07/06/20

Air Kurang Dua Kulah menurut Al-Ghazali

AIR KURANG DUA KULAH MENURUT IMAM AL-GHAZALI


Assalaamu’alaikum...

Pak Ustad,
1) apakah menurut Imam Ghazali, air suci mutlak kurang dari dua qulah bila terkena najis baik najis ainiyah maupun najis hukmiyah itu dimaafkan selagi tidak ada rasa, bau, dan warna pada air?

2) Misalkan dalam masalah najis, ada yang saya gunakan pendapat dari mazhab Syafi’i, tetapi dalam masalah najis yang lain, saya menggunakan mazhab Imam Malik. Apakah saya boleh mencampurkan penggunaan mazhab dalam masalah najis?

3) Apakah masalah najis termasuk satu ibadah dengan sholat?

Demikian,
Wassalaamu’alaikum...

JAWABAN

1. Ya. Baca detail: Najis menurut Imam Ghazali

2. Boleh kalau memang diperlukan. Karena pada dasarnya ikut satu madzhab itu tidak wajib bagi orang awam. Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab

3. Ya. