26/03/19

Cara Cerai Istri yang Belum Digauli (Masih Perawan)

TIDAK PERNAH MENGGAULI ISTRI, BAGAIMANA CARA TALAKNYA SECARA AGAMA DAN NEGARA?

Assalamualaikum,
Saya melihat blog anda di google yang menawarkan jasa konsultasi secara syariah. Saya harap anda dapat membantu saya. Mohon maaf bila penjelasan saya akan panjang, saya tidak tau harus mencurahkan kepada siapa semua yang saya pendam selama ini.

Perkenankan saya memperkenalkan diri, saya laki - laki, muslim, dan bekerja di salah satu BUMN. Saya mempunyai permasalahan dalam hidup saya yaitu pernikahan yang bukan keinginan saya. Kurang lebih tiga tahun yang lalu kira2 tanggal 19 oktober 2014 (kalau saya tidak salah tanggal, karena memang saya tidak pernah ingin mengingatnya) saya menikah dengan orang yang sebenarnya bukan pilihan saya. Dia adalah pilihan orang tua saya, walaupun memang saya pernah berpacaran dengannya selama 7 tahun. Tetapi saat itu dia memilih untuk memutuskan saya dan berpacaran dengan laki - laki lain, padahal saat itu saya dalam kondisi drop baik masalah pekerjaan maupun keuangan keluarga saya. Hanya saja ketika karir saya sudah mulai beranjak naik dan saya sudah semakin dekat dengan wanita lain, dia berhasil merebut hati orang tua saya hingga orang tua saya memaksa saya untuk menikahinya.

Saat itu saya selalu berusaha menceritakan kepada orang tua saya tentang perasaan saya, tentang wanita yang saya harapkan menjadi istri saya, tetapi orang tua saya selalu mengelak. Terutama bapak saya, saat saya bercerita dan bahkan saat saya menolak untuk menikahi pilihannya, beliau selalu sakit. Entah itu hanya cara bapak saya agar saya menurut atau apapun itu yang jelas saya adalah orang yang sangat tidak bisa melihat orang tua saya sakit.

Berhari - hari saya selalu menolak hingga saya perhalus cara saya agar orang tua saya tidak sakit lagi tapi selalu gagal. Orang tua saya tidak mau mengerti apa yang saya rasakan. Hingga akhirnya saya menyerah dan sangat menyerah.

Seminggu sebelum hari-H saya berpikir keras mencari cara membatalkan acara itu tapi selalu dihantui dengan kata - kata orang tua saya "aku malu nak, aku ndak punya harta apa - apa lagi" yang akhirnya membuat saya berpikir lebih jauh lagi yaitu bunuh diri.

Malam sebelum hari-H saya masih berbicara dengan bapak saya berharap saya masih bisa paling tidak menunda sementara acara itu dan berharap bisa batal. Tapi saya tetap gagal dan hari H itu tetap terjadi. Hingga akhirnya di hari H itu saya melakukannya dengan niatan untuk membahagiakan orang tua saya, tapi tetap dengan rencana saya setelah itu saya akan bunuh diri.

Setelah acara itu saya tidak pernah pulang dan bahkan tinggal bersama. Memang sudah saya niati sebelumnya bahwa saya tidak akan tinggal serumah atau bahkan mengakuinya sebagai istri. Saya juga tidak pernah mendaftarkan status pernikahan saya di kantor, di KTP saya, ataupun di tempat lain atau mana pun hingga sekarang. Saya hanya ingin mengakhiri hidup saya. Memang saya tidak pernah berhasil bunuh diri setelah mencoba selama 1 tahun.

Bahkan saat itu saya dalam kondisi sangat sangat stres terlebih setelah orang tua saya tidak pernah memahami perasaan saya dan selalu menuduh saya kesurupan atau kerasukan jin atau ikut sekte sesat. Hingga saya menyerah untuk bunuh diri dan saya puasa daud selama 40 hari puasa. Sudah lebih dari 3x juga saya berusaha meminta agar berpisah / bercerai jika itu masih dianggap pernikahan yg sah. Saat ini sudah lebih dari 3 tahun saya melarikan diri dari rumah dan hanya sesekali datang ke orang tua saya untuk menjenguknya dan alhamdulillah saya masih bisa rutin ngirim sebagian gaji saya untuk orang tua saya walaupun saya minggat selama itu.

Saya ingin meminta bantuan anda,
1. bagaimana sebenarnya posisi saya dari sisi hukum negara atau hukum agama?
2. Dan dari sisi niatan saya ini apakah masih sah secara hukum atau agama pernikahan tersebut?
3. Lalu jika memang sudah dianggap sah dan saya sudah meminta bercerai sebanyak lebih dari 3x (beberapa melalui sms, email dll karena tidak bertemu langsung dan beberapa saya ucap langsung) bagaimana cara saya mengurusnya agar sah juga secara hukum negara?

Sebagai informasi saya tidak pernah mengurus KK, model C, atau apapun itu dan buku nikahnya dipegang keluarga wanita.

Terima kasih. Mohon bantuannya. Saya sudah sangat lelah dengan semua ini

JAWABAN

1. Secara agama, apabila suami sudah mengucapkan kata cerai baik secara lisan atau tulisan, maka perceraian sudah terjadi. Baca detail: Cerai dalam Islam

Dalam kasus anda, karena anda sama sekali tidak melakukan hubungan intim dengan istri, maka sebenarnya tidak ada masa iddah. Jadi, di hari ketika anda sudah menjatuhkan talak, maka otomatis mantan istri sudah bebas untuk menikah dengan pria lain. Begitu juga, apabila anda ingin rujuk, maka harus dilakukan akad nikah ulang.

Dalam QS Al-Ahzab 33:49 ditegaskan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا ) الأحزاب/49

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya.

Dan apabila masa iddah sudah lewat dan suami tidak menyatakan rujuk, maka anda berdua sudah tidak lagi berstatus sebagai suami istri. Baca detail: Masa Iddah Istri yang Dicerai

2. Secara agama hubungan anda sudah putus. Karena anda sudah mengucapkan kata cerai padanya secara lisan dan tulisan. Namun secara negara anda berdua masih sah sebagai suami istri sampai salah satu dari suami atau istri mengajukan gugat cerai ke pengadilan agama dan permintaan itu diluluskan oleh hakim agama. Baca detail: KHI (Kompilasi Hukum Islam)

3. Anda bisa mengurus sendiri ke pengadilan agama. Atau kalau anda sibuk, anda bisa memakai tenaga pengacara untuk mengurus perceraian tersebut secara resmi yang diakui negara.

Hukum Membagi Warisan Secara Sama Tanpa Mengikuti Hukum Waris Islam

HUKUM MEMBAGI WARISAN SECARA SAMA TANPA MENGIKUTI HUKUM WARIS ISLAM

Bolehkah membagi warisan secara sama dan sukarela tanpa berdasarkan hukum waris Islam?


JAWABAN

1. Pertama, hukum asal dari wasiat adalah a) tidak boleh lebih dari 1/3 harta waris; b) tidak boleh diberikan pada ahli waris; c) boleh ditujukan pada salah satu ahli waris asalkan mendapat persetujuan dari ahli waris yang lain. Dengan demikian wasiat ayah anda pada ahli waris itu tidak sah. Baca detail: Wasiat bukan Harta

Kedua, harta warisan harus dibagikan kepada seluruh ahli waris sesuai dengan ketentuan hukum waris Islam. Dalam kasus di atas, yang berhak mendapat warisan adalah seluruh anak kandung baik laki-laki dan perempuan. Sedangkan saudara kandung orang tua dalam kasus ini tidak mendapat warisan karena terhalang oleh adanya anak kandung laki-laki. Baca detail: Hukum Waris Islam

Ketiga, walaupun ada aturan di atas, namun syariah Islam membuat pengecualian. Yakni, harta warisan boleh dibagikan kepada ahli waris secara sama dan sukarela atau tidak berdasarkan ketentuan hukum waris Islam yang berlaku asalkan terpenuhi dua syarat sebagai berikut:

a) Dalam Al-Mausuah Al-Fiqhiyah, hlm. 7/160, dikatakan:

أن يكون جميعُ الورثة بالغين عاقلين راشدين، والرشد عند جمهور الفقهاء من الحنفية والمالكية والحنابلة: حسن التصرف في المال، والقدرة على استثماره واستغلاله استغلالاً حسناً. وعند الشافعية: صلاح الدِّين والصلاح في المال. والمقصود من كل ذلك أن يكون الورثة جميعاً أهلاً للتصرفات المالية، حتى يعتد بتصرفهم شرعاً.

Artinya: Seluruh ahli waris harus baligh (dewasa), berakal sehat, dan rasyid (pintar membelanjakan harta).

b) Dalam Al-Mausuah Al-Fiqhiyah, hlm. 22/234, dikatakan:


2 أن يكون التراضي حقيقياً، دونما إكراهٍ ولا إلجاءٍ ولا حياءٍ. [وذلك إنما يتحقق إذا كان"الرضا"سليماً، أي بأن يكون حراً طليقاً لا يشوبه ضغطٌ ولا إكراهُ، ولا يتقيد بمصلحةِ أحدٍ كرضا المريض، أو الدائن المفلس، وأن يكون واعياً، فلا يحول دون إدراك الحقيقة جهلٌ، أو تدليسٌ وتغريرٌ، أو استغلالٌ، أو غلطٌ أو نحو ذلك مما يعوق إدراكه. فمن عيوب الرضا الإكراه والجهل والغلط، والتدليس والتغرير، والاستغلال وكون الرضا مقيداً برضا شخص آخر] ا

Artinya: Kesukarelaannya itu bersifat hakiki tanpa paksaan dan bukan karena segan, malu atau sungkan.

Kesimpulan: Membagi harta secara sukarela, tidak berdasarkan ketentuan hukum waris Islam, dibolehkan asalkan seluruh ahli waris betul-betul rela tanpa paksaan dan rasa segan menerima pembagian tersebut.

WARISAN UNTUK SUAMI DAN 6 ANAK KANDUNG


Assalamualaikum, mohon maaf Ustad minta ijin bertanya.
Kami enam bersaudara (4 laki-laki dan 2 orang perempuan). Mama kami (almarhumah) memiliki sebuah rumah atas namanya, rumah tsb didapat setelah menikah dengan Papa. Setelah mama meninggal lalu papa menikah lagi. Karena kami anak-anaknya berada di luar pulau semua maka anak-anak sepakat mengalihkan nama atas rumah tersebut ke nama papa dengan maksud memudahkan pengurusan segala sesuatunya (termasul rencana menjualnya).
Kami ada beberapa pertanyaan :
1. apakah ibu tiri kami mendapat hak juga dari hasil penjualan rumah ?
2. bagaimana perhitungan pembangian hasil jual rumah tsb kepada kami (anak-anak 6 bersaudara) dengan papa.

Sebelumnya terima kasih dan mohon maaf jika ada informasi yang kurang.
Wassalamualaikuma

JAWABAN

1. Tidak berhak. Yang berhak hanya papa anda sebagai suami dari pewaris.
2. Pembagiannya sbb:
a) Suami mendapat 1/4
b) Sisanya yang 3/4 dibagikan untuk keenam anak kandung di mana yang anak lelaki mendapat 2, anak perempuan mendapat 1. Rinciannya: Keempat anak lelaki masing-masing mendapat 2/10, kedua anak perempuan masing-masing mendapat 1/10 (dari 3/4 keseluruhan harta).
Baca detail: Hukum Waris Islam

24/03/19

Hukum Menunda Pembagian Harta Warisan

Hukum Menunda Pembagian Harta Warisan
MENUNDA PEMBAGIAN HARTA WARISAN

Assalamualaikum Wr. Wb

PERTANYAAN :

Kedua orang tua kami sudah meninggal dunia cukup lama. Ayahanda kami meninggal 5 tahun lalu sementara Ibu kami wafat 12 tahun lalu. Kedua almarhum Ayah dan Ibu kami meninggalkan warisan 2 (dua) buah rumah sederhana yang tidak besar dan sampai sekarang kami belum bisa melaksanakan pembagian warisan karena keterbatasan waktu dan jarak/lokasi serta dana.

Orang tua kami meninggalkan 7 orang anak yang terdiri dari 3 (tiga) laki-laki dan 4 (empat) orang wanita, dimana 1 orang Saudara saya yang wanita dalam kondisi berkebutuhan khusus/tidak normal. Semua Saudara saya sudah menikah, kecuali saudara wanita saya yang dalam kondisi berkebutuhan khusus/tidak normal. Semuda saudara saya sudah menikah dan memiliki keturunan. Saya sendiri tidak memiliki anak kandung dan mengadopsi anak.

Harta warisan belum dapat kami bagikan mengingat harus dipecah atau dijual. Sampai saat ini kami masih ragu untuk menjual warisan orang tua kami karena orang tua (ayahanda) kami pernah bicara (kepada salah seorang anaknya) agar sebaiknya tidak menjual rumah. Namun ayah kami juga pernah bicara kalau mau dijual masing2 anak dapat bagian yang sama.

Yang Ingin saya tanyakan:

1. Karena ketidakmampuan kami, Apakah kami berdosa besar sehingga warisan orang tua kami belum dapat dilaksanakan segera sesuai ketentuan agama Islam? Adakah ketentuan ini dalam alquran, mohon dalil quran dan hadistnya ya

2. Apakah dosa jika kita menunda hak waris Saudara kita (karena kita tidak mampu). Please jika sekiranya ada ayat ataupun khadist yang menyatakan larangan penundaan pembagian warisan.

3. Seandainya nanti warisan berhasil dijual, Apakah diperbolehkan harta warisan dibagi secara merata dimana laki-laki dan perempuan memperoleh hak yang sama?

4. Bagimana hak waris atas Saudara wanita saya yang berkebutuhan khusus/tidak normal? Apakah dia mempunyai hak waris yang sama dengan yang lainnya? Apakah hak warisnya harus dialihkan kepada Saudaranya yang bersedia untuk merawat Saudara wanita saya tersebut?

5. Apakah boleh warisan (kedua rumah) dijual dan dialihkan untuk dibelikan sebidang tanah yang juga akan dibagikan kepada ahli waris secara merata?

6. Sekiranya saya nanti meninggal, siapa saja yang berhak atas hak warisan saya mengingat saya tidak memiliki anak kandung?


Wassalamualaikum Wr. Wb

JAWABAN

1. Bersegera membagi warisan setelah pewaris meninggal itu wajib. Dan menundanya adalah haram dan berdosa. Rasulullah bersabda:

مَنْ قَطَعَ مِيرَاثًا فَرَضَهُ اللَّهُ، قَطَعَ اللَّهُ مِيرَاثَهُ مِنَ الْجَنَّةِ

Artinya: Barangsiapa memutuskan warisan yang telah diwajibkan Allah, maka Allah akan memutuskan warisannya dari surga. (HR Baihaqi dari Abu Hurairah)

Dr. Syauqi Allam, mufti Mesir, menjelaskan maksud hadits tersebut sbb:

والقطع الوارد فى الحديث يدخل فيه المنع من الإرث مطلقًا، أو تأخيره عن ميعاد استحقاقه دون عذر أو إذن.

Artinya: Kata "memutuskan" dalam hadits di atas bermakna mencegah ahli waris dari menerima warisan secara mutlak atau mengakhirkan pembagian warisan dari waktu pembagiannya tanpa udzur atau tanpa ijin (dari ahli waris).

Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa (a) bersegera dalam membagi harta warisan adalah wajib; (b) menunda pembagian warisan dibolehkan apabila ada ijin dari seluruh ahli waris.

Baca detail: Hukum Waris Islam

2. Sudah dijelaskan pada jawaban poin 1.

3. Warisan harus dibagikan secara Islam di mana wanita mendapat bagian separuh dari pria. Allah berfirman dalam QS An-Nisa 4:13-14

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ * وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ

Artinya: (Hukum-hukum tentang warisan tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. (4:13). Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (4:14)

Nabi juga bersabda:

اقسموا المال بين أهل الفرائض على كتاب الله

Artinya: Bagilah harta warisan antara ahli waris berdasarkan ketentuan dalam kitab Allah. (HR Muslim)

Namun demikian, apabila seluruh ahli waris sepakat dengan penuh rela untuk dibagi secara merata maka hal itu dibolehkan.

Dalam kitab Al-Mausuah Al-Fiqhiyah, hlm. 22/234, dinyatakan bahwa Disyaratkan untuk membagi warisan secara merata dan saling rela adalah: kesalingrelaan itu bersifat hakiki bukan karena terpaksa atau sungkan/segan dan beberapa syarat lain:


وذلك إنما يتحقق إذا كان"الرضا"سليماً، أي بأن يكون حراً طليقاً لا يشوبه ضغطٌ ولا إكراهُ، ولا يتقيد بمصلحةِ أحدٍ كرضا المريض، أو الدائن المفلس، وأن يكون واعياً، فلا يحول دون إدراك الحقيقة جهلٌ، أو تدليسٌ وتغريرٌ، أو استغلالٌ، أو غلطٌ أو نحو ذلك مما يعوق إدراكه. فمن عيوب الرضا الإكراه والجهل والغلط، والتدليس والتغرير، والاستغلال وكون الرضا مقيداً برضا شخص آخر

Artinya: Kerelaan ahli waris haruslah selamat. Maksudnya, kerelaan itu tanpa paksaan atau perlakuan kasar. Dan tidak terikat dengan kemaslahatan seseorang seperti kerelaan orang sakit atau orang punya hutang yang bangkrut. Dan harus sadar.... Termasuk tidak dianggap rela adalah paksaan, ketidaktahuan, kesalahan, tipuan. Ridho itu terikat dengan kerelaan yang lain.

4. Hak waris orang yang berkebutuhan khusus tetap sama dengan yang lain. Tidak berubah. Namun, siapapun yang merawatnya bisa meminta biaya perawatan sesuai biaya yang normal dan bisa diambilkan dari bagian harta warisnya. Karena, yang menghalangi ahli waris untuk menerima warisan tidak termasuk cacat fisik/mental. Beberapa penghalang menerima warisan adalah: wafat lebih dulu dari pewaris, membunuh, beda agama. Baca detail: https://www.alkhoirot.net/2012/09/warisan-dalam-islam.html#5

5. Semua ahli waris memiliki hak yang sama dalam menentukan keputusan. Oleh karena itu, apapun keputusannya harus berdasarkan persetujuan seluruh ahli waris. Tidak boleh ada satu orang (dari ahli waris) yang bersikap membuat keputusan.

6. Ahli waris anda adalah suami dan saudara kandung. Baca detail: Hukum Waris Islam

23/03/19

Bolehkah Membuat Hoaks dalam Keadaan Perang?


TIPU DAYA DALAM PERANG

Assalaamu'alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh,

Kepada Yth. Para Masyaikh di Ponpes Al-Khoirot,

Kalau boleh saya nyuwun bertanya khususnya terkait tipudaya yang khusus dalam keadaan perang. Yang saya fahami adalah bahwa boleh melakukan tipudaya dalam perang, tapi tidak boleh khianat dalam perang. Dari rujukan-rujukan yang saya dapatkan, nampaknya ulama-ulama berkata bahwa maksudnya khianat adalah khianat dalam amaan dan khianat terhadap perjanjian. Dan maksudnya khianat terhadap perjanjian ini maksudnya bukannya tidak boleh membatalkan, tapi tidak boleh khianat atau curang terhadap perjanjian.

Pertanyaan saya adalah:
1. apakah pemahaman umum saya tentang 'khianat dalam perang' di atas sudah tepat?

2. perjanjian seperti apa yang tidak boleh dikhianati?
Sebagian yang saya tanya mengatakan perjanjian apapun bentuknya (tertulis maupun tidak) dan apapun objek perjanjiannya (selama tidak bertentangan dengan syariat) adalah tidak boleh dikhianati, karena mempertimbangkan perintah umum 'amanah' (lawan kata khianat) yang tidak ada dalil yang mengecualikannya saat perang. Beda dengan berbohong yang memiliki dalil pengecualian di masa perang. Sebagian mengatakan bahwa hanya perjanjian damai, gencatan senjata, dan amaan yang dimaksud dalam konteks dalil dan qaul-qaul ulama, maka perjanjian selain itu boleh dikhianati karena dalil umum 'perang adalah tipudaya'. Tapi keduanya saya agak kurang puas dengan penjelasannya, nyuwun pencerahannya.

3. Pahlawan kita Teuku Umar (rahimahullah) pura-pura kerjasama dengan Belanda, untuk kemudian diamanahi senjata dan perbekalan, lalu kemudian Teuku Umar mengkhianati Belanda dan merampas senjata-senjata itu. Tanpa mengurangi rasa hormat, takzim, dan rasa terima kasih atas jasa beliau, apapun jawaban dari pertanyaan ini, dan selalu saya doakan beliau. Ada yang mengatakan bahwa taktik Teuku Umar ini kurang sejalan dengan syariat, karena pura-pura kerjasama ini semacam membuat perjanjian dan kemudian mengkhianatinya. Sebagian lain mengatakan bahwa karena ini bukan termasuk perjanjian damai, gencatan senjata, atau amaan, maka ini khianat yang diperbolehkan. Mohon pencerahannya terkait masalah ini.

Jazakumullaah khairan katsira,

JAWABAN

1. Benar.

2. Perjanjian yang dibuat secara resmi antara dua pihak. Contoh, seperti kasus ketika Yahudi Madinah mengkhianati perjanjian dengan umat Islam.

Nabi bersabda:

الحرب خِدعة

Artinya: Perang itu tipu muslihat. HR. Bukhari, (3029) dan Muslim (58)

Apa yang dimaksud dengan tipu daya dalam hadis tersebut? Imam Nawawi menjelaskan dalam Syarah Muslim, hlm. 12/43, sbb:

اتفق العلماء على جواز خداع الكفار في الحرب كيف أمكن الخداع إلا أن يكون فيه نقض عهد أو أمان فلا يحل

Artinya: Para ulama’ bersepakat diperbolehkannya menipu orang kafir dalam peperangan, apapun bentuk tipu muslihat kecuali (tipu muslihat) yang dapat membatalkan perjanjian atau keamanan, maka hal itu tidak diperbolehkan.

Jadi, tipu daya yang dibolehkan itu yang bersifat taktik dan strategi militer. Misalnya, tradisi yang berlaku dalam perang zaman dahulu adalah, memberitahu lawan kalau akan diserang atau melakukan penyerangan di siang hari. Maka, boleh kita menyerang musuh tanpa memberitahu terlebih dahulu, atau melakukan penyerangan di malam hari saat musuh sedang lengah.

Imam Nawawi menambahkan (Syarah Muslim, hlm. 12/43):

وقد صح في الحديث جواز الكذب في ثلاثة أشياء : أحدها في الحرب . قال الطبري : إنما يجوز من الكذب في الحرب المعاريض دون حقيقة الكذب ، فإنه لا يحل ، هذا كلامه ، والظاهر إباحة حقيقة نفس الكذب لكن الاقتصار على التعريض أفضل

Artinya: Ada hadis sahih yang menyatakan bolehnya berbohong dalam tiga keadaan salahsatunya dalam perang. Namun Imam Thabari berkata: Bolehnya berbohong dalam perang itu adalah bohong tidak langsung (memakai bahasa diplomatis), bukan bohong yang hakiki. Ini pandangan Thabari. Yang zhahir (menurut Imam Nawawi - red) boleh juga berbohong secara eksplisit tapi secara implisit itu lebih utama.
Baca detail: Bohong dalam Islam

Jadi, tipu daya dalam hadis tidak terkait dengan perjanjian antara dua pihak. Penipuan atau pengkhianatan antara dua pihak dilarang dalam Islam secara mutlak.

Dalam QS Al-Anfal 8:56 Allah melarang muslim mengkhianati perjanjian:

(Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya).

Larangan untuk berkhianat juga ditegaskan oleh Nabi.

Berikut beberapa hadis terkait hal ini:

A. Pengkhianat akan dikenali lewat benderanya

وقال صلى الله عليه وسلم : " لكل غادر لواء يوم القيامة يُعرف به .

Artinya: Setiap orang yang khianat akan memiliki liwa' (bendera) pada hari kiamat. Dia akan dikenali dengan bendera itu (HR. Bukhari Muslim)

B. Tanda Munafik

أربع خلال من كنَّ فيه كان منافقاً خالصاً إذا حدَّث كذب وإذا وعد أخلف وإذا عاهد غدر وإذا خاصم فجر ومن كان فيه خصلة منهن كانت فيه خصلة من النفاق حتى يدعها

Artinya: Empat kerusakan, siapa yang ada pada dirinya, maka dia termasuk benar-benar orang munafik. Kalau berbicara berbohong, kalau berjanji tidak ditepati, kalau bersepakat tidak dipenuhi, kalau berselisih melampaui batas. Siapa yang mempunyai salah satu perangai, maka ia termasuk perangai dari kemunafikan sampai ia meninggalkannya


Imam Malik dalam Al-Muwatho', hlm. 1/335, menyatakan:

وعن مالك قال : بلغني أن عبدالله بن عباس قال : ما ختر قوم بالعهد إلا سلط الله عليهم العدو.الموطأ / باب ما جاء في الوفاء بالعهد

Disampaikan kepadaku bahwa Abdullah bin Abbas berkata, “Tidaklah suatu kaum ketika tidak menepati janji melainkan Allah akan kuasakan musuh kepadanya.

3. Kalau itu melanggar kesepakatan yang tertulis, maka tidak dibolehkan dalam Islam.

TIPU DAYA PERANG (2)

Assalaamu'alaykum,

Terima kasih banyak atas jawabannya. Bolehkah saya menanyakan follow up sedikit?

Pertanyaan No. 3 jawabannya adalah "Kalau itu melanggar kesepakatan yang tertulis, maka tidak dibolehkan dalam Islam".
Nyuwun penjelasannya, apakah kesepakatan yang tidak tertulis (disepakati secara lisan) berarti boleh dilanggar? Karena sekilas nampaknya di penjelasan jawaban No. 2, kesepakatan/perjanjian nampakya tidak menspesifikkan apakah tertulis atau tidak.

Untuk ini, kalau berkenan, apakah bisa masuk kategori [sangat penting] karena merupakan follow up dari pertanyaan Sangat Penting sebleumnya? Kalau tidak, inshaaAllah saya tunggu pun tidak apa-apa..

Jazakallaahu khairan katsira

JAWABAN

Sama saja. Kesepakatan tertulis atau lisan statusnya sama dalam hukum Islam. Prinsipnya kesepakatan yang dilakukan oleh dua orang atau dua kelompok atau lebih. Namun kesepakatan tertulis lebih memiliki kekuatan legal formal tidak saja zaman ini tapi juga zaman Islam klasik. Sebagaimana dalam konteks Piagam Madinah. Baca detail: Piagam Madinah

Suami Kristen Istrinya Ingin Masuk Islam, Bagaimana Status Rumah Tangga?

SUAMI KRISTEN ISTRINYA INGIN MASUK ISLAM, BAGAIMANA STATUS RUMAH TANGGA?

Saya ingin bertanya,saya seorang pemeluk kristiani dan saya sudah bersuami dan punya satu anak,jujur saya ingin menjadi mualaf tapi suami saya tidak terima,saya lari dari rumah bawa anak saya,lalu suami saya jemput lagi setelah seminggu saya di rumah dengan suami dan anak saya,
Saya merasa tidak tahan terus-terusan menjadi kristiani lalu saya pergi lagi dari rumah tanpa sepengetahuan suami saya.
Tapi masalah anak saya tinggal dengan suami,karena kalau saya bawa tidak ada yang menjaga karena saya juga harus kerja.
Pak/buk tolong saya,bagaimana seharus nya yang saya lakukan?
Saya kembali untuk anak saya atau saya terus kan niat saya untuk menjadi seorang mualaf,tolong pak saya butuh jawaban cepat pak,saya mohon bantu saya karena suami saya tidak mengizinkan saya ketemu anak apabila terlalu lama

JAWABAN

Teruskan niat anda menjadi mualaf. Tentang status pernikahan anda, maka dirinci sbb:
(a) anda harus mengajak suami untuk juga masuk Islam, kalau dia menolak, maka secara otomatis hubungan jatuh talak; (b) apabila suami masuk Islam dalam masa iddah, maka anda berdua tetap bisa rujuk dan menjadi suami istri yang sah; (c) apabila suami tetap Kristiani, maka setelah masa iddah habis, anda menjadi wanita yang bebas dan bisa menikah dengan pria lain yang seiman. Baca detail: Istri Jadi Mualaf karena Pihak Ketiga

Tentang cara masuk Islam, Baca detail: Cara Masuk Islam Menjadi Mualaf

WAS-WAS NAJIS

Assalamualaikum,

Saya mau bertanya, saya terkena was-was terhadap najis. Dan hari ini saya melakukan mandi wajib. Tetapi sebelum mandi wajib saya terkena benda yang sepertinya benda itu dulu pernah terkena najis, saya sudah lupa karena dulu sempat terkena was-was najis berat juga jadi sampai sekarang saya tidak mau menyentuh benda itu dan sekarang tidak sengaja tersentuh tetapi saya sudah lupa alasan apa yang membuat saya tidak mau menyentuh benda itu, dan setelah itu saya memutuskan langsung saja mengambil tanah dan mensucikannya daripada terlalu lama menghabiskan waktu di kamar mandi. Setelah mensucikan saya lupa apakah sudah sampai 7x atau belum dan tetesan dari tangan saya mengenai wadah air yang saya mau gunakan untuk mandi wajib. Saya sempat ragu lalu saya berpikir In Shaa Allah tidak mengapa ini pasti was-was setan dan saya tidak mau memperdulikan bisikan2 yang membuat ragu apakah air itu tergolong najis atau tidak. Tetapi setelah saya mandi keraguan itu muncul lagi apakah air yang saya gunakan tadi sudah berubah menjadi air najis karena kurang dari 2 qullah dan saya lupa apakah saya sudah mencuci tangan saya itu sudah sampai 7x atau belum. Sekarang saya menjadi was-was jangan-jangan seluruh tubuh terkena najis dan mandi wajib saya menjadi tidak sah.

Pertanyaan saya
1.Bagaimana hukumnya jika kita sudah lupa dulu benda itu terkena najis dibagian mana dan sudah terkena najis apa karena dulu saya sempat was-was juga terhadap najis berat jadi suka menghakimi hampir semua benda yang tidak ingin saya sentuh berarti dulu pernah terkena najis berat, apakah ini bisa di golongkan benda yang terkena najis berat dan setiap terkena benda itu saya wajib mencuci tangan 1x dengan tanah 6x dengan air?

2.Bagaimana status mandi wajib saya apakah tetap sah?

3.Apakah saya perlu untuk mandi dengan menggunakan tanah untuk seluruh tubuh saya karena 1 tetes air tersebut yang sudah terkena dalam wadah yang kurang dari 2qullah telah saya gunakan untuk mandi wajib?

4.Mohon bantuannya solusi agat terhindar dari was-was.karena pikiran ini selalu berkembang dan saya selalu ragu setiap memikirkan hal ini.

Mohon penjelasannya saya merasa sangat terganggu dengan was-was yang saya alami ini.

Sangat ditunggu jawabannya

Syukron, jazaakallahu khair....

JAWABAN

1. Perlu diketahui bahwa najis ada dua yaitu najis ainiyah dan najis hukmiyah. Najis ainiyah adalah benda yang terkena najis yang masih tampak najisnya dan belum disucikan dengan air. Sedangkan najis hukmiyah adalah benda yang terkena najis yang sudah hilang najisnya tapi belum disucikan dengan air. Benda yang anda maksud adalah termasuk kategori najis hukmiyah karena benda najisnya sudah hilang tapi masih najis apabila belum dibasuh dengan air. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

Ulama berbeda pendapat terkait najis hukmiyah ini. Ulama madzhab Syafi'i berpendapat najis hukmiyah tetap menularkan najis apabila benda tersebut atau kita yang menyentuhnya basah. Namun kalau keduanya sama-sama kering, maka najisnya tidak menular.

Adapun ulama madzhab Maliki menyatakan bahwa najis hukmiyah pada hakikatnya adalah suci, sehingga tidak menularkan najis walaupun kita sentuh dengan tangan yang basah. Baca detail: Najis Hukmiyah Kering Terkena Benda Basah Menurut Madzhab Maliki

Dalam konteks anda yang sedang menderita was-was, maka kami anjurkan agar anda memakai madzhab Maliki terkait najis hukmiyah ini agar was-was anda hilang. Dengan memakai madzhab Maliki, maka anda tidak perlu was-was saat menyentuh benda yang kemungkinan berstatus najis hukmiyah. Pertanyaan berikutnya: apakah boleh mengikuti dua madzhab seperti itu? Jawabnya adalah boleh. Baca detail: Hukum Ikut Dua Madzhab

Kyai Hasyim Asy'ari menyatakan tidak ada kewajiban mengikuti satu madzhab bagi orang awam. Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab

2. Mandi wajib anda tetap sah apabila terpenuhi syarat dan rukunnya. Baca detail: Cara Wudhu dan Mandi Wajib

3. Air kurang dua qullah tidak masalah dipakai mandi menurut Imam Ghazali walaupun seandainya terkena najis asalkan tidak berubah airnya. Baca detail: Air Kurang Dua Qulah terkena Najis

4. Semoga penjelasan ini sedikit menyembuhkan was-was anda. Amin.

MEMIKIRKAN ORANG YANG MENCELA ALLAH

Ustad saya mau bertanya beberapa hari lalu saya membaca komen di youtube yang mencela allah, lalu saya tiba tiba memikirkan komen itu hingga saat ini apakah saya kufur ? Karena komen jadi terkadang saya membaca komen itu apakah saya kufur ?

JAWABAN

Tidak kufur. Mencela Allah memang menyebabkan kufur. Tapi kalau membaca tulisan orang yang mencela Allah itu tidak menyebabkan kufur. Hanya saja, anda diwajibkan untuk menjauhi lingkungan seperti itu. Baca detail: Wajib Menjauhi Lingkungan Pergaulan Buruk

18/03/19

Tata Cara Mandi Junub Yang Wajib Dan Sunnah

TATA CARA MANDI JUNUB YANG WAJIB DAN SUNNAH

1. Saya mempelajari mandi wajib lewab video ustadz, tata caranya yaitu:

1. Membersikan tangan mulai dari kiri lalu kanan
2. Membersihkan kemaluan
3. berwudhu
4. Menyela2 rambut
5. Membersihkan badan bagian kanan lanjut bagian kiri
6. Membersihkan badan secara bebas entah itu dari kanan atau kiri
7. Lalu memakai wangi wangian
8. Mengguyur badan
Pertanyaannya :

a. Saya pernah mandi wajib tapi kalau tidak salah leher saya kayaknya tidak basah seluruhnya. karena saya kurang faham cara mandi wajib di tambah lagi saya was-was tentang mandi wajib, jadi saya pelajari mandi wajib di youtube, saya lihat di video itu tidak ada yang memperlihatkan menyiram leher atau membasuh leher. Jadi saya ikuti saja apa yang saya lihat di youtube, mungkin pada saat saya menyela2 rambut sebagian leher saya telah basah. Dan yang saya ketahui apabila kita mandi wajib harus basah seluruh badan. tapi kalau saya tidak mengikuti cara mandi wajib di video itu takutnya saya salah, Apakah dengan kejadian ini mandi wajib saya tidak sah? Apakah saya harus mengulangi mandi wajib saya lagi? Dan apakah shalat saya selama ini tidak sah? Karena saya kurang faham tentang mandi wajib. Sedikit-sedikit saya was-was lagi. Kalau misalkan saya pakai wangi wangian pada waktu itu mungkin seluruh badan ssaya sudah basah. Tapi saya lupa pada saat itu saya pakai wangi-wangian atau tidak. Karena yang saya tau memakai wangi-wangian itu sunnah.

b. Di video itu memperlihatkan setelah mencuci kemaluan dia tidak mencuci tangan tapi langsung berwudhu, apakah itu sudah benar?

c. bagaimana apabila air di kamar mandi kita tidak cukup 2 kullah, atau Cuma 1 kullah bahkan kurang dari 1 kullah. Dan air yang di gunakan agak kurang bersih karena air yang gunakan air sumur. apakah boleh di pakai mandi wajib?

2. Apakah pada saat kita bangun dari tidur dan kita dapat celana kita kebasahan. Tapi kita tidak yakin kalau kita sudah mimpi basah. Atau kita tidak yakin kalau yang basah itu adalah air sperma. Apakah boleh di anggap suci? Karena saya sering kejadian seperti ini tapi saya tidak mandi wajib karena saya tidak yakin kalau saya telah mimpi basah atau mungkin Cuma pikiran was-was saya saja

3. Bagaimana cara mandi wajib yang benar?

4. Saya sering wa was ketika ingin mandi wajib, sampai – sampai saya tidak mandi wajib beberapa hari, setiap ingin mandi wajib pasti ada saja kendala dan was was yang saya rasakan. Pertanyaan saya apabila dinding kamar mandi kita mungkin ada bekas kencing yang telah kering atau masih basah atau Cuma percikan air kencing, apabila kita ingin mulai mandi wajib atau sementara kita mandi wajib dan kita mengenai bekas kencing tersebut apakah mandi wajib harus di teruskan atau di ulangi? Apakah sah atau tidak mandi wajib saya?

5. Pada saat wudhu dalam mandi wajib Dan wudhu saya setiap hari saya sering lupa jumlah wudhu saya. Apakah sudah cukup tiga kali basuhan apa belum. Apa solusi yang tepat untuk mmasalah saya ini ustadz?

6. Saya pernah bermimpi tapi setelah terbangun saya merasa basah, tapi kalau tidak salah di pikiran saya itu yang keluar bukan air sperma, tapi mungkin air lain, tapi di pikiran saya, saya mau mandi wajib saja supaya tidak was-was terus. Tapi lama kelamaan saya berpikir lagi saya tidak mengeluarkan caairan apapun mungkin itu Cuma perasaan saya saja, setelaah itu saya pergi buang air kecil, setelah buang air kecil adalagi keluar kayak cairan yang kental, entah itu cairan sperma atau bukan. apakah dengan kejadian ini apakah sebaiknya saya mandi wajib?

7. Saya pernah merasa celana saya basah pada saat bangun tidur, tapi di pikirann saya celana saya basah karena terkena air. Pada saat saya buang air kecil waktu terbangun dari tidur sebelumnya, karena saya sempat bangun untuk buang air kecil lalu lanjut tidur lagikalau tidak salah ingat saya cium celana saya yang basah itu. Yang saya rasakan bau itu bukan air sperma. Tapi beberapa saat kemudian saya cium lagi celana saya yang basah itu, di pikiran saya, di pikiran saya ini bau air sperma, baru saya ingat lagi pada saat saya cium celana saya yang pertama. Di piikiran saya kayaknya ini bau air speerma atau Cuma rasa was-was saya saja. Dengan kejadian ini, apakah saya harus mandi wajib?

JAWABAN

1A. Petunjuk yang anda lihat di video itu sebenarnya panduan yang prinsip dalam mandi junub. Artinya, kalau tidak anda ikuti petunjuk tersebut tidak masalah. Yang wajib dan yang paling prinsip dalam mandi junub adalah membasahi seluruh anggota tubuh luar. Baca detail: Cara Wudhu dan Mandi Wajib

Panduan sunnahnya mandi junub di video itu juga tidak tepat terutama menurut madzhab Syafi'i. Baca detail: Sunnahnya Mandi Junub menurut madzhab Syafi'i

Kalau anda yakin bahwa leher tidak merata kena air, maka itu tidak sah. Dan hendaknya diulangi. Namun, untuk shalat yang dilakukan setelah itu tidak perlu diulangi karena timbul dari ketidaktahun. Baca detail: Hukum Melakukan Perkara Haram karena Tidak Tahu

1b. Mencuci kemaluan tidak termasuk sunnahnya mandi wajib. Kecuali kalau di kemaluan terdapat najis, maka wajib membasuhnya terlebih dahulu. Baca detail: Sunnahnya Mandi Junub

1c. Boleh. Yg penting air yang dipakai mandi itu suci dan menyucikan dan tidak kecampuran najis. Baca detail: Air Suci dan Menyucikan

2. Kalau celana dalam basah setelah bangun tidur, maka ada tiga kemungkinan: sperma, madzi atau kencing. Sperma biasanya ada tanda lengket atau kalau sudah kering tampak mengental di celana; sedangkan madzi lebih cair sebagaimana kencing. Maka, silahkan diduga basah karena sebab apa dari ketiga kemungkinan di atas. Kalau sebab madzi atau kencing, maka berarti hukumnya najis dan harus dibasuh semua pakaian yang mungkin terkena. Sedangkan kalau mani maka berarti harus mandi besar. Baca detail: https://www.alkhoirot.net/2013/08/keluar-cairan-mani-atau-madzi.html

3. Cara mandi junub yang benar adalah melaksanakan rukun/fardunya mandi atau perkara yang wajib dilakukan saat mandi. Rukun mandi ada tiga yaitu: niat, menghilangkan najis di badan (kalau ada), mengalirkan air suci ke seluruh badan. Baca detail: Fardunya Mandi ada Tiga

4. Tempat yang terkena najis yang sudah tidak kelihatan (najis hukmiyah), maka dengan disiram satu kali status najisnya hilang. Jadi, kalau anda ragu ada najis di kamar mandi, maka cukup anda siram satu kali, itu sudah cukup. Percikan air basuhan najis hukmiyah itu hukumnya suci. Setelah itu, maka silahkan mandi wajib dengan tenang karena kamar mandi sudah suci sepenuhnya. Baca detail: Cara menyucikan najis hukmiyah dan ainiyah

5. Wudhu itu yang wajib cuma satu kali basuhan. Tiga kali basuhan itu sunnah, tidak dilakukan tidak apa-apa. Baca detail: Fardhunya Wudhu

6. Ya, sebaiknya mandi wajib. Cairan kental adalah sperma.Baca detail: Penyebab Mandi Besar

7. Kalau anda memang habis buang air di tengah malam, maka ada kemungkinan itu air basuhan setelah kencing. Anda tidak wajib mandi junub. Karena fakta bahwa itu air lebih kuat dari dugaan bahwa itu sperma. Berdasarkan kaidah fikih: Keyakinan tidak hilang karena keraguan. Baca detail: Kaidah Fikih

Kecuali apabila tanda lain seperti anda mimpi hubungan intim dg seseorang dll.

29/11/18

Bau Kotoran Setelah Cebok, Apakah Masih Najis?

Bau Kotoran Setelah Cebok, Apakah Masih Najis?
BAU KOTORAN SETELAH CEBOK, APAKAH MASIH NAJIS?

Assalamualaikum. Ustadz sebelumnya saya sempat ragu apakah bau kotoran setelah istinja saat buang air besar itu termasuk najis atau tidak. Tp saya berfikir kalau itu tidak najis karna kotorannya sudah tidak terlihat dan sayapun sudah berusaha mencucinya. Oleh sebab itu saya lanjutkan berwudhu dan kemudian sholat. Nah saya baru tau kalau ternyata bau tersebut masih termasuk najis. Lalu bagaimana hukum sholat saya ustadz? Apakah sy wajib mengulang sholat saya, sedangkan saya sudah lupa karna sudah membiarkan kebiasaan ini dr lama. Mohon pencerahannya ustadz. Hatur nuhun

JAWABAN

Kalau baunya sulit dihilangkan, maka hukumnya dimaafkan atau tidak apa-apa.

Al-Jaziri dalam Al-Fiqh ala Al-Madzahib Al-Arba'ah, hlm. 1/26, menjelaskan cara menghilangkan najis menurut madzhab Syafi'i sbb:

أما النجاسة المتوسطة وهي غير ما تقدم فإنها تنقسم إلى حكمية، وهي التي ليس لها جرم ولا طعم ولا لون ولا ريح، كبول غير الصبي إذا جف. وعينية، وهي التي لها جرم أو طعم أو لون أو ريح. أما الحكمية فكيفية تطهيرها أن يصب الماء على محلها ولو مرة واحدة ولو من غير قصد. وأما العينية فكذلك، ولكن بشرط زوال عين النجاسة، أما أوصافها فإن بقي منها الطعم وحده، فإن بقاءه يضر ما لم تتعذر إزالته. وضابط التعذر أن لا يزول إلا بالقطع، وحينئذ يكون المحل نجساً معفواً عنه، فإن قدر على الإزالة بعد ذلك وجبت؛ ولا تجب إعادة ما صلاه قبل، فإن تعسر زواله وجبت الاستعانة بصابون ونحوه إلا أن يتعذر، وإن بقي اللون والريح معاً فالحكم كذلك، وإن بقي اللون فقط أو الريح فقط على إزالته بعد ذلك فلا تجب طهارة المحل؛ ويشترط في إزالة النجاسة بأنواعها الثلاثة أن يكون الماء وارداً على المحل إذا كان الماء قليلاً،.

Artinya: Najis mutawassitoh terbagi menjadi dua, pertama, hukmiyah yaitu najis yang tidak ada benda najisnya, serta tidak ada rasa warna dan bau. Seperti kencing selain anak kecil (yakni orang dewasa) apabila kering. Kedua, najis ainiyah yaitu najis yang ada benda najisnya atau rasa atau warna atau bau. Adapun najis hukmiyah maka cara menyucikannya adalah dengan menyiramkan air pada tempat najis walaupun satu kali walaupun tanpa sengaja. Begitu juga cara menghilangkan najis ainiyah tapi dengan syarat hilangnya benda najisnya. Adapun sifat-sifat najis (bau, warna, rasa) apabila masih tetap rasanya saja maka itu bermasalah (harus dihilangkan) selagi tidak sulit menghilangkannya. Batasan sulit adalah tidak bisa hilang kecuali dengan dipotong. Dalan keadaan ini maka tempat tersebut najis yang dimaafkan. Apabila bisa dihilangkan setelah itu maka wajib dihilangkan tetapi tidak wajib mengulangi shalat sebelumnya. Apabila sulit menghilangkan sifat-sifat najis (rasa, bau, warna) maka wajib memakai sarana pembantu seperti sabun kecuali kalau sulit. Apabila masih tetap ada warna dan bau sekaligus, maka hukumnya juga begitu (dimaafkan). Apabila masih ada warnanya saja atau baunya saja setelah itu maka tidak wajib menyucikan tempat najis. Disyaratkan dalam menghilangkan najis dengan ketiga sifatnya adalah airnya harus disiramkan pada tempat najis apabila airnya sedikit.

Perhatikan, dalam keterangan di atas ada kalimat "Apabila masih ada warnanya saja atau baunya saja setelah itu maka tidak wajib menyucikan tempat najis." Itu artinya, apa yang anda alami tidak masalah. Anda sudah suci. Dan shalat yang anda lakukan sudah sah.
Baca detail:
- Najis dan Cara Menyucikan
- Cara menyucikan najis hukmiyah dan ainiyah


SUAMI SELALU SELINGKUH

Assalamualaikum wr. wb.
Sy seorang ibu rmh tangga sdh menikah sekitar 16 tahun. Suami sekarang menjabat sebagai kepala cabang sebuah perusahaan expedisi.

Awal menikah kami hidup pas pas an & banyak hutang. Lalu sy bekerja & suami jg mendptkan pekerjaan dg gaji lumayan. Perlahan kehidupan km mulai berubah. Tapi banyak jg cobaan dlm rumah tangga kami. Suami selingkuh sampai berzina dg lebih dr satu wanita. Bahkan salah satunya sampai hamil.

Waktu berjalan, masalah pun berlalu. Sy berusaha memaafkan krn sy pun sadar suami berbuat begitu krn sy pada saat itu terlalu sibuk dg pekerjaan. Demi putri sy...sy coba lupakan semuanya.

Kami berusaha memulai kembali dg hijrah ke kota lain. Sy berhenti bekerja sesuai keinginan suami. Tp ternyata suami msh terus bertelpon dg mantan selingkuhannya. Kami sering bertengkar krn suami tdk merasa bérsalah & berkata mrk hanya berteman sj.

Kami kembali ke kota asal. Memulai lg dr awal..sy kembali mencari pekerjaan utk hidup sy & anak sy krn suami jarang mengirim nafkah (suami di kota lain).Setelah anak ke 2 lahir km berusaha berbaikan. Km tinggal bersama, tetapi suami lagi2 dekat dengan wanita lain mantan pacarnya dulu. Sy cb memaafkan lagi. Th. 2015 suami pindah kerja di luar pulau. Sy diminta ikut dengannya. Tp jujur sy ragu ikut mengingat semua perlakuannya thp sy.

Suami sering memukul, kasar, tdk segan menyuruh sy pergi beli kebutuhannya walau tengah malam. Suami selalu mengembunyikan hp nya. Th. 2016 sy ikut pindah. Awalnya suami baik. Tapi setelah itu hampir semua yg saya lakukan salah di matanya. Masakan salah, cara mérawat anak salah. Dan selalu marah2..

Belakangan sy berhasil meliha isi hp nya. Ternyata selama ini sy dibohongi. Banyak chatting dg wanita2 lain di hp suami. Mulai yg bilang sayang sampai janjian ketemu di hotel, bilang kamu cantik sampai janjian mengantarkan belanja, dll.
Tapi suami merasa tdk bersalah dg alasan tdk melakukan apa2 & bilang msh tau batasannya.

Bahkan suami menganggap sy berlebihan menuduh dia yg bukan2.
Sebagai catatan, suami tdk pernah berkata sayang kepada sy apalagi memuji sy cantik, suami jarang mengantar sy jika bepergian bahkan sering sy sakit hrs berangkat sendiri ke dokter.

Apa yg hrs sy lakukan. Jujur sy sdh tdk sanggup jd istri diperlakukan begini. Tp sy msh pertimbangkan anak2 saya. Sy tdk mau mereka menjadi korban. Disatu sisi sy jg ingin diperlakukan dg baik oleh suami yg selama ini tdk pernah sy dapatkan.
Mohon sarannya. Terimakasih...wassalamualaikum wr. wb.

JAWABAN

Syariah Islam memberi dua pilihan yang sama-sama boleh dalam menghadapi kasus di atas: anda boleh meminta cerai / gugat cerai atau tetap mempertahankan rumah tangga. Baca detail: Menyikapi Pasangan Selingkuh

Kalau anda cenderung untuk mempertahankan rumah tangga, maka hal terbaik adalah dengan tidak berharap terlalu banyak pada perubahan suami. Kebiasaan suami anda itu termasuk hal yang sulit dirubah oleh orang lain kecuali oleh dirinya sendiri. Oleh karena itu, fokus anda sebaiknya: (a) mendidik dan menikmati hidup bersama anak-anak anda; (b) sibukkan diri dengan kegiatan pekerjaan; (c) memperbanyak amal ibadah untuk bekal di akhirat. Jangan lupa untuk selalu berdoa di setiap selesai shalat fardhu. Baca detail: Doa Agar Disayang

28/11/18

Ucapan Talak karena Tidak Tahu Hukumnya

Ucapan Talak karena Tidak Tahu Hukumnya

TALAK: KURANG MENGERTI ATURAN CERAI DALAM ISLAM

Assalamu'alaikum pak ustadz

Sudah beberapa bulan ini saya kepikiran terus masalah talak, maklum tadinya saya kurang/hanya sedikit tahu aturannya.

Beberapa hal yang terus menghantui pikiran saya:

1. Saya pernah ngomong "bujangan lagi", masalahnya kalau malam minggu istri dan anak saya kadang suka menginap di rumah mertua saya, jadi kadang saya suka bercanda atau asal ngomong sama teman kayak "malam minggu mah bujangan lagi", untuk niat waktu itu saya tidak tahu pasti. Apa ini jatuh talak?

2. Saya pernah ngucap “cereikeun” / ”cere’in” (satu kata itu aja) sendirian sewaktu lg di kamar mandi, hanya berbisik, keras, jelas atau tidak jelasnya saya lupa, waktu itu saya klo gak salah lg mikirin masalah hidup sampai muak, marah sehingga mungkin keluar kata itu. Entah keceplosan atau disengaja, saya lupa.

3. Saya pernah bilang ke anak saya yg berusia 4 tahun kurang lebih “kalau gak mau sekolah, jangan tidur di sini (di rumah saya), tidurnya sama nenek (mertua saya) aja sama mamah, biarin ayah tidur di sini sendiri”… apa itu termasuk kinayah atau talak muallaq? niat yg pasti pada waktu itu saya tidak tahu pasti, diingat2 malah jadi dilema.

4. Bagaimana jika kita ucap kata2 seperti “terserah kamu aja” apa itu termasuk kinayah?

5. Maaf saya agak kurang faham, haam dan niat itu beda ya? bagaimana kalau kita ada kata2 kinayah tanpa niat tapi ada hamm?

6. Bagaimana jika lupa atau ragu dengan niat talak kinayah? tapi kalau disumpah mah gak berani.

7. Kalau ngomong “mau cerai/mau pisah” apa jatuh talak?

8. Kalau ada ucapan "ceraikan" atau “serahkan” di depan orang lain, satu kata itu saja tanpa ada kata “aku”, “kamu”, “istri”, apa jatuh talak?

9. Kalau bercerita khayalan dengan kata2 cerai dengan objek orang lain/fiksi apa jatuh talak?

10. Jatah talak itu kan ada 3 dan hanya bisa 2 kali rujuk, bisakah jatah talak/rujuk itu kembali ke semula? Misal dengan akad nikah baru. Bukan karena mau menalak atau cerai beberapa kali, tapi yg namanya manusia kan banyak khilafnya.

11. Apakah ucapan talak orang awam atau orang yg tau sedikit tentang talak atau tau tapi salah, tetap jatuh talaknya?

12. Bolehkah mengambil pendapat mazhab lain untuk mencari kemudahan dalam urusan talak?

13. Maaf ada yg kelewat pak ustadz, bagaimana kalau kita lagi mikirin masalah talak yang dulu, terus tanpa sengaja kita ngucap kata "talak" tapi tanpa ada kata "aku", "dia", "istri" dan saat itu saya lagi sendirian.

Ya ustadz tolong dijawab ya, saya sudah stress mikirin masalah talaq ini saya takut.

Terima kasih banyak.

JAWABAN

1. Tidak jatuh talak. Karena konteks ucapan anda tidak diarahkan ke istri.

2. Tidak jatuh talak. Ucapan "cerai" baru jatuh talak apabila tujuannya untuk menceraikan istri. Kalau ucapan "cerai" tidak dalam konteks itu, maka tidak terjadi talak. Misalnya, suami bersuami bercerita yang mengandung kata "cerai" atau "talak" maka tidak jatuh cerai. Baca detail: Bercerita Talak, apa jatuh cerai?

3. Ucapan tsb anda tujukan pada anak. Bukan pada istri. Jadi, tidak ada efek apapun atas ucapan tersebut terhadap keabsahan pernikahan anda.

4. Lihat konteksnya. Kalau konteksnya anda dan istri sedang bertengkar dan istri minta cerai lalu anda bilang "terserah kamu" maka itu bisa dianggap kinayah. Tapi kalau konteksnya istri sedang minta ijin mau membeli sesuatu lalu anda bilang "terserah kamu" maka itu bukan kinayah.

5. Hamm itu khayalan. Niat itu kesengajaan dalam hati.

6. Dianggap tidak ada.

7. Tidak. Karena istilah "mau" itu menunjukkan masa yang akan datang. Dan talak yang bermakna untuk masa yang akan datang maka tidak jatuh talak kecuali dalam talak muallaq. Baca detail: Talak masa yang akan datang

8. Lihat konteksnya. Kata "ceraikan" itu dalam rangka apa? Kalau tujuannya ke istri maka jatuh talak. Kalau tidak ada tujuan ke istri, maka tidak jatuh cerai.

9. Tidak jatuh talak.

10. Tidak bisa. Kecuali setelah istri menikah dengan orang lain. Lalu ia setelah ia dicerai oleh suaminya menikah lagi dengan anda. Maka pernikahan kedua ini jatah talaknya kembali baru.

11. Kalau orang awam itu tidak tahu bahwa ucapan talaknya berdampak talak beneran, maka ada ulama yang menyatakan tidak jatuh talak. Baca detail: Ucapan talak bagi yang tidak tahu hukumnya

12. Boleh. Baca detail: Talfiq atau Gonta ganti Madzhab

13. Tidak jatuh talak. Itu sama dengan cerita memakai kata talak. Baca detail: Cerai dalam Islam

EKONOMI RUMAH TANGGA : SUAMI TERJERAT HUTANG, WAJIB KAH ISTRI MENANGGUNG BEBAN HUTANG SUAMI?

Assalamu'alaikum. Wr. Wb

Salam ukhuwah.

Profesi ibu Rumah tangga & wiraswasta. Maaf sebelumnya saat ini saya ada masalah keuangan keluarga. Mohon pencerahan dari pak Ustad/bu Ustadzah apa yang harus saya lakukan untuk menyelesaikan masalah saya ini

Sejak saya menikah dengan suami tahun 2012, Suami tidak pernah cerita tentang usaha nya mengelola dana orang lain di sektor saham dengan imbalan bunga 15% setahun yang mana bunga bagi hasil ini dibagikan tiap bulan (1.25% per bulan dari modal yang disetor nasabah)

Tahun 2015 suami baru cerita kalau beliau punya masalah usaha nya tersebut dimana saham suami rontok dan dana titipan nasabah yang diputer di saham ikutan rugi sampai tidak tersisa. Besaran total dana diputar sekitar 1.5 Milyar termasuk di dalamnya ada uang saya 300 juta dan Emas Logam mulia anak saya 125 gram yang saya beli dari hasil kerja saya, sama suami saya jual tanpa seijin saya untuk menutup bunga yang harus dibayar bulanan ke nasabahnya.

Tahun 2016 suami saya berhenti bekerja di kantor lama di perusahaan sekuritas pasar modal.

2017 sampai sekarang bekerja di perusahaan yang sedang saya rintis di bidang Developer property. Karena baru merintis perumahan yang saya bangun dikelola oleh saya dan team tanpa gaji. Gaji dirapel setelah project selesai beserta pembagian bagi hasil nya.

Sudah hampir setahun saya tidak dinafkahi suami saya. Bahkan untuk biaya Rumah tangga, cicilan KPR rumah, hutang hutang suami saya ke nasabah nasabah nya yang harus dibayar bunga bulanan serta kartu kredit yang suami saya pinjam tanpa sepengetahuan saya, semua saya yang bayar.

Untuk menutupi beban hutang suami saya, saya jadi pinjam uang proyek 100 juta. Saya bingung pak Ustad. Apa yang harus saya lakukan? Saya sudah tidak sanggup lagi membantu suami saya terkait hutang hutang suami yang tempo lalu akibat dari tidak terbuka nya suami saya ke saya.

Ketika suami saya bangkrut, semua uang hasil kerja saya saya titipkan juga ke suami untuk diputer d saham juga ikutan lenyap juga simpanan emas buat pendidikan anak yang saya kumpulkan dari hasil kerja saya sama suami jual tanpa seijin saya. Sering terbesit saya ingin cerai dengan suami. Khawatir saya dan usaha yang saya rintis ikutan terbawa juga. Saya harus bagaimana mengingat anak anak masih kecil?

Apakah perlu dibuat dihadapan notaris kalau semua hutang hutang suami tidak akan membawa nama baik istri, harta istri dan usaha istri ?

Mohon pencerahanya Pak Ustad /bu Ustadzah. Syukron Jazakumullah Khoir

JAWABAN

Dalam Islam, suami berkewajiban menafkahi istri menurut kemampuannya. Dan tidak ada kewajiban istri untuk menafkahi suami atau anak. Baca detail: Suami Wajib Menafkahi Istri

Begitu juga, suami yang wajib menafkahi anak. Baca detail: Ayah Wajib Menafkahi Anak

Sedangkan hutang suami dan istri ditanggung masing-masing. Begitu juga pendapatan suami dan istri dimiliki oleh masing-masing pihak. Karena, dalam Islam tidak ada harta gono-gini secara otomatis seperti di hukum adat. Baca detail: Harta Gono gini

Terkait kelanjutan hubungan, apabila suami tidak menafkahi istri dalam waktu lama, maka itu bisa menjadi alasan secara legal formal (negara) untuk melakukan gugat cerai ke pengadilan agama. Baca detail: KHI (Kompilasi Hukum Islam)

Sedangkan secara Islam juga tidak masalah. Dalam Islam bahkan lebih ringan: istri boleh meminta cerai hanya karena tidak lagi dapat mencintai suami. Baca detail: Istri Minta Cerai karena Tidak Cinta

Baca juga:
- Cerai dalam Islam
- Istri Minta Cerai, Tidak Mencium Bau Surga?

Terkait apakah harus pakai notaris, silahkan anda konsultasi pada ahli hukum untuk soal ini.

11/06/18

Hukum Shalat Kafarat Jumat Akhir Ramadhan

Hukum Shalat Kafarat Jumat Akhir Ramadhan
SHALAT KAFARAT DI AKHIR JUMAT BULAN RAMADAN APAKAH SUNNAH?

Maaf ustad saya ingin bertanya, saya mendapatkan Pesan tentang Shalat Kafaroh,
1. Apakah shalat tersebut di sunnahkan?
2. Apakah Dalil yang di pesan tersebut benar, ? Mohon jawabannya agar saya tidak tersesat.!

Ini Pesan saya dapatkan di Group WA..
SHALAT KAFARAH DI HARI JUM'AT TERAKHIR BULAN RAMADHAN

Shalat kafarah Bersabda Rasulullah SAW : " Barangsiapa selama hidupnya pernah meninggalkan sholat tetapi tak dapat menghitung jumlahnya, maka sholatlah di hari Jum'at terakhir bulan Ramadhan sebanyak 4 rakaat dengan 1x tasyahud (tasyahud akhir saja, tanpa tasyahud awal), tiap rakaat membaca 1 kali Fatihah kemudian surat Al-Qadar 15 X dan surat Al-Kautsar 15 X

Niatnya: ” Nawaitu Usholli arba’a raka’atin kafaratan limaa faatanii minash-shalati lillaahi ta’alaa”

Sayidina Abu Bakar ra. berkata :
"Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sholat tersebut sebagai kafaroh (pengganti) sholat 400 tahun dan menurut Sayidina Ali ra. sholat tersebut sebagai kafaroh 1000 tahun. Maka bertanyalah sahabat : umur manusia itu hanya 60 tahun atau 100 tahun, lalu untuk siapa kelebihannya ?". Rasulullah SAW menjawab, "Untuk kedua orangtuanya, untuk istrinya, untuk anaknya dan untuk sanak familinya serta orang-orang yang didekatnya/ lingkungannya."
.
Setelah selesai Sholat membaca Istigfar 10 x :

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعِظِيْمِ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَ أتُبُوْا إِلَيْكَ

Kemudian baca sholawat 100 x :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا محمّد

Kemudian menbaca basmalah, hamdalah dan syahadat
Kemudian membaca Doa kafaroh 3x :

اَللَّهُمَّ يَا مَنْ لاَ تَنْفَعُكَ طَاعَتِيْ وَلاَ تَضُرُّكَ مَعْصِيَتِيْ تَقَبَّلْ مِنِّيْ مَا لاَ تَنْفَعُكَ وَاغْفِرْ لِيْ مَا وَلاَ تَضُرُّكَ يَا مَنْ إِذَا وَعَدَ وَفَا وَ إِذَا تَوَعِدُ تَجَاوَزَ وَعَفَا اِغْفِرْ لِيْ لِعَبْدٍ ظَلَمَ نَفْسَهُ وَأَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ بَطْرِ اْلغِنَى وَجَهْدِ اْلفَقْرِ إِلَهِيْخَلَقْتَنِيْ وَلَمْ أَكُنْ شَيْئًاً وَرَزَقْتَنِيْ وَلَمْ اَكُنْ شَيْئاً وَارْتَكَبْتُ اْلمَعَاصِيْ فَإِنِّيْ مُقِرٌّ لَكَ بِذُنُوبِيْ فَإِنْ عَفََوْتَ عَنِّيْ فَلاَ يَنْقُصُ مِنْ مُلْكِكَ شَيْئاً وَإِنْ عَذَبْتَنِيْ فَلاَ يَزِدُ فِيْ سُلْطَاِنكَ شيئاً اَللَّهُمَّ إِنَّكَ تَجِدُ مَنْ تُعَذِّبُهُ غَيْرِي لَكِنِّيْ لاَ أَجِدُ مَنْ يَرْحَمْنِيْسِوَاكَ فَاغْفِرْ لِيْ مَا بَيْنِيْ وَبَيْنَكَ وَمَا بَيْنَ خَلْقِكَ اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَيَا رَجَاءَ السّائِلِيْنَ وَيَا أَمَانَ اْلخَائِفِيْنَ إِرْحَمْنِيْ بِِرَحْمَتِكَ الْوَاسِعَةَ أَنْتَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَاَلمِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ ِللْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَتَابِعِ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِ ربّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَ أَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ وصل الله على سيّدنا محمّد وعلى ألِهِ وصحبه وسلّم تسليمًا كثيرًا والحمد لله ربّ العالمين. أمين.

Diambil dari kitab “Majmu’atul Mubarakah”, susunan Syekh Muhammad Shodiq Al-Qahhawi.
.
(oleh: Habib Munzir al-Musawa dan dari berbagai sumber lain.)
Waktu : Yaitu, shalat sunnah kafarat yang hanya kesempatannya di hari Jumat akhir Ramadhan batasnya antara waktu dhuha dan Ashar.

Semoga bisa mengamalkan dan ada manfaatnya.

Allahuma sholi 'ala sayidina Muhammad nabiyil umiyi wa 'alihi wa shohbihi wa salim

JAWABAN

Ringkasan:

1. Tidak benar. Shalat kaffaroh tidak sunnah.
2. Dalil yang dipakai untuk shalat sunnah kafarat adalah hadits palsu.

URAIAN

Hadits yang anda tulis terjemahannya tersebut redaksi asalnya dalam bahasa Arab adalah sbb:

من فاتته صلاة في عُمُره ولم يحصها فليقم في آخر جمعة من رمضان وليصل أربع ركعات بتشهد واحد ، يقرأ في كل ركعة فاتحة الكتاب ، وسورة القدر خمس عشرة مرة ، وسورة الكوثر كذلك ، ويقول في النية : نويت أصلي أربع ركعات كفارة لما فاتتني من الصلاة" ) ! فما مدى صحة هذا الحديث

Adapun status hadits ini adalah palsu (maudhuk).

Dr. Atiyah Saqar, ulama Al-Azhar Mesir, menyatakan:

لم أعثر على هذا الحديث في الكتب الصحيحة، وعلامة الوضع فيه ظاهرة، فالصلاة التي تفوت الإنسان لا يكفرها إلا قضاؤها ، ومن المعلوم أنه من ترك الصلاة ناسياً لا يكفرها إلا قضاؤها كما صح في الحديث ، وإذا كان هذا في الصلاة التي نام عنها أو سها عنها الإنسان فكيف بالصلاة المتروكة عمداً ؟! إن قضاءها أولى بالوجوب .

Artinya: Aku tidak menemukan hadits ini di kitab-kitab hadits yang sahih. Tanda kepalsuan hadits ini sangat jelas. Shalat yang tertinggal tidak ada tebusannya kecuali diqadha. Sudah maklum bahwa orang yang meninggalkan shalat karena lupa tidak bisa menebusnya kecuali dengan mengqadhanya sebagaimana terdapat dalam hadits sahih. Apabila kewajiban qadha itu pada shalat yang ditinggal karena lupa atau tertidur, maka bagaimana dengan salat yang tertinggal secara sengaja? Kewajiban mengqadanya jelas lebih besar.

Ada juga hadits serupa yang mendasari pendapat tersebut di atas. Haditsnya sbb:

من صلى في آخر جمعة من رمضان الخمس الصلوات المفروضة في اليوم والليلة قضت عنه ما أخل به من صلاة سنَته

Artinya: Barangsiapa shalat di akhir Jumat bulan Ramadan lima shalat fardhu pada hari dan malam, maka shalat tersebut telah mengqadha (mengganti) shalat yang tertinggal selama setahun

As-Syaukani dalam Al-Fawaid Al-Majmuah fi Al-Ahadits Al-Mauduah, hlm. 54, menyatakan terkait hadits di atas sbb:

"حديث ( من صلى في آخر جمعة من رمضان الخمس الصلوات المفروضة في اليوم والليلة قضت عنه ما أخل به من صلاة سنَته ) : هذا موضوع لا إشكال فيه ، ولم أجده في شيء من الكتب التي جمع مصنفوها فيها الأحاديث الموضوعة ، ولكنه اشتهر عند جماعة من المتفقهة بمدينة " صنعاء " في عصرنا هذا ، وصار كثير منهم يفعلون ذلك ! ولا أدري مَن وضعه لهم ، فقبَّح الله الكذابين" انتهى

Artinya: Hadits ini palsu (maudhuk), tidak diragukan lagi. Aku tidak menemukannya sedikitpun dari kitab-kitab yang disusun terkait hadits mauduk. Akan tetapi hadits ini masyhur di kalangan ahli fikih kota San'a di masa sekarang ini. Banyak dari mereka mengamalkannya. Aku tidak tahu siapa yang memalsukannya. Semoga Allah membuka aib para pembohong.

Hukum Shalat Jumat bersamaan dengan Hari Raya

Hukum Shalat Jumat  bersamaan dengan Hari Raya
Apabila hari raya idul fitri atau idul adha bertepatan dengan hari Jumat, apakah shalat Jumat tetap wajib dilaksanakan atau cukup diganti dengan shalat dzuhur saja?

HUKUM SHALAT JUM'AT BERTEPATAN DENGAN HARI RAYA IDUL FITRI DAN IDUL ADHA

Apabila shalat Jum'at bertepatan dengan hari raya lebaran Idul Fitri atau Idul Adha apakah shalat Jum'at tetap wajib dilaksanakan? Jawabnya: Shalat Jum'at tidak wajib dilaksanakan tapi boleh dilakukan. Namun, sunnah bagi imam untuk tetap melaksanakan shalat Jum'at apabila cukup jamaah untuk melaksanakan shalat Jum'at. Bagi yang sudah melaksanakan shalat idul fitri/adha dan tidak melaksanakan shalat Jum'at, maka wajib baginya melaksanakan shalat Dzuhur. Detailnya sebagai berikut:

DASAR HUKUM DALIL HADITS

Dalam hadits riwayat Bukhari, Usman bin Affan bersabda dalam sebuah khutbah hari raya:

أيها الناس إنه قد اجتمع عيدان في يومكم فمن أراد من أهل العالية أن يصلي معنا الجمعة فليصل، ومن أراد أن ينصرف فلينصرف

Artinya: Wahabi manusia, telah berkumpul dua hari raya pada hari ini. Apabila penduduk desa Aliya ingin shalat Jumat bersama kita, maka dia boleh shalat. Siapa yang ingin pulang (tidak ikut shalat Jumat), dia boleh pulang.


- Hadits sahih riwayat imam lima

فعن زيد بن أرقم قال: صلى النبي صلاة العيد ثم رخص في الجمعة فقال: من شاء أن يصلي فليصل"

Artinya: Dari Zaid bin Arqam ia berkata: Nabi shalat Hari Raya kemudian memberi keringanan (rukhsoh) dalam shalat Jum'at dan bersabda: Barangsiapa yang ingin shalat Jum'at, maka shalatlah.

- Hadits riwayat Abu Dawud

"قد اجتمع في يومكم هذا عيدان؛ فمن شاء أجزأه من الجمعة وإنا مُجَمّعُون

Artinya: Telah berkumpul pada hari ini 2 (dua) shalat ied (maksudnya Hari Raya dan Jum'at). Siapa yang suka, muka cukuplah dari shalat Jum'at karena kita sudah dikumpulkan.

- Hadits riwayat Abu Dawud

عيدان اجتمعا في يوم واحد؛ فجمعهما فصلاهما ركعتين بكرة، ولم يزد عليهما حتى صلى العصر

Artinya: Dua hari raya berkumpul dalam satu hari; Nabi mengumpulkannya dan shalat dalam 2 (dua) rakaat di pagi hari dan tidak menambahnya sampai tiba shalat Ashar.

PENDAPAT ULAMA FIQIH

- Al Syairazi dalam Al-Muhadzab, hlm. 4/358, menyatakan:

وإن اتفق يوم عيد ويوم جمعة فحضر أهل السواد فصلوا العيد جاز أن ينصرفوا ويتركوا الجمعة ; لما روي عن عثمان رضي الله عنه أنه قال في خطبته : " أيها الناس قد اجتمع عيدان في يومكم فمن أراد من أهل العالية أن يصلي معنا الجمعة فليصل ومن أراد أن ينصرف فلينصرف " ولم ينكر عليه أحد ، ولأنهم إذا قعدوا في البلد لم يتهيئوا بالعيد ، فإن خرجوا ثم رجعوا للجمعة كان عليهم في ذلك مشقة والجمعة تسقط بالمشقة .

ومن أصحابنا من قال : تجب عليهم الجمعة ; لأن من لزمته الجمعة في غير يوم العيد وجبت عليه في يوم العيد كأهل البلد ، والمنصوص في الأم هو الأول

Artinya: Apabila Hari Raya bertepatan dengan hari Jumat, lalu datang penduduk sawad kemudian mereka shalat Ied, maka boleh bagi mereka untuk pulang setelah shalat hari raya, dan meninggalkan shalat Jumat. Berdasarkan hadits dari Usman di mana Utsman berkhutbah: "Wahabi manusia, telah berkumpul dua hari raya pada hari ini. Apabila penduduk desa Aliya ingin shalat Jumat bersama kita, maka dia boleh shalat. Siapa yang ingin pulang (tidak ikut shalat Jumat), dia boleh pulang." Hadits ini tidak diingkari oleh seorangpun. Juga, karena apabila mereka duduk di suatu kota, maka mereka tidak siap untuk melaksanakan shalat Hari Raya. Apabila mereka pulang lalu kembali untuk Jumat, maka akan menimbulkan kesulitan (masyaqat) sedangkan kewajiban Jumat itu gugur karena adanya kesulitan. Sebagian ulama madzhab Syafi'i menyatakan: shalat Jumat tetap wajib. Karena, orang yang wajib Jumat di luar hari Raya, maka dia wajib juga shalat Jumat pada hari raya seperti penduduk setempat. Nash Imam Syafi'i dalam kitab Al-Umm adalah yang pertama.

- Ulama madzhab Syafi'i berkata

إن صلاة العيد تغني عن صلاة الجمعة لأهل القرى التي لا يوجد فيها عدد تنعقد بهم الجمعة ويسمعون الأذان من البلد الذي تقام فيه الجمعة، فيذهبون لصلاتها، ودليلهم قول عثمان في خطبته: أيها الناس إنه قد اجتمع عيدان في يومكم، فمن أراد من أهل العالية ـ قال النووي: وهي قريبة من المدينة من جهة الشرق ـ أن يصلي معنا الجمعة فليصل، ومن أراد أن ينصرف فليفعل

Artinya: (bagi yang melaksanakan) Shalat hari raya (tidak perlu melakukan) shalat Jum'at bagi ahli desa yang jamaahnya tidak cukup untuk melakukan shalat Jum'at dan mendengar suara adzan dari kota/daerah yang mendirikan shalat Jum'at. Dalilnya adalah pertakaan Utsman bin Affan: Wahai manusia dua hari raya telah berkumpul pada hari ini. Barangsiapa dari penduduk Alia --daerah sebelah timur Madinah-- yang hendak shalat Jum'at shalatlah. Barangsiapa yang tidak ingin shalat Jum'at, tidak apa-apa.

- Ulama madzhab Hanbali mengatakan:

من صلى العيد سقطت عنه الجمعة، إلا الإمام فلا تسقط عنه إذا وجد العدد الكافي لانعقاد الجمعة، أما إذا لم يوجد فلا تجب صلاة الجمعة،

Artinya: Barangsiapa yang shalat hari raya maka gugurlah shalat Jum'at kecuali imam maka tidak gugur baginya kewajiban Jum'at apabila menemukan jumlah jamaah yang cukup untuk sahnya Jum'at. Apabila tidak mencukupi, maka tidak wajib.

Imam Ahmad bin Hanbal (pendiri madzhab Hanbali) berkata:

أن الجمعة لو صليت أول النهار قبل الزوال أغنت عن العيد، بناء على أن وقتها يدخل بدخول وقت صلاة العيد

Artinya: Bahwa shalat Jumat apabila dilakukan pada awal siang sebelum tergelincir matahari maka tidak perlu melakukan shalat id (lebaran) berdasarkan pada dalil bahwa waktunya masuk dengan masuknya waktu shalat id.

01/05/18

Warisan Untuk Istri, Anak, Saudara, Cucu

Warisan Untuk Istri, Anak Perempuan Dan Cucu
WARISAN UNTUK ISTRI, ANAK PEREMPUAN DAN CUCU

Assalamualikum wr wb

Mohon pencerahan untuk kasus dimana ada sesorang laki-laki yang memilki harta tapi belum meninggal dan kuatir terjadi kisruh sehingga dia ingin bersiap diri perihal warisan.

Adapun dia memiliki keluarga sbb :

1. Istri
2. Tiga (3) anak perempuan
3. 3 cucu laki-laki
4. 1 cucu perempuan
5. 1 saudara kandung laki
6. 1 saudara kandung perempuan
7. 9 keponakan laki-lai
8. 11 keponakan perempuan

Mohon bantuan Bapak/Ibu sbb :

1. Perhitungan warisan secara islam

2. Apabila laki-laki tersebut ingin membagi warisannya hanya kepada istri dan anaknya sedang kepada yang lain lainnya hanya berupa pemberian/hibah apakah diperbolehkan?

3. Apabila laki-laki tersebut membuat wasiat yang besaran warisan tidak sama dengan hukum islam mana yang lebih kuat hukumnya untuk di aplikasikan?

Atas bantuannya kami ucapkan banyak terima kasih

JAWABAN

1. Pembagian warisan secara Islam dalam kasus di atas sbb:
(a) Istri mendapat 1/8 = 3/24
(b) 3 Anak perempuan mendapat 2/3 = 16/24
(c) Sisanya yang 5/24 dibagikan kepada kedua saudara kandung yang laki mendapat 2/3, sedangkan yang perempuan mendapat 1/3 (dari 5/24).

Penting: Pembagian di atas dengan asumsi ayah dan ibu lelaki itu sudah wafat. Kalau masih hidup, lain lagi cara pembagiannya.

Baca detail: Hukum Waris Islam

2. Tidak bisa. Pewaris tidak bisa menentukan siapa yang dapat apa dan berapa. Karena pembagian warisan dilakukan setelah pewaris wafat, maka yang berlaku adalah hukum waris. Apabila lelaki itu ingin ikut campur dalam pembagian harta, maka ia bisa melakukan hal itu saat ia masih hidup dengan menghibahkan seluruh hartanya pada siapa saja yang dia inginkan. Ini dibolehkan menurut Islam. Baca detail: Hibah dalam Islam

3. Pewaris bebas membuat wasiat dengan syarat: (a) tidak boleh lebih dari 1/3 dari total harta; (b) tidak boleh kepada salah satu ahli waris yang mendapat bagian kecuali disetujui oleh ahli waris yang lain. Baca detail: Wasiat dalam Islam

HUKUM WASIAT

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Seorang ayah memiliki 3 anak perempuan, dan memiliki 3 rumah dengan harga masing2 rumah 500jt, 800jt dan 1,5Milyar Sebelum meninggal sang ayah telah mewasiatkan masing2 rumah kepada anak2nya.
Setelah sang ayah meninggal bagaimana hukum warisnya untuk ketiga anak tersebut?
1. Apakah dilaksanakan sesuai dengan wasiatnya? Karena jika sesuai wasiat, pembagian hak waris tidak sesuai dengan hukum waris disebabkan nominal yg diterima masing2 anak berbeda.
2. Apakah seluruh rumah harus dijual terlebih dulu lalu dibagi sesuai pembagian hak ahli waris?

Mohon bantuannya bpk/ibu, terima kasih sebelumnya.

