tidak ada niat cerai dia hanya mau saya diam dan dia yakin tidak bilang cerai. Tapi saya seperti ada bisikan suami bilang"IYA CERAI".

A) BAgaimana hukum ucap IYA CERAI apa sama dengan IYA SAJA (sama-sama tidak niat) ​?​
saya sudah baca artikel di alkhoirot tapi saya takut salah,

B) Bagaimana saya harus bersikap apa percaya pada yang suami katakan bahwa dia hanya jawab IYA saja dan tidak niat ? karena suami saya sangat yakin dan sudah bersumpah demi allah dan alquran atau tetap pada keraguan saya.

C) Dan bagaimana hukum rujuk yang sudah kami kerjakan pada kasus ini karena kami pikir sudah talak dua karena kami memang benar-benar tdak tahu hukumnya?

4. Bagaimana hukumnya suami jawab permintaan cerai saya tapi dia tidak ada niat cerai ​ ​
sudah bersumpah atas nama allah dan alquran dengan kata-kata ini :

A) Terserah kamu saja !! (tidak niat)

B) Kalau kamu mau ( cerai maksudnya) urus aja semua,aku sih gak punya waktu kan yang ​ ​
mau kamu!!(tidak niat)

C) kalau mau pisah-pisah aja ! (Tidak niat)

5. suami pernah bilang : kalau kamu pergi kerumah orangtuamu kamu saya cerai ! lalu saya tanya maksudnya perginya hari ini atau besok-besok,masa tidak boleh pergi kerumah orangtua.Suami jawab : hari ini saja! Maka hari itu saya tidak pergi. Apakah ini sudah termasuk saya ditalak ustadz?

6. Saya minta suami janji untuk tidak mengatai saya kalau suami melanggar dia harus menceraikan saya. Awalnya dia diam tapi karena saya paksa jawab iya dia pun jawab IYA. saya menegaskan,"IYA AP? suami jawab : IYA JANJI/IYA CERAI KALAU NGATAIN KAMU. (disini juga suami tidak niat cerai).

A) Bagaimana hukumnya ini ustadz apakah termasuk taklik talak dan kalau sampai suami keceplosan mengatai saya bagaimana apa saya sudah tertalak?
B) Disini saya mendengar ceramah ustadz idrus adzhar dari malaysia bahwa taklik bisa ditarik maka dari itu perjanjian diatas ditarik oleh suami,apakah ini benar ustadz?

7. Sudah mau satu bulan saya was-was takut kalau pernikahan kami sudah tidak sah, tapi suami saya santai-santai saja dan yakin masih SAH karena dia yakin sekali tidak pernah menceraikan saya selain yang pertama dahulu (2011) dengan jelas.

A) Menurut ustadz apakah pernikahan kami masih sah seperti keyakinan suami saya?

B) Berdasarkan semua cerita saya sudah berapa talak yang terjadi? karena suami saya tanya dia meyakini hanya talak satu yang pertama sekali secara jelas.

C)Bagaimana seharusnya saya sebagai istri harus bersikap ? Apakah harus percaya dengan apa yang suami saya bilang dan yakini bahwa kami masih SAH? jujur saya takut suami lupa tapi dilain sisi suami berani bersumpah atas nama allah dan alquran bahwa tidak ada niatan dari dulu sampai sekarang untuk menceraikan saya dy menjawab iya dll hanya agar saya diam.

8. Apakah boleh mengikuti mahdzab/pendapat lain yang dapat memudahkan masalah talak ini agar masih bisa sama-sama lagi dan tidak menyalahi aturan allah ?

9. Mohon dijawab dengan teliti pak ustadz dan mohon sarannya agar kami bisa terus sama-sama karena jujur saya takut kalau-kalau tidah sah dihadapan allah swt. ​Semoga setelah mendapat jawaban saya sudah tidak was-was lagi.​


Terima Kasih
Wassalamualaikum wr,wb.

JAWABAN

1.a Ya. Itu sudah termasuk talak 1. Karena kata "Cerai" yang diucapkan termasuk talak sharih yang jatuh talak walaupun seandainya tanpa niat.

2.a. Tidak jatuh talak kalau tidak ada niat. Karena, mengiyakan permintaan cerai istri termasuk talak kinayah. Baca detail: Mengiyakan Permintaan Cerai Istri

Kalau pun setelah itu dilakukan acara rujuk, maka hal itu tidak ada dampak hukumnya. Dalam arti, yang terjadi tetaplah talak 1. Bukan talak 2.

Di samping itu, jawaban suami yang dikeluarkan karena terpaksa juga tidak berakibat talak walaupun talaknya disertai niat. Baca detail: Talak Terpaksa

2.b. Ucapan istri terkait talak tidak ada dampak hukumnya. Cerai baru terjadi karena salah satu dari dua hal yaitu (a) ucapan cerai suami; atau (b) keputusan pengadilan yang meluluskan permintaan salah satu pasangan untuk bercerai. Baca detail: Cerai dalam Islam

3.a. Sama saja karena merupakan jawaban dari pernyataan istri. Bukan pernyataan suami. Selain itu, seandainya pun ucapan suami talak secara langsung tapi apabila dilakukan karena terpaksa, maka itu juga tidak terjadi talak sebagaimana diterangkan dalam poin 2.a.

