26/04/20

Yang Prinsip dalam Niat Ibadah

Yang Prinsip dalam Niat Ibadah
YANG TERPENTING DALAM NIAT IBADAH

Assalamualaikum

Saya mau tanya, jika niat itu adalah pembeda suatu ibadah yang satu dengan yang lainnya, apa hal yang paling minimal harus ada dalam niat ibadah ?

Selama ini saya berniat seperti ini pak ustadz :

-Untuk wudhu : Ya Allah saya wudhu
-untuk mandi wajib : ya Allah saya mandi wajib atau hanya mandi wajib karena Allah
-untuk sholat fardhu : ya Allah saya sholat zuhur
-sholat sunnah : ya Allah saya sholat tahiyatul mesjid
-untuk puasa ramadan : ya Allah saya puasa ramadan esok hari

Apakah niat saya diatas dibenarkan dan sah niatnya ?

JAWABAN

Semua niat yang anda ucapkan di atas sudah benar.

Sebagai tambahan, untuk shalat fardhu apabila dilakukan secara berjamaah dan jadi makmum, maka yang wajib adalah menyebutkan nama shalat (misalnya, zhuhur) dan menjadi makmum.

Baca detail:
- Cara Niat
- Niat Tanpa Nawaitu, apa sah?

CARA NIAT IBADAH (2)

1. Berarti untuk sholat boleh hanya "sholat zuhur" saja jika tidak jadi makmum dan jika jadi makmum "sholat zuhur jadi makmum" ?

2. Kalau untuk sholat sunat apakah harus sholat sunat duha atau hanya sholat duha saja ?

3. Sering saya temui di internet terkait niat mandi wajib ada beberapa artikel yang saya temui niat mandi wajibnya berganti menjadi niat mandi besar atau mandi junub, dan didalam artikel tersebut disebutkan juga bahwa jika niatnya berbeda tergantung penyebab hadastnya.

Ada juga yang tidak sama sekali menyebutkan mandi wajib, mandi besar ataupun mandi junub, tetapi niatnya "aku mengangkat hadas yang besar" (yang ini dapat dari video ust. Azhar idrus malaysia).

Pertanyaannya, apakah sama mandi wajib dengan mandi besar dan mandi junub itu ? Lalu bolehkah niat mandi wajib tanpa ada kalimat mandi wajib, mandi junub ataupun mandi besar ?

5. Masih terkait dengan no.4 tetapi jika diterapkan di wudhu apakah juga boleh niat seperti yang no.4 tersebut dengan hanya mengganti hadas besar menjadi hadas kecil ?

6. Yang saya pahami dari semua konsultasi saya, jika niat itu tidak perlu ada kata "saya niat", "karena Allah", dan jika sholat (fardhu dan sunah) tidak perlu ada kata "fardhu dan sunah".

Bisa niat dengan hanya
-"sholat zuhur atau saya sholat zuhur"
-"sholat duha atau saya sholat duha"
-"wudhu karena Allah atau saya wudhu"
-"mandi wajib karena Allah atau saya mandi wajib"

Apakah betul demikian pak ustadz ?

JAWABAN

1. Betul. Al-Malibari dalam Fathul Muin menyatakan:

(فيجب فيها) أي النية (قصد فعلها) أي الصلاة، لتتميز عن بقية الافعال (وتعيينها) من ظهر أو غيرها، لتتميز عن غيرها، فلا يكفي نية فرض الوقت.

Artinya: Di dalam niat shalat wajib a) bersengaja melakukan shalat (dengan mengatakan saya niat shalat) agar berbeda dari perbuatan yang lain; b) wajib menentukan nama shalat seperti Zhuhur atau lainnya. Maka tidak cukup "niat shalat fardhu".

Baca detail: Niat Tanpa Nawaitu, apa sah?

2. Shalat dhuha saja sudah cukup. Tapi kalau ditambah menjadi "shalat sunnah dhuha" juga baik (dianggap sunnah). Al-Jaziri dalam Al Fiqh alal Madzhahib Al Arba'ah menyatakan:

الشافعية قالوا: صلاة النافلة إما أن يكون لها وقت معين؛ كالسنن الراتبة، وصلاة الضحى، وإما أن لا يكون لها وقت معين، ولكن لها سبب، كصلاة الاستسقاء؛ وإما أن تكون نفلاً مطلقاً، فإن كان لها وقت معين، أو سبب، فإنه يلزم أن يقصدها ويعينها، بأن ينوي سنة الظهر مثلاً، وأنها قبلية أو بعدية؛ كما يلزم أن يكون القصد والتعيين مقارنين لأي جزء من أجزاء التكبير، وهذا هو المراد بالمقارنة والاستحضار العرفيين، وقد تقدم مثله في صلاة الفرض، ولا يلزم فيها نية النفلية، بل يستحب،

Artinya: Madzhab Syafi'i berpandangan bahwa shalat sunnah itu adakalanya (a) shalat yang punya waktu khusus seperti shalat sunnah rawatib dan shalat dhuha. (b) Adakalanya tidak punya waktu khusus tapi ada sebab seperti shalat istisqo'; (c) adakalanya shalat sunnah mutlak. Shalat sunnah waktu khusus atau punya sebab itu wajib berniat shalat dan menentukannya (menyebut nama shalat) seperti "Niat sunnah zhuhur" dan menyebut qabliyah atau ba'diyah. Wajib juga bersengaja (shalat) dan menentukan (nama shalat) yang keduanya bersamaan dengan salah satu bagian takbirotul ihram.Ini yang disebut dengan bersamaan dan menghadirkan yang uruf (umum). Tidak wajib niat sunnah, tapi sunnah mengucapkan kata "sunnah".

3. Mandi wajib, mandi besar dan mandi junub sama ketiganya. Yakni, kondisi di mana orang sedang mandi untuk menghilangkan hadas besar.

4. Jika berniat mandi wajib tanpa ada kalimat seperti yang dijelaskan di no.3 dibolehkan dan sah, berarti jika berniat mandi wajib hanya dengan "mengangkat hadast besar karena Allah", "bersuci dari hadas besar karena Allah" atau "menghilangkan hadas besar karena Allah" juga diperbolehkan ?

4. Ya, boleh.

5. Ya, boleh juga diterapkan di wudhu.

6. Betul.
Baca detail:
- Cara Niat
- Niat Tanpa Nawaitu, apa sah?

19/03/20

Hukum Bayi Tabung dalam Islam

Hukum Bayi Tabung dalam Islam
BAYI TABUNG DALAM ISLAM

Assalamu'alaikum Wr. Wb. Saya Sigit Ahmad Fauzan dari Universitas Indraprasta PGRI Ingin bertanya..

Melihat perkembangan zaman dan teknologi yang semakin berkembang, banyak fenomena yang terjadi seperti kasus bayi tabung, dimana orang bisa punya keturunan ataupun anak tanpa harus mengalami proses hamil. Misal seperti kasus almarhumah Julia Perez, beliau pernah ingin punya anak tapi karena rahimnya tidak kuat, karena faktor penyakit, sehingga mencari jalan pintas yaitu dengan cara bayi tabung, namun belum terwujud.

Bagaimanakah dalam pandangan agama tentang bayi tabung, jika itu berhasil? Apakah nantinya si bayi itu mempunyai hak waris atau tidak? Ulama mana yang membolehkan dan tidak, dalam kasus bayi tabung tersebut! Mohon penjelasannya. Terimakasih. Wassalamualaikum Wr. Wb

JAWABAN

Pertama, secara teknis, metode bayi tabung (Arab: atfal anabib - أطفال الأنابيب) atau inseminasi buatan (Arab: talqih shina'i) ada dua cara yaitu:

a) FERTILAZION INI Vitro (FIV) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri kemudian di proses di vitro (tabung) dan kemudian kalau sudah terjadi pembuahan lalu ditranfer di rahim istri.

b) Gamet Intra Felopian Tuba (GIFT) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri dan setelah dicampur terjadi pembuahan, maka segera ditanam di saluran telur (Tuba palupi).

Kedua, dua metode bayi tabung di atas dibolehkan dengan syarat,
a) sperma pria dan ovum/mani wanita yang dimasukkan ke dalam alat berasal dari pasangan suami istri yang sah. Tidak boleh sperma dari pria dan ovum wanita yang tidak ada hubungan suami istri.

b) Hasil inseminasi tidak boleh diletakkan di rahim wanita lain. Harus ditaruh di rahim ibunya sendiri / pemilik ovum. Walaupun wanita lain itu adalah salah satu istri si pria.

Hal ini berdasarkan pada
a) dalil umum haramnya berzina pada QS Al-Isra 17:32.
b) Hadis Nabi atas haramnya meletakkan mani pria di rahim wanita bukan istrinya sebagaimana terdapat dalam Al-jami’ul Shoghir hadis no. 8030

شرك أعظم عند الله من نطفة وضعها رجل فى رحم لايحل له. رواه ابن الدنا عن الهشيم بن مالك الطائ الجامع الصغير

Artinya: Tidak ada dosa yang lebih besar setelah syirik (menyekutukan Allah ) disisi Allah dari pada maninya seorang laki-laki yang ditaruh pada rahim wanita yang tidak halal baginya. (HR. Ibnu Abid-dunya dari Hasyim bin Malik al-thoi).

Dan hadis sahih sebagaimana disebut dalam kitab Hikmat Tasyri’ wa Sifatuhu, hlm. 2/48 Nabi bersabda:

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يسق ماءه زرع غيره

Artinya: Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali menyiram air (maninya ) pada lahan tanaman (rahim) orang lain.

Cara mengeluarkan sperma harus dengan cara yang muhtarom artinya dibolehkan secara syariah.
Al-Hashni dalam Kifayah al-Akhyar fi Hilli Ghayah al-Ikhtishar, hlm. 1/478, menyatakan:

(فَائِدَةٌ) لَوِ اسْتَمْنَى الرَّجُلُ مَنِيَّهُ بِيَدِ امْرَأَتِهِ أَوْ أَمَتِهِ جَازَ ِلأَنَّهَا مَحَلُّ اسْتِمْتَاعِهَا

Artinya: Seandainya seorang lelaki berusaha mengeluarkan spermanya (beronani) dengan tangan istrinya , maka hal tersebut boleh karena istri itu memang tempat bersenang-senangnya.

Hal ini dijelaskan dengan lebih detail dalam kitab Bujairami Iqna’, hlm. 4/36, sbb:

المراد بالمنى المحترام حال خروجه فقط على ما اعتمده مر وان كان غير محترم حال الدخول، كما اذا احتلم الزوج وأخذت الزوجة منيه فى فرجها ظانة أنه من منىّ اجنبى فإن هذا محترم حال الخروج وغير محترم حال الدخول وتجب العدة به إذا طلقت الزوجة قبل الوطء على المعتمد خلافا لإبن حجر لأنه يعتبر أن يكون محترما فى الحالين كماقرره شيخنا.

Artinya: (Kesimpulan) yang dimaksud mani muhtarom (mulia) adalah pada waktu keluarnya saja, seperti yang dikuatkan Imam Romli, meskipun tidak muhtarom pada waktu masuk. Contoh: suami bermimpi keluar mani, dan istrinya mengambilnya (air mani tersebut) lalu dimasukan ke farjinya dengan persangkaan, bahwa air mani tersebut milik laki-laki lain (bukan suaminya) maka hal ini dinamakan mani muhtarom keluarnya, tapi tidak muhtarom waktu masuknya ke farji, dan dia wajib punya iddah (masa penantian) jika suaminya menceraikan sebelum disetubui. Menurut yang mu’tamad, berbeda dengan pendapatnya imam Ibnu Hajar yang mengatakan, kriterianya harus muhtarom keduanya (waktu masuk dan keluar) seperti ketetapan dari Syaikhuna (Rofi’i Nawawi).

Pendapat di atas berdasarkan hasil keputusan KEPUTUSAN MUNAS ALIM ULAMA
Di Kaliurang Yogyakarta Pada Tanggal 30 Syawal 1401 H. / 30 Agustus 1981 M sebagaimana dimuat di buku Ahkamul Fuqaha no. 331

Selanjutnya pada 1986 terdapat Hasil Keputusan Akademi Fikih Islam Dunia (Majmak Al-Fiqh Al-Islami) yang diadakan di Makkah, Arab Saudi, pada 8-13 Sofar 1407 H; 11 s/d 16 Oktober 1986 dan dimuat di Majallah Al-Majmak, edisi 3/1/423, menjelaskan sbb:

بعد استعراضه لموضوع التلقيح الصناعي " أطفال الأنابيب " ، وذلك بالاطلاع على البحوث المقدمة ، والاستماع لشرح الخبراء والأطباء ، وبعد التداول تبين للمجلس : "أن طرق التلقيح الصناعي المعروفة في هذه الأيام هي سبع :

الأولى : أن يجرى تلقيح بين نطفة مأخوذة من زوج وبييضة مأخوذة من امرأة ليست زوجته ثم تزرع اللقيحة في رحم زوجته .

الثانية : أن يجرى التلقيح بين نطفة رجل غير الزوج وبييضة الزوجة ثم تزرع تلك اللقيحة في رحم الزوجة .

الثالثة : أن يجرى تلقيح خارجي بين بذرتي زوجين ثم تزرع اللقيحة في رحم امرأة متطوعة بحملها .

الرابعة : أن يجرى تلقيح خارجي بين بذرتي رجل أجنبي وبييضة امرأة أجنبية وتزرع اللقيحة في رحم الزوجة .

الخامسة : أن يجرى تلقيح خارجي بين بذرتي زوجين ثم تزرع اللقيحة في رحم الزوجة الأخرى .

السادسة : أن تؤخذ نطفة من زوج وبييضة من زوجته ويتم التلقيح خارجيا ثم تزرع اللقيحة في رحم الزوجة .

السابعة : أن تؤخذ بذرة الزوج وتحقن في الموضع المناسب من مهبل زوجته أو رحمها تلقيحا داخليّاً .

وقرر :

أن الطرق الخمسة الأول كلها محرمة شرعا وممنوعة منعا باتا لذاتها ، أو لما يترتب عليها من اختلاط الأنساب ، وضياع الأمومة ، وغير ذلك من المحاذير الشرعية .

أما الطريقان السادس والسابع فقد رأى مجلس المجمع أنه لا حرج من اللجوء إليهما عند الحاجة مع التأكيد على ضرورة أخذ كل الاحتياطات اللازمة " انتهى .

Artinya: Setelah meninjau topik seputar inseminasi buatan "bayi tabung" dan meninjau pembahasan yang lain dan mendengar penjelasan para pakar dan dokter dan setelah diskusi maka menjadi jelas bagi majlis bahwa metode inseminasi buatan atau bayi tabung yang populer di zaman ini ada tujuh cara:

Yang pertama: melakukan inokulasi antara sperma yang diambil dari seorang suami dan sel telur yang diambil dari seorang wanita yang bukan istrinya, dan kemudian ditanamkan di dalam rahim istrinya.

Yang kedua: Bahwa penyerbukan terjadi antara sperma lelaki selain dari suami dan sel telur isteri, maka penyerbukan itu ditanamkan di dalam rahim isteri.

Yang ketiga: bahwa pembuahan eksternal dilakukan di antara benih pasangan yang sudah menikah, dan kemudian penyerbukan ditanamkan di dalam rahim wanita sukarelawan (surrogate) yang mengandungnya.

Keempat: vaksinasi eksternal dilakukan antara benih pria asing dan telur wanita asing, dan hasilnya ditanamkan di dalam rahim istri.

Kelima: bahwa pembuahan eksternal dilakukan antara benih pasangan yang sudah menikah, dan kemudian hasilnya ditanamkan di dalam rahim istri yang lain.

Keenam: mengambil sperma dari suami dan telur dari istrinya, dan penyerbukan dilakukan secara eksternal, dan kemudian hasilnya ditanamkan di dalam rahim istri.

Ketujuh: Benih suami diambil dan disuntikkan ke posisi yang sesuai dari vagina atau rahim istrinya.

Dari praktek yang terjadi di atas, Majelis memutuskan:

Bahwa lima metode pertama semuanya dilarang oleh hukum dan dilarang keras untuk diri mereka sendiri, atau karena percampuran garis keturunan, kehilangan peran sebagai ibu, dan tindakan pencegahan hukum lainnya.

Adapun jalan keenam dan ketujuh, dewan melihat bahwa tidak ada yang salah dengan menggunakan jalan itu saat dibutuhkan, sambil menekankan perlunya mengambil semua tindakan pencegahan yang diperlukan.

KESIMPULAN

Bayi tabung atau inseminasi buatan adalah boleh dengan syarat:
a) Sperma berasal dari suami dan ovum dari istri yang sah.
b) Hasil bibit harus ditanamkan di rahim istri. Tidak boleh ditaruh di rahim perempuan lain.

Baca juga: Menikahi Wanita Hamil Zina, Bolehkah?

29/02/20

Hukum dan Cara Menyucikan Najis di Lantai

NAJIS DI LANTAI:

Bismillah.

Assalamu'alaikum.

Beberapa bulan ini saya dilanda was-was luar biasa. Sehingga membuat hati saya terasa sesak dan sedih. Karena ada beberapa kejadian yang saya tidak tahu/ragu harus mengambil sikap bagaimana. Sampai saat ini saya belum punya guru yang bisa ditanyai perkara fiqih. Jadi saya hanya mengandalkan apa yang saya baca dan pahami semampu saya.

Yang ingin saya konsultasikan:

1. Dulu pernah ada keponakan yang kencing di kasur saya. Namun, saya tidak ingat apakah kencing itu mengenai kasur atau sprei saja. Saya juga tidak tahu dan ingat sudah disucikan dengan benar atau tidak. Saya tanya ibu saya sudah dibersihkan sepertinya. Biasanya memang kalau ada najis langsung dibersihkan. Namun saya ragu sudah dengan cara yang benar atau tidak dilakukan oleh mereka. Dan saya khawatir ada atau tidak rembesan kencing terkena di kasur. Saya cek tidak ada lagi bau kencing di segala sisi kasur. Jika warna tidak bisa dilihat karena kasurnya hitam. Apa yang harus saya lakukan? Saya jadi was-was setiap mengenai kasur dalam keadaan kaki basah. Apa solusi terbaik dan pandangan 4 mazhab terhadap status kasur saya tersebut dan cara utk mengatasi rasa was-was saya ini?

2. Selain itu, di kasur lainnya di rumah, kakak saya sepertinya pernah membersihkan bekas kencing dengan menggunakan air pewangi. Sehingga tidak ada lagi bekas dan warna najisnya. Bagaimana status kasurnya dan sah kah cara membersihkannya. Bagaimana sebenarnya pandangan islam menurut 4 madzhab mengenai najis di kasur, pakaian atau kain?

3. Bagaimana hukum mengelap lantai yang ada najis seperti kencing atau kotoran balita. Saya pernah baca menurut madzhab hanafi sah. Karena di rumah, kakak saya pernah membersihkan najis dengan kain kering hingga hilang bekasnya dan mengelap lagi dengan kain basah hingga hilang tidak ada lagi baunya. Saya selalu was-was tentang hal ini. Saya takut berdampak pada sah tidaknya wudhu dan sholat saya. Apakah cara tersebut dibenarkan dalam islam?


Jazakillah khoiron.

JAWABAN

1. Kalau di kasur anda tidak ada najis yang terlihat, maka berarti kasur anda suci. Dalam keadaan di mana suatu benda suci diduga terkena najis tapi tidak ada bukti najis, maka statusnya kembali ke status awal yaitu suci. Baca detail: Saat Ragu, Status Benda kembali ke Hukum Asal

Kalau toh seandainya di kasur itu ada rembesan kencing, maka najis kencing yang tidak kelihatan lagi disebut najis hukmiyah. Najis hukmiyah menurut madzhab Maliki tidak menular najisnya. dengan kata lain sudah dianggap suci. Baca detail: Najis Hukmiyah Madzhab Maliki

2. Setiap benda suci yang terkena najis maka hukumnya menjadi najis (mutanajis). Adapun cara menyucikannya harus (a) dibuang benda najisnya; dan (b) tempat najis tsb dibasuh dg air. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

Jadi, cara yang dilakukan kakak anda itu tidak benar. Karena air yang digunakan harus air mutlak, bukan air/cairan pewangi. Baca detail: 4 Macam Air

Namun sekali lagi, apabila bekas najisnya sudah tidak ada, maka ia menjadi najis hukmiyah yang hukumnya tetap najis tapi tidak menularkan najis menurut madzhab Maliki. Baca detail: Najis Hukmiyah Madzhab Maliki

3. Seperti disebut di no.2, cara menyucikan najis ada dua tahap: a) membuang najisnya yg bisa dilakukan dg tisu atau kain; b) menyiram bekas najis dengan air suci dan menyucikan. Baca detail: 4 Macam Air

Pendapat madzhab Hanafi dan Maliki tidaklah berbeda secara prinsip dengan cara di atas, terutama poin (a). Hanya saja, untuk poin (b) madzhab Hanafi membolehkan mengusap (al-masah), tidak harus menyiram (al-ghusl). Mengusap di sini maksudnya, tangan atau kain yang basah diusapkan pada tempat najis itu sudah cukup bisa menyucikan.

Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 2/621, menjelaskan perbedaan madzhab empat soal ini:

إذا أصابت النجاسة شيئاً صقيلاً كالسيف والسكين والمرآة ونحوها لم تطهر بالمسح ولا تطهر إلا بالغسل كغيرها، وبه قال أحمد وداود، وقال مالك وأبو حنيفة: تطهر بالمسح.

Artinya: Apabila ada najis yang mengenai benda seperti pedang, pisau, kaca, dll maka tidak bisa suci hanya dengan diusap saja kecuali dengan dibasuh sebagaimana (cara menyucikan najis) yg lain. Ini juga pendapat Ahmad bin Hanbali (madzhab Hanbali) dan Dawud. Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah menganggap suci dengan diusap saja. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan


KARENA WAS-WAS JADI BOROS KONSUMSI AIR

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Akhir-akhir ini saya sangat boros menggunakan air di kamar mandi rumah saya karena was-was bahwa ada bagian tubuh yang masih belum bersih saat istinja. Pertanyaannya:

a. Saat istinja dari buang air besar dan kecil, biasanya akan ada percikan / terkena air cebok tadi di paha dan betis saya. Apakah air yang mengenai paha dan betis saya itu suci? Haruskah air bekas cebok yang mengenai saya tadi dibasuh juga? Lalu, jika saya siram, biasanya percikannya akan mengenai dinding kamar mandi dan dinding bak. Apakah dinding kamar mandi dan dinding baknya juga harus dibasuh? Jika saya ke kamar mandi lagi dan bagian tubuh saya terkena dinding kamar mandi yang belum disiram itu, apakah saya juga terkena najis?

b. Jika saya menyiram kaki kanan dari percikan kencing, lalu kemudian air basuhan itu mengenai kaki kiri, apakah kaki kiri saya jadi ikut bernajis? Lalu, jika saya menyiram kaki kiri, lalu percikannya malah mengenai kaki kanan, apakah kaki kanan saya jadi bernajis lagi?

c. Saya was-was saat cebok dari buang air kecil, dan saya sering berusaha memasukkan sedikit air ke dalam (maaf) lubang kemaluan saya supaya lebih bersih. Apakah tindakan saya salah?

Terima kasih atas perhatiannya.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

JAWABAN

A. Percikan yang sedikit dari najis hukumnya dimakfu (dimaafkan). Dimakfu artinya tidak masalah. Baca detail: Percikan Kencing Najis yang Dimakfu

B. Sama dengan jawaban A. Hukum dari najis yang sedikit itu dimaafkan. Dimakfu itu mirip dengan suci.

C. Salah. Yang wajib dibasuh dalam cebok adalah bagian luarnya saja. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan



08/02/20

MURTAD SELINTAS BAGAIMANA HUKUMNYA?

MURTAD SELINTAS BAGAIMANA HUKUMNYA?

Assalaamu'alaikum wr.wb,

Alhamdulillaah, jazaakumullaah khayran katsiiran atas tersedianya akun konsultasi ini. Semoga menjadi jalan manfaat untuk Ummat.

Ustadz, izinkan saya bertanya mengenai hal yang sangat privasi dan urgent menurut saya. Saya seorang perempuan usia 24 tahun, baru menikah beberapa hari lalu. Sebelum menikah, saya memang pernah memiliki penyakit was was sejak SD, namun sudah sembuh saat SMA. Was was saat itu lebih kepada was was ibadah, misal saat wudu.

Namun, seiring berjalannya waktu, tepatnya saat kuliah, saya merasa was was saya bergeser ke arah akidah. Saya kurang faham apakah ini sekedar bisikan syaitan atau Saya memang sudah murtad. Karena pada dasarnya, Saya selalu bertekad akan beriman sampai mati, dan enggan meninggalkan diin ini.

Saya bisa bersyahadat berkali-kali setiap harinya ketika tiba" ada yang terbesit dalam hati dan mengarah kepada kekafiran. Namun, itu terjadi seketika. Misal, saya membaca terjemahan Al-Quran, tiba-tiba terlintas ragu. Namun, sesaat itu saya beristighfar dan kembali bersyahadat. Demikian pula saya pernah tiba-tiba latah dalam hati seolah-olah menghina Allah, 'auudzubillaahimin dzaalik. Tapi, seketika itu saya insyaf dan bersyahadat lagi. Saya selalu rutin dzikir pagi petang, tahajud, baca Quran. Tapi mengapa bisa begini?

Pikiran ini sangat mengganggu, ustadz. Apalagi Saya sudah menikah. Saya takut apakah pernikahan saya bisa fasakh karena ini. Bahkan, untuk lebih meyakini, saya kini setiap hari masih mencari jawaban agar mantap.

Pernah Saya membaca sebuah artikel bahwasanya ini bukanlah murtad, tapi was was. Karena ada hadits bahwasanya Allah memaafkan apa yang terlintas di hati selagi tidak diucapkan dan dilakukan.

Maka, pertanyaan Saya, apakah ini murtad karena keraguan atau was was saja? Adakah batasan waktu sehingga orang bisa dicap murtad? Apakah ragu" / terbesit keraguan hanya dalam beberapa saat masuk ke dalam kategori murtad?

Demikian pertanyaan saya, semoga Allah menjaga Saya dan tetap menjadikan Saya Muslimah sampai wafat nanti. Aamiin, Allaahummaa aamiin..

JAWABAN

Yang anda alami adalah was-was. Apalagi anda sudah pernah mengalami was-was dulunya. Dan cara mengobatinya adalah dengan mengabaikannya sama sekali. Karena, semakin dipikir, bisikan itu akan terus ada dan semakin menjadi obsesi. Baca detail: Cara Sembuh Was-was Najis, Wudhu, Mandi, Shalat

Betul apa yang pernah anda baca, bahwa jalannya pikiran tidak berakibat murtad. Apalagi kalau itu tidak sampai terucap. Baca detail: Hukum Lintasan Hati

Perlu juga diketahui, bahwa murtad itu adalah perbuatan atau ucapan yang menimbulkan murtad yang dilakukan dengan sukarelanya hati. Kalau ucapan atau perbuatan penyebab murtad itu dilakukan karena terpaksa atau karena was-was maka tidak jatuh ke dalam kategori murtad. Ini terutama bagi penderita OCD. Di mana anda tampaknya salah satu penderita OCD tsb. Baca detail: Was-was karena OCD



WAS-WAS AKIDAH

Assalamu'alaikum.Saya penderita was-was yang parah,dan kadang karena saya was-was,muncul rasa ketakutan aneh-aneh.Misalnya,Ka'bah berwarna hitam,lalu akibat rasa ketakutan aneh-aneh saya,saya mempunyai anggapan jika saya menginjak warna hitam berarti saya telah menginjak Ka'bah.Tentunya anggapan saya ini muncul bukan karena saya memang ingin menginjak Ka'bah lalu saya menganalogikan jika menginjak warna hitam sama saja menginjak Ka'bah,tapi analogi aneh-aneh tersebut muncul karena saya memang memiliki penyakit mental.Dan kadang cara melawan penyakit aneh saya adalah dengan cara menginjak warna hitam sambil merasa marah dan berkata dalam hati "dasar analogi aneh!dasar analogi aneh".Saya sangat takut sekali jika ternyata saya telah murtad,sehingga selesai Sholat saya Istighfar dan membaca 2 kalimat Syahadat (saya berpikir jika saya ternyata telah murtad toh saya juga sudah Taubat dengan cara Istighfar dan bersyahadat).Yang ingin saya tanyakan,jika saya suatu hari menginjak warna hitam,apakah analogi aneh saya Dianggap oleh Allaah sehingga saya berarti ingin menginjak Ka'bah?

JAWABAN

Cara sembuh dari was-was apapun adalah abaikan. Berpalinglah darinya. Jangan dipikir. Baca detail: Cara Sembuh Was-was

Baca juga: Cara Sembuh Was-was Najis, Wudhu, Mandi, Shalat

NAJIS:

Bismillah
Assalamu'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh

1. Dulu pernah ada keponakan saya muntah dan sudah saya bersihkan semua pakaiannya ternyata setelah bilasan terakhir masih ada satu pakaian yang ada kotoran yang melekat kuat dan harus dikerik. Padahal saya sudah berusaha keras membersihkannya namun ada satu pakaian yang masih ada satu kotoran yg tidak terlihat sebelumnya. Saat itu saya pernah dengar kalau muntah najis. Saya jadi takut tentang keadaan pakaian lain yang ikut tercuci bersama pakaian bekas muntahan sedikit itu. Jadi saya hanya cuci ulang yang ada bekas sisa muntah dan yang lain langsung dijemur. Karena keadaan air saat itu tidak ada tercemar oleh bekas sisa muntah yang sedikit itu, karena memang bekas muntahnya sedikit sekali dan melekat kuat (tidak lepas dan menyatu dengan air). Namun, setelah saya belajar dan baca lebih lanjut ada pendapat kuat bahwa muntah tidak najis. Lalu saya berubah dan menguatkan pendapat ini. Yang saya ingin tanyakan bagaimana status pakaian saya yang lainnya yg saya yakini tidak tercemar dengan muntahan? Apa hukumnya saa berpindah pendapat dan apakah memengaruhi pendapat sebelumnya?

2. Di rumah saudara saya punya anak kecil yang dulu pernah kencing di lantai sembarangan dan ada pelihara kucing yang pernah buang kotoran sembarangan. Saya tidak tahu apa mereka sudah membersihkan dengan tepat atau belum. Bagaimana sikap saya seharusnya?

3. Apa hukumnya bila saya berganti atau berpindah pendapat dari 4 madzhab? Misalnya seperti dalam hal masalah najis. Dalam satu kasus mengikut pendapat madzhab Hanafi dan dalam kasus lain mengikuti pendapat madzhab lainnya. Yang terkadang pendapat para imam madzhab terlihat berbeda jauh. Tujuan saya bukan ingin meringan-ringankan diri dalam perkara agama. Saya hanya ingin melawan rasa was-was dengan berpegang pada pendapat lain yang kiranya bisa sesuai dan menguatkan masalah saya. Karena sudah beberapa waktu belakangan ini saya terkena was-was yang membuat hati saya sempit. Apakah cara tersebut sah dan tidak dianggap berdosa? Atau apakah ada baiknya jika setelah itu saya mencari guru dan belajar satu madzhab saja, kemudian konsisten terhadapnya?

Jazakallah khoiron
Semoga Allah memberikan banyak keberkahan dan rahmat kepada tim Al Khoirot. Aamiin.

JAWABAN

1. Anda tidak menjelaskan cara mencuci baju-baju itu bagaimana? Apakah dicuci satu-satu lalu dibasuh di kran atau dicampur dalam satu ember yang ada airnya lalu kemudian dibilas satu-satu? Apapun itu, cara cuci baju yang benar apabila ada salah satu baju yang ada najisnya, maka baju itu harus dipisah, lalu dicuci tersendiri pakai air baru setelah itu dimasukkan ke ember dg baju yang lain. Baca detail: Cara Cuci Baju di Mesin Cuci

Terkait soal muntah, baca detail: Muntah

Terkait soal ikut pendapat lain atau madzhab lain, itu dibolehkan. Apabila ada pendapat yang menyatakan suci. Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab

2. Kalau najis kencing atau kotoran kucing itu sudah tidak terlihat, maka statusnya menjadi najis hukmiyah apabila masih belum disiram air. Status najis hukmiyah ada dua: a) madzhab Syafi'i menyatakan masih menularkan najis apabila basah; b) madzhab Maliki menyatakan tidak lagi menularkan najis walaupun basah. Anda bisa ikut pendapat kedua ini. Baca detail: Najis Hukmiyah Kering Terkena Benda Basah Menurut Madzhab Maliki

3. Boleh ikut pendapat madzhab yang berbeda apabila dibutuhkan. Apabila dapat memberi solusi pada masalah yang sedang dihadapi. baik masalah was-was atau masalah yang terjadi di lingkungan sekitar.
Baca artikel berikut untuk lebih detail:
- Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab
- Hukum Ganti Madzhab

26/01/20

Sedekah dan Zakat dengan Harta Haram

Sedekah dan Zakat dengan Harta Haram
MENGGUNAKAN HARTA HALAL BERCAMPUR HARAM UNTUK ZAKAT DAN SEDEKAH

Sebelumnya saya menemukan jawaban di alkhoirot.net tentang hal yang ingin saya ketahui, yakni tentang hukum laba dari modal haram. Jawabannya tertulis di alkhoirot.net bahwa ada perbedaan pendapat dari para ulama, yang saya garis bawahi menurut pendapat Imam Syafi'i laba tersebut merupakan hak pelaku (si pencuri atau penghosob) dan dihukumi halal, saya mengikuti pendapat tersebut.

1. Pertanyaannya jika kita belum atau tidak mengembalikan modal haram tersebut, kemudian kita hanya mengambil labanya saja sesuai prosentasenya, hukumnya apa ? Halal/haram/makruh, karena ada harta yang bercampur disitu yaitu modal (haram) dan laba (halal) yang mungkin bisa syubhat.

Saya mengambil laba tersebut juga untuk memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga selain itu untuk shadaqah dan zakat. Apakah boleh dan sah shadaqah juga zakatnya ?


2. Barang yang dibeli dari harta haram (hasil mencuri, korupsi dan lainnya)/ barang curian yang kemudian digunakan untuk bekerja dan dari hasil pekerjaan tersebut mendapatkan gaji/keuntungan.
Hukum gaji/keuntungan tersebut apa ? halal/haram/makruh

Sedangkan harta haram yang digunakan untuk membeli barang tersebut belum dikembalikan atau barang tersebut belum dikembalikan, apakah masuk kategori tercampur antara halal dan haram yang mungkin dihukumi syubhat

Hal ini mirip seperti pertanyaaan diatas.

Saya menggunakan harta tersebut untuk kebutuhan pribadi, keluarga selain itu untuk shadaqah dan zakat.
Apakah boleh dan sah shadaqah juga zakatnya?

Contoh:

-Motor yang dibeli dari harta haram, dan digunakan untuk ngojek kemudian saya mendapatkan uang dari situ.

-Laptop yang dibeli dari harta haram kemudian digunakan untuk bekerja sebagai desainer dan mendapat gaji.

Hukum gaji/keuntungannya? dan belum mengembalikan uang haram tersebut.

3. Hukum menggunakan harta yang disitu bercampur antara halal dan haram ?

Selain itu harta halal yang terindikasi tercampur harta haram tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga, bersedekah, zakat.
Apakah boleh dan sah sedekah dan zakat tersebut ?

4. Semua pertanyaan diatas apakah masuk pada ikhtilaful ulama/ furu'iah, yang masing-masing ulama bisa berpeda pendapat atau berbeda menghukuminya? Kalau iya baiknya saya mengikuti pendapat yang mana.

NB:
Saya sedang dalam proses bertaubat tapi masih bingung dengan persoalan tersebut, karena saya juga mengamati kasus seperti diatas banyak ditemui/lazim di masyarakat dan belum tuntas dalam penyelesainnya.

Apa yang harus dilakukan sedangkan saya gak benar-benar terpisah dari hal yang saya tanyakan diatas ? walaupun saya sudah berganti pekerjaan yang dulunya di Pemerintahan dan Partai Politik, tapi sisa-sisa harta yg saya dapatkan dulu masih ada baik berupa uang atau pun benda ?

JAWABAN

1. Kalau yang digunakan adalah labanya maka sah sedekah dan zakatnya. Karena hukum labar dari modal harta haram adalah halal sebagaimana yang sudah anda baca. Baca detail: Bisnis Halal dari Modal Harta Haram

2. Halal. Baca detail: Bisnis Halal dari Modal Harta Haram

Untuk harta haram yang belum dikembalikan atau dikeluarkan, maka anda berkewajiban untuk melakukannya apabila memungkinkan sebagai tahapan untuk menyucikan harta anda. Baca detail: Hukum Harta Syubhat dan Cara Membersihkan Harta Haram

3. Menggunakan harta yang bercampur antara halal dan haram hukumnya boleh. Baca detail: Hukum Harta Syubhat dan Cara Membersihkan Harta Haram

Terkait zakat dan sedekah dengan harta haram maka hukumnya tidak sah. Kalau memang harta haram tersebut tidak lagi dibutuhkan, maka sebaiknya anda keluarkan seluruh harta haram tersebut dg rincian: a) kalau harta itu milik orang lain (hasil mencuri) maka kembalikan pada pemiliknya; b) kalau harta itu tidak pemiliknya (seperti harta riba), maka hendaknya dikeluarkan dan diberikan pada yayasan sosial (masjid, pesantren, anak yatim) atau orang miskin. Dalam kitab Al-Mausuah Al-Fiqhiyah (Eksikolopedi Fikih), hlm. 23/248, dijelaskan secara rinci pandangan ulama 4 madzhab:


المال الحرام كالمأخوذ غضبا أو سرقة أو رشوة أو ربا أو نحو ذلك ليس مملوكا لمن هو بيده , فلا تجب عليه زكاته ; لأن الزكاة تمليك , وغير المالك لا يكون منه تمليك ; ولأن الزكاة تطهر المزكي وتطهر المال المزكى لقوله تعالى : ( خذ من أموالهم صدقة تطهرهم وتزكيهم بها ) وقال النبي صلى الله عليه وسلم: ( لا يقبل الله صدقة من غلول ) .
والمال الحرام كله خبث لا يطهر .
والواجب في المال الحرام رده إلى أصحابه إن أمكن معرفتهم وإلا وجب إخراجه كله عن ملكه على سبيل التخلص منه لا على سبيل التصدق به , وهذا متفق عليه بين أصحاب المذاهب .
قال الحنفية : لو كان المال الخبيث نصابا لا يلزم من هو بيده الزكاة ; لأنه يجب إخراجه كله فلا يفيد إيجاب التصدق ببعضه .
وفي الشرح الصغير للدردير من المالكية : تجب الزكاة على مالك النصاب فلا تجب على غير مالك كغاصب ومودَع .
وقال الشافعية كما نقله النووي عن الغزالي وأقره : إذا لم يكن في يده إلا مال حرام محض فلا حج عليه ولا زكاة , ولا تلزمه كفارة مالية .
وقال الحنابلة : التصرفات الحكمية للغاصب في المال المغصوب تحرم ولا تصح , وذلك كالوضوء من ماء مغصوب والصلاة بثوب مغصوب أو في مكان مغصوب , وكإخراج زكاة المال المغصوب , والحج منه , والعقود الواردة عليه كالبيع والإجارة " انتهى .

Artinya: "Harta haram itu sama dengan harta yang diambil secara ilegal seperti karena ghosob, mencuri, suap, riba, dll itu tidak menjadi milik yang memegangnya. Maka tidak wajib zakat, karena zakat itu berdasarkan kepemilikan/hak milik. Yang bukan pemilik tidak punya kepemilikan. Dan karena zakat itu untuk menyucikan pelaku zakat dan harta berdasarkan firman Allah dalam QS At-Taubah 9:103 dan Sabad Nabi: "Allah tidak menerima zakat/sedekah dari barang curian."

Harta haram adalah kotor yang tidak bisa suci. Yang harus dilakukan terkait harta haram adalah mengembalikan pada pemiliknya apabila bisa diketahui. Apabila tidak, maka wajib mengeluarkan seluruh harta haram itu dari kepemilikannya dengan tujuan membersihkan bukan untuk bersedekah.

Pandangan ini disepakati ulama madzhab empat. Madzhab Hanafi berpendapat: Apabila harta yang kotor itu mencapai nisob maka tidak wajib zakat bagi pemiliknya. Karena, harta itu wajib dikeluarkan semuanya karena itu tidak ada gunanya mewajibkan zakat pada sebagiannya. Madzbah Maliki berpendapat: Wajib zakat bagi pemilik harta yang mencapai satu nisob namun tidak wajib zakat pada harta yang bukan miliknya seperti harta ghosab atau titipan. Mazhab Syafi'i berpendapat: Apabila seseorang tidak punya harta lain kecuali harta haram saja maka tidak wajib haji dan tidak wajib zakat dan tidak wajib kafarat harta. Madzhab Hanbali berpendapat: Penggunaan harta ghosob bagi pelakunya itu haram dan tidak sah. Seperti tidak sahnya wudhu dengan air ghosob dan shalat dengan baju ghosob atau di tempat ghosob. Sebagaimana mengeluarkan zakat dari harta ghosob dan haji dari harta ghosob. Juga tidak sah transaksinya."

4. Ya, termasuk masalah khilafiyah. Anda bisa mengikuti pendapat yang manapun. Dalam keadaan sempit (kepepet) anda bisa ikuti pendapat yang lebih ringan. Dalam keadaan lapang, anda bisa ikuti pendapat yang lebih berhati-hati.
Baca detail: Hukum Harta Syubhat dan Cara Membersihkan Harta Haram

SEDEKAH DENGAN HARTA HARAM (2)

Menyambung pertanyaan sebelumnya, maaf kalau saya kritis dalam bertanya,

1. Berarti modal (haram) dan laba (halal) tidak masuk kategori harta yang bercampur antara halal dan haram (syubhat) yang dihukumi makruh penggunanaanya ?. . . .

Karena kita hanya mengambil labanya saja, yang dihukumi halal

2. Menggunakan harta halal yang bercampur haram (syubhat) yang mungkin dihukumi makruh seperti modal haram yg bercampur labanya, keuntungan/gaji yang didapat dari menggunakan barang yg dibeli dari harta haram/barang curian.
Kemudian digunakan untuk keperluan pribadi, shadaqah dan zakat apakah tetap sah ?
Karena hanya mengambil laba dan gajinya saja.

JAWABAN

1. a) Kalau modal dan laba anda campur, berarti disebut harta syubhat/harta campuran; b) Kalau keduanya dipisah maka yg modal disebut harta haram, yg laba disebut harta halal. Dalam kasus poin (a) maka penggunaannya adalah makruh. Baca detail: Hukum Harta Syubhat dan Cara Membersihkan Harta Haram

Makruh dalam pengertian fikih madzhab Syafi'i adalah kebalikan sunnah. Yakni, mendapat pahala kalau ditinggalkan, tidak dosa kalau dilakukan. Baca detail: Hukum Wajib Sunnah Makruh Mubah

Kalau memang yang halal yang digunakan, dan anda tidak lagi membutuhkan yang haram, maka sebaiknya yang haram segera dikeluarkan dari simpanan anda agar harta anda menjadi jelas halalnya.

2. Untuk zakat harus murni dari harta yang halal 100%. Jadi, kalau anda punya harta 50% halal dan 50% haram, lalu yg 50% yang halal itu sudah mencapai nisob, maka wajib bayar zakat. Dan zakatnya sah. Terkait dengan sedekah, karena sedekah itu sifatnya tidak wajib, maka tidak ada kaitannya dg sah atau tidak. Artinya, kalau anda sedekah dengan menggunakan harta syubhat, maka bagian yang halal dianggap sedekah; sedangkan yang haram dianggap sebagai hibah untuk menyucikan harta haram.
Baca detail: Hukum Zakat dengan Harta Haram

Hukum Berkata "Bersaksi Atas Diriku"

HUKUM BERKATA "BERSAKSI ATAS DIRIKU"

Assalamu'alaikum

Mohon pencerahan atas pertanyaan saya berikut :

Disuatu ketika saya sangat kasihan melihat ibu saya yg sudah tua masih terus bekerja sedangkan penghasilan saya belum bisa menutupi kebutuhan keluarga.
Saya menangis melihat keadaan ibu saya dan saya berkata pada Allah
"Ya Allah aku bersaksi atas diriku bahwa selama ini ibuku telah merawatku dengan kasih sayang. Maka ampunilah dosanya dan masukanlah dia ke surgaMu kelak"

Di suatu ketika saya takut mengenai pertanggungjawaban atas perkataan saya yg berkata "bersaksi atas diriku" yg artinya mempertaruhkan diri saya sendiri. Bagaimana jika dalam merawat saya, ibu saya pernah ada perasaan jengkel atau pernah sesekali tak ada rasa sayang, karena saya tak bisa melihat isi hati ibu saya. Apakah benar ibu saya merawat saya dengan kasih sayang ? Entah kenapa itu menjadi keraguan dalam diri saya. Saya takut apa yg akan terjadi pada saya kelak atas perkataan saya. Karena perkara akhirat bukan perkara yg mudah.

Karena takut, saya ingin menarik kembali kata kata saya, tapi jika perkataan itu saya tarik kembali saya merasa begitu dzolim pada ibu yg telah membesarkan saya, sama seperti saya tidak mengakui kasih sayangnya selama ini. Padahal ibu telah bekerja keras untuk merawat saya. Bagaimana bisa saya mempertanyakan kasih sayang ibu saya sedangkan saya lahir dari rahimnya. Begitu jahatnya saya.

Pernah waktu kecil ibu memukul saya tapi bukan berarti pukulan itu bisa menutupi seluruh kasih sayang yg ibu berikan pada saya. Dan saya sadar begitu banyak dosa yg telah saya lakukan pada ibu saya. Mungkin jika sisa umur saya habis untuk berbakti pada ibu saya tidak akan sebanding untuk membalas kebaikannya. Ibu adalah orang yg sangat berjasa dalam hidup saya.

Apa yg harus saya lakukan ? Haruskah saya menarik perkataan saya kembali ?

Saya hanya ingin yg terbaik untuk ibu saya di dunia dan di akhirat kelak. Saya tak kuasa jika harus melihat ibu saya di siksa, saya ingin Allah mengabulkan doa saya agar ibu saya bisa masuk surgaNya kelak di akhirat.

Saya juga tidak ingin terjadi apa apa pada saya kelak di akhirat. Saya takut jika perkataan saya salah maka bagaimana saya mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah.
Dan saya takut jika perkataan itu salah apa yg akan terjadi pada saya karena telah mempertaruhkan diri saya sendiri dalam perkataan itu.
Dan bagaimana saya bisa berkata bahwa perkataan saya tentang kasih sayang ibu adalah salah. Betapa durhakanya saya pada ibu saya sendiri yg telah begitu besar berkorban untuk saya.

Apakah kekawatiran dalam diri saya ini di tunggangi oleh syetan ?

Saya tidak tau harus bagaimana.

Mohon pencerahannya.

JAWABAN

Tidak ada yang perlu anda lakukan atas kesaksian anda tentang ibu anda. Karena persaksian anda itu tidak ada dampak hukumnya bagi anda. Ini berbeda dengan sumpah atas nama Allah, di mana apabila melanggar sumpah tersebut harus membayar kafarat.
Baca detail:
- Hukum Nadzar
- Hukum Nadzar dan Sumpah

Kesaksian yang anda ucapkan dalam bentuk pujian pada ibunda itu justru baik.

Ibnu Hajar di dalam kitab Fathul Bâri 3/2014 dengan berdasar pada keumuman hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menyatakan:


مَنْ أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

Artinya: “Orang yang kalian puji dengan kebaikan wajib baginya surga.”

Pandangan Ibnu Hajar Asqalani ini menegaskan bahwa memuji kebaikan seseorang (dan tidak menyebut keburukannya) itu adalah hal yang baik.

Bahkan kesaksian yang biasa kita lihat saat jenazah hendak dikebumikan itu juga dianggap baik.

Dalam hadis sahih riwayat Bukhari, Sahabat Anas bin Malik radliyallâhu ‘anhu menuturkan:

مَرُّوا بِجَنَازَةٍ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَجَبَتْ» ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا، فَقَالَ: «وَجَبَتْ» فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا وَجَبَتْ؟ قَالَ: «هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا، فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا، فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ

Artinya: “Sahabat Anas bin Malik berkata, orang-orang lewat membawa satu jenazah, mereka memujinya dengan kebaikan. Maka Rasulullah bersabda, “Wajabat (wajib).” Kemudian lewat lagi orang-orang membawa satu jenazah, mereka mencelanya dengan kejelekan. Maka Rasulullah bersabda, “Wajabat.” Sahabat Umar bin Khathab berkata, “Apa yang wajib, ya Rasul?” Rasulullah bersabda, “Jenazah ini yang kalian puji dengan kebaikan wajib baginya surga. Dan orang ini yang kalian cela dengan kejelekan wajib baginya neraka. Kalian adalah para saksinya Allah di muka bumi.”

Dari hadis di atas jelas sekali menegaskan, bahwa bersaksi baik pada seseorang, baik ia masih hidup atau sudah mati, akan berdampak kebaikan pada orang yang dipuji tersebut.

Jadi, apa yang anda lakukan pada ibu anda itu sudah benar. Dan sama sekali tidak ada beban pertanggungjawaban apapun.

Imam Ahmad, Ibnu Hiban dan Hakim dari jalur Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَشْهَدُ لَهُ أَرْبَعَةٌ مِنْ جِيرَانِهِ الْأَدْنَيْنَ أَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ مِنْهُ إِلَّا خَيْرًا إِلَّا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَدْ قَبِلْتُ قَوْلَكُمْ وَغَفَرْتُ لَهُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Tidaklah seorang muslim meninggal kemudian empat orang tetangganya yang paling dekat memberikan kesaksian kepadanya bahwa mereka tidak mengetahui dari orang tersebut kecuali kebaikan, kecuali Allah berkata, “Aku terima ucapan kalian dan aku ampuni apa-apa yang tidak kalian ketahui.”

أَيُّمَا مُسْلِمٍ شَهِدَ لَهُ أَرْبَعَةٌ بِخَيْرٍ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ فَقُلْنَا وَثَلَاثَةٌ قَالَ وَثَلَاثَةٌ فَقُلْنَا وَاثْنَانِ قَالَ وَاثْنَانِ ثُمَّ لَمْ نَسْأَلْهُ عَنْ الْوَاحِدِ
صحيح البخاري

“Tiadalah empat orang muslim bersaksi bahwa seorang jenazah itu orang baik, maka Allah masukkan ia ke sorga”, maka kami berkata : Bagaimana jika cuma 3 orang yg bersaksi?, beliau saw bersabda : “walau tiga”, lalu kami berkata : jika cuma dua?, beliau bersabda : “walau dua”. Lalu kami tak bertanya jika hanya satu” (Shahih Bukhari)

Baca detail: Hukum Taat dan Berbakti pada Orang Tua

25/01/20

Mengapa Ulama Berbeda Soal Hukum Musik

Mengapa Ulama Berbeda Soal Hukum Musik

HUKUM MUSIK ADA YANG HALAL ADA YANG HARAM, MENGAPA ULAMA BERBEDA?

Assalâmu'alaikum wr wb,

Saya mau tanya tentang musik, saya tahu bahwa ada ulama yang mengatakannya haram dan ada ulama Yang mengatakannya tidak haram dengan batasan-batasan yang ada. Bagaimana dalam pandangan Hadits Al Nasa'i 4066 yang berbunyi:

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى قَالَ حَدَّثَنَا مَحْبُوبٌ يَعْنِي ابْنَ مُوسَى قَالَ أَنْبَأَنَا أَبُو إِسْحَقَ وَهُوَ الْفَزَارِيُّ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ قَالَ كَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْوَلِيدِ كِتَابًا فِيهِ وَقَسْمُ أَبِيكَ لَكَ الْخُمُسُ كُلُّهُ وَإِنَّمَا سَهْمُ أَبِيكَ كَسَهْمِ رَجُلٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَفِيهِ حَقُّ اللَّهِ وَحَقُّ الرَّسُولِ وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَمَا أَكْثَرَ خُصَمَاءَ أَبِيكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَكَيْفَ يَنْجُو مَنْ كَثُرَتْ خُصَمَاؤُهُ وَإِظْهَارُكَ الْمَعَازِفَ وَالْمِزْمَارَ بِدْعَةٌ فِي الْإِسْلَامِ وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَبْعَثَ إِلَيْكَ مَنْ يَجُزُّ جُمَّتَكَ جُمَّةَ السُّوءِ

Apakah hadits tersebut menyimpulkan bahwa musik itu bid'ah atau itu hanya dalam keadaan tertentu saja, dan apakah hadits tersebut kesahihannya diragukan oleh para ulama, dari segi sanad

Jika hadits tersebut kesahihannya disepakati oleh seluruh ulama, mengapa ada ulama yang membolehkan musik?

JAWABAN

Pertama, Untuk kemanfaatan para pembaca yang lain, hadis yang anda kutip di atas maknanya sbb: "Telah mengabarkan kepada kami 'Amr bin Yahya, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Mahbub yaitu Ibnu Musa, ia berkata; telah memberitakan kepada kami Abu Ishaq yaitu Al Fazari dari Al Auza'I, ia berkata; Umar bin Abdul Aziz mengirim surat kepada Umar bin Walid yang isinya adalah: dan pembagian ayahmu kepadamu seperlima seluruhnya, sesungguhnya bagian ayahmu seperti bagian seseorang dari kaum muslimin dan didalamnya ada haq Allah dan haq rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan Ibn Sabil, maka betapa banyak penuntut ayahmu pada hari kiamat kelak, dan bagaimana ia bisa selamat orang yang banyak penututnya, dan engkau menampakkan alat musik dan seruling adalah bid'ah didalam Islam dan sungguh aku ingin mengirim seseorang kepadamu untuk memotong rambutmu yaitu rambut yang buruk. (H.R An-Nasa'i)"

Dan sebagaimana anda baca sendiri, "hadis" di atas bukanlah hadis melainkan ucapan dari Umar bin Abdul Aziz. Salah seorang penguasa era Dinasti Ummayyah. Ia lahir pada 61 Hijrah/681 M dan wafat pada 101 H atau 720 M. Artinya, ia lahir 61 tahun setelah era Nabi. Dengan kata lain, ia termasuk kalangan Tabi'in. Bahkan bukan Sahabat. Sehingga ucapannya berlaku sebagai ucapan Tabi'in. Bukan ucapan Nabi. Dengan demikian, maka ucapannya tidak memenuhi syarat untuk disebut hadis karena hadis hanya dipersandingkan pada ucapan Nabi.

Kedua, dengan fakta pada poin pertama di atas (bahwa itu bukan hadis), maka masalah ini sudah selesai. Tidak perlu argumen lebih lanjut. Artinya, yang dikatakan Umar bin Abdul Azis adalah pandangan pribadinya atau hasil ijtihadnya. Bukan hadis Nabi.

Namun agar bermanfaat bagi anda dan para pembaca lain, maka di sini perlu kami jelaskan sedikit soal tahapan pembuatan hukum Islam (syariah) yang dilakukan para ulama sbb:

a) Quran dan hadis adalah sumber utama proses pembuatan hukum. Sumber sekundernya adalah ijtihad ulama. Baca detail: Ijtihad

b) Dari penelitian mendalam atas Quran dan Hadis, maka Ulama mujtahid kemudian membagi hukum syariah menjadi 5 yaitu wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah. Dalam Quran dan Sunnah kelima kategori hukum itu terkadang tidak disebut secara tegas. Maka, di sinilah ijtihad ulama itu berperan untuk menjelaskannya. Dalam menjelaskan hal itu, terkadang terjadi ijmak (kesepakatan) para mujtahid seperti jumlah rakaat shalat 5 waktu dan haramnya zina, dll. Tapi tidak jarang terjadi perbedaan seperti soal najisnya anjing dan babi. Nabi menjamin, bahwa perbedaan ulama mujtahid itu tidak dilarang dan dianggap sama-sama benar. Baca detail: Ijtihad

c). Termasuk perbedaan pendapat ulama mujtahid juga meliputi perbedaan dalam menghukumi soal musik. Baca detail: Hukum Musik

d) Mengapa bisa terjadi perbedaan dalam mengambil kesimpulan hukum padahal sumber utamanya sama yakni Quran dan sunnah? Ada banyak faktor. Beberapa di antaranya adalah: i) Kesimpulan hukum itu diambil setelah menganalisa dari beberapa dalil Quran dan hadis; ii) Quran yang dianalisa meliputi sejarah turunnya dan mana yang lebih dulu dan lebih akhir diturunkan; iii) Hadis yang dianalisa selain meliputi teks-nya juga menyangkut status sahih tidaknya suatu hadis. Selain itu, dalam hadis sahih sendiri ada tingkatannya lagi seperti hadis Ahad dan Mutawatir, dll.

Ketiga, kalau anda dan pembaca ingin sedikit lebih tahu soal proses tahapan pengambilan hukum ini, maka berikut ilmu agama yg bisa anda pelajari:

a) Ilmu Ushul Fikih Baca detail: Ushul Fikih

b) Ilmu Kaidah Fikih. Baca detail: Kaidah Fikih dan Ushul Fikih

c) Ilmu Musthalah Hadis. Agar tahu seluk beluk level kesahihan hadis. Baca detail: Ilmu Mustolah Hadits

d) Ilmu Asbanun Nuzul. Baca detail: Ilmu Asbabun Nuzul

Kesimpulan:

1. Kalau anda sama sekali sekali awam akan ilmu-ilmu di atas, maka menanyakan "mengapa ulama membolehkan musik padahal ada hadis yg mengharamkan" adalah pertanyaan yang salah dan menunjukkan anda sama sekali tidak tahu kompleksitas ulama mujtahid dalam mengambil kesimpulan hukum syariat.

2. Pertanyaan semacam ini sebenarnya karena kesalahan sebagian golongan dalam Islam, seperti kelompok Wahabi Salafi dan yang terinspirasi atau terafiliasi padanya, yang sering menggaungkan slogan "Kembali pada Quran dan Sunnah secara langsung tanpa perlu penafsiran ulama." Slogan seperti ini adalah slogan sesat dan menyesatkan. Anehnya, kalangan yang sama sering merujuk pada pendapat para ulama mereka atas suatu masalah. Patut dipertanyakan kenapa tidak merujuk ke Quran dan hadis secara langsung?

3. Kalau anda dari kalangan Aswaja, maka kami sarankan lebih selektif dalam membaca artikel agama di internet.
a) Bacaan yang dianjurkan: Daftar Situs Aswaja

b) Bacaan yang tidak dianjurkan: Daftar Situs Wahabi Salafi


Semoga anda tercerahkan.

09/01/20

Ragu Apakah Ada Kaki Yang Tak Terbasuh Saat Wudhu


RAGU APAKAH ADA KAKI YANG TAK TERBASUH SAAT WUDHU

Assalamu'alaikum ustadz,

Saya mau bertanya,

1. Saya bulan puasa lalu saya berwudhu dengan mengguyur kaki saya dengan gayung, tetapi hari ini saya ragu apakah ada bagian kaki yg tidak terbasuh pada waktu itu? Apakah sholat saya pada waktu itu sah?

2. Jika di jalan kita menginjak kotoran, tetapi kita tidak mengetahui itu kotoran apa? Apakah itu kotoran kucing, anjing, manusia atau yg lain, bagaimana hukumnya?

3. Saya pada bulan puasa lalu merasa ragu batal atau tidak sholatnya, dikarenakan saya membunyikan persendian kaki, saya ragu melebihi 3x membunyikannya pada waktu bersamaan atau kurang dari itu, apakah sholat saya sah?

Terima kasih atas jawabannya
Jazakallah khoir

JAWABAN

1. Kalau kaki sudah diguyur air, maka hukum wudhunya sah. Karena diduga kuat airnya sudah merata. Dugaan kuat itu sudah cukup, tanpa harus ada kepastian. Baca detail: Dugaan kuat meratanya air sudah sah

2. Hukumnya diambil dari yang paling umum. Kalau umumnya kucing, maka kotoran kucing.

3. Shalat anda sah. Karena gerakan 3x yang membatalkan shalat itu apabila melakukan gerakan yang dianggap besar; bukan gerakan kecil seperti membunyikan persendian jari-jari. Gerakan yang besar itu seperti langkah kaki berturut-turut 3x atau pukulan.

Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 4/25, menyatakan:

وأما ما عده الناس كثيرا كخطوات كثيرة متوالية وفعلات متتابعة فتبطل الصلاة، قال أصحابنا على هذا الفعلة الواحدة كالخطوة والضربة قليل بلا خلاف والثلاث كثير بلا خلاف. انتهى.

Artinya: Yang dianggap gerakan yang banyak itu seperti langkah kaki yang banyak dan berturut-turut dan perbuatan yang berturut-turut maka membatalkan shalat. Ulama Syafi'iyah menyatakan satu perbuatan (yang besar) itu seperti langkah dan pukulan satu kali itu dianggap sedikit tanpa perbedaan. Tiga kali dianggap banyak tanpa perbedaan.

