11/09/19

Hukum Mengharamkan Perkara Halal

MENGHARAMKAN PERKARA HALAL, APAKAH MURTAD?

Assalamualaikum, pak ustadz saya mau bertanya, saya tau menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal itu bisa menyebabkan murtad, artinya apakah kalo kita mengatakan roti itu haram padahal roti itu halal berarti kita telah murtad?

Syukron pa ustadz semoga pak ustadz bisa membantu menyelesaikan permasalahan was was saya
Wasallamualaikum

JAWABAN

Roti yang anda haramkan itu tetap halal, tidak berubah menjadi haram. Hanya saja anda berdosa karena mengatakan sesuatu yang tidak benar dan oleh karena itu diharuskan memohon ampun pada Allah.

Ibnu Arabi dalam Ahkamul Quran, hlm. 2/4, menyatakan pandangan dua madzhab fikih:

إذا قال: هذا علي حرام لشيء من الحلال عدا الزوجة فإنه كذبة لا شيء عليه فيها، ويستغفر الله، ولا يحرم عليه شيء مما حرمه، هذا مذهب مالك والشافعي وأكثر الصحابة، وروي أنه قول يوجب الكفارة، وبه قال أبو حنيفة. انتهى.

Artinya: Apabila seseorang berkata "Haram bagiku perkara halal kecuali istri" maka ucapannya itu bohong dan tidak ada kewajiban hukum apapun baginya. Hendaknya dia beristighfar (memohon ampun) pada Allah. Namun tidak haram baginya apapun yang dia haramkan. Ini pendapat madzhab Maliki dan Syafi'i dan kebanyakan Sahabat. Menurut pendapat Abu Hanafi (madzhab Hanafi) ucapan seperti itu mewajibkan kafarat baginya.

Namun menurut pandangan madzhab Hanafi dan Hambali, mengharamkan perkara halal itu dianggap bersumpah. Dengan demikian, maka wajib bagi anda untuk membayar kafarat (tebusan) melanggar sumpah atau tidak melaksanakan nadzar. Baca detail: Hukum Nadzar dan Sumpah

Ibnu Qudamah (madzhab Hambali) dalam Al-Mughni, hlm. 11/202, menjelaskan:

"إذا قال : هذا حرام علي إن فعلت ، وفعل ، أو قال : ما أحل الله علي حرام إن فعلت ، ثم فعل ، فهو مخير ، إن شاء ترك ما حرمه على نفسه ، وإن شاء كَفَّر . وإن قال : هذا الطعام حرام علي ، فهو كالحلف على تركه " انتهى "

Artinya: Apabila seseorang berkata: "Ini haram bagiku melakukannya" lalu dia melakukannya; atau ia berkata "Apa yang dihalalkan Allah haram bagiku melakukannya" lalu dia melakukannya, maka baginya boleh memilih: a) apabila mau dia boleh meninggalkan apa yang dia haramkan untuk dirinya sensdiri. b) apabila mau, dia boleh melanggarnya dan membayar kafarat (sumpah). Apabila dia berkata "Makanan ini haram bagiku", maka itu seperti sumpah apabila meninggalkannya.

Kesimpulan:

1. Mengharamkan yang halal tidak berakibat murtad.

2. Menurut pandangan madzhab Maliki dan Syafi'i, tidak ada kewajiban apapun bagi pelaku kecuali bertobat memohon ampun pada Allah; sedangkan menurut madzhab Hanafi dan Hambali, itu dianggap sumpah yang harus bayar kafarat apabila melanggarnya.
Baca juga: Penyebab Murtad

08/09/19

Menunda Pembagian Warisan, Bolehkah?


MENUNDA PEMBAGIAN WARISAN, BOLEH ATAU HARAM?

Bismillah,

Saya ingin bertanya ustadz, tentang bagaimana cara penetapan pembagian waris berupa rumah, tanpa menjual rumah tersebut.

Ayah saya 3 bulan yang lalu meninggal dunia, meninggalkan sebuah rumah yang biasa ditempati beliau, ibu, dan saudara2 saya yang belum menikah.

Ayah saya meninggalkan seorang istri dan 3 anak laki-laki serta 4 anak perempuan. Kami sebagai anak, tidak berkeinginan untuk segera menjual rumah tersebut, selain karena masih untuk tempat tinggal ibu, belum memerlukan untuk dijual, dan tidak ingin terburu-buru menjual dengan tujuan agar harga rumah tidak jatuh.

1. Yang menjadi pertanyaan saya adalah, apakah tidak segera menjual rumah waris itu menyalahkan syariah? Kami semua sudah mengetahui hak kami masing2 sebagai ahli waris.

2. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara penetapan pembagian rumah waris tersebut tanpa perlu menjual? (sementara rumah tersebut belum dipasarkan untuk dijual, pada masa yang akan datang, memang akan dijual). Sehubungan dengan hal ini, apakah penetapan tersebut dalam bentuk tertulis dan disahkan oleh negara, atau cukup tiap ahli waris mengetahui hak masing2 atas rumah tersebut? Apakah dengan penetapan pembagian tersebut sudah termasuk dengan apa yang dimaksud dalam Islam dengan membagi harta waris?

Jazakallahu khairan atas jawaban Ustadz.

JAWABAN

1. Membagi warisan kepada ahli waris yang berhak itu wajib dilakukan segera setelah pewaris meninggal. Harta itu adalah hak dari setiap ahli waris. Karena hak dari ahli waris, maka apabila seluruh ahli waris rela tidak meminta haknya segera dibagi, maka boleh pembagian waris ditunda sementara. Majelis Fatwa Mesir menyatakan:


أكدت دار الإفتاء المصرية، أن مماطلة أحد الورثة أو تأجيلُه قسمةَ الإرث أو منع تمكين الورثة من نصيبهم بلا عذر أو إذن من الورثة محرَّم شرعًا، وصاحبه آثم مأزور

Artinya: Majelis Fatwa Mesir menyatakan bahwa menunda pembagian waris pada salah satu ahli waris tanpa udzur atau tanpa izin ahli waris hukumnya haram. Pelakunya berdosa.

Dalam fatwa tersebut ada catatan "apabila tanpa ijin ahli waris". Kalau seijin ahli waris maka tidak apa-apa.

Sebagaimana hak mendapatkan nafkah seorang istri dari suaminya, namun apabila istri ikhlas dan tidak meminta haknya, maka tidak masalah bagi suami tidak memberikan nafkah. Baca detail: Hak dan Kewajiban Suami Istri

2. Itu soal teknis yang pelaksanaannya bisa dilakukan secara bebas sesuai dengan hasil musyawarah mufakat antara seluruh ahli waris. Baca detail: Hukum Waris Islam

WARISAN BAGIAN ISTRI, ANAK PEREMPUAN DAN SAUDARA KANDUNG

Assalamualaikum ustadz sy mau tanya masalag warisan...
seorang laki" sebut saja amir meninggal tgl 9januari 2016 adapun status ahli waris sbg berikut :
1.istri (masih hidup)
2.3 anak perempuan ( hidup)
3.2 saudara laki" seibu sebapak (hidup
4.3 saudara perempuan (hidup)
1. bagaimana pembagian warisannya sementara amir membeli bagian warisan dari salah satu saudaranya saudara laki"nya yaitu rumah yang sekarang ditempati anak dan istri amir ..yg mau saya tanyakan...apakah pembagian warisannya saudara laki" amir dapat warisan dr amir semntara dl bagian warisannya dibeli oleh amir..?
2.apakah boleh istri amir membagi menghibahkan harta amir untuk 3 anak perempuannya dan bagaimana pembagiannya...terima kasih atas jawabannya.

JAWABAN

1. Pembagiannya sbb (dengan asumsi ayah dan ibu almarhum sudah wafat semua):
(a) Istri mendapat 1/8 = 3/24
(b) 3 anak perempuan mendapat 2/3 = 15/24
(c) Sisanya yang 6/24 dibagikan kepada seluruh saudara kandung. Saudara lelaki mendapat 2, saudara perempuan mendapat 1. Jadi, dari sisa 6/24, kedua saudara lelaki masing-masing mendapat 2/7; sedangkan ketiga saudara perempuan masing-masing mendapat 1/7. Baca detail: Hukum Waris Islam

2. Hibah hanya bisa dilakukan oleh pemilik harta saat masih hidup. Sedangkan pemilik sudah meninggal. Istri pewaris tidak bisa dan tidak boleh menghibahkan sesuatu yang bukan miliknya. Baca detail: Hibah dalam Islam

WARISAN PENINGGALAN WANITA UNTUK SUAMI, IBU DAN ANAK

Assalamu'alaikum wr.wb, ustadz Saya mau nanya isteri saya meninggal dan meninggalkan:
1. seorang anak perempuan msh kanak-kanak
2. seoramg suami
3.ibu isteri/ibu mertua

sedangkan bapak isteri sdh meninggal sewaktu bapak si isteri masih hidup memberikan uang kepada almarhumah isteri saya untul membeli rumah kemudian di belikam rumah sama isteri saya dan lamgsung di buatkan sertifikat sewaktu kita belum menikah menurut isteri saya sengaja bpknya berbuat sprti itu emang tujuannya memberikan rumah biar di kemudian hari tidak ada yg mau merebut dari almarhumah isteri saya, pembuatan sertifikat thn 2006 saya baca hukum di pengadilan agama sertifikat tanah yg selana 5 thn tidak di gugat hukum kekuatannya kuat tidak bisa di gugat oleh siapapun, sewaktu isteri masih hidup mereka semuanya mengakui bahwa itu milik almarhumah isteri pemBerian dri bapaknya mslhnya yg lain sdh dpt bagian masing2 cmn isteri saya yg sampai pembuatan sertifikat,tapi setelah isteri saya meninggal mereka berusaha merebut dan mengusir cucunya sendiri dengan cara berdusta bahwa itu milik bpknya klrga mereka,yg menjadi pertanyaan saya:

1.sudah kuatkah hukum sertifikat atas nama isteri almarhumah nnti di sidang pengadilan agama smntra mereka bersaksi dgn berdusta membalikan semua fakta.

2.atau hakim bisakah membagi tanah dan bangunan yg sudah bersertifikat atas nama isteri saya,di bagi sama sdr2 yg lainnya ada ketalutan mereka menyuap petugas2 yg berwenang,mengingat saya tidak ingin beristeri lagi ingin ketemu di surga nnti insya allah,paling tidak jika saya meninggal nnti anak ada pegangan hidup dari bpk dan ibunya.sebelumnya saya memgucapkan terima kasih ini pertanyaan kelanjutan dari pertanyaan yg sdh di jawab saya ucapkan beribu-ribu terima kasih.

JAWABAN

1. Kalau sudah berupa sertifikat itu sudah kuat.
2. Tanah atas nama istri anda akan dibagikan kepada ahli waris yaitu (a) suami 1/4 = 6/24 -> 6/26; (b) dua anak perempuan 2/3 = 16/24 -> 16/26; (c) Ibu 1/6 = 4/24 -> 4/26
Jumlah total = 26/24 -> 26/26
Saudara kandung dalam kasus ini tidak dapat bagian sama sekali. Baca detail: Hukum Waris Islam

Kasus penghitungan di atas disebut Aul. Baca detail: Aul


03/09/19

Menyentuh Kemaluan Apakah Membatalkan Mandi Wajib?



MENYENTUH KEMALUAN APAKAH MEMBATALKAN MANDI WAJIB?

Assalamualaikum wr. Wb

Mohon pencerahannya ustad/ustadzah.
Hal ini mengenai hukum mandi wajib.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa menyentuh kemaluan itu membatalkan mandi wajib dan wudhunya.
Tapi bukannya saat mandi kita dianjurkan untuk menggosok seluruh tubuh(termasuk kemaluan). Bagaimana dengan hal diatas?

Terima kasih. Wasalamu alaikum wr.wb

JAWABAN

Menyentuh kemaluan itu membatalkan wudhu. Tidak membatalkan mandi wajibnya. Baca detail: Cara Wudhu dan Mandi Junub

JADI ISTRI KEDUA KARENA HAMIL DI LUAR NIKAH

Assalamualaikum

Sy mau bertanya,,sy adalah seorang istri kedua.. Sy menikah dg suami karna hamil d luar nikah,kami menikah tanpa spengetahuan istri pertamax.. Dr istri pertamax suami sy tdk mempunyai anak.. Saat anak sy berusia 1,5th barulah terbongkar pernikahan diam2 kami oleh istri prtmx..

Kami bertengkar tp seiring berjalanx waktu istri prtm bisa menerima kehadiran sy n anak tp tdk mengijinkan sy menikah secara resmi dg suamix.. Di sisi lain sy butuh akta kelahiran anak sy.

Akhirx kami memutuskan bertemu bertiga hasil prtm suami sy mau menceraikan istri prtmx dg berat hati n berlinang air mata.. Dr situ sy urungkan niat sy untuk memisahkan mreka krna sy melihat cinta mreka yg bgitu dlm walau akhirx sy tau mgkn ternyata sy tidak berarti apa2 d hati suami sy..

Hasil kedua sy minta ijin pada istri prtm agar dy bersedia mengijinkan kami menikah secara resmi tanpa mreka harus bercerai tp dg syarat stelah menikah n mengurus akta kelahiran anak sy,suami sy harus segera menceraikan sy n tdk boleh menuntut apapun dr suamix.. Akhirx kami stuju walau dg berat hati karna suami sy pun berat meninggalkan anak kandungx..

1. Pertanyaan sy bagaimana hukumx jika seorang ayah meninggalkan anak kandungx hanya demi mempertahankan perasaanx pada istri pertamax..

Apa yg harus sy lakukan pada posisi ini..

Suami sy kurang bijaksan n tdk bisa mengambil keputusan apapun..
Terimakasih sblmx

JAWABAN

1. Hubungan ayah dan anak kandungnya itu sifatnya abadi. Kalaupun ayah dan ibunya berpisah, dan anak ikut ibunya, namun hubungan kekerabatan keduanya tetap. Begitu juga kewajiban ayah dalam menafkahi anaknya tetap berlaku. Baca detail: Ayah Wajib Menafkahi Anak

MENYENTUH MULUT ANJING WAKTU KECIL

Assalamualaikum pak, saya mau tanya,

1. Dulu saya waktu kecil pernah tidak sengaja menyentuh/terkena hidung dan mulut anjing, tapi tidak saya cuci karena saya belum tau itu najis, dan saya baru tau sekarang kalau harus dicuci, tapi saya lupa terkenanya dimana, saya harus bagaimana?

2. Saya juga lupa hidung dan mulut anjing itu basah atau kering karena kejadiannya sudah cukup lama

Saya harus bagaimana? Ditolong ya pak saya takut

JAWABAN

1. Anjing itu najis menurut madzhab Syafi'i, Hanafi dan Hanbali dengan berbagai macam perbedaan tentang bagian mana yang najis. Baca detail: Najis Anjing dan Cara Menyucikan

Sedangkan menurut madzhab Maliki, anjing itu tidak najis. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

Anda bisa mengikuti pendapat terakhir ini untuk menghilangkan was-was anda di masa lalu. Baca detail: Was-was Najis Anjing

Namun, ke depannya ikuti tata cara madzhab Syafi'i agar selalu berhati-hati terhadap najis. Termasuk najis anjing. Baca detail: Ragu Najis Anjing

WAS-WAS PENYUCIAN NAJIS ANJING

Asalamualaikum, saya mau bertanya lagi

Saya pernah terkena liur anjing di kaki saya lalu saya cuci najisnya, namun saya tidak ingat apakah sudah benar atau belum karena kejadiannya beberapa tahun lalu dan baru-baru ini saya teringat.

1. Apakah itu termasuk was was?

2. Jika waktu itu saya belum mencucinya dengan benar apa yang harus saya lakukan sekarang?

3. Jika saya belum mencucinya dengan benar lalu saya menyentuh orang lain apakah mereka terkena najis juga?

4. Bagaimana jika saya tidak ingat siapa yang saya sentuh dan menyentuh mereka di bagianmana

JAWABAN

1. Ya. Itu termasuk was-was yang harus dihindari. Kalau terjadi was-was, maka abaikan.

2. Tidak apa-apa. Allah memaafkan kesalahan karena tidak tahu. Baca detail: Hukum Melakukan Perkara Haram karena Tidak Tahu

3. Tidak. Apalagi ulama berbeda pendapat tentang najis anjing. Baca detail: Najis Anjing dan Cara Menyucikan

4. Tidak apa-apa. Abaikan bisikan was-was itu. Dan fokus ke masa depan. Berbuatlah yang benar tanpa was-was. Baca detail: Was-was Najis Anjing

MASALAH NAJIS

Assalamu’alaikum....
Ust. Saya mau tanya mengenai masalah najis anjing. Kejadiannya seperti ini:
Waktu itu pada malam hari sekitar jam 21:45 sepulang mengantarkan saudara kerja, di jalan kemudian masuk gang, waktu itu kondisi di gang lagi sepi, kemudian saya melewati gang itu yang biasa saya lewati baik pagi, siang maupun malam hari.

Tetapi, hari itu ketika saya melewati gang tersebut sambil berkendara motor saya kaget ketika saya lewat dan menengok ke arah kanan ada seekor anjing posisinya sedang berdiri mungkin sedang berjalan juga anjingnya karena ada saya lewat anjing itu berhenti malah kepala anjing itu melihat ke saya. Kaki saya sudah saya usahakan untuk menghindari anjing itu sambil berkata dalam hati (untung tidak kena) tapi takut kena. Karena di gang itu kondisinya gelap tidak terang juga tidak, saya takut anjing itu mengenai celana kaki saya.

Lalu bagaimana hukumnya kalau ada kejadian seperti itu ustadz? Mohon pencerahannya dan ilmu nya.

JAWABAN

Kalau tidak jelas kena anjing alias masih ragu masih beruapa asumsi, maka itu tidak dianggap. Dan statusnya kembali ke hukum awal yakni celana anda dalam keadaan suci. Dalam kaidah fikih dikatakan: "Keyakinan tidak hilang karena keraguan." Yang dimaksud keyakinan adalah fakta, sedangkan keraguan adalah asumsi.
Baca detail:
- Kaidah Fikih
- Kaidah Yakin tidak hilang oleh Ragu

YAKIN DAN RAGU SOAL NAJIS

Assalamu'alaikum.....
Ust. Ini pertanyaan yang lain:

1. yakin itu di definisikan sebagai (fakta bahwa seseorang benar-benar melihat kejadian bahwa celana atau bajunya dijilat anjing) apakah seperti itu ustadz? maksudnya.

2. ada celana dan baju keadaan awalnya suci disimpan atau digantung di pinggir celana yang bernajis kemudian bersentuhan. apa itu disebut yakin terkena najis juga ustad?
mohon penjelaannya ust. dan ditunggu atas jawabannya karena saya merasakan takut ibadah saya tidak sah.

JAWABAN

1. Ya, yakin itu adalah fakta yang terlihat. Sedangkan ragu itu asumsi, kemungkinan.
Baca detail:
- Kaidah Fikih
- Kaidah Yakin tidak hilang oleh Ragu

2. Belum tentu. Karena, dalam kasus di atas ada dua kemungkinan: (a) najis kalau salah satu atau keduanya ada yang basah; (b) tetap suci kalau kedua benda itu sama-sama kering. Maka, lihatlah faktanya: apakah ada yang basah atau kedua-duanya kering. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

Hukum Makan Minum Sambil Berdiri

Hukum Makan Minum Sambil Berdiri
HUKUM MAKAN SAMBIL BERDIRI, BOLEHKAH?

Assalamualaikum,

mohon ijin bertanya:
1. makan/minum tidak boleh sambil berdiri?apabila terpaksa bersandar boleh tidak.
2.baca quran harus wudhu dulu
3.bagaimana bentuk terbaik berbakti pada orang tua. apakah sedekah rahasia tidak diketahui siapa pun itu baik dan bisa termasuk dalam berbakti juga. ditambah niat sedekah untuk orang tua. atau lebih baik memberi nya uang langsung.
4.apakah boleh kalau saya niat untuk pergi umrah saat ramadahan sekaligus niat sebagai haji. karena sy dengar umrah saat ramadah termasuk haji. Jikalau Allah mengizinkan sy untuk dapat pergi umrah ramadhan apakah ibadah sy cukup, atau sebaiknya sy tetap menabung dan niatkan untuk pergi haji lagi. karena sy jg pernah mendengar ibadah haji dan umrah sebaiknya hanya 1kali saja. untuk diberi kesempatan kepada yang lain. apakah boleh kalau ada rezeki setelah itu untuk dipakai melakukan perjalanan ke kota atau negara lainnya.

Terimakasih

JAWABAN

1. Hukum makan dan minum sambil berdiri tidak dilarang dalam Islam. Hanya saja itu kurang ideal dalam arti kalau bisa memilih, maka makan dan minum sambil duduk itu lebih utama. Memang ada hadis yang menyatakan larangan makan/minum sambil berdiri. Tapi ada juga hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah pernah makan/minum sambil berdiri.

a) Hadis yang melarang makan dan minum sambil berdiri

عن أبي سعيد أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم نهى عن الشرب قائما رواه أحمد ومسلم

Artinya, “Dari Abu Said bahwa Nabi SAW melarang minum sambil berdiri,” (HR Ahmad dan Muslim).

b) Hadis yang menyatakan Nabi pernah makan/minum berdiri

عن الإمام علي رضي الله عنه أنه في رحبة الكوفة شرب وهو قائم قال إن ناسا يكرهون الشرب قائما وإن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم صنع مثل ما صنعت رواه أحمد والبخاري

Artinya, “Dari Imam Ali RA bahwa ia di satu lapangan di Kota Kufah meminum dalam posisi berdiri. Ia berkata, ‘Banyak orang memakruhkan minum dalam posisi berdiri. Padahal Rasulullah SAW melakukan apa yang kulakukan,’” (HR Ahmad dan Bukhari).

Dalam menyikapi kedua hadis yang terkesan berlawanan ini, Imam Nawawi Lihat Imam An-Nawawi dalam kitab Raudhatut Thalibin, hlm. 7/340 menyimpulkan dari sudut hukum fikih sbb:

ولا يكره الشرب قائما وحملوا النهي الوارد على حالة السير قلت هذا الذي قاله من تأويل النهي على حالة السير قد قاله ابن قتيبة والمتولي وقد تأوله آخرون بخلاف هذا والمختار أن الشرب قائما بلا عذر خلاف الأولى للأحاديث الصريحة بالنهي عنه في صحيح مسلم وأما الحديثان الصحيحان عن علي وابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم شرب قائما فمحمولان على بيان الجواز جمعا بين الأحاديث

Artinya, “Minum sambil berdiri tidak makruh. Ulama memahami larangan yang tersebut itu dalam keadaan perjalanan. Menurut saya, pendapat yang dikatakan ini berdasar pada takwil larangan dalam keadaan perjalanan sebagaimana dipegang oleh Ibnu Qutaibah dan Al-Mutawalli. Ulama lain menakwil berbeda. Pendapat yang kami pilih, minum sambil berdiri tanpa uzur menyalahi yang utama berdasarkan larangan pada hadits riwayat Imam Muslim. ”

Al-Mausuah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, hlm. 15/270-271, menyimpulkan pandangan seluruh ulama lintas madzhab sbb:


لا خلاف بين الفقهاء أنه يندب الْجُلُوسُ لِلأكْل وَالشُّرْبِ وَأَنَّ الشُّرْبَ قَائِمًا بِلاَ عُذْرٍ خِلاَفُ الأَوْلَى عِنْدَ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ

Artinya, “Tiada khilaf di kalangan ahli fiqih bahwa seseorang dianjurkan makan dan minum sambil duduk. Tetapi minum sambil berdiri tanpa uzur menyalahi yang afdhal menurut mayoritas ulama.”

2. Membaca Al Quran harus punya wudhu (suci hadas kecil) itu dilakukan apabila sambil memegang mushaf (kitab suci Al Quran yang berbentuk buku yang berisi murni Al-Quran tidak bercampur dengan terjemahan). Adapun membaca Al-Quran tanpa memegang kitab suci maka tidak diperlukan suci dari hadas kecil. Namun perlu diingat, bahwa orang yang berhadas besar (karena junub atau haid/nifas) maka tidak boleh membaca Al Quran walaupun tanpa menyentuhnya). Baca detail: Membaca Al Quran bagi Wanita Haid

3. Kalau anda memiliki kelebihan harta, sedangkan orang tua tidak atau kurang mampu, maka bentuk berbakti adalah menafkahi kehidupan sehari-hari mereka. Baca detail: Hukum Taat dan Berbakti pada Orang Tua

Bahkan ini termasuk wajib. Baca detail: Hukum Nafkah

4. Tidak bisa. Haji itu tidak tergantikan oleh ibadah umrah. Karena, dalam rukun haji ada wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah dan melempar jumroh di tiga tempat. Itu semua tidak dilakukan saat umrah. padahal tanpa dua hal tersebut haji tidak sah. Baca detail: Haji dan Umroh

Yakin dan Dugaan Najis



MASALAH NAJIS ANJING

Assalamu’alaikum...
Ust. Saya mau menanyakan terkait masalah saya yaitu mengenai najis anjing.

Masalah pertama:

kejadiannya waktu itu di malam hari di tengah perjalanan pulang, setelah mengantarkan ayah ke tempat kerja. dijalan pas di belokan sambil mengendarai motor dengan kondisi memakai celana panjang lalu saya menengok ke kiri sambil berjalan, saya kaget soalnya ada anjing berwarna putih berada dipinggir jalan sebelah kiri, ketika saya melewati belokan itu sambil terus menengok ke sebelah kiri entah sedang apa anjingnya. saya merasakan takut, karena itu kejadiannya dimalam hari dan pada saat menengok juga tidak begitu jelas apakah kaki kiri saya dengan kondisi memakai celana panjang mengenai anjing itu atau tidak. Saya takut dan kepikiran terus kaki kiri saya mengenai anjing itu. Kemudian setelah sampai dirumah saya menggantungkan celana tersebut disudut balik pintu kamar tidur saya, lalu saya menggantungkan lagi baju, jaket, dan celana yang lain yang keadaan awalnya suci dipinggir celana yang saya takuti kena anjing. kemudian saya menggantungkan lagi celana, baju dan jaket disudut dinding pas dibalik pintu kamar. Nah, otomatis bila pintu kamar dibuka celana yang saya takuti kena anjing itu bersentuhan dengan celana, baju dan jaket yang digantung menggunakan gantungan yang satuan terus digantung lagi di gantungan yang sejajar (hanger). Apa hukumnya untuk celana, baju dan jaket yang keadaannya suci itu? Apakah menjadi najis karena digantung berdampingan dengan celana yang saya takuti kena anjing itu.

Jujur Ust saya bingung dengan masalah tersebut. Mohon beri penjelasan se jelas-jelasnnya ustadz dan beri juga landasannya karena saya takut sekali dalam melaksanakan ibadah takut tidak sah.

Masalah kedua:

Yakin itu di definisikan sebagai (fakta bahwa seseorang benar-benar melihat kejadian bahwa celana atau bajunya dijilat anjing) apakah seperti itu ustadz? Maksudnya.
Kemudian, ada celana dan baju keadaan awalnya suci disimpan atau digantung dipinggir celana yang bernajis kemudian bersentuhan. Apa itu disebut yakin terkena najis juga ustadz? Mohon penjelasannya ustadz dan ditunggu atas jawabannya karena saya merasakan takut ibadah saya tidak sah.

Masalah ketiga:

Di dalam kamar mandi yang dipakai bersama: ayah, ibu dan adik-adik, saya menggantungkan celana yang awalnya saya yakini di bagian kaki kanan tepatnya di bagian betis belakang terkena najis anjing. kejadian anjing mengenai celana saya sampai menjadi ada najis pada bulan ramadhan kemarin. Kemudian di dalam kamar mandi tersebut pasti digantungkan lagi handuk dan lainnya di gantungan itu dipinggir celana yang terkena najis, tetapi karena tergantung terlalu lama dikamar mandi karena mencari tanah untuk mencucinya. Akhirnya saya ragu apakah celana itu basah atau lembab sehingga menjadi pikiran berat bagi saya sendiri mungkin menular ke lain entah itu pada gantungan, handuk, atau yang lainnya yang digantung disebelah celana tersebut. Walapun celana itu sudah saya cuci sesuai syari’at, tetapi saya merasakan takut yang amat. Dan terasa ada yang mengganjal dalam hati dan pikiran saya takut gantungan tersebut dan handuk serta yang lainnya yang sudah-sudah terdapat najis yang saya dan orang serumah tidak ketahui. Bagaimana solusinya ustadz? Dan mohon penjelasannya. Bila perlu beri saya landasannya juga agar lebih paham.
Karena dari kejadian-kejadian di atas saya lebih cenderung mengurung diri di kamar dan kepikiran terus, takut ketika melaksanakan ibadah tidak sah


JAWABAN

Masalah pertama: Kalau tidak ada bukti celana anda terkena anjing, maka status celana itu suci. Yang dimaksud bukti di sini ada beberapa: (a) anda melihat langsung anjing itu menyentuh celana; (b) anda tidak melihat tapi merasakan kepala anjing itu menyentuh celan; (c) anda tidak melihat atau merasakan tapi di celana ada air liur anjing. Kalau ketiga poin itu tidak ada, maka opini anda itu cuma asumsi atau praduga. Dalam hal ini maka status celan kembali ke hukum asal yaitu suci. Keraguan anda dalam konteks ini tidak dianggap berdasarkan kaidah fikih: "Keyakinan tidak hilang dengan keraguan (اليقين لا يزول بالشك)" dan kaidah "Tetapnya sesuatu pada hukum asal (الأصل بقاء ما كان علي ما كان)"
Baca detail:
- Kaidah Fikih
- Kaidah Yakin tidak hilang oleh Ragu

Masalah kedua:
Ya, betul.
Belum tentu. Karena, dalam kasus di atas ada dua kemungkinan: (a) najis kalau salah satu atau keduanya ada yang basah; (b) tetap suci kalau kedua benda itu sama-sama kering. Maka, lihatlah faktanya: apakah ada yang basah atau kedua-duanya kering. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan


Masalah ketiga:

Solusi terbaik untuk menghilangkan was-was anda soal ini adalah dengan mengikuti pandangan madzhab Maliki: bahwa anjing hidup itu tidak najis sama dengan binatang hidup yang lain. apabila demikian, maka tidak ada masalah dengan celana anda yang menempel dengan benda-benda lain di toilet. Sekedar diketahui, bahwa Imam Maliki, pendiri madzhab Maliki, adalah guru langsung dari Imam Syafi'i, pendiri madzhab Syafi'i. Dan ikut pendapat madzhab Maliki dalam soal ini dibolehkan untuk menghindari was-was yang diharamkan. Baca detail: Najis Madzhab Maliki

NAJIS PERCIKAN AIR KE LANTAI MUSHOLA

Assalamu'alaikum wr wb.

Ustadz nama saya Anwar. Saya ingin bertanya berkaitan tentang najis.
Didekat rumah saya ada surau disampingnya ada jalan yg biasa dilewati orang, termasuk saya sering lewat sana dan meyakini sendal saya ada najisnya (yg hukmiah). Jika hujan maka percikan airnya dari tanah tsb mengenai lantai musoholla dengan percikan yang lumayan banyak (jalan tsb juga ada sedikit genangan). Bagai mana hukum air percikan yang ke lantai musholla tsb.

Demikian pertanyaan saya Ustadz. Kalau bisa segera dijawab ke email saya jg karena samgat mendesak.
Terima Kasih
Wassalamu'alaikum wr wb.

JAWABAN

Percikan air dari jalangan hukumnya dimaafkan walaupun najis. Baca detail: Najis di Jalanan


JALANAN BEKAS DILEWATI ANJING

Assalamu'alaikum
saya ingin bertanya minggu lalu saya lari, ketika sedang lari saya melihat anjing melewat di depan saya tapi saya menghiraukannya,tapi setelah saya selesai lari saya memikirkan kejadian tadi, saya lupa dan tidak tahu apakah ketika anjing tersebut lewat anjingnya meninggalkan najis seperti liur atau tidak, jadi apakah sepatu saya terkena najis ?
Terimakasih.

JAWABAN

Najis yang ada di jalanan itu dimaafkan. Kecuali kalau najis itu menempel di tubuh anda secara kasat mata. baca detail: Najis di Jalanan

Bagian Waris Cucu Laki-laki


HAK WARIS CUCU LAKI-LAKI

Assalamualaikum, saya mau menanyakan pembagian warisan..

Saya cucu laki-laki satu satu nya dari almarhum ayah saya satu satunya (anak tunggal) pada saat ini nenek saya sudah meninggal dan tinggal kakek tiri saya. kakek dengan nenek tidak memiliki anak.

Dari perkawinan sebelumnya kakek tidak punya anak.. Separuh harta yang dimiliki mereka adalah harta yg dimiliki nenek (almarhumah) pemberian dari orang tua nenek yang semuanya sudah almarhum... Nenek keluarga Besar dan sekarang adik nenek ada sisa 2 perempuan semua...

Mohon penjelasan menurut ilmu agama berapa bagian saya dan berapa bagian kakek tiri saya dan apakah ke dua adik nenek mendapatkan bagian karena pada saat ini mereka menganggap bahwa saya hanya cucu dan tidak berhak atas warisan tersebut.. Mohon penjelasan yang sebenar benarnya. Terima kasih.. Wassalamualaiku wr wb.

JAWABAN

Pembagiannya sbb:

(a) Suami (kakek anda) mendapat bagian 1/4
(b) Sisanya yang 3/4 untuk cucu laki-laki
(c) Kedua Saudara kandung perempuan tidak mendapat warisan karena terhalang oleh adanya cucu laki-laki. Baca detail: Hukum Waris Islam


CATATAN: Perlu dicatat bahwa yang dapat warisan adalah cucu laki-laki dari anak laki-laki. Baca detail: Bagian waris cucu laki-laki


HAK WARIS ANAK KANDUNG PEREMPUAN DAN ISTRI

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..perkenalkan saya Sari..
Mohon dibantu untuk penyelesaian pembagian waris keluarga saya

1. Bapa saya meninggal 10 september 2017
2. tak lama, istri nya (ibu tiri saya) meninggal juga pd tgl 23 oktober 2017
3. Bapa hanya punya anak perempuan satu-satu nya yaitu saya sendiri sedangkan dari pernikahannya dengan istri nya(ibu tiri saya) tidak mempunyai anak
4. Saudara sekandung bapa sudah meninggal semua berikut orang tua bapa
5. Ada anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung bapa
6. Saudara sekandung dari ibu tiri masih ada

Pertanyaan saya;

1. Bagaimana pembagian warisnya?
2. Apakah saudara sekandung dari ibu tiri saya mendapat bagian juga berhubung bapa meninggal terlebih dahulu dari istrinya (ibu tiri saya)? jikalau iya berapa bagiannya?

Terimakasih

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

JAWABAN

1. Karena terjadi dua kematian dengan ahli waris yang berbeda, maka pembagian waris harus dilakukan dua kali sbb:

A. PEMBAGIAN WARIS BAPAK, WAFAT SEPTEMBER 2017

(a) Istri (ibu tiri anda) mendapat 1/8 = 1/8
(b) Anak perempuan mendapat 1/2 = 4/8
(c) Sisanya yang 3/8 kalau tidak ada ahli waris lain maka jatuh ke anak perempuan juga. Sehingga anak perempuan mendapat 4/8 + 3/8 = 7/8 Baca detail: Hukum Waris Islam

B. PEMBAGIAN WARIS IBU TIRI, WAFAT 23 OKTOBER 2017

Ahli waris: saudara kandung. Baca detail: Hukum Waris Islam

2. Saudara kandung ibu tiri anda mendapat warisan dari harta peninggalan ibu tiri. Lihat 1.A.
Baca detail: Hukum Waris Islam

WARISAN

Bismillah, Assalamu'alaikum.
Ustadz ysh,
Kami memiliki masalah tentang harta waris dari orang tua kami, sewaktu beliau wafat (bapak wafat th 1991, ibu wafat 2012) harta waris yang berupa rumah belum dibagikan kepada ahli warisnya, kami akan menjual rumah tersebut.
Kami bersaudara sepuluh orang (6 lk dan 4 pr) :
- Anak pertama perempuan.
- Anak kedua perempuan (wafat th. 2010 punya anak 1 lk, 1 pr).
- Anak ketiga laki-laki.
- Anak keempat laki-laki.
- Anak kelima laki-laki (wafat th 2006, punya anak 2 pr).
- Anak keenam laki-laki.
- Anak ketujuh laki-laki (wafat th 2009, punya anak 2 lk, 1pr).
- Anak kedelapan perempuan.
- Anak kesembilan lakI-laki.
- Anak kesepuluh perempuan
Mohon pencerahannya bagaimana kami membagi harta waris ini sesuai menurut syariat Islam.
Terima kasih.

JAWABAN

Pertama, perlu diidentifikasi siapa pemilik harta peninggalan berupa rumah tersebut: ayah atau ibu? Atau berdua? Karena, harta suami istri itu kepemilikannya tetap berdasarkan kepemilikan yang berlaku umum. Dalam islam harta suami istri tidak otomatis milik berdua. Baca detail: Harta Gono gini

(a) Kalau pemilik harta adalah bapak 100%, maka ahli warisnya adalah semua anak kandung yang masih hidup saat bapak wafat yakni pada tahun 1991. Itu artinya, yang mendapat warisan adalah seluruh anak kandung mendapat warisan. Yang lelaki mendapat 2, sedang yang perempuan mendapat 1. Harta warisan untuk anak kedua, kelima, dan ketujuh diwarisan kepada ahli warisnya.

(b) Kalau pemilik harta adalah ibu 100%, maka anak kedua, kelima, dan ketujuh tidak dapat warisan. Begitu juga anak-anak mereka. Yang dapat warisan adalah anak-anak kandung selain ketiga anak di atas. Dengan sistem yang sama yakni anak lelaki mendapat 2, anak perempuan 1 bagian.

(c) Kalau pemilik harta adalah ayah 50% (misalnya), dan ibu 50% (misalnya), maka untuk harta yang milik ayah semua anak kandung mendapat warisan sebagaimana dijelaskan di poin (a); Sementara untuk peninggalan ibu, hanya ketujuah anak yang dapat warisan sebagaimana diterangkan dalam poin (b). Baca detail: Hukum Waris Islam

HAK WARIS BERUBAH KARENA NAKAL DI MASA LALU?

assalamu'alaikum. langsung saja pada pada pertanyaan.

apakah kalo pembagian warisan, ada kaitanya dengan masa lalu saya semasa muda nakal, ataupun suka berbohong? akan mempengaruhi hak waris saya? mengingat saya laki laki dengan mempunyai tanggungan anak istri, yang di apit 2 saudara perempuan, dan ibu juga masih hidup? dan apakah salah jika saya meminta, tapi tetap selalu di halang2ngi kakak saya, dengan alasan sudah sering menyusahkan orang tua. apakah hak saya berubah sudah bukan 2:1. terima kasih. wasalam

JAWABAN

Tidak. Hak waris anda sebagai anak lelaki tetap tidak berubah. Anda berhak mendapatkan bagian anda sesuai dengan hukum waris Islam yang berlaku. Warisan harus segera dibagikan setelah wafatnya pewaris. Baca detail: Hukum Waris Islam

Apabila anda ahli waris yang berhak tidak mendapatkan warisan, maka yang menghalangi sama dengan mencuri atau memakan harta secara batil yang hukumnya dosa besar. Baca detail: DI SINI

31/08/19

Mencintai Pria Beristri, Bolehkah?


MENCINTAI PRIA BERISTRI, BOLEHKAH?

Ass..sblmny maaf saya lihat d internet ttg situs ini. Saya pny permasalahan yg saat ini blm mendapat solusi krn saya tdk tau hrs bertanya kpd siapa.

saya wanita usia 33th,saya single parent pny anak 1 usia 5th.sy sdh bercerai dr suami krn kdrt yg saya terima terus menerus.stlh bercerai,saya tdk pernah menjalin hub dg siapapun krn saya trauma.sampai akhirny awal tahun ini,tmn 1 kerja saya tiba2 menyatakan perasaan cinta ny kpd saya.pertama saya tdk percaya krn slm ini walaupun rekan kerja kami hampir tdk pernah ngobrol berdua ato 1 tim utk berkerja sangat jarang.bs dkatakan tdk prnh ad komunikasi d antara kami selain hny sebatas mengenal rekan kerja(saya tau dia sdh menikah dan pny 2 anak).akhirny dia menjelaskan kpd saya bhw perasaan ini sdh dia simpan selama setahunan belakangan ini dan dia tutupi terus.perasaan ini ktny muncul dg sendiriny tanpa ad stimulus dr saya.

dia jg menceritakan kehidupan rmh tangga yg yg sdh berjalan 9th dg susah payah dia pertahankan demi anak(dia menikah dg istri tanpa dasar cinta).dia berusaha menumbuhkan rasa cinta kpd istriny tetapi yg ad malah rasa cinta itu timbul ke diri saya.krn dia meyakinkan saya ttg rasa yg dia pny(dan dia jg tidak merasa bahagia dg pernikahan ny,sll bersatu lg stlh bertengkar dan berpisah demi anak)

saya akhirny pelan2 merasakan hal yg sama.kami pun menjalani hubungan rahasia.dia scr terbuka langsung berterus terang kpd istriny ttp dia yg jatuh cinta dan menjalin hub dg saya.istriny hanya acuh dan mengatakan terserah. tetapi krn byk hal yg terjadi d antara kami krn dia msh tetap berstatus menikah dan dia tdk tega dg anak2 ny,dia akhirny memutuskan utk kembali ke pernikahanny walaupun dia tetap mencintai saya,alasan yg utama dia tdk tega terhadap anak2 ny.

yg mau saya tanyakan..

1. apakah saya termasuk wanita yg hina dan di laknat Allah krn saya mencintai suami org.

2. apakah mempertahankan pernikahan demi anak akan memberikan hal yg baik.sdg dia dg istriny sendiri 9th pernikahan tdk merasakan adany cinta dlm pernikahan mereka.

3. apakah dia termasuk zina hati krn dia mencintai saya tetapi krn tdk tega dg anak2ny akhirny memilih utk ttp menjalani pernikahan yg dia sndr pun sbnrny sdh pasrah dg keadaan pernikahan ny..

4. apakah blh rasa yg kami punya ini saya perjuangkan.saya berpikir mungkin dg saling melepaskan mereka bs menemukan msg2 jodoh lain ny..

mhn pencerahanny.trmksh.wass

JAWABAN

1. Melakukan hubungan pacaran dengan pria beristri adalah dosa dua kali lipat: pertama dosa karena pacaran itu sendiri yang kedua dosa karena mengganggu rumah tangga orang. Dalam Islam itu disebut takhbib atau perusak rumah tangga orang. Baca detail: Baca detail: Takhbib Perusak Rumah Tangga Orang

Beda halnya apabila hubungan tersebut dalam bentuk pernikahan. Maka hukumnya boleh. Karena dalam Islam dibolehkan bagi pria untuk poligami. Baca detail: Poligami Tanpa Ijin Istri Pertama

2. Mempertahankan rumah tangga adalah pilihan. Dan itu tidak harus berdasarkan saling cinta. Orang berumah tangga bisa saja karena punya tujuan yang sama. Misalnya, sama-sama punya tujuan menjaga anak-anak mereka. Pilihan pribadi harus dihargai. Tidak ada hidup yang ideal. Semua orang harus memiliki prioritas. Baca juga: Cara Harmonis dalam Rumah Tangga

3. Dalam Quran dan hadits tidak ada istilah zina hati. Yang ada adalah bahwa perbuatan dosa selagi masih dalam hati, belum dilakukan, hukumnya tidak berdosa. Dalam hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim Nabi bersabda:

إن الله تجاوز لأمتي عما وسوست أو حدثت به أنفسها ما لم تعمل به أو تكلم

Artinya: Allah memaafkan umatku dari perkara was-was dan bisikan hati selama dia tidak melakukan atau membicarakannya. Baca detail: Mengatasi was-was Kufur

4. Kalau dengan niat supaya dia menceraikan istrinya, maka tidak boleh. Itu namanya perusak rumah tangga (takhbib). Haram dan dosa besar. Namun kalau anda hanya ingin menjadi istri kedua, maka itu tidak dilarang berdasarkan QS An Nisa 4:3 Baca detail: Mak rel="nofollow" target="_blank"na Adil dalam Poligami

TIDAK DINAFKAHI SUAMI 5 TAHUN, BOLEHKAH MENIKAH?

Assalamu'alaikum.wr.wb..
Ustadz mohon maaf apabila sy mengganggu waktu ustadz,sy mau brrtanya sm ustadz,ada seorang perempuan yg ditinggal suaminya sudah lebih dari 5tahun tanpa nafkah,terus perempuan itu berniat ingin menggugat cerai suaminya tp krn kesibukan perempuan itu sehingga belum juga terlaksana,terus perempuan itu kenal sm laki2 dan punya hubungan serius dan berniat ingin menikah,terus laki2 itu meminta cepat2 untuk mengurus surat cerai,

1. apakah laki2 itu salah ustadz dan bagaimana baiknya krn laki2 dan perempuan itu punya niat baik untuk menikah,mohon penjelasannya ustadz,trima kasih.

JAWABAN

1. Kalau memang tidak dinafkahi lahir dan batin selama 5 tahun, maka sebaiknya wanita itu meminta diceraikan secara lisan agar cepat prosesnya. Kalau suami menolak, baru dilakukan gugat cerai ke pengadilan.

Selama statusnya masih menjadi istri orang, maka anda tidak boleh berhubungan pacaran dengannya karena itu akan termasuk ke dalam kriteria takhbib atau perusak rumah tangga orang yang hukumnya dosa besar. Baca detail: Penggoda dan Perusak Rumah Tangga Orang

Kalau memang si wanita sendiri ingin cerai, maka hal itu tidak masalah. Karena wanita dibolehkan untuk meminta cerai pada suaminya dengan berbagai sebab. Baca detail: Istri Minta Cerai karena Tidak Cinta

SUAMI INGIN MENIKAH LAGI


Assallamu'allaikum Wr Wb
Selamat sore,mohon dampingan,bimbingan,petunjuk apa yg harus daya lakukan jika sya punya masalah dlm RT saya..
Saya istri berumur 32thn dgn mempunyai suami umur 37thn.kami sudah dikaruniai 2 orang anak laki-laki. Tapi di dalam pernikahan kami yg ke 7 thn,kami sedang mengalami krisis sakinah krn ada beberap faktor,antara lain :
1. Suami merasa punya banyak hutang,tdk punya penghasilan yg tetap gaya hidup tinggi
2.kurang puasnya suami dlm berhuh sexsual dgn istri
3.suami menganggap istri sangat mengekang hidupnya pdhl tujuan istri agar suami bisa menjaga hati istri tanpa berpaling ke perempuan lain
.
Akhir2 ini suami saya beberapa kali ketauan membelikan barang untuk perempuan lain d belakang saya,& yg lebih fatal lagi suami saya meminta ijin untuk menikah lagi dgn perempuan yg umurnya lebih tua dibandingkan beliau, tp kaya raya.

Suami beranggapan jika menikah dgn dia akan terselamatkan hidupnya dr hutang2nya, bisa mensejahterakan keluarganya serta membuat beliau bisa memiliki apa yg ingin dimiliki seperti jabatan,kendaraan mungkin rumah mewah dsb.dimana cenderung ke unsur duniawi.

Yg sya tidak habis pikir suami saya belum pernah berjumpa langsung dgn sosok perempuan itu,tetapi bisa chat melalui whatsapp dgn kata2 merayunya & yg sya tau perempuan itu tdk seiman dgn sya..

Yg ingin saya tanyakan apakah saya harus mempertahankan rumah tangga saya atau saya lebih baik mundur meminta bercerai krn klo seperti ini saya merasa sya dikhianati.
Bagaiman solusi untuk saya benurut islam agar saya tidak salah melangkah
Terima kasih
Wassallamu'allaikum Wr.Wb.

JAWABAN

Laki-laki dibolehkan untuk menikah lebih dari satu dan untuk itu tidak diperlukan ijin dari istri pertama. Kalau dia meminta ijin dari anda maka itu hal yang baik. Oleh karena itu, apapun tujuan dia dalam berpoligami, pernikahannya itu dibolehkan oleh syariah dengan syarat dia harus adil pada semua istri. Baca detail: Makna Adil dalam Poligami

Sebagai istri pertama, maka akan lebih baik kalau anda tetap mempertahankan rumah tangga minimal agar anak-anak tetap dapat berkumpul dengan ayah dan ibunya. Namun kalau setelah beberapa bulan kemudian anda merasakan ada ketidakadilan suami dalam memperlakukan kedua istri, maka anda boleh memilih sesuai dengan apa yang terbaik buat anda dan anak-anak. Baca detail: Istri Minta Cerai karena Tidak Cinta

30/08/19

Talak Orang Was-was, Sah atau Tidak?

Talak Orang Was-was, Sah atau Tidak?
TALAK ORANG WAS-WAS TIDAK TERJADI: KINAYAH ATAU SHARIH, KECUALI DENGAN SENGAJA

Pertanyaan dari Malaysia:

Lafaz Kinayah

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
1. Saya ada satu pertanyaan, adakah ayat pernyataan ‘pergi masjid sebentar’ boleh dikategorikan sebagai lafaz kinayah? Saya jadi bingung kerana saya kurang pasti ketika menyatakan ayat itu saya ada berniat atau sekadar lintasan hati. Situasinya begini, saya sedang bersiap untuk ke masjid bagi menunaikan solat Isyak. Isteri bertanya saya mahu ke mana dan saya menjawab mahu ke masjid, namun was was menyerang membuatkan saya mengulang pernyataan tersebut dengan ayat, ‘lama sudah tidak ke masjid’ kemudian datang niat ‘pergi masjid sebentar’. Persoalannya disini adakah pernyataan tersebut termasuk lafaz kinayah, saya betul-betul keliru. Ketika ayat itu terlafaz saya baik-baik sahaja dengan isteri Apatah lagi saya mmg seorang yang sering diganggu was was. Harap ustaz dapat membantu.

2. Adakah ayat ‘kita teman tidak sehaluan’ juga termasuk kategori lafaz kinayah?

3. Adakah dengusan atau perbuatan meludah juga dikira lafaz kinayah?

4. Adakah bunyi pergerakan bibir dan lidah yang bersentuhan dengan lelangit juga dikira sebagai lafaz sarih atau kinayah yang sah?

Terima kasih

JAWABAN

1. Ucapan ‘pergi masjid sebentar’ tidak ada efek kinayah dalam situasi yang anda maksud. Karena, ucapan itu tidak dalam keadaan untuk mentalak istri melainkan memberitahu istri bahwa anda hendak pergi ke masjid.

2. Kalimat ‘kita teman tidak sehaluan’ bukan termasuk kinayah. Dan tidak ada efek talak.

3. Bukan kinayah. Dan tidak ada efek talak.

4. Bukan kinayah. Dan tidak ada efek talak.

URAIAN

Dari pertanyaan anda maka dengan mudah diketahui bahwa Anda sedang menderita was-was talak. Anda juga mengakui hal itu. Dan orang yang was-was talak (muwaswis) tidak sah ucapan talaknya apabila ucapan itu tidak dikehendakinya. ًWalupun yang dikatakan itu lafaz sharih (apalagi kalau kinayah).

Was-was talak ada beberapa level.

Level pertama, selalu ingin mentalak istri. Namun keinginan itu hanya terucap dalam hati (lintasan hati). Lintasan hati ini terkadang bersamaan dengan ucapan lain sehingga penderita was-was merasa ketakutan. Ini yang terjadi pada anda. Ulama fikih menganjurkan agar tidak perlu takut. Karena lintasan hati bagi orang was-was tidak berakibat talak.

Dalam Al-Mausuah Al-Fiqhiyah hlm. 1/152, dijelaskan:

ولو حدّث نفسه أنه يطلق زوجته ، أو ينذر لله تعالى شيئاً ، ولم ينطق بذلك ، لم يقع طلاقه ، ولم يصح نذره ، لقول النبي صلى الله عليه وسلم " ( إن الله تجاوز لأمتي عما وسوست - أو حدثت - به أنفسها ما لم تعمل به أو تكلم ) " . وقال قتادة بعد أن روى الحديث إذا طلق في نفسه فليس بشيء . وقال عقبة بن عامر لا يجوز طلاق الموسوس . وعلق ابن حجر على هذا القول شارحا له أي لا يقع طلاقه ؛ لأن الوسوسة حديث النفس ولا مؤاخذة بما يقع في النفس .

Artinya: Apabila seseorang berbicara pada diri sendiri (terlintas dalam hatinya) bahwa ia mentalak istrinya, atau bernadzar pada Allah akan sesuatu, akan tetapi dia tidak mengucapkannya, maka talaknya tidak terjadi dan nadzarnya juga tidak sah. Karena Rasulullah bersabda: "Allah mengampuni umatku tentang sesuatu yang mana dia was-was atau terlintas dalam hatinya selagi dia tidak berbuat atau berbicara." Qatadah berkata setelah meriwayatkan hadis: "Apabila suami mentalak istrinya dalam hati maka tidak ada dampak apapun." Uqbah bin Amir berkata: "Tidak terjadi talaknya orang was-was." Ibnu Hajar Al Asqalani berkomentar atas pendapat ini menjelaskan bahwa maksudnya adalah tidak jatuh talaknya. Karena was-was itu adalah lintasan hati dan tidak ada siksa atau dampak hukum atas apa yang terjadi di dalam hati.

Level kedua, was-was sudah tingkat parah sehingga sampai terucap kata talak sama saja hanya gerakan bibir tanpa suara atau terucap secara jelas. Namun ucapan itu tidak dikehendakinya. Maka, dalam kondisi ini juga tidak jatuh talak. Dalam istilah fikih, talak level ini disebut was-was qahri atau OCD.

Dr. Rajab Abu Malih, mushrif islamonline.net mengutip beberapa pendapat ahli fikih menyatakan:

أما عن حكم طلاق الموسوس: فطلاق الموسوس، لا يقع، سواء خطر في ذهنه لم ينطق أو يتلفظ به، أو تلفظ به تلفظاً صريحاً. نقل ابن عابدين عن الليث: في مسألة طلاق الموسوس أنه لا يجوز طلاق الموسوس، قال: يعني المغلوب في عقله، ومعنى لا يجوز أي لا يقع. ويقول ابن القيم في إعلام الموقعين عن رب العالمين: إن المطلق إن كان زائل العقل بجنون أو إغماء أو وسوسة لا يقع طلاقه.

Artinya: Hukum orang was-was, maka talaknya tidak terjadi. Sama saja ada lintasan di hatinya atau mengucapkannya, atau mengucapkan kata talak dengan lafaz sharih. Ibnu Abidin menukil dari Al Lais dalam soal talaknya orang was-was bahwasanya talaknya orang was-was itu tidak boleh (tidak terjadi). Ia berkata: yaitu orang yang akalnya dikuasai was-was. Arti tidak boleh maksudnya tidak terjadi talaknya. Ibnul Qayyim dalam I'lam Al-Muwaqqi'in 'an Rabbil Alamin berkata: Suami yang mentalak apabila hilang akal karena gila, epilepsi atau was-was maka tidak terjadi talaknya.
Baca detail: Cerai dalam Islam

29/08/19

Hukum Darah Daging dan Kotoran Ikan

Hukum Darah Daging dan Kotoran Ikan
CARA MEMBERSIHKAN DARAH DAN KOTORAN DI DAGING DAN IKAN

Assalamualaikum.

Saya sering bingung cara membersihkan darah & kotoran hewan halal. Yang ingin saya tanyakan :

1. Daging hewan kurban umumnya dimasukkan ke kresek putih. Jika darah nya menempel di luar kresek lalu sisa daging disimpan di kulkas, apakah najis darahnya jadi menempel di kulkas? Karna yang masak itu ibu saya, dan terkadang orang tua saya kurang memperhatikan masalah najis darah sehingga setelah tangan beliau setelah tersentuh darah malah menyentuh benda lain dan tidak dibersihkan.

2. Apakah kotoran & darah udang najis? Di rumah makan sekitar laut biasanya dijual seafood. Tapi udangnya tidak dibersihkan kotorannya. Hanya darahnya yang dibersihkan. Itu bagaimana hukumnya? Jika udang laut saya tahu halal, tapi bagaimana jika udang air tawar?

3. Apakah saya berdosa membiarkan orang tua saya salah membersihkan najis yang benar? Jujur saya malas jika dimarahi saat memberitahu. Kadang orang tua menyangkal saran saya karna tidak mau ribet. Mungkin gengsi mereka lebih pengalaman. Tapi saya hanya memberitahu tentang agama walau saya juga harus mencari di internet. Cape hati saya. Ujungnya paati saya yang membatin. Saya tidak tahu apakah saya yang terlalu takut dengan najis yang tersebar atau memang aturan menyucikan najis seperti yang saya tahu

Terima kasih banyak.

JAWABAN

1. Darah pada daging termasuk darah yang dimaafkan. Jadi kalau dimasak tanpa dibasuh terlebih dahulu itu tidak masalah.

Imam Nawawi dalam Kitab Al-Majmu’ ala Syarhil Muhadzab, hlm. 2/557, menyatakan:

قوله (فرع) مما تعم به البلوى الدم الباقي على اللحم وعظامه وقل من تعرض له من اصحابنا فقد ذكره أبو إسحق الثعلبي المفسر من اصحابنا ونقل عن جماعة كثيرة من التابعين انه لا بأس به ودليله المشقة في الاحتراز منه وصرح احمد واصحابه بان ما يبقى من الدم في اللحم معفو عنه ولو غلبت حمرة الدم في القدر لعسر الاحتراز منه وحكوه عن عائشة وعكرمة والثوري وابن عيينة وأبى يوسف واحمد واسحق وغيرهم واحتجت عائشة والمذكورون بقوله تعالي (الا أن يكون ميتة أو دما مسفوحا) قالوا فلم ينه عن كل دم بل عن المسفوح خاصة وهو السائل
Artinya, Sebagian hal yang umum terjadi adalah darah yang tersisa pada daging dan tulang hewan. Sedikit sekali ulama yang menjelaskan tentang hal ini dari para Ashab. Permasalahan ini dijelaskan oleh Abu Ishaq Ats-Tsa’labi, pakar tafsir dari golongan Ashabus Syafi’i, dan dinukil dari segolongan ulama tabi’in bahwa darah tersebut tidak perlu dipermasalahkan. Adapun dalilnya adalah sulitnya menghindari darah ini. Imam Ahmad dan para Ashab Ahmad menjelaskan bahwa darah yang menetap pada daging dihukumi ma’fu (dimaafkan), meskipun warna merah dari darah mendominasi pada cawan (untuk mewadahi daging). Ketentuan tersebut juga diceritakan dari Sayyidah A’isyah, ‘Ikrimah, Ats-Tsauri, Ibnu ‘Uyainah, Abu Yusuf, Imam Ahmad, Ishaq dan ulama-ulama yang lain. Sayyidah A’isyah RA dan para ulama tersebut mendalilkan ke-ma’fuan darah yang ada pada daging ini dengan ayat ‘Kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir’ para ulama berkata, ‘Allah tidak mencegah (mengonsumsi) semua jenis darah, tapi pada darah yang mengalir saja,’”

2. Kotoran ikan juga termasuk yang dimakfu.

Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in menegaskan.

وَنَقَلَ فِي الْجَوَاهِرِ عَنِ الْأَصْحَابِ لَا يَجُوْزُ أَكْلُ سَمَكٍ مُلِحَ وَلَمْ يُنْزَعْ مَا فِيْ جَوْفِهِ أَيْ مِنَ الْمُسْتَقْذَرَاتِ وَظَاهِرُهُ لَا فَرْقَ بَيْنَ كَبِيْرِهِ وَصَغِيْرِهِ لَكِنْ ذَكَرَ الشَّيْخَانِ جَوَازَ أَكْلِ الصَّغِيْرِ مَعَ مَا فِيْ جَوْفِهِ لِعُسْرِ تَنْقِيَّةِ مَا فِيْهِ
Artinya, “Al-Qamuli dalam kitab Al-Jawahir mengutip dari kalangan Syafi’i bahwa tidak diperbolehkan mengonsumsi ikan asin yang tidak dibersihkan kotoran-kotoran di dalamnya. Zhahir dari kutipan Al-Qamuli ini tidak membedakan antara ikan besar dan kecil. Tetapi dua guru besar madzhab Syafi’i (Al-Nawawi dan Ar-Rafi’i) menyebutkan, diperbolehkan mengonsumsi ikan kecil beserta kotoran di dalam perutnya, sebab sulitnya membersihkan kotoran tersebut.”

Ahmad bin Umar As-Syathiri dalam Syarah Bughyatul Mustarsyidin, hlm. 1/337, menegaskan.

وَقَدِ اتَّفَقَ ابْنَا حَجَرٍ وَزِيَادٍ وَ م ر وَغَيْرُهُمْ عَلَى طَهَارَةِ مَا فِيْ جَوْفِ السَّمَكِ الصَّغِيْرِ مِنَ الدَّمِ وَالرَّوْثِ وَجَوَازِ أَكْلِهِ مَعَهُ وَأَنَّهُ لَا يَنْجُسُ بِهِ الدُّهْنُ بَلْ جَرَى عَلَيْهِ م ر الْكَبِيْرَ أَيْضاً (قوله في الكبير أيضا) وَاعْتَمَدَ ابْنُ حَجَرٍ وَابْنُ زِيَادٍ عَدَمَ الْعَفْوِ عَمَّا فِيْ جَوْفِهِ مِنَ الرَّوْثِ لِعَدَمِ الْمَشَقَّةِ فِي إِخْرَاجِهِ إِذَا كَانَ كَبِيْراً.
Artinya, “Ibnu Hajar, Ibnu Ziyad dan Ar-Ramli sepakat sucinya (dalam arti ma’fu) darah dan kotoran ikan kecil dan diperbolehkan mengonsumsi ikan tersebut beserta darah dan kotorannya serta tidak dapat menajiskan minyak. Bahkan Ar-Ramli memberlakukan hukum tersebut untuk ikan besar juga. Sementara Ibnu hajar dan Ibnu Ziyad tidak menghukumi ma’fu kotoran ikan besar, sebab tidak ada masyaqqah (keberatan) dalam membersihkannya”.

3. Orang tua anda dalam soal darah daging dan kotoran ikan tidak salah. jadi tidak perlu dikoreksi.
Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

28/08/19

Khuluk Tanpa Bertemu Muka

KHULU' TANPA BERTEMU MUKA

Assalamualaikum, wr. wb.

Ustadz maaf saya mau tanya, saya perempuan, sudah menikah selama 17 tahun dan alhamdulillah sudah pula dikaruniai 2 orang anak.

Beberapa waktu lalu suami saya dekat dengan perempuan lain (selingkuh). Saya mengetahui semuanya dari isi chat di HP suami yang saya buka tanpa sepengetahuan suami. Dalam hal membuka HP tanpa sepengetahuan suami, saya faham bahwa saya salah. Saya melakukannya karena sudah beberapa hari sebelumnya, saya punya perasaan tidak enak melihat perilaku suami yang sering marah marah tidak jelas.

Akibat isi chat itu saya marah besar. Terlebih masalah ini bukan yang pertama kali.
Ketika suami pergi bekerja, saya pergi ke rumah ibu mertua saya dengan membawa mahar (berupa cincin). Tanpa basa basi, mahar tersebut saya berikan ke ibunya dan lalu saya pulang. Ibu mertua hanya kebingungan namun tidak bertanya apa-apa.

Sesampainya saya di rumah, saya mengirim pesan ke suami dan juga foto mahar yang sudah sempat saya foto di depan rumah ibunya.
Isi pesan saya: "Mahar sudah saya kembalikan dan artinya kita sudah bercerai secara agama". Saat itu juga suami langsung menjawab: "Siap. Dan Ayah minta maaf karena belum bisa menjadi suami yang baik".

Pertanyaan saya, Khulu' dengan cara seperti yang saya lakukan itu apakah sudah sah bercerai atau belum?

Mohon penjelasannya. Terima kasih.

Wassalamualaikum, wr. wb.

JAWABAN

Kalau suami menyetujui, maka khuluk itu sudah sah. Karena dua syarat penting sudah terpenuhi yaitu: pengembalian mahar dari istri, dan persetujuan dari suami. Baca detail: di sini.

Baca juga: Hukum Khuluk



MENYEMBUNYIKAN ISTRI KEDUA

1. dosakah suami apabila istri siri tidak dikenalkan dan disembunyikan dari orang tua dan keluarganya sedangkan, istri siri baru tau kalau suami punya istri dan anak dan suami tidak memberitahukan tentang semua ini kepada istri dan anaknya.. sampai sampai dia tidak mengakui anak dan istri pertamanya, sedangkan istrinya sering berbicara kasar dan memaki istri sirinya??

2. bagaimana jika anak dari istri siri tidak pernah dikenalkan dengan anak dan istri pertama dan orangtua suami...

3. Apakah istri siri berdosa jika selalu menuntut suami untuk menikah secara resmi sedangkan suami tidak pernah meng iyakan dan selalu lebih mementingkan anak dan istri pertamanya dari pada istri siri dan anak dari istri siri??

afwan situnggu jawabannya

JAWABAN

1. Pertama, dosa karena berbohong. Dan bohongnya berkali-kali. Baca detail: Bohong dalam Islam

Kedua, dosa karena kebohongan ini berakibat suami juga tidak bisa adil kepada kedua istri. Padahal adil dalam poligami itu wajib. Baca detail: Makna Adil dalam Poligami

2. Itu juga dosa karena (a) anda memutus silaturahmi antara mereka (kakek nenek dan cucunya, dan kerabat lain seperti saudara seayah si anak, dll). Baca detail: di sini.

(b) Apabila tidak dikenalkan pada kerabat yang lain maka hak-hak anak istri siri berpotensi tidak terpenuhi seperti hak waris dll. Baca detail: Hukum Waris Islam

3. Ya, berdosa. Itu termasuk berlawanan dengan makna adil dalam poligami. Baca detail: Makna Adil dalam Poligami

RUMAH TANGGA: SERING DISAKITI SUAMI, ISTRI INGIN CERAI

Assalamualaikum wr.wb

pak ustad saya seorang istri yang sudah 6 thn berumah tangga, kami menikah karena kecelakaan, dan saat ini sudah mempunyai 2 orang anak yang lucu dan sehat. saya memiliki kendala dengan mertua saya yang sering kali berburuk sangka pada menantu menantunya (bukan hanya saya tapi menantu yang lain juga) mereka sering berfikir bahwa saya menjauhkan anak2 dan suami saya dari mereka padahal yang bikin mereka tidak akrab karena mertua saya tidak pernah peduli pada kehidupan kami bahkan kami ini seolah tidak ada, mereka menilai segala sesuatunya dengan uang, jadi kalo anaknya ga ngasih uang itu artinya tidak bisa membahagiakan org tua. suami saya juga selama 3 tahun terakhir ini sudah jarang menafkahi bathin saya, sebulan hanya 2x sedangkan kebutuhan bathin saya besar,

suami saya selalu menolak saat saya ajak mengaji, sholat, ataupun hal2 yg berurusan dengan agama, dan sering berbohong pada saya hanya demi kesenangannya sendiri, seperti menghadiri pernikahan mantan pacarnya diam2, komunikasi dengan mantan2 pacarnya dibelakang saya, sering kali hari liburnya dipakai untuk pergi bersama teman2 kantornya sampai 3 hari tidak pulang (meskipun saya tidak izinkan dia tetap pergi) dan teman kantornya bukan hanya laki2 tapi perempuan juga ikut padahal kondisi anak anak saya saat itu sedang sakit tapi dia tidak peduli.

pak ustad seringkali dia mengabaikan kewajibannya sebagai suami dan seorang ayah demi kepentingannya sendiri, atau demi teman2nya. saya merasa dia menikah dengan saya karena terpaksa dan saya sudah tidak tahan lagi dengan semua sikap dia, sikap keluarganya yang sering membicarakan keburukan menantu2 nya ke orang lain.
1. berdosakah saya jika saya meminta cerai dari suami saya? karena jika diteruskan hanya ada rasa sakit untuk saya pak ustad.

2. Dan apabila suami saya tidak mau menceraikan saya dengan alasan takut berpisah jauh dari anak2, dan saya tetap pergi dari rumah, apakah saya juga berdosa?

3. apa yang seharusnya saya lakukan pak ustad?
Terima kasih banyak sebelumnya.

JAWABAN

1. Apabila memang tidak ada lagi rasa cinta pada suami, nafkah batin tidak teratur, serta ketidakcocokan dengan mertua, dll, maka syariah Islam tidak melarang istri melakukan gugat cerai. Baca detail: Istri Minta Cerai karena Tidak Cinta

2. Kalau suami tidak mau menceraikan, maka anda yang harus melakukan gugat cerai ke pengadilan agama. Keputusan hakim yang meluluskan permintaan anda dianggap sah. Selama belum ada keputusan cerai suami atau keputusan cerai pengadilan, maka anda statusnya masih tetap sebagai istrinya dan harus taat padanya. Tidak taat berarti anda berdosa. Baca detail: Hak dan Kewajiban Suami Istri

3. Lihat poin 2. Baca detail: Putusan Gugat Cerai, Jatuh Talak Berapa?


27/08/19

Jual Beli Emas Online, Halalkah?

Jual Beli Emas Online, Halalkah?
JUAL BELI EMAS ONLINE, BOLEHKAH?

Assalamu'alaikum wr. wb., saya Aldi ingin bertanya, apa hukumnya jual beli emas dan perak secara online? Setahu saya pertama uang kita transfer terlebih dahulu ke marketplace (tidak langsung diberikan ke penjual/ditahan) lalu setelah barangnya sampai uangnya baru ditransfer ke penjual, sedangkan pembelian tidak mungkin dilakukan dengan COD. Bagaimana hukumnya? Berikut saya lampirkan tata cara dan tautan jual beli online.
beli emas via internet


JAWABAN

Dalam jual beli emas dan perak, yang prinsip dalam syariah Islam adalah adanya taqabud atau serah terima secara kontan antara pembeli dan penjual. Pembeli memberikan uang pada penjual sama waktunya dengan penjual memberikan barang pada pembeli.

Dalam jual beli emas dan perak secara online hal itu tidak terjadi. Sehingga ada sebagian ulama menyatakan bahwa jual beli emas dan perak via internet dianggap tidak sah dan haram. Pendapat yang mengharamkan ini dapat dilihat misalnya dari fatwa Shalih Al Munajjid, salah seorang ulama Wahabi Salafi Arab Saudi. Dalam situsnya ia menulis:

وأنا أظن أن شراء الذهب عبر الإنترنت لا يحصل يداً بيد لأنك ترسل لهم القيمة ثم يرسلون لك الذهب بعد مدة ، فإذا كان الأمر كذلك فالبيع بهذه الطريقة محرم

Artinya: “Aku merasa pembelian emas melalui internet tidak terpenuhi syarat yadan bi yadin –yaitu tunai. Karena setelah emas tersebut dibeli dengan mentranfser sejumlah, lalu emas tersebut dikirim setelah beberapa waktu. Jika demikian, jual beli emas seperti ini dihukumi haram” (Fatawa Al Islam Sual wal Jawab no. 34325).

Abdullah Al Faqih, salah seorang ulama Wahabi Salafi asal Mauritania, menyatakan hal yang sama. Ulama Wahabi asal Mauritania tsb menyatakan:

ا الذهب والفضة، فلا يجوز لك شراؤهما عبر الإنترنت، لأنهما لا يسلمان للمشتري إلا بعد مدة، ومن المعروف أن الذهب والفضة لا يجوز شراؤهما بالعملات المتعامل بها اليوم إلا يداً بيد.

وبالتالي، فهذا التعامل الذي يتضمن تأخير قبض الذهب عن مجلس التعاقد لا يجوز.

Artinya: Kecuali emas dan perak, keduanya tidak boleh dibeli via internet karena transaksi via internet tidak terpenuhi syarat penyerahan secara langsung kepada pembeli kecuali setelah beberapa waktu lamanya. Padahal telah diketahui bahwa emas dan perak tidaklah boleh dibeli dengan suatu mata uang selain dengan jalan yadan bi yadin (tunai). Jadi, transaksi seperti ini yang di dalamnya tidak ada penyerahan emas secara tunai dalam majelis akad tidak dibolehkan” (Fatwa Islamweb no. 14119).

Pandangan di atas ini banyak dikutip oleh situs-situs Indonesia yang berafiliasi pada aliran Wahabi Salafi.

Namun pendapat yang lebih kuat menyatakan jual beli emas dan perak secara online dibolehkan dengan syarat: a) jenis transaksi yang dilakukan adalah transaksi tunai b) jenis transaksi bukan pembayaran tunda atau hutang.

Menurut ulama yang membolehkan, pembayaran tunai dan penyerahan emas saat itu juga (Arab: taqabud) ada dua jenis. Jenis pertama adalah serah terima secara hakiki. Yakni, penjual dan pembeli ada di tempat transaksi secara langsung sehingga kedua pihak dapat menerima barang dan membayar uang di tempat itu juga. Jenis taqabud kedua adalah taqabud hukmi. Di mana pembeli dan penjual secara sah telah menyelesaikan transaksi tunai pada saat itu juga secara hukum, namun bentuk uang dan emasnya belum diterima pada saat itu seperti dalam kasus jual beli online. Kedua jenis taqabud ini sah hukumnya dan tidak melanggar syariah dengan beberapa syarat sbb:
a) Uang pembayaran harus bisa berpindah tangan / kepemilikan pada saat transaksi. Misalnya, apabila pembayaran dengan kartu kredit atau kartu debit, maka jumlah pembelian sudah ditransfer. Begitu juga apabila pembayaran dalam bentuk cek, maka cek itu sudah bisa dicairkan saat itu; b) begitu juga dengan emas yang dijual sudah bisa dimiliki pada saat itu walaupun belum dipegang secara fisikal.

Dalam Muktamar ke-6 di Jeddah (tahun 1410 H/ 1990 M), ulama dalam Majmak Al-Fiqh Al-Islami memutuskan tentang makna "menerima" (al-qabd) ada dua:

: "إن من صور القبض الحكمي المعتبرة شرعاً وعرفاً: تسلم الشيك إذا كان له رصيد قابل للسحب بالعملة المكتوب بها عند استيفائه وحجزه في المصرف".
Artinya: Termasuk dari bentuk menerima secara hukum (al-qabd al-hukmi) yang dianggap secara syariah dan uruf adalah: menerima cek apabila ada saldo di dalamnya yang bisa ditarik dengan nilai uang yang tertulis ketika menerimanya dan menukarnya di bank.

Oleh karena itu, mufti Yordania yang ada dalam Lajnatul Ifta', membolehkan jual beli emas di mana pembeli memakai cek, bukan uang. Dalam fatwa no. 3386, tertanggal 15-5-2018, dinyatakan:

أما إذا كانت الشيكات حالّة وكانت مصدقة، فيجوز شراء الذهب والفضة بها؛ لأن ذلك يعد قبضاً حكمياً يقوم مقام القبض الحقيقي
Artinya: Adapun apabila cek tersebut tunai (bisa langsung dicairkan) dan bersertifikat, maka boleh membeli emas dan perak dengannya. Karena hal itu dianggap menerima tunai secara hukmi yang sama dengan menerima secara hakiki.

Termasuk dalam al-qabd al-hukmi (menerima barang tunai secara hukum), adalah jual beli emas dan perak melalui internet. Hamzah Masyuqah dalam Al-Masail Al-Fiqhiyah Al-Masyhurah, menjelaskan:

هل يجوز شراء الذهب والفضة عبر الانترنت عن طريق بطاقات الحسم الفوري أو بطاقة الائتمان؟

يجوز شراء الذهب والفضة عن طريق بطاقة الحسم الفوري؛ لأن الجهة المصدرة "البنك" تخصم القيمة المباشرة من حساب المشتري الجاري وتحوله إلى حساب البائع مباشرة، وهذه العملية هي في حقيقتها قبض، يتمكن فيه التاجر من التصرف في قيمة السلعة المباعة بمجرد إتمام العملية، فهي وإن اقتصرت على مجرد القيد المصرفي إلا أنها تعد قبضاً تاماً.

كما يجوز شراء الذهب والفضة عن طريق بطاقة الائتمان، ما لم يترتب على ذلك تأجيل في الدفع؛ لأن فواتير البطاقة الائتمانية تعتبر واجبة الدفع من قبل البنك المصدر دون أن يتوقف ذلك على وجود حساب للعميل، وقد أصبح للبطاقة الائتمانية من القبول عند الناس ما يُضاهي الأوراق النقدية والتجارية، والقبض يستند في كثير من أحكامه إلى العُرْف، وهذا ما أفتت به المعايير الشرعية للمؤسسات المالية الإسلامية [انظر: المعيار الشرعي رقم: 2]. والله تعالى أعلم.
Artinya: (Pertanyaan) Apakah boleh membeli emas dan perak melalui internet dengan kartu promo instan atau kartu kredit?

(Jawaban) Boleh membeli emas dan perak dengan kartu promo instan. Karena pihak yang mengeluarkan, yakni bank, akan memotong secara langsung dari rekening pembeli yang kemudian memindahnya ke rekening penjual secara langsung. Praktik ini pada hakikatnya adalah menerima (qabd) di mana pedagang bisa menggunakannya dalam harta barang yang dijual dengan menyelesaikan transaksi. Cara ini walaupun ada batasan dari bank namun ini dianggap sebagai penerimaan yang sempurna.

Sebagaimana bolehnya membeli emas dan perak dengan kartu kredit dengan syarat tidak terjadi penangguhan pembayaran. Karena tagihan kartu kredit itu dianggap wajib dibayar pihak bank yang mengeluarkan kartu tersebut tanpa perlu adanya rekening pelanggan. Kartu kredit telah diterima banyak orang sebagai alat tukar sebagaimana uang kertas dan bisnis. Menerima (qabd) hukumnya kebanyakan tergantung pada uruf (kebiasaan). Ini yang difatwakan oleh Al Ma'ayir Al-Syar'iyah lil Muassasat Al Maliyah al Islamiyah (lihat: Al-Mi'yar Al-Syar'i, no. 2).

Dalam artikel yang sama, Syekh Hamzah Masyuqah, menjelaskan:

هل يجوز بيع الذهب والفضة على الانترنت؟

يجوز بيع الذهب والفضة على الانترنت بشرط بالتقابض الفوري بين البائع والمشتري، بحيث يحول المشتري الثمن إلى حساب البائع مباشرة، ويقوم البائع بتسليم الذهب أو الفضة للمشتري عن طريق وكيله، وهذا ما أفتت به المعايير الشرعية للمؤسسات المالية الإسلامية [انظر: المعيار الشرعي رقم: 57]، فإن لم يتوافر شرط التقابض الشرعي لم يصح بيع الذهب والفضة؛ لأن كل تأجيل في بيع الذهب والفضة ربا. والله تعالى أعلم.
Artinya: (pertanyaan): Apakah boleh menjual emas dan perak melalui internet?

(Jawab): Boleh menjual emas dan perak via internet dengan syarat adanya taqabud fawri (saling menerima segera antara uang dan barang) antara penjual dan pembeli. Di mana pembeli mentransfer harga (yang disepakati) ke rekening penjual secara langsung dan penjual menyerahkan emas atau perak pada pembeli melalui wakilnya. Ini yang difatwakan oleh Al-Ma'ayir Al-Syar'iyah lil Muassasat Al-Maliyah Al-Islamiyah (Al-Mi'yar Al-Syar'i, no. 57). Apabila syarat taqabud syar'i tidak terpenuhi, maka transaksi penjualan emas dan perak itu tidak sah karena setiap penangguhan dalam penjualan emas dan perak adalah riba. Wallahu A'lam.

KESIMPULAN

Hukum jual beli emas dan perak melalui internet adalah sah dan halal menurut syariat Islam dengan syarat dibayar tunai (naqdan) dan saling menerima (taqabud, yadan bi yadin) di tempat akad pada saat itu juga. Baik menerima secara hakiki atau hukmi. Jual beli emas dan perak via internet termasuk taqabud hukmi dan itu sama dengan taqabud hakiki asalkan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan.
Baca detail: Bisnis dalam Islam


09/08/19

Shalat Hari Raya di Masjid atau Lapangan?

Shalat Hari Raya di Masjid atau Lapangan?
SHALAT HARI RAYA LEBARAN: DI MASJID ATAU LAPANGAN?

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama madzhab empat terkait lokasi ibadah yang disunnahkan saat melaksanakan shalat hari raya (lebaran) baik Idul Fitri atau Idul Adha. Apakah dilaksanakan di masjid atau di lapangan terbuka (di luar masjid)?

Perbedaan itu timbul dari hadis sahih berikut:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَ اْلأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى. فَأَوَّلُ شَيْئٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَة، ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُوْمُ مُقَابِلَ النَّاسِ، وَ النَّاسُ جُلُوْسٌ عَلَى صُفُوْفِهِمْ، فَيَعِظُهُمْ وَ يُوْصِيْهِمْ وَ يَأْمُرُهُمْ. فَإِنْ كَانَ يُرِيْدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ، أَوْ يَأْمُرُ بِشَيْئٍ أَمَرَ بِهِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ

Artinya: “Rasulullah SAW biasa keluar menuju mushalla (tanah lapang/lapangan) pada hari Idul Fitri dan Adha. Hal pertama yang beliau lakukan adalah shalat. Kemudian beliau berpaling menghadap manusia yang sedang duduk di shaf-shaf mereka. Lantas beliau memberi nasihat, wasiat, dan perintah. Jika beliau ingin mengutus satu utusan maka beliau memutuskannya. Atau bila beliau ingin memerintahkan sesuatu maka beliau memerintahkannya dan kemudian berpaling ...." (HR. Bukhari, Muslim dan Nasa`i)

Bagi yang memahami hadis di atas secara tekstual, maka pelaksanaan hari raya dilakukan di lapangan. Ini adalah pendapat madzhab Hanafi, Maliki dan Hanbali.

Bagi yang memahami hadis ini secara kontekstual, maka perbuatan Nabi yang shalat hari raya di tanah lapang di luar masjid itu harus dipahami illat (sebab)nya. Yakni, karena masjid Nabawi penuh dan tidak cukup ditempati seluruh umat Islam Madinah saat itu. Sehingga kalau ada masjid yang mencukupi untuk shalat hari raya, maka tidak perlu shalat di luar masjid. Ini pandangan mazhab Syafi'i.

Itulah sebabnya Imam Syafi'i dalam Al-Umm, hlm. 1/389, menyatakan:


بلغنا أن رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كان يخرج في العيدين إلى المصلى بالمدينة ، وكذلك من كان بعده ، وعامة أهل البلدان إلا مكة ، فإنه لم يبلغنا أن أحداً من السلف صلى بهم عيداً إلا في مسجدهم . وأحسب ذلك ـ والله تعالى أعلم ـ لأن المسجد الحرام خير بقاع الدنيا ، فلم يحبوا أن يكون لهم صلاة إلا فيه ما أمكنهم ...

فإن عُمِّر بلدٌ فكان مسجد أهله يسعهم في الأعياد لم أر أنهم يخرجون منه ، وإن خرجوا فلا بأس ، ولو أنه كان يسعهم فصلى بهم إمام فيه كرهت له ذلك ولا إعادة عليهم . وإذا كان العذر من مطر أو غيره أمرته بأن يصلي في المساجد ولا يخرج إلى الصحراء "

Artinya: "Telah sampai pada kita (hadis) bahwa Rasulullah biasa keluar untuk shalat dua hari raya ke musholla (tanah lapang) di Madinah. Bagitu juga orang-orang yang setelah Nabi dan umumnya penduduk negeri kecuali Makkah di mana generasi Salaf Makkah tidak pernah shalat lebaran kecuali di masjid mereka. Saya menduga, wallahu a'lam, hal itu disebabkan masjidil haram adalah sebaik-baik tempat di dunia sehingga mereka tidak suka melaksanakan shalat lebaran kecuali di dalam masjid.

Apabila suatu tempat ada penduduknya dan masjid yang ada mencukupi untuk shalat hari raya, maka aku berpendapat tidak perlu mereka shalat di luar masjid. Namun apabila mereka shalat di lapangan juga tidak apa-apa. Apabila masjidnya mencukupi lalu shalat bersama imam di luar masjid maka aku menganggap hal itu makruh tapi tidak perlu diulang. Apabila ada udzur hujan dan lainnya, maka aku mewajibkan untuk shalat di masjid dan tidak keluar ke lapangan."

Apa dasar pandangan Imam Syafi'i ini daru sudut ushul fiqih? Ibnu Hajar Asqalani dalam Fathul Bari, hlm. 2/522, menjelaskan:


أَنَّ الْعِلَّةَ تَدُورُ عَلَى الضِّيقِ وَالسَّعَةِ لَا لِذَاتِ الْخُرُوجِ إِلَى الصَّحْرَاءِ لِأَنَّ الْمَطْلُوبَ حُصُولُ عُمُومِ الِاجْتِمَاعِ فَإِذَا حَصَلَ فِي الْمَسْجِدِ مَعَ أفضليته كَانَ أولى

Artinya: "Illat atau sebab terkait shalat di lapangan itu adalah soal muat atau tidaknya masjid, bukan semata-mata karena dianjurkan shalat di tanah lapang. Hal yang diharapkan dari shalat Id adalah berkumpulnya orang-orang. Jika bisa dimungkinkan di masjid, dan karena masjid adalah tempat yang mulia, maka shalat hari raya di masjid – menurut Ibnu Hajar – itu lebih baik."

PANDANGAN 3 MADZHAB SELAIN MADZHAB SYAFI'I

3 madzhab selain madzhab Syafi'i menyatakan bahwa shalat hari raya sunnahnya apabila dilakukan di tanah lapang, di luar masjid berdasarkan pada zhahirnya hadis di atas. Berikut rincian pandangan mereka:

Madzhab Hanafi, sebagaimana disebut dalam al Fatawa al Hindiyah, hlm. 1/118, dinyatakan:

: " الخروج إلى الجبانة في صلاة العيد سنة ، وإن كان يسعهم المسجد الجامع ،على هذا عامة المشايخ وهو الصحيح

Artinya: Keluar ke tanah lapang dalam shalat ied itu sunnah. Walaupun masjid jamiknya mencukup. Ini pandangan mayoritas ulama madzhab (Hanafi).

Madzhab Maliki, sebagaimana disebut dalam kitab Al Mudawwanah, hlm. 1/171:

قال مالك : لا يُصلَّى في العيدين في موضعين ، ولا يصلون في مسجدهم ، ولكن يخرجون كما خرج النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .[ وروى ] ابن وهب عن يونس عن ابن شهاب قال : كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يخرج إلى المصلى ، ثم استن بذلك أهل الأمصار "

Artinya: Imam Malik berkata shalat dua hari raya hendaknya tidak dilakukan di dua tempat dan tidak dilakukan di masjid. Akan tetapi hendaknya mereka keluar masjid sebagaimana keluarnya Nabi. Dalam hadis diriwayatkan: Rasulullah biasa keluar ke musholla (untuk shalat id).

Madzhab Hambali, sebagaimana ditulis Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, hlm. 2/230:

السُّنَّةُ أَنْ يُصَلَّى الْعِيدُ فِي الْمُصَلَّى , أَمَرَ بِذَلِكَ عَلِيٌّ رضي الله عنه . وَاسْتَحْسَنَهُ الأَوْزَاعِيُّ , وَأَصْحَابُ الرَّأْيِ . وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ الْمُنْذِرِ .

Artinya: Yang sunnah adalah shalat id di mushalla (tanah lapang luar masjid). Ali memerintahkan hal itu dan dianggap baik oleh Auza'i dan ulama Ashab al-ra'iy. Ini pandangan Ibnul Mundzir.

KESIMPULAN

Bagi yang shalat hari raya di masjid maupun di lapangan adalah sama-sama baik dan sunnah berdasarkan ijtihad para ulama empat madzhab. Dan dalil dan analisa yang sama kuatnya secara ushuliyah. Bagi penganut madzhab Syafi'i lebih dianjurkan mengikuti pandangan dari madzhab Syafi'i agar lebih istiqomah dalam bermadzhab. Namun apabila penganut madzhab Syafi'i melaksanakan shaat ied bersama kalangan yang bermazhab lain, maka tidak masalah melakukannya di tanah lapang mengikuti mereka.