3.b. Anda harus percaya pada yang suami katakan. Karena perkataan suami terkait dirinya itu dianggap fakta otentik yang bersifat yakin, sedangkan dugaan anda itu bersifat asumsi. Dalam kaidah fikih dikatakan: "Keyakinan (fakta) tidak hilang karena keraguan (asumsi)." Baca detail: Kaidah Fikih

3.c. Status rujuk itu tidak dianggap dan tidak ada dampak hukumnya. Sehingga anda berdua masih tetap talak 1. Sebagaimana orang menikah dua kali, maka nikah kedua tidak dianggap.Baca detail: Akad Nikah 2 Kali

4.a. Tidak jatuh talak.

4.b. Tidak jatuh talak. Dan baru jatuh cerai apabila istri mengurus gugat cerai ke pengadilan dan diluluskan oleh hakim. Baca detail: Cerai dalam Islam

4.c. Tidak jatuh talak. Karena kata "pisah" termasuk talak kinayah. Baca detail: Kata Pisah: Sharih atau Kinayah?

5. Itu namanya talak muallaq (kondisional). Dan baru jatuh talak apabila kondisi atau syarat terpenuhi. Apabila anda tidak pergi ke ortu pada hari itu maka talak tidak terjadi. Baca detail: Talak Muallaq (Kondisional)

6.a. Iya jatuh talak. Namun, dalam kasus suami mengucapkan hal itu karena terpaksa (dipaksa istri), maka tidak jatuh talak. Baca detail: Talak Terpaksa

6.b. Mayoritas ulama berpendapat tidak boleh dan tidak bisa menarik kembali/mencabut talak muallaq. Namun, ada pendapat dalam madzhab Hambali yang membolehkan mencabut atau menggugurkan talak muallaq tersebut. Ibnu Muflih dalam Al-Furu', hlm. 5/103, menyatakan:


وقال بعض الحنابلة: إن لمن علق طلاق امرأته على شيء الرجوع عن ذلك، وإبطاله.

Artinya: Sebagian ulama madzhab Hambali menyatakan: "Bagi suami yang melakukan taklik muallaq pada istrinya, maka dia bisa mencabut dan membatalkan hal itu.

7.a. Iya betul. Pernikahan anda berdua masih sah sebagaimana dijelaskan dalam jawaban2 sebelumnya.

7.b. Betul. Hanya talak 1 yang sudah jatuh.

7.c. Percayalah pada suami. Seandainya dibawa ke pengadilan syariah (yang ada di negara bersistem syariah), maka yang dianggap adalah pengakuan suami di atas. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, hlm. 7/387, menyatakan:


وإن اختلفا في عدد الطلاق فالقول قوله

Artinya: Apabila suami istri berbeda pendapat tentang jumlah talak, maka ucapan yang dianggap adalah ucapan suami.

8. Boleh. Baca detail: Hukum Ganti Madzhab dan Hukum Ganti Madzhab

9. Untuk mencapai keluarga bahagia dan tenang, maka kedua pihak harus saling menahan diri saat sedang marah. Hindari ucapan yang tidak baik. Pada saat marah, maka diam adalah emas. Saat marah, ambillah wudhu dan shalat atau membaca Al Quran. Baca juga: Cara Harmonis dalam Rumah Tangga

26/03/19

Cara Cerai Istri yang Belum Digauli (Masih Perawan)

TIDAK PERNAH MENGGAULI ISTRI, BAGAIMANA CARA TALAKNYA SECARA AGAMA DAN NEGARA?

Assalamualaikum,
Saya melihat blog anda di google yang menawarkan jasa konsultasi secara syariah. Saya harap anda dapat membantu saya. Mohon maaf bila penjelasan saya akan panjang, saya tidak tau harus mencurahkan kepada siapa semua yang saya pendam selama ini.

Perkenankan saya memperkenalkan diri, saya laki - laki, muslim, dan bekerja di salah satu BUMN. Saya mempunyai permasalahan dalam hidup saya yaitu pernikahan yang bukan keinginan saya. Kurang lebih tiga tahun yang lalu kira2 tanggal 19 oktober 2014 (kalau saya tidak salah tanggal, karena memang saya tidak pernah ingin mengingatnya) saya menikah dengan orang yang sebenarnya bukan pilihan saya. Dia adalah pilihan orang tua saya, walaupun memang saya pernah berpacaran dengannya selama 7 tahun. Tetapi saat itu dia memilih untuk memutuskan saya dan berpacaran dengan laki - laki lain, padahal saat itu saya dalam kondisi drop baik masalah pekerjaan maupun keuangan keluarga saya. Hanya saja ketika karir saya sudah mulai beranjak naik dan saya sudah semakin dekat dengan wanita lain, dia berhasil merebut hati orang tua saya hingga orang tua saya memaksa saya untuk menikahinya.