Terkait apa saja perbuatan kecil di luar gerakan salat yang tidak membatalkan shalat, Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 4/24, menjelaskan:

فلا يضر ما يعده الناس قليلا كالإشارة برد السلام، وخلع النعل، ورفع العمامة ووضعها ولبس ثوب خفيف ونزعه، وحمل صغير ووضعه، ودفع مار، ودلك البصاق في ثوبه، وأشباه هذا.

Artinya: Maka tidak apa-apa (tidak membatalkan shalat) perbuatan yang oleh manusia dianggap kecil seperti memberi isyarat untuk membalas salam, melepas sandal, mengangkat surban dan meletakkannya, memakai baju yang ringan dan melepasnya, membawa anak kecil dan meletakkannya (di lantai), menolak orang lewat (di depannya), mengusap/mengorek ludah di baju, dll.
Baca detail: Shalat 5 Waktu


NIAT SEBELUM AWAL IBADAH

Assalamualaikum

Saya mau tanya pak ustadz. Ada mazhab yang membolehkan berniat sebelum sesaat rukun pertama ibadah ataupun bersuci dan ada yang mengharuskan berbarengan dengan rukun pertama ibadah maupun bersuci.

Pertanyaannya

1. Bagaimana jika saya berniat sebelum sesaat rukun pertama ibadah atau bersuci dan juga berniat berbarengan rukun pertama ibadah ataupun bersuci, mana niat yang akan diterima dan sah ? Yang sebelum atau berbarengan ?

2. Bagaimana Jika diantara kedua cara berniat seperti no.1 itu ada yang salah, misalnya niat yang berbarengan rukun pertama salah tapi yang sesaat sebelum rukun pertama yang benar apakah niat yang sesaat sebelum rukun itu yang sah ?

Dan atau niat sebelum sesaat rukun pertama yang salah, tetapi niat saat berbarengan rukun pertama benear, mana yang diterimana niatnya dan sah ?

3. Boleh kah berniat 2 kali seperti saya pak ustad demi kehati-hatian ?

JAWABAN

1. Dua hal itu sama-sama sah menurut madzhab Syafi'i. Jadi, cukup pilih salahsatunya. Baca detail: Niat Sebelum Perbuatan

2. Karna niat cukup satu kali, maka pertanyaan ini tidak relevan.

3. Bagi penderita was-was seperti Anda sebaiknya yang dilakukan cukup cara yang pertama, yakni niat sebelum perbuatan. Jangan mencari cara lain yang justru akan kembali menimbulkan was-was pada Anda. Baca detail: Niat Sebelum Perbuatan


AIR MUSTAKMAL SAAT WUDHU

Assalaamu’alaikum...
Pak Ustad, saya mau bertanya mengenai masalah bersuci

1) Saat berwudhu kan pasti ada air mustakmal yang menyiprat di kaki, nah ketika saya sampai pada bagian membasuh kaki, apakah air suci mutlak yang mengalir bercampur dengan air mustakmal yang dimaafkan berada pada kaki itu boleh langsung saya ratakan ke semua bagian kaki?

2) Apakah air mustakmal yang menyiprat dan menetes ke tubuh saya ketika saya mandi junub itu dimaafkan?

3) Ketika saya akan membasuh kaki saat mandi junub kan, pasti kaki saya ada air mustakmalnya. Apa yang harus saya lakukan Pak Ustad? Apakah saya harus menghilangkan air mustakmalnya dulu baru dibasuh, atau langsung saya basuh kaki saya yang masih ada air mustakmalnya?

Demikian pertanyaannya,
Wassalaamu’alaikum...

JAWABAN

1. Boleh. Baca detail: Hukum Air Suci Terkena Bekas Wudhu

2. Ya, dimaafkan.

3. Langsung saja dibasuh. Baca detail: Batasan air Jadi Musta'mal

21/12/19

Hukum Menggambar Karakter Tak Bernyawa Yang Diberi Kaki Dan Tangan

MENGGAMBAR KARAKTER TAK BERNYAWA YANG DIBERI KAKI DAN TANGAN

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh

Bissmillah

Sebelumnya saya sudah membaca artikel tentang haram tidaknya menggambar, saya sudah baca semua beserta komentar-komentar. Tapi dari situ ada poin yang saya masih belum paham.

Belakangan ini saya punya ide untuk membuat komik yang memotivasi tetapi tidak mempunyai karakter, kalau ada pun hanya benda benda mati yang diberi tangan kaki.

Saya ingin bertanya, apakah menggambar makhluk tak bernyawa (semisal vas bunga, potongan puzzle, dan semacamnya) yang diberi tangan kaki (hanya tangan kaki) itu termasuk haram atau boleh-boleh saja?

Terima kasih sebelumnya
Assalamualaikum warrahmatullah wabarakatuh

JAWABAN

Boleh.
Baca detail:
- Hukum Gambar dan Patung
- Hukum Patung tidak sempurna

FIRASAT KEMATIAN

Assalamualaikum
Ustad saya mau tanya, saya pas lagi sholat tarawih awal tiba" berkata dalam hati bahwa saya tidak akan sampai tahun depan karena rasanya beda dari puasa lalu, apa itu merupakan firasat bahwa saya akan meninggal tahun depan?mohon penjelasannya terimakasih
Wassalamu'alaikum

JAWABAN

Itu hanya ilusi atau delusi pikiran anda. Hilangkan perasaan semacam itu. Hanya Allah yang Maha Tahu kapan seseorang akan meninggal. Sekarang, fokuskan untuk mengisi hari-hari anda untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain. Baca detail: Tanda Kematian


HUKUM MEMAKAI SHAMPO PENGHITAM RAMBUT

Assalammualaikum,,,, Bagaimana hukum menggunakan shampo penghitam rambut,,,Apa hukumnya sama dengan cat/pikok rambut hitam tidak Boleh?
Bagaimana Jika sudah Terlanjur menggunakan shampo penghitam Rambut,Apa Harus Di Gunduli?

JAWABAN


Tidak apa-apa menggunakan shampo penghitam rambut asalkan terbuat dari bahan yang suci / tidak najis menurut sebagian ulama. Baca detail: Hukum Cat / Semir Rambut


BOYONG DARI PONDOK SEBELUM SELESAI TUGAS, APAKAH DOSA?

Assalamualikum wr. Wb
Salam ta'dzim ustad
Saya mau bertanya ustad, tentang hukum seorang santri hafal qur'an. Di pondok saya jika udah hapal qur'an itu disuruh bersumpah untuk pengabdian selama 4 tahun. Menurut keluarga itu terlalu berat. Belum ada 4 tahun udah disuruh boyong.sedangkan saya belum lancar2 sekali qur'annya ustad. Saya pernah mendengar bahwa penghafal qur'an itu harus jelas sanadnya.karna itu termasuk tanggungan akhirat.
Pertanyaan saya
1.berdosakah saya jika guru saya tidak meridhoi atas Boyongnya saya
2.masihkah bisa selamat quran saya nanti di akhirat karna tak mendapat sanad
3.jikalau saya berangkat mondok berdosakah juga jika membuat ortu marah
Cukup sekian ustad yang saya tanyakan semoga ustad berkenan untuk menjawab
Terimakasih banyak
Wassalamualaikum wr. Wb

JAWABAN

1. Berdosa karena anda sebelumnya sudah menyanggupi kewajiban itu. Itu sama dg berbohong. Dan bohong itu dosa. Baca detail: Bohong dalam Islam

2. Masih. tidak ada kewajiban syariat untuk memiliki sanad dalam menghafal Al Quran. Baca detail: Hukum Ijazah Sanad Al Quran


BAYAR HUTANG YANG TIDAK DIKETAHUI ALAMATNYA

assalamualaikum ustadz saya mau tanya, bagaimana cara membayar hutang kepada orang (sudah tidak ada kontaknya lagi bahkan saya juga tidak tau sekarang dia tinggal dimana) ?

JAWABAN

Keluarkan senilai hutang tersebut untuk fakir miskin. Baca detail: Hutang dalam Islam


19/12/19

Jodoh: Calon Tak Direstui Kakak Sulung

PILIHAN ANAK KETIGA DITOLAK ANAK KE-1

Assalamukalaikum warahmatullahi wabarakatuh Ustadz.
Mohon penjelasan Ustadz.
Nama saya Widhi di Semarang.
Saya ayah 3 anak laki2. Anak 1 sudah menikah.Kami Muslim.
Anak bungsu (ke-3) berteman akrab wanita yang dipilih untuk calon istri.Pertemanan sejak kuliah di Semarang +/- 6 th.
Kakak no.1 sudah berkenalan. Sekaligus mewakili saya.
Saya belum dikenalkan,mengingat meteka posisi bekerja di Jakarta. Sedangkan saya di Semarang.
Hasil perkenalan 2 (dua) kali,menilai bahwa calon pilihan ini tidak baik dalam hal akhlak berbicara kepada orang lebih tua.Diberitahu dan ditegur pada perkenalan pertama,agar lebih santun. Namun perkenalan kedua sopan santun tidak sesuai harapan.
Status wanita ini,agama Islam,bekerja di Jakarta. Putri pertama dari 2 (dua) saudara.Orangtua nya Islam domisili Jawa Timur.
Perihal ini membuat saya bimbang.
Kalau saya setuju pendapat anak no.1 mk anak ke 3 "melawan" saya dan akan nekad maksa.Kalau saya setuju pilihan anak ke 3 mk anak no.1 memutus silaturahim baik kepada saya maupun anak ke 3.

Pertanyaan: Bagaimana sikap pilihan saya. Dari syariah nya atau dari akhlak sopan santun nya untuk menerima atau menolak pilihan anak ke 3 ?
Mengingat saya belum jumpa kenal.
Mohon Ustadz memberikan jawaban beserta dalil Ustadz. Untuk pedoman saya.
Jazakumullah.
Wassalamukalaikum warohmatullahi wabarakatuh.

JAWABAN

Pertama, perlu diketahui bahwa seorang anak lelaki memiliki hak untuk memilih calon pasangannya sendiri. Bahkan ia boleh menikahi calonnya walaupun seandainya tanpa persetujuan orang tuanya. Ia juga berhak untuk menolak pilihan orangtuanya dalam masalah jodoh. Baca detail: Batasan Taat Dan Durhaka Pada Orang Tua

Oleh karena itu, maka keputusan terbaik bagi anda sebagai ayah adalah merestui calon pilihan anak ke-3 terutama karena calonnya sudah memenuhi syarat dasar dari seorang calon istri yaitu dia muslimah dan berasal dari keluarga muslim. Namun demikian, tidak ada salahnya apabila anda bertemu wanita tersebut secara langsung agar anda lebih mantap dalam memberikan keputusan.

Perihal sikap anak ke-1 yang tidak setuju atas pilihan adiknya, maka itu haknya untuk bersikap demikian. Namun, dia tidak berhak untuk mengatur terlalu jauh sampai pada level memaksakan kehendak. Apalagi sampai mengancam untuk memutuskan hubungan silaturahmi. Kalau itu yang dilakukannya, maka yang salah dan berdosa besar adalah dia (anak ke-1), bukan anda maupun anak ke-3. Baca detail: Wajibnya Silaturahmi dan Haram Memutuskannya

Ingatkan pada anak ke-1 untuk menjaga perilakunya dan wajib baginya untuk taat pada keputusan ayahnya. Baca detail: Hukum Taat dan Berbakti pada Orang Tua

MIMPI MELIHAT JAMAAH BACA SURAH YASIN

assalamualaikum wr.wb

Saya siti rokhimah usia 28 tahun. sudah menikah dan belum mempunyai anak.

setelah saya sholat tahajud jam 02:35 saya kembali tidur lalu bermimpi
"sedang menghandel reuni sma dan smp sekaligus organisasi extra kampus dalam waktu yang bersamaan dan di tempat yang sama, yakni di rumah orang tua saya di kampung. saat saya sedang menunggu teman2 reuni datang satu persatu di rumah tetangga (depan) terjadi konflik yang mengakibatkan 2 kelompok. ada yang berkumpul di tetangga ada yang sedang menunggu di rumah saya. sedang saya harus lari kesana kesini demi melerai perseteruan mereka karna tiba-tiba ingin membatalkan pertemuan yang sudah saya siapkan di rumah. saya membujuk mereka untuk duduk bersama tetapi tidak mau dan mengharuskan saya untuk berlari ke rumah dan ke tetangga tempat mereka berkumpul. saat melerai belum selesai tibalah para anggota extra kurikuler islam kampus saya dengan memakai pakaian putih-putih seperti para jamaah dan mengagetkan ayah saya, saking banyaknya mereka (karna saya lupa kalau ada janji untuk menerima mereka buat acara sebelum berangkat ke acara sesungguhnya). karna saya lupa jadi saya tidak menyediakan mc, makanan, dsb. sehingga tiba-tiba mereka membaca surah yasin walau sepenggal. kemudian berhenti. karna reuni smp dan sma saya sudah benar-benar mengabaikan saya dan membatalkan acara yang sudah saya siapkan secara sepihak. (sebelum bubar dan saya mengutarakan sepatah dua patah kalimat permohonan maaf, ada salah satu teman saya yang berjualan buah yang terbilang unik, yakni buah strawberry saat di belah isinya nanas dan saya pun melihat banyak buah-buahan seperti anggur hitam dsb) maka kemudian saya bergabung dengan mereka (extra) untuk membahas rangkaian susunan acara. ada yg membahas tentang aswaja ke-NU-an, dsb. kemudian saya terbangun dan sholat shubuh".

seperti itulah mimpi saya di hari senin ini.
terima kasih

wassalamualaikum wr.wb

JAWABAN

Bagi perempuan yang sudah menikah dan belum memiliki anak, maka mimpi ini bisa menjadi isyarat bahwa anda akan segera memiliki anak dalam waktu yang tidak akan lama. Makna ini apabila mimpi tersebut berasal dari bisikan malaikat. Demikian menurut kitab tafsir karya Ibnu Sirin. Baca detail: Kitab Tafsir Mimpi

Sedangkan apabila mimpi itu berasal dari jin atau diri sendiri maka tidak ada makna apapun. Baca detail: Mimpi dalam Islam

17/12/19

Hukum Memberi Parcel Pada PNS

MEMBERI PARCEL PADA PNS

Assalamualaikum.

Saya bingung harus bagaimana membicarakan hal ini dengan orang tua. Parcel adalah hal umum yang diberikan saat lebaran. Tapi menurut menteri & KPK ilegal jika parcel diberikan ke pejabat atau PNS (swasta atau pengusaha boleh). Karna ditakutkan ada unsur suap.

Orang tua saya keduanya PNS. Tiap tahun selalu ada parcel. Bukan dari kantor tapi dari bank konvensional. Saya tidak tahu apakah niat memberinya sebagai salah satu nasabah terbaik atau karena jabatan orang tua sebagai kepala seksi. Karena mungkin saja ada kerja sama antara kantor orang tua dengan bank tersebut. Kebetulan orang tua kepala seksi di instansi yang sama tapi beda kantor.

Yang membingungkan saya :

1. Apakah parcel tersebut haram menurut hukum Islam meski niatnya hanya memberi tapi secara hukum negara ilegal?

2. Sampai sekarang saya tidak mau memakan parcelnya. Orang tua & adik saya sudah memakan sebagian parcelnya. Orang tua saya tipe ibadahnya cenderung sesuai kebiasaan masyarakat umum tanpa mau mencoba mencari tahu hukum agama seperti apa. Contohnya seperti parcel yang dianggap umum diberikan. Apakah saya akan ikut menanggung dosa jika secara Islam parcel haram karna dianggap gratifikasi?

3. Untuk harta syubhat dari semua referensi hukum Islam yang saya tahu jika harta haramnya lebih sedikit maka yang menerima seperti saya sebagai anak mendapat harta syubhat dari orang tua, hukumnya halal bagi penerima. Karna saya & adik saya bukan PNS yang diberi langsung parcel oleh bank konvensional, apakah halal jika memakannya?

JAWABAN

1. Haram. Karena PNS adalah abdi negara yang harus taat pada aturan negara.

2. Tidak ikut menanggung dosa orang lain. Cukup bagi anda tidak ikut melakukannya. Namun akan lebih ideal apabila anda memberitahu mereka (keluarga). Baca detail: Ideologi Amar Makruf Nahi Munkar

3. Khusus untuk parcel tetap haram bagi anda memakannya. Karena sudah jelas itu diharamkan. Yg dimaksud boleh makan harta syubhat adalah apabila harta itu sudah bercampur baur dg harta yang halal dan tidak bisa lagi dibedakan. Baca detail: Hukum Harta Syubhat dan Cara Membersihkan Harta Haram

CARA MEMBERSIHKAN DOSA PONSEL

Ustadz izin bertanya.. saya sudah paham bahwa menonton film porno itu dilarang karena menyebabkan beberapa hal. Yang menjadi pertanyaan saya adalah

1. Bagaimana cara membersihkan atau mensucikan ponsel yang sudah pernah dipakai untuk melihat film porno tersebut?

2. Apakah sudah cukup cuman di format memorinya atau ada proses mensucikannya lagi ?

JAWABAN

1. Hapus konten pornonya. Kalau sudah dihapus, maka si ponsel sudah bersih.

2. Tidak perlu. Yang dosa itu kan yang punya ponsel, yakni anda. Ponselnya tidak ada dosa karena dia bukan orang mukalaf. Hanya benda mati.
Baca detail: Cara Taubat Nasuha


UTANG SPP SEKOLAH

Saya mau bertanya waktu saya mau lulus SMA. Saya dapat pemberi tahuan dari TU kalau uang spp saya belum lunas. Padahal saya merasa kalau saya sudah melunasi uang spp tersebut. Lalu saya bertanya ke bendahara kelas yg bertugas menyerahkan uang spp ke TU. Dengan bingung dia menjawab tidak tahu. Pada saat mau kelulusan saya ditanyai wali kelas saya tentang hal tersebut dan saya menjawab saya sudah membayarnya. karena pd saat itu saya merasa sudah membayarnya. Singkat cerita tiba tiba TU tidak menanyai lagi masalah tersebut. Tapi saya curiga kalau wali kelas saya yang melunasinya. Terus apakah saya harus mengganti kepada wali kelas saya karena dia juga tidak mengatakan kalau dia membayarnya. Dan juga kejadiannya sudah sangat lama. Saya pun tidak tahu alamat rumah wali kelas saya

JAWABAN

Kalau anda yakin sudah membayarnya, maka tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi. Apalagi pihak sekolah sudah tidak menanyakan hal itu lagi.

Hutang memang wajib dilunasi. Baca detail: Hutang dalam Islam

Namun kalau anda yakin tidak punya hutang SPP maka kewajiban itu tidak lagi ada. Namun demikian, kalau anda menduga masalah itu diselesaikan wali kelas anda, maka tidak ada salahnya anda menanyakan hal itu pada beliau kalau suatu hari berjumpa kelak.


NILAI UJIAN SEKOLAH

Assalamualaikum,
Ustadz, pada saat saya mengikuti Ujian sekolah, saya tidak mengikuti salah satu mata pelajaran yang diujikan, Tapi oleh pihak sekolah ditulis nilai mata pelajaran tersebut dan meluluskan saya begitu saja.
Dan ini sepenuhnya kewenangan pihak sekolah.

Apakah boleh Ijazah saya ini dipakai untuk melamar kerja atau mendaftar di universitas?. Syukron atas jawabannya.

JAWABAN

Boleh. Tidak ada halangan bagi anda. Ijazah anda telah dikeluarkan secara resmi oleh pihak sekolah tempat anda belajar, maka berarti ia sah dijadikan alat bukti kelulusan anda. Di luar itu, bukan lagi urusan anda. Baca detail: Bisnis dalam Islam

Memberi Nama yang Baik Bagi Anak

Memberi Nama yang Baik Bagi Anak
NAMA YANG SUNNAH, MUBAH, HARAM DAN MAKRUH DIGUNAKAN UNTUK NAMA ANAK

Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
Saya mau tanya mengenai nama anak saya. Saya sudah terlanjur memberi nama anak saya dan sudah terdaftar di catatan sipil. Adapun nama anak saya yaitu "Muhammad Harun Althafarrasyid". Saya mendapat inspirasi dari nama nabi, kholifah, dan harapan menjadi anak yang berhati lembut dan berakal cerdas.

Yang saya tanyakan, apakah nama anak saya tersebut keliru, karena ada nama asmaul husna disitu, meskipun bukan bertujuan menamai atau menyerupai Allah SWT, tetapi harapan memiliki sifat lembut dan cerdas dalam ukuran sifat manusia? Terima kasih Ustadz, Wassalamu 'alaikum Wr.Wb.

JAWABAN

Terjadi perbedaan ulama terkait nama Al-Rasyid apakah termasuk Asmaul Husna atau bukan. Mayoritas ulama menganggap bukan karena tidak ada dalam Al-Quran maupun hadits.

Ulama yang memasukkan kata Al-Rasyid sebagai asmaul husna adalah Al-Walid bin Muslim, Ibnu Mundah, Ibnul Arabi dan Al-Baihaqi. Mereka mendasarkan argumennya pada ayat dalam QS Al-Kahfi 18:17 "وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا" di mana di situ ada kata "mursyid" yang maknanya sama dengan rasyid (pemberi petunjuk).

Adapun mayoritas ulama tidak memasukkan nama tersebut ke dalam Asmaul Husna karena tidak disebut secara eksplisit di Quran maupun hadits.

Selain itu, bahkan bagi ulama yang berpendapat bahwa al-rasyid adalah salah satu asmaul husna, tetap tidak ada larangan untuk memakai nama al-rasyid karena nama ini tidak khusus untuk nama Allah.

Sebagaimana diketahui, nama yang terkait dengan asmaul husna itu ada dua tipe: (a) khusus untuk Allah dan (b) bersifat umum (musytarakah) untuk nama makhluk. Nama yang khusus untuk Allah tidak boleh dipakai untuk nama manusia kecuali diberi tambahan kata 'abdu' (hamba) seperti Abdullah, abdulrohman, dll. Sedangkan nama yang bersifat umum antara asmaul husna dan nama atau sifat makhluk maka boleh memakai kata 'abd' dan boleh tidak memakai kata 'abdu'. Contohnya seperti: karim (كريم), kabir (كبير), rahim (رحيم), rauf (رءوف), rasyid (رشيد), ali (عليّ), mukmin (مؤمن)

Kata-kata tersebut selain menjadi bagian dari asmaul husna juga biasa dipakai untuk menyifati karakter seseorang seperti الرجل الكريم (pria yang mulia atau dermawan), رجل رحيم (pria yang pengasih), dll.

Dengan demikian, maka tidak ada yang salah dengan nama Al-Rasyid untuk putra anda. Apalagi niat anda sejak awal adalah harapan agar dia memiliki sifat lembut dan cerdas seorang manusia.

URAIAN

NAMA ALLAH ADA DUA JENIS

Asmaul Husna ada dua macam: (a) nama umum yang dipakai sebagai nama Allah dan sekaligus digunakan (musytarokah) menyifati makhluk-Nya; (b) nama yang khusus hanya untuk Allah saja.

ASMAUL HUSNA YANG TIDAK KHUSUS ALLAH BOLEH DIJADIKAN NAMA ORANG

Pertama, nama asmaul husna yang musytarokah (berbagi) dengan sifat makhluknya boleh dijadikan nama manusia dan maknanya dimaksudkan untuk arti yang sesuai dengan sifat manusia.

Dalam hadits riwayat Abu Dawud dan Nasai Nabi bersabda:

عن شريح بن هانئ عن أبيه هانئ: أَنّهُ لَمّا وَفَدَ إِلَى رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم مَعَ قَوْمِهِ سَمِعَهُمْ يَكْنُونَهُ بِأَبِي الْحَكَمِ فَدَعَاهُ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم فقالَ: إِنّ الله هُوَ الْحَكَمْ وَإِلَيْهِ الْحُكْمُ، فَلِمَ تُكْنَى أَبَا الْحَكَمِ؟ فقالَ: إِنّ قَوْمِي إِذَا اخْتَلَفُوا في شَيْءِ أَتُوْنِي فَحَكَمْتُ بَيْنَهُمْ فَرَضِيَ كِلاَ الْفَرِيقَيْنِ، فَقَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: مَا أَحْسَنَ هَذَا فَمَا لَكَ مِنَ الْوَلَدِ؟ قالَ: لِي شُرَيْحٌ وَمُسْلِمٌ وَعَبْدُ الله. قالَ: فَمنْ أَكْبَرّهُمْ؟ قالَ قُلْتُ: شُرَيْحٌ قالَ: فأَنْتَ أَبُو شُرَيْحِ. رواه أبو داود والنسائي

Artinya: Dari Syuraih bin Hani' dari ayahnya, yakni Hani', saat ia datang bersama kaumnya menghadap Rasulullah, Nabi mendengar bahwa Hani diberi gelar Abul Hakam. Nabi memanggilnya dan bertanya, "Allah adalah Al-Hakam, dan pada Allah adanya hukum. Mengapa engkau digelari dengan Abul Hakam?" Hani' menjawab, "Kaumku apabila berselisih selalu datang padaku lalu aku yang memutuskan. Kedua pihak rela dengan keputusanku." Nabi bersabda, "Alangkah baiknya ini! apakah engkau punya anak?" Hani menjawab, "Ada, namanya Syuraih, Muslim dan Abdullah." Nabi bertanya, "Siapa yang tertua?" Hani' berkata, "Aku menjawab, Syuraih" Nabi bersabda, "Engkau (panggilanmu sekarang) Abu Syuraih."