Wassalamu'alaikum Wr.Wb

JAWABAN

1. Wasiat kepada ahli waris hukumnya tidak sah. Kecuali apabila disepakati seluruh ahli waris. Kalau pun disetujui, maka wasiat tidak boleh lebih dari 1/3 total harta. Baca detail: Wasiat dalam Islam

2. Soal cara membagi harta warisan itu soal teknis yang bisa dimusyawarahkan dengan seluruh ahli waris. Yang prinsip dalam pembagian warisan adalah jumlah persentase bagian untuk masing-masing ahli waris. Baca detail: Hukum Waris Islam

WARISAN UNTUK ISTRI DAN ANAK KANDUNG

Assalamualaikum wr.wb.

Seorang ayah telah wafat 12 Desember 2016 dan meninggalkan warisan sebidang tanah. Adapun ahli waris & statusnya sebagai berikut:
1. Ibu meninggal
2. Ayah meninggal
3. Istri pertama masih hidup(cerai)
4. Istri kedua masih hidup
5. Dari istri pertama 4 anak kandung laki-laki, 1 anak kandung perempuan
6. Dari istri kedua 2 anak kandung laki-laki, 3 anak kandung perempuan.

Dimana sebelum ayah meninggal ayah pernah bicara pada anak perempuannya dari istri pertama perihal rencana jual tanah tersebut dan hasilnya untuk dibagi rata pada semua anak-anaknya sebelum ayah meninggal (menghindari rebutan warisan), yang mana semua surat-surat tanah yang pegang istri pertama.

Mohon penjelasan untuk pembagian warisannya.

Wassalamualaikum wr.wb.

JAWABAN

1. Dalam kasus di atas pembagiannya sbb:
(a) Istri kedua mendapat 1/8
(b) Sisanya yang 7/8 dibagikan kepada seluruh anak kandung dari istri pertama dan kedua. Di mana anak lelaki mendapat 2, sedangkan anak perempuan mendapat 1 bagian. Baca detail: Hukum Waris Islam

2. Rencana ayah yang hendak menjual tanah itu karena tidak terlaksana maka dianggap tidak ada. Karena hibah harus dilakukan saat masih hidup. Baca detail: Hibah dalam Islam

WARISAN UNTUK SUAMI DAN ANAK KANDUNG LELAKI DAN PEREMPUAN

Assalammualaikum wr, wb.

Kepada team alkhoirot konsultan hukum waris, Terkait dengan hukum waris mohon pencerahannya untuk kasus yang kami hadapi saat ini :

1. Seorang Ibu rumah tangga meninggal dunia dan meninggalkan keluarga Sbb :


1 Orang Suami

3 Orang Anak Laki - laki

2 Orang Anak Perempuan

2 Orang Saudari Sekandung (Uwa / Bibi)


2. 10 Tahun Kemudian Sang Kepala rumah tangga (Ayah) meninggal dunia dan meninggalkan keluarga Sbb :

Keluarga yang di tinggalkan

3 Orang Anak Laki - laki

2 Orang Anak Perempuan

2 Orang Saudari Sebapak

Mohon pencerahannya atas kondisi tersebut.

Wasalammualaikum wr, wb.


Terimakasih

JAWABAN

1. Dalam kasus pertama, pembagiannya sbb:
(a) Suami mendapat bagian 1/4
(b) Sisanya yang 3/4 dibagikan kepada kelima anak kandung di mana anak lelaki mendapat dua kali lipat dari anak perempuan. Jadi, ketiga anak lelaki masing-masing mendapat 2/8, sedangkan kedua anak perempuan masing-masing mendapat 1/8.
(c) 2 Saudari perempuan tidak mendapat warisan karena terhalang adanya anak.

Pembagian di atas dengan asumsi bapak dan ibu pewaris sudah wafat semua.

Baca detail: Hukum Waris Islam

2. Dalam kasus kedua, semua harta diberikan kepada seluruh anak kandung dengan cara yang sama dengan jawaban no. 1. Bedanya kali ini yang dibagi adalah seluruh harta.

Adapun saudara kandung tidak mendapat warisan karena terhalang.

Pembagian di atas dengan asumsi bapak dan ibu pewaris sudah wafat semua.

Baca detail: Hukum Waris Islam

18/04/18

Suami Mualaf Istri Jarang Shalat

Suami Mualaf Istri Jarang Shalat
RUMAH TANGGA: SUAMI MUALAF ISTRI JARANG SHALAT

Assallamuallaikum,saya laki laki berumur 32 tahun,saya menikah sudah 9 tahun dan di karuniai 2 orang anak umur 9 tahun dan 5 tahun berjenis kelamin perempuan,dalm usia saya menikah saya memiliki istri yang jarang sekali melaksanakan shalat,bila tidak diminta shalat ya dy tidak shalat sedangkan saya seorang mualaf,saya hanya mau istri saya mengajarjan saya mengaji karena saya mendambakan istri ya g sholeha.

suatu hari saya bertemu mantan saya yang memang saya pernah mencintainya karena dy rajin ibadah namun dy juga genit terhadap laki laki sampai saya pun di duakan dulu waktu pacaran,

setelah saya menikah dy mengharapkan saya kembali karena rumah tangga saya dinilai oleh nya lbh baik dari rumah tangganya, hari hari kuta kelahi ha ya membahas tentang mantan saya itu,

yang saya mau tanyakan apakah saya salah bila saya menceraikan istri saya dan memilih dy mantan saya karena saya tidak faham berdosa kah saya bila saya bersikap seperti itu. Mohon jawabannya agar dapat menenangkan hati saya

JAWABAN

Secara syariah Islam, tidak ada masalah bagi suami untuk menceraikan istrinya. Baca detail: Cerai dalam Islam

Apalagi kalau istri sering berbuat dosa seperti tidak rajin shalat yang merupakan pelanggaran berat dalam Islam. Baca detail: Dosa Besar dalam Islam

Namun demikian, anda juga perlu hati-hati dengan calon istri yang baru. Agar tidak terjadi lagi ketidakharmonisan rumah tangga. Baca juga: Cara Memilih Jodoh

SUAMI TAK BERI NAFKAH BATIN

Assalamualaikum

perkenalkan saya wanita
saya mau bertanya seputar permasalahan rumah tangga saya.

Saya telah menikah selama 5th dan telah dikaruniai seorang anak,akhir-akhir ini saya merasa tidak nyaman dgn rumahtangga saya pasalny sang suami tidak pernah memberikan nafkah bathin,dan apabila saya meminta pasti ada aja alasannya(ngantuklah,capeklah).
sebenarnya saya sudah berusaha untuk ikhlas tapi terkadang saya kecewa dengan sikapnya,entah apa yang ada dipikiran suami sehingga tidak punya niatan untuk memberikan nafkah bathin kepada saya.

saya beranggapan mungkin dia takut tidak bisa maksimal karena dia mengalami ejakulasi dini,tapi yang saya sayangkan dia tidak punya niatan untuk memperbaiki keadaan,dan dia suka sekali untuk menonton film BF(maaf).

lantas apa yang harus saya perbuat untuk menyelesaikan masalah ini??
saya telah mencoba berdiskusi dengan suami tapi dia tidak begithu menanggapi apa yang saya keluhkan.

Sebelumny terimakasih untuk jawabannya

Wassalamualaikum

JAWABAN

Pertama, sebaiknya anda bicarakan secara baik-baik dengannya bahwa anda sebagai istri sangat menginginkan nafkah batin. Ini agar diketahui suami dan agar suami mulai berfikir bahwa anda cukup tersiksa dengan keadaan ini.

Kedua, katakan pada suami bahwa yang anda inginkan adalah perlakuan sayang dari suami yang berupa pelukan, cumbuan, dan memanjakan. Dan bahwa hal itu tidak harus berakhir dalam hubungan intim (jangan singgung masalah ejakulasi dini).

Suami saat ini tampaknya sedang menderita masalah psikologis karena penyakit ejakulasi dini tersebut. Umumnya laki-laki yang mengalami penyakit serupa akan berusaha menyembunyikan perasaan menderitanya dengan berbagai kamuflase. salah satunya dengan menonton bf tersebut.

Untuk itu, kalau anda masih sayang padanya, maka anda harus bersabar. jangan menampakkan muka murung karena itu akan menambah beban pikirannya. Dan yakinkan dia bahwa anda masih sayang padanya apapun yang terjadi.Baca juga: Cara Harmonis dalam Rumah Tangga

Namun kalau anda sudah tidak lagi bisa bersabar, maka secara syariah anda bisa meminta cerai ke suami atau melakukan gugat cerai ke pengadilan agama. Baca detail: Cerai dalam Islam


SERING CEKCOK DENGAN SUAMI

Assalamualaikum
Saya mau bertanya, saya dan suami sering cekcok saat itu suami saya mengambil ijazah saya dengan paksa dengan cara membenturkan wajah saya ke wajahnya, setelah 2 bulan berlalu kami cekcok lagi hingga akhirnya saya ambil keputusan pergi meninggalkan suami saya karena hinaan dia atas anak saya sebelum pernikahan kami, saya tahu itu dosa buat saya, yang saya mau tanyakan apakah yang saya harus lakukan untuk memperbaiki pernikahan ini ?
Terimakasih wassalamualaikum

JAWABAN

Kalau anda masih ingin memperbaiki hubungan ini, maka sebaiknya anda selalu bersabar dan menghindari melawan ucapan suami. Selalu taat dan ijin pada suami setiap kali hendak melakukan sesuatu.
Baca detail:
- Cara Harmonis dalam Rumah Tangga
- Suami dan Orang tua: Mana yang Ditaati?

RUMAH TANGGA

Assalamualaikum ustad,
Saya ibu bekerja dari 3 orang anak. Suatu hari suami saya mengajak berhubungan intim namum karena kelelahan bekerja hingga pkl 22.00 malam saya tertidur. Suami marah besar dan mengirim pesan via whatsapp yang isinya: demi Allah saya tidak akan mengajak kamu berhubungan suami istri lagi.

Apakah dengan hal tersebut artinya sudah jatuh talak ustad? Terima kasih untuk jawabannya

JAWABAN

Sumpah yang diucapkan suami untuk tidak menggauli istrinya itu disebut ila'. Ila' semacam itu tidak jatuh talak. Apabila ternyata suami menggauli istrinya, maka ila' itu gugur dengan sendirinya dan suami wajib membayar kafarat (tebusan) sumpah. Kafarat sumpah sama dengan kafarat pelanggaran nadzar. Baca detail: Hukum Nadzar

Apabila suami tidak menggauli istrinya lebih dari 4 bulan, maka istri boleh meminta suami untuk menggaulinya atau menceraikannya. Baca detail: di sini

RUMAH TANGGA

Justru selama ini sy kerja pak ,apa yg sy dpt menutupi yg kurang dari suami .Pernah pakai kartu kredit dari bbrp kartu ,sy baru tutupi walau gk selesai semua spi saat ini .

1. Apakah ini termask secara ekonomi blm mampu biayai 2 rt ?
2. Dg kondisi ini apakah klo ada utang ,istri siri ikut nanggung juga atau tdk ? 3. Bila suami biayai 2 rt dg cara utang dg istri dlu artinya ditutupi biaya oleh istri2 nya ,apakah termasuk zolim atau tidak pak apakah ini dianggap mampu atau masih dianggap sesuai syar i ?
Syukron pak .

JAWABAN

1. Kalau suami tidak membiayai dua istri maka hendaknya dia tidak menikah lebih dari satu.

2. Tidak. Istri tidak bertanggungjawab hutang suami. Justru kalau dalam rumah tangga istri yang mengeluarkan uang, maka itu bisa dianggap hutang yang wajib dibayar oleh suami. Kecuali kali istri ikhlas. Baca detail: Suami Wajib Menafkahi Istri

3. Ya, suami telah berbuat zalim. Hukum menafkahi istri adalah wajib bagi suami dan menjadi hak istri. Kalau itu tidak dilakukan suami maka suami berbuat zalim. Baca detail: Hak dan Kewajiban Suami Istri