Saat itu saya selalu berusaha menceritakan kepada orang tua saya tentang perasaan saya, tentang wanita yang saya harapkan menjadi istri saya, tetapi orang tua saya selalu mengelak. Terutama bapak saya, saat saya bercerita dan bahkan saat saya menolak untuk menikahi pilihannya, beliau selalu sakit. Entah itu hanya cara bapak saya agar saya menurut atau apapun itu yang jelas saya adalah orang yang sangat tidak bisa melihat orang tua saya sakit.

Berhari - hari saya selalu menolak hingga saya perhalus cara saya agar orang tua saya tidak sakit lagi tapi selalu gagal. Orang tua saya tidak mau mengerti apa yang saya rasakan. Hingga akhirnya saya menyerah dan sangat menyerah.

Seminggu sebelum hari-H saya berpikir keras mencari cara membatalkan acara itu tapi selalu dihantui dengan kata - kata orang tua saya "aku malu nak, aku ndak punya harta apa - apa lagi" yang akhirnya membuat saya berpikir lebih jauh lagi yaitu bunuh diri.

Malam sebelum hari-H saya masih berbicara dengan bapak saya berharap saya masih bisa paling tidak menunda sementara acara itu dan berharap bisa batal. Tapi saya tetap gagal dan hari H itu tetap terjadi. Hingga akhirnya di hari H itu saya melakukannya dengan niatan untuk membahagiakan orang tua saya, tapi tetap dengan rencana saya setelah itu saya akan bunuh diri.

Setelah acara itu saya tidak pernah pulang dan bahkan tinggal bersama. Memang sudah saya niati sebelumnya bahwa saya tidak akan tinggal serumah atau bahkan mengakuinya sebagai istri. Saya juga tidak pernah mendaftarkan status pernikahan saya di kantor, di KTP saya, ataupun di tempat lain atau mana pun hingga sekarang. Saya hanya ingin mengakhiri hidup saya. Memang saya tidak pernah berhasil bunuh diri setelah mencoba selama 1 tahun.

Bahkan saat itu saya dalam kondisi sangat sangat stres terlebih setelah orang tua saya tidak pernah memahami perasaan saya dan selalu menuduh saya kesurupan atau kerasukan jin atau ikut sekte sesat. Hingga saya menyerah untuk bunuh diri dan saya puasa daud selama 40 hari puasa. Sudah lebih dari 3x juga saya berusaha meminta agar berpisah / bercerai jika itu masih dianggap pernikahan yg sah. Saat ini sudah lebih dari 3 tahun saya melarikan diri dari rumah dan hanya sesekali datang ke orang tua saya untuk menjenguknya dan alhamdulillah saya masih bisa rutin ngirim sebagian gaji saya untuk orang tua saya walaupun saya minggat selama itu.

Saya ingin meminta bantuan anda,
1. bagaimana sebenarnya posisi saya dari sisi hukum negara atau hukum agama?
2. Dan dari sisi niatan saya ini apakah masih sah secara hukum atau agama pernikahan tersebut?
3. Lalu jika memang sudah dianggap sah dan saya sudah meminta bercerai sebanyak lebih dari 3x (beberapa melalui sms, email dll karena tidak bertemu langsung dan beberapa saya ucap langsung) bagaimana cara saya mengurusnya agar sah juga secara hukum negara?

Sebagai informasi saya tidak pernah mengurus KK, model C, atau apapun itu dan buku nikahnya dipegang keluarga wanita.

Terima kasih. Mohon bantuannya. Saya sudah sangat lelah dengan semua ini

JAWABAN

1. Secara agama, apabila suami sudah mengucapkan kata cerai baik secara lisan atau tulisan, maka perceraian sudah terjadi. Baca detail: Cerai dalam Islam

Dalam kasus anda, karena anda sama sekali tidak melakukan hubungan intim dengan istri, maka sebenarnya tidak ada masa iddah. Jadi, di hari ketika anda sudah menjatuhkan talak, maka otomatis mantan istri sudah bebas untuk menikah dengan pria lain. Begitu juga, apabila anda ingin rujuk, maka harus dilakukan akad nikah ulang.

Dalam QS Al-Ahzab 33:49 ditegaskan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا ) الأحزاب/49

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya.

Dan apabila masa iddah sudah lewat dan suami tidak menyatakan rujuk, maka anda berdua sudah tidak lagi berstatus sebagai suami istri. Baca detail: Masa Iddah Istri yang Dicerai

2. Secara agama hubungan anda sudah putus. Karena anda sudah mengucapkan kata cerai padanya secara lisan dan tulisan. Namun secara negara anda berdua masih sah sebagai suami istri sampai salah satu dari suami atau istri mengajukan gugat cerai ke pengadilan agama dan permintaan itu diluluskan oleh hakim agama. Baca detail: KHI (Kompilasi Hukum Islam)

3. Anda bisa mengurus sendiri ke pengadilan agama. Atau kalau anda sibuk, anda bisa memakai tenaga pengacara untuk mengurus perceraian tersebut secara resmi yang diakui negara.

Hukum Membagi Warisan Secara Sama Tanpa Mengikuti Hukum Waris Islam

HUKUM MEMBAGI WARISAN SECARA SAMA TANPA MENGIKUTI HUKUM WARIS ISLAM

Bolehkah membagi warisan secara sama dan sukarela tanpa berdasarkan hukum waris Islam?


JAWABAN

1. Pertama, hukum asal dari wasiat adalah a) tidak boleh lebih dari 1/3 harta waris; b) tidak boleh diberikan pada ahli waris; c) boleh ditujukan pada salah satu ahli waris asalkan mendapat persetujuan dari ahli waris yang lain. Dengan demikian wasiat ayah anda pada ahli waris itu tidak sah. Baca detail: Wasiat bukan Harta

Kedua, harta warisan harus dibagikan kepada seluruh ahli waris sesuai dengan ketentuan hukum waris Islam. Dalam kasus di atas, yang berhak mendapat warisan adalah seluruh anak kandung baik laki-laki dan perempuan. Sedangkan saudara kandung orang tua dalam kasus ini tidak mendapat warisan karena terhalang oleh adanya anak kandung laki-laki. Baca detail: Hukum Waris Islam

Ketiga, walaupun ada aturan di atas, namun syariah Islam membuat pengecualian. Yakni, harta warisan boleh dibagikan kepada ahli waris secara sama dan sukarela atau tidak berdasarkan ketentuan hukum waris Islam yang berlaku asalkan terpenuhi dua syarat sebagai berikut:

a) Dalam Al-Mausuah Al-Fiqhiyah, hlm. 7/160, dikatakan:

أن يكون جميعُ الورثة بالغين عاقلين راشدين، والرشد عند جمهور الفقهاء من الحنفية والمالكية والحنابلة: حسن التصرف في المال، والقدرة على استثماره واستغلاله استغلالاً حسناً. وعند الشافعية: صلاح الدِّين والصلاح في المال. والمقصود من كل ذلك أن يكون الورثة جميعاً أهلاً للتصرفات المالية، حتى يعتد بتصرفهم شرعاً.

Artinya: Seluruh ahli waris harus baligh (dewasa), berakal sehat, dan rasyid (pintar membelanjakan harta).

b) Dalam Al-Mausuah Al-Fiqhiyah, hlm. 22/234, dikatakan:


2 أن يكون التراضي حقيقياً، دونما إكراهٍ ولا إلجاءٍ ولا حياءٍ. [وذلك إنما يتحقق إذا كان"الرضا"سليماً، أي بأن يكون حراً طليقاً لا يشوبه ضغطٌ ولا إكراهُ، ولا يتقيد بمصلحةِ أحدٍ كرضا المريض، أو الدائن المفلس، وأن يكون واعياً، فلا يحول دون إدراك الحقيقة جهلٌ، أو تدليسٌ وتغريرٌ، أو استغلالٌ، أو غلطٌ أو نحو ذلك مما يعوق إدراكه. فمن عيوب الرضا الإكراه والجهل والغلط، والتدليس والتغرير، والاستغلال وكون الرضا مقيداً برضا شخص آخر] ا

Artinya: Kesukarelaannya itu bersifat hakiki tanpa paksaan dan bukan karena segan, malu atau sungkan.

Kesimpulan: Membagi harta secara sukarela, tidak berdasarkan ketentuan hukum waris Islam, dibolehkan asalkan seluruh ahli waris betul-betul rela tanpa paksaan dan rasa segan menerima pembagian tersebut.

WARISAN UNTUK SUAMI DAN 6 ANAK KANDUNG


Assalamualaikum, mohon maaf Ustad minta ijin bertanya.
Kami enam bersaudara (4 laki-laki dan 2 orang perempuan). Mama kami (almarhumah) memiliki sebuah rumah atas namanya, rumah tsb didapat setelah menikah dengan Papa. Setelah mama meninggal lalu papa menikah lagi. Karena kami anak-anaknya berada di luar pulau semua maka anak-anak sepakat mengalihkan nama atas rumah tersebut ke nama papa dengan maksud memudahkan pengurusan segala sesuatunya (termasul rencana menjualnya).
Kami ada beberapa pertanyaan :
1. apakah ibu tiri kami mendapat hak juga dari hasil penjualan rumah ?
2. bagaimana perhitungan pembangian hasil jual rumah tsb kepada kami (anak-anak 6 bersaudara) dengan papa.

Sebelumnya terima kasih dan mohon maaf jika ada informasi yang kurang.
Wassalamualaikuma

JAWABAN

1. Tidak berhak. Yang berhak hanya papa anda sebagai suami dari pewaris.
2. Pembagiannya sbb:
a) Suami mendapat 1/4
b) Sisanya yang 3/4 dibagikan untuk keenam anak kandung di mana yang anak lelaki mendapat 2, anak perempuan mendapat 1. Rinciannya: Keempat anak lelaki masing-masing mendapat 2/10, kedua anak perempuan masing-masing mendapat 1/10 (dari 3/4 keseluruhan harta).
Baca detail: Hukum Waris Islam

WARISAN UNTUK ISTRI, IBU DAN 1 ANAK PEREMPUAN

Assalamuallaikum wr wb,

Semoga saya dapat menemukan jawaban atas permasalahan waris alm. Ayah saya, mohon pencerahan dari team Alkhoirot.

Alm. Ayah saya meninggal tahun 2016, dengan susunan keluarga yg masih hidup sebagai berikut :
1. Ibu kandung Alm
2. Anak kandung perempuan dari pernikahan pertama (bercerai dengan istri pertama bulan febuari tahun 2009)
3. Istri kedua menikah sah agama dan negara tahun mei 2009
4. Istri ketiga menikah siri tahun 2014

Alm juga memiliki anak laki-laki yang sudah meninggal lebih dulu (tahun 2011) dan mempunya cucu laki-laki yg masih hidup dari anak tersebut.

Alm meninggalkan 2 buah rumah dengan status sebsgai berikut

1. Rumah pertama dibeli pada bulan juli tahun 2008
2. Rumah kedua dibeli tahun 2014

Mohon bantuan dari team Alkhoirot mengenai pembagian yang baik atas waris Alm Ayah kami.

Sebagai informasi istri kedua menuntut bahwa beliau berhak atas 1/2 bagian dari hasil penjualan rumah sebagai harta bersama dan 1/2 bagian lagi adalah nilai yang akan dibagi sebagai waris.

Ayah kami juga memiliki sejumlah hutang yang harus diselesaikan

Saat ini kami sudah menjual rumah kedua, mohon bantuan dari team untuk kasus ini agar terlaksana pembagian yang seadil-adilnya.

Semoga Allah meridhoi waris Alm. Ayah kami.
Terima kasih sebelumnya bagi team Alkhoirot, semoga Allah membalas kebaikan kalian.

Wassallamuallaikum wr, wb.

JAWABAN

Pertama, hutang pewaris harus diselesaikan sebelum harta diwariskan pada ahli waris. Termasuk juga biaya pemakaman dan wasiat kalau ada. Baca detail: Wasiat dalam Islam

Kedua, Dalam Islam tidak ada harta gono-gini (harta bersama) secara otomatis. Setiap harta menjadi milik masing-masing berdasarkan sistem kepemilikan yg berlaku umum. Baca detail: Harta Gono gini

Jadi, kalau istri kedua tidak punya saham dalam pembangunan rumah maka dia tidak berhak dapat 1/2 secara otomatis. Dia hanya dapat bagian 1/8 untuk dua orang istri.

Ketiga, pembagian waris sbb:
a) Dua istri mendapat 1/8 (untuk dua orang) = 3/24 x total harta (hasilnya untuk dua istri)
b) Ibu mendapat 1/6 = 4/24 = 4/16 x total harta
c) Anak perempuan kandung mendapat 1/2 = 12/24 = 12/16 x total harta

Pembagian b dan c adalah memakai sistem radd. Ini terjadi apabila tidak ada ahli waris lain yang sekunder seperti saudara kandung. Kalau ada, maka pembagiannya akan berbeda (silahkan memberitahu kami). Baca detail: Radd dalam Waris Islam

Baca juga: Hukum Waris Islam

24/03/19

Hukum Menunda Pembagian Harta Warisan

Hukum Menunda Pembagian Harta Warisan
MENUNDA PEMBAGIAN HARTA WARISAN

Assalamualaikum Wr. Wb

PERTANYAAN :

Kedua orang tua kami sudah meninggal dunia cukup lama. Ayahanda kami meninggal 5 tahun lalu sementara Ibu kami wafat 12 tahun lalu. Kedua almarhum Ayah dan Ibu kami meninggalkan warisan 2 (dua) buah rumah sederhana yang tidak besar dan sampai sekarang kami belum bisa melaksanakan pembagian warisan karena keterbatasan waktu dan jarak/lokasi serta dana.

Orang tua kami meninggalkan 7 orang anak yang terdiri dari 3 (tiga) laki-laki dan 4 (empat) orang wanita, dimana 1 orang Saudara saya yang wanita dalam kondisi berkebutuhan khusus/tidak normal. Semua Saudara saya sudah menikah, kecuali saudara wanita saya yang dalam kondisi berkebutuhan khusus/tidak normal. Semuda saudara saya sudah menikah dan memiliki keturunan. Saya sendiri tidak memiliki anak kandung dan mengadopsi anak.

Harta warisan belum dapat kami bagikan mengingat harus dipecah atau dijual. Sampai saat ini kami masih ragu untuk menjual warisan orang tua kami karena orang tua (ayahanda) kami pernah bicara (kepada salah seorang anaknya) agar sebaiknya tidak menjual rumah. Namun ayah kami juga pernah bicara kalau mau dijual masing2 anak dapat bagian yang sama.

Yang Ingin saya tanyakan:

1. Karena ketidakmampuan kami, Apakah kami berdosa besar sehingga warisan orang tua kami belum dapat dilaksanakan segera sesuai ketentuan agama Islam? Adakah ketentuan ini dalam alquran, mohon dalil quran dan hadistnya ya

2. Apakah dosa jika kita menunda hak waris Saudara kita (karena kita tidak mampu). Please jika sekiranya ada ayat ataupun khadist yang menyatakan larangan penundaan pembagian warisan.

3. Seandainya nanti warisan berhasil dijual, Apakah diperbolehkan harta warisan dibagi secara merata dimana laki-laki dan perempuan memperoleh hak yang sama?

4. Bagimana hak waris atas Saudara wanita saya yang berkebutuhan khusus/tidak normal? Apakah dia mempunyai hak waris yang sama dengan yang lainnya? Apakah hak warisnya harus dialihkan kepada Saudaranya yang bersedia untuk merawat Saudara wanita saya tersebut?

5. Apakah boleh warisan (kedua rumah) dijual dan dialihkan untuk dibelikan sebidang tanah yang juga akan dibagikan kepada ahli waris secara merata?

6. Sekiranya saya nanti meninggal, siapa saja yang berhak atas hak warisan saya mengingat saya tidak memiliki anak kandung?


Wassalamualaikum Wr. Wb

JAWABAN

1. Bersegera membagi warisan setelah pewaris meninggal itu wajib. Dan menundanya adalah haram dan berdosa. Rasulullah bersabda:

مَنْ قَطَعَ مِيرَاثًا فَرَضَهُ اللَّهُ، قَطَعَ اللَّهُ مِيرَاثَهُ مِنَ الْجَنَّةِ

Artinya: Barangsiapa memutuskan warisan yang telah diwajibkan Allah, maka Allah akan memutuskan warisannya dari surga. (HR Baihaqi dari Abu Hurairah)

Dr. Syauqi Allam, mufti Mesir, menjelaskan maksud hadits tersebut sbb:

والقطع الوارد فى الحديث يدخل فيه المنع من الإرث مطلقًا، أو تأخيره عن ميعاد استحقاقه دون عذر أو إذن.

Artinya: Kata "memutuskan" dalam hadits di atas bermakna mencegah ahli waris dari menerima warisan secara mutlak atau mengakhirkan pembagian warisan dari waktu pembagiannya tanpa udzur atau tanpa ijin (dari ahli waris).

Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa (a) bersegera dalam membagi harta warisan adalah wajib; (b) menunda pembagian warisan dibolehkan apabila ada ijin dari seluruh ahli waris.

Baca detail: Hukum Waris Islam

2. Sudah dijelaskan pada jawaban poin 1.

3. Warisan harus dibagikan secara Islam di mana wanita mendapat bagian separuh dari pria. Allah berfirman dalam QS An-Nisa 4:13-14

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ * وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ

Artinya: (Hukum-hukum tentang warisan tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. (4:13). Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (4:14)

Nabi juga bersabda:

اقسموا المال بين أهل الفرائض على كتاب الله

Artinya: Bagilah harta warisan antara ahli waris berdasarkan ketentuan dalam kitab Allah. (HR Muslim)

Namun demikian, apabila seluruh ahli waris sepakat dengan penuh rela untuk dibagi secara merata maka hal itu dibolehkan.

Dalam kitab Al-Mausuah Al-Fiqhiyah, hlm. 22/234, dinyatakan bahwa Disyaratkan untuk membagi warisan secara merata dan saling rela adalah: kesalingrelaan itu bersifat hakiki bukan karena terpaksa atau sungkan/segan dan beberapa syarat lain:


وذلك إنما يتحقق إذا كان"الرضا"سليماً، أي بأن يكون حراً طليقاً لا يشوبه ضغطٌ ولا إكراهُ، ولا يتقيد بمصلحةِ أحدٍ كرضا المريض، أو الدائن المفلس، وأن يكون واعياً، فلا يحول دون إدراك الحقيقة جهلٌ، أو تدليسٌ وتغريرٌ، أو استغلالٌ، أو غلطٌ أو نحو ذلك مما يعوق إدراكه. فمن عيوب الرضا الإكراه والجهل والغلط، والتدليس والتغرير، والاستغلال وكون الرضا مقيداً برضا شخص آخر

Artinya: Kerelaan ahli waris haruslah selamat. Maksudnya, kerelaan itu tanpa paksaan atau perlakuan kasar. Dan tidak terikat dengan kemaslahatan seseorang seperti kerelaan orang sakit atau orang punya hutang yang bangkrut. Dan harus sadar.... Termasuk tidak dianggap rela adalah paksaan, ketidaktahuan, kesalahan, tipuan. Ridho itu terikat dengan kerelaan yang lain.

4. Hak waris orang yang berkebutuhan khusus tetap sama dengan yang lain. Tidak berubah. Namun, siapapun yang merawatnya bisa meminta biaya perawatan sesuai biaya yang normal dan bisa diambilkan dari bagian harta warisnya. Karena, yang menghalangi ahli waris untuk menerima warisan tidak termasuk cacat fisik/mental. Beberapa penghalang menerima warisan adalah: wafat lebih dulu dari pewaris, membunuh, beda agama. Baca detail: https://www.alkhoirot.net/2012/09/warisan-dalam-islam.html#5

5. Semua ahli waris memiliki hak yang sama dalam menentukan keputusan. Oleh karena itu, apapun keputusannya harus berdasarkan persetujuan seluruh ahli waris. Tidak boleh ada satu orang (dari ahli waris) yang bersikap membuat keputusan.

6. Ahli waris anda adalah suami dan saudara kandung. Baca detail: Hukum Waris Islam

23/03/19

Bolehkah Membuat Hoaks dalam Keadaan Perang?


TIPU DAYA DALAM PERANG

Assalaamu'alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh,

Kepada Yth. Para Masyaikh di Ponpes Al-Khoirot,

Kalau boleh saya nyuwun bertanya khususnya terkait tipudaya yang khusus dalam keadaan perang. Yang saya fahami adalah bahwa boleh melakukan tipudaya dalam perang, tapi tidak boleh khianat dalam perang. Dari rujukan-rujukan yang saya dapatkan, nampaknya ulama-ulama berkata bahwa maksudnya khianat adalah khianat dalam amaan dan khianat terhadap perjanjian. Dan maksudnya khianat terhadap perjanjian ini maksudnya bukannya tidak boleh membatalkan, tapi tidak boleh khianat atau curang terhadap perjanjian.

Pertanyaan saya adalah:
1. apakah pemahaman umum saya tentang 'khianat dalam perang' di atas sudah tepat?

2. perjanjian seperti apa yang tidak boleh dikhianati?
Sebagian yang saya tanya mengatakan perjanjian apapun bentuknya (tertulis maupun tidak) dan apapun objek perjanjiannya (selama tidak bertentangan dengan syariat) adalah tidak boleh dikhianati, karena mempertimbangkan perintah umum 'amanah' (lawan kata khianat) yang tidak ada dalil yang mengecualikannya saat perang. Beda dengan berbohong yang memiliki dalil pengecualian di masa perang. Sebagian mengatakan bahwa hanya perjanjian damai, gencatan senjata, dan amaan yang dimaksud dalam konteks dalil dan qaul-qaul ulama, maka perjanjian selain itu boleh dikhianati karena dalil umum 'perang adalah tipudaya'. Tapi keduanya saya agak kurang puas dengan penjelasannya, nyuwun pencerahannya.

3. Pahlawan kita Teuku Umar (rahimahullah) pura-pura kerjasama dengan Belanda, untuk kemudian diamanahi senjata dan perbekalan, lalu kemudian Teuku Umar mengkhianati Belanda dan merampas senjata-senjata itu. Tanpa mengurangi rasa hormat, takzim, dan rasa terima kasih atas jasa beliau, apapun jawaban dari pertanyaan ini, dan selalu saya doakan beliau. Ada yang mengatakan bahwa taktik Teuku Umar ini kurang sejalan dengan syariat, karena pura-pura kerjasama ini semacam membuat perjanjian dan kemudian mengkhianatinya. Sebagian lain mengatakan bahwa karena ini bukan termasuk perjanjian damai, gencatan senjata, atau amaan, maka ini khianat yang diperbolehkan. Mohon pencerahannya terkait masalah ini.

Jazakumullaah khairan katsira,

JAWABAN

1. Benar.

2. Perjanjian yang dibuat secara resmi antara dua pihak. Contoh, seperti kasus ketika Yahudi Madinah mengkhianati perjanjian dengan umat Islam.

Nabi bersabda:

الحرب خِدعة

Artinya: Perang itu tipu muslihat. HR. Bukhari, (3029) dan Muslim (58)

Apa yang dimaksud dengan tipu daya dalam hadis tersebut? Imam Nawawi menjelaskan dalam Syarah Muslim, hlm. 12/43, sbb:

اتفق العلماء على جواز خداع الكفار في الحرب كيف أمكن الخداع إلا أن يكون فيه نقض عهد أو أمان فلا يحل

Artinya: Para ulama’ bersepakat diperbolehkannya menipu orang kafir dalam peperangan, apapun bentuk tipu muslihat kecuali (tipu muslihat) yang dapat membatalkan perjanjian atau keamanan, maka hal itu tidak diperbolehkan.

Jadi, tipu daya yang dibolehkan itu yang bersifat taktik dan strategi militer. Misalnya, tradisi yang berlaku dalam perang zaman dahulu adalah, memberitahu lawan kalau akan diserang atau melakukan penyerangan di siang hari. Maka, boleh kita menyerang musuh tanpa memberitahu terlebih dahulu, atau melakukan penyerangan di malam hari saat musuh sedang lengah.

Imam Nawawi menambahkan (Syarah Muslim, hlm. 12/43):

وقد صح في الحديث جواز الكذب في ثلاثة أشياء : أحدها في الحرب . قال الطبري : إنما يجوز من الكذب في الحرب المعاريض دون حقيقة الكذب ، فإنه لا يحل ، هذا كلامه ، والظاهر إباحة حقيقة نفس الكذب لكن الاقتصار على التعريض أفضل

Artinya: Ada hadis sahih yang menyatakan bolehnya berbohong dalam tiga keadaan salahsatunya dalam perang. Namun Imam Thabari berkata: Bolehnya berbohong dalam perang itu adalah bohong tidak langsung (memakai bahasa diplomatis), bukan bohong yang hakiki. Ini pandangan Thabari. Yang zhahir (menurut Imam Nawawi - red) boleh juga berbohong secara eksplisit tapi secara implisit itu lebih utama.
Baca detail: Bohong dalam Islam

Jadi, tipu daya dalam hadis tidak terkait dengan perjanjian antara dua pihak. Penipuan atau pengkhianatan antara dua pihak dilarang dalam Islam secara mutlak.

Dalam QS Al-Anfal 8:56 Allah melarang muslim mengkhianati perjanjian:

(Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya).

Larangan untuk berkhianat juga ditegaskan oleh Nabi.

Berikut beberapa hadis terkait hal ini:

A. Pengkhianat akan dikenali lewat benderanya

وقال صلى الله عليه وسلم : " لكل غادر لواء يوم القيامة يُعرف به .

Artinya: Setiap orang yang khianat akan memiliki liwa' (bendera) pada hari kiamat. Dia akan dikenali dengan bendera itu (HR. Bukhari Muslim)

B. Tanda Munafik

أربع خلال من كنَّ فيه كان منافقاً خالصاً إذا حدَّث كذب وإذا وعد أخلف وإذا عاهد غدر وإذا خاصم فجر ومن كان فيه خصلة منهن كانت فيه خصلة من النفاق حتى يدعها

Artinya: Empat kerusakan, siapa yang ada pada dirinya, maka dia termasuk benar-benar orang munafik. Kalau berbicara berbohong, kalau berjanji tidak ditepati, kalau bersepakat tidak dipenuhi, kalau berselisih melampaui batas. Siapa yang mempunyai salah satu perangai, maka ia termasuk perangai dari kemunafikan sampai ia meninggalkannya


Imam Malik dalam Al-Muwatho', hlm. 1/335, menyatakan:

وعن مالك قال : بلغني أن عبدالله بن عباس قال : ما ختر قوم بالعهد إلا سلط الله عليهم العدو.الموطأ / باب ما جاء في الوفاء بالعهد

Disampaikan kepadaku bahwa Abdullah bin Abbas berkata, “Tidaklah suatu kaum ketika tidak menepati janji melainkan Allah akan kuasakan musuh kepadanya.

3. Kalau itu melanggar kesepakatan yang tertulis, maka tidak dibolehkan dalam Islam.

TIPU DAYA PERANG (2)

Assalaamu'alaykum,

Terima kasih banyak atas jawabannya. Bolehkah saya menanyakan follow up sedikit?

Pertanyaan No. 3 jawabannya adalah "Kalau itu melanggar kesepakatan yang tertulis, maka tidak dibolehkan dalam Islam".
Nyuwun penjelasannya, apakah kesepakatan yang tidak tertulis (disepakati secara lisan) berarti boleh dilanggar? Karena sekilas nampaknya di penjelasan jawaban No. 2, kesepakatan/perjanjian nampakya tidak menspesifikkan apakah tertulis atau tidak.

Untuk ini, kalau berkenan, apakah bisa masuk kategori [sangat penting] karena merupakan follow up dari pertanyaan Sangat Penting sebleumnya? Kalau tidak, inshaaAllah saya tunggu pun tidak apa-apa..

Jazakallaahu khairan katsira

JAWABAN

Sama saja. Kesepakatan tertulis atau lisan statusnya sama dalam hukum Islam. Prinsipnya kesepakatan yang dilakukan oleh dua orang atau dua kelompok atau lebih. Namun kesepakatan tertulis lebih memiliki kekuatan legal formal tidak saja zaman ini tapi juga zaman Islam klasik. Sebagaimana dalam konteks Piagam Madinah. Baca detail: Piagam Madinah