Hadits ini menjelaskan bahwa memakai salah satu nama Allah -- seperti al-hakam -- dengan mengidentikkan diri sama dengan arti makna tersebut -- pembuat hukum / keputusan -- adalah dilarang.

Adapun memakai nama salah satu nama Allah tapi tidak dimaksudkan untuk menyamai sifat Allah, maka itu tidak dilarang sebagaimana disebut di atas. Sebagian ulama mensyaratkan asalkan penulisan nama secara nakirah, bukan isim makrifat. Tidak memakai al (أل). Seperti 'karim' bukan al-karim, dst.

Namun Ibnu Abidin berpendapat boleh dalam bentuk isim makrifat:

وظاهره الجواز ولو معرفاً بأل وظاهره الجواز ولو معرفاً بأل)، قال الحصكفيّ ( يُراد في حقنا غير ما يُراد ‏في حق الله تعالى

Artinya: Boleh (memakai nama asmaul husna yang bersifat umum) walaupun dalam bentuk makrifat dengan al. Al-Haskafi berkata: Yang dimaksud dalam hak kita -- manusia -- adalah selain yang dimaksud dengan hak Allah.

ASMAUL HUSNA YANG KHUSUS ALLAH HARAM DIPAKAI UNTUK NAMA ORANG KECUALI DITAMBAH KATA ABDU

Kedua, asmaul husna yang khusus untuk Allah. Maka, tidak boleh digunakan untuk nama manusia kecuali dengan menambah kata 'abdu' (hamba). Asmaul Husna yang bersifat khusus ini menurut Ibnul Qayyim dalam kitab Tuhfatul Maudud, hlm. 98, adalah: Allah (الله), al-khaliq (الخالق), al-rahman (الرحمن), al-quddus (القدوس), al-awwal (الأول), al-akhir (الآخر), al-bathin (الباطن), Al-Hakam (الحكم), Al-Ahad (الأحد), Al-Somad (الصمد), Al-Rozzaq (الرزاق), Al-Jabbar (الجبار), Al-Mutakabbir (المتكبر), Allamul Ghuyub (علام الغيوب). Inilah konteksnya hadits di atas mengapa Rasulullah merubah nama Abul Hakam menjadi Abu Syuraih.

Memakai nama Asmaul Husna yang khusus dengan tambahan Abdu adalah boleh, bahkan sunnah berdasarkan sabda Nabi:

فقد روى مسلم من ‏حديث ابن عمر رضي الله عنهما أنه قال: قال صلى الله عليه وسلم: " إن أحب أسمائكم ‏إلى الله: عبد الله وعبد الرحمن "، وروى مثله أبو داود من حديث أبي وهب الجشمي.

Artinya: Dari Ibnu Umar Nabi bersabda "Nama kalian yang paling disukai Allah adalah Abdullah dan Abdurrohman." (HR. Muslim)

Mayoritas ulama menyatakan hadits ini menjadi dalil sunnahnya memakai nama Asmaul Husna dengan tambahan abdu di depannya. Terutama Asmaul Husna yang khusus untuk Allah.

Adapun dalil haramnya memakai nama Asmaul Husna yang khusus untuk Allah adalah hadits berikut:

أَخْنَى الأَسْمَاءِ يَوْمَ القِيَامَةِ عِنْدَ اللَّهِ رَجُلٌ تَسَمَّى مَلِكَ الأَمْلاَكِ

Artinya: Sehina-hinanya nama di sisi Allah pada hari Kiamat kelak adalah seseorang yang bernama Malikil Amlak (raja diraja)". (HR. Bukhari)

أغيظ رجل على الله يوم القيامة ، أخبثه واغيظه عليه : رجل كان يسمى ملك الأملاك ، لا ملك إلا الله

Artinya: Hamba terburuk di sisi Allah pada hari kiamat adalah pria yang bernama Malikul Amlak. Tidak ada Raja kecuali Allah.

Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari, hlm. 10/590, menyatakan:

اسْتُدِلَّ بِهَذَا الْحَدِيثِ عَلَى تَحْرِيمِ التَّسَمِّي بِهَذَا الِاسْمِ ؛ لِوُرُودِ الْوَعِيدِ الشَّدِيدِ ، وَيَلْتَحِقُ بِهِ مَا فِي مَعْنَاهُ مِثْلُ : خَالِقِ الْخَلْقِ ، وَأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ ، وَسُلْطَانِ السَّلَاطِينِ ، وَأَمِيرِ الْأُمَرَاءِ ، وَقِيلَ : يَلْتَحِقُ بِهِ أَيْضًا مَنْ تَسَمَّى بِشَيْءٍ مِنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ الْخَاصَّةِ بِهِ : كَالرَّحْمَنِ ، وَالْقُدُّوسِ ، وَالْجَبَّارِ " انتهى من

Artinya: Hadits ini menjadi dalil atas haramnya membuat nama orang dengan memakai nama ini karena adanya ancaman yang keras. Disamakan dengannya nama yang serupa, seperti Khaliqul Khalq, Ahkamul Hakimin, Sulton Al-Salatin, Amirul Umara. ....

NAMA LAIN YANG HARAM DIGUNAKAN

Selain haram memakai nama Asmaul Husna yang khusus Allah tanpa tambahan abdu, haram juga dua jenis nama berikut:

(a) Nama yang hanya layak disandang oleh Nabi Muhammad seperti "Sayyidu waladi adam' (tuan semua anak adam) dan "Sayyidun Nas" (tuan seluruh umat manusia). Ini pendapat ulama madzhab Hanafi.

(b) Memberikan nama "Abdun" (hamba) yang disandarkan pada selain nama Allah, seperti "Abdul Uzza" (hamba uzza, berhala orang-orang kafir quraisy) atau "Abdul Ka'bah" (hamba ka'bah).

NAMA YANG MAKRUH DIPAKAI NAMA ORANG

Nama yang makruh (sangat tidak dianjurkan atau kurang baik) ada dua:

1. Nama-nama yang yang biasa dibuat untuk tathoyyur ( Meramal adanya suatu hal ) seperti "Robah" (keuntungan), "Aflah" (keberuntungan), Najah (Kesuksesan), "Yasar" (kemudahan), atau Nafi' (orang yang bermanfaat) berdasarkan hadits nabi ;

لا تُسَمِّ غُلَامَكَ رَبَاحًا وَلَا يَسَارًا وَلَا أَفْلَحَ وَلَا نَافِعًا

Artinya: Janganlah kamu memberi nama anakmu dengan 'Rabah' (beruntung), 'Yasar' (Mudah), Aflah (paling beruntung), dan Nafi' (bermanfaat)". (HR Muslim)

2. Nama-nama yang pada umunnya tidak disukai. Seperti "Harb" (peperangan), "Murroh" (pahit), "Syihab" (Obor), "himar" (keledai), "Kalb" (anjing), "Zholim" (orang yang semena-mena) atau nama orang-orang zholim seperti "Fir'aun".

Berdasarkan hadits riwayat Malik dalam Al-Muwatto'

عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلَقْحَةٍ تُحْلَبُ مَنْ يَحْلُبُ هَذِهِ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اسْمُكَ فَقَالَ لَهُ الرَّجُلُ مُرَّةُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْلِسْ ثُمَّ قَالَ مَنْ يَحْلُبُ هَذِهِ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اسْمُكَ فَقَالَ حَرْبٌ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْلِسْ ثُمَّ قَالَ مَنْ يَحْلُبُ هَذِهِ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اسْمُكَ فَقَالَ يَعِيشُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْلُبْ

"Dari Yahya bin Sa'id bahwa Rasulullah berkata tentang unta yang hampir melahirkan lalu diperah susunya: "Siapa yang akan memerah susu ini?" Lalu berdirilah seorang laki-laki, Rasulullah bertanya: "Siapa namamu?" laki-laki itu menjawab; "Aku Murrah." Rasulullah berkata: "Duduklah! " beliau bertanya lagi: "Siapakah yang akan memerah susu ini?" berdirilah seorang laki-laki. Rasulullah bertanya: "Siapa namamu?" laki-laki itu menjawab, "Aku Harb." Rasulullah berkata: "Duduklah! " beliau bertanya lagi: "Siapakah yang akan memerah susu ini?" lalu berdirilah seorang laki-laki. Rasulullah bertanya: "Siapakah namamu?" laki-laki itu menjawab; "Ya'isy." Rasulullah pun kemudian berkata kepadanya: "Perahlah! ". ( Al-Muwatto', no.1540 ).

NAMA YANG SUNNAH

Nama yang disunnahkan ada beberapa jenis sbb:

1. Nama Allah dalma Asmaul Husna dengan menambah kata 'abdu' (hamba) sebagaimana disebut di atas.

2. Nama apapun yang memiliki arti yang baik dan tidak dilarang.

3. Nama para Nabi. Berdasarkan hadits

تَسَمَّوْا بِأَسْمَاءِ الْأَنْبِيَاءِ، وَأَحَبُّ الْأَسْمَاءِ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ، وَأَصْدَقُهَا حَارِثٌ، وَهَمَّامٌ، وَأَقْبَحُهَا حَرْبٌ وَمُرَّةُ

Artinya: Buatlah nama sebagaimana nama para Nabi, nama yang paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan 'Abdurrahman. Dan Yang paling benar adalah Hammam dan Harits dan yang paling jelek adalah Harb dan Murroh". (Sunan Abu Dawud, #4950)

HUKUM MERUBAH NAMA SAAT DEWASA

Wajib mengubah nama yang buruk dan sunnah merubah nama yang makruh saat dewasa.

M Amin Al-Kurdi, Tanwirul Qulub, hlm. 234 menyatakan:

وَيَجِبُ تَغْيِيْرُ اْلأَسْمَاءِ الْمُحَرَّمَةِ وَيُسْتَحَبُّ تَغْيِيْرُ اْلأَسْمَاءِ الْمَكْرُوْهَةِ.

Artinya, “Mengubah nama-nama yang haram itu hukumnya wajib, dan nama-nama yang makruh hukumnya sunah,”

Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri, hlm. 2/305, menegaskan:

التَّسْمِيَّةُ بِعَبْدِ الْكَعْبَةِ أَوْ عَبْدِ الْحَسَنِ أَوْ عَبْدِ عَلِيٍّ وَيَجِبُ تَغْيِيْرُ اْلاسْمِ الْحَرَامِ عَلَى اْلأَقْرَبِ لِأَنَّهُ مِنْ إِزَالَةِ الْمُنْكَرِ وَإِنْ تَرَدَّدَ الرَّحْمَانِيُّ فِيْ وُجُوْبِهِ وَنَدْبِهِ .

Artinya, “Disunahkan memperbagus nama sesuai hadits, ‘Kamu sekalian akan dipanggil pada hari Kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak kalian. Oleh karena itu, pilihlah sebutan yang baik untuk nama kalian.’ Dimakruhkan nama-nama yang berarti jelek, seperti himar (keledai) dan setiap nama yang diprasangka buruk (tathayyur) penafian atau penetapannya... Haram hukumnya menamai seseorang dengan ‘Abdul Ka’bah,’ ‘Abdul Hasan,’ atau ‘Abdu Ali’ (Hamba Ka’bah, Hamba Hasan atau Hamba Ali). Menurut pendapat yang lebih shahih, (seseorang) wajib mengubah nama yang haram karena berarti menghilangkan kemungkaran, walau Syekh Ar-Rahmani ragu perihal kewajiban atau kesunnahan mengubah nama demikian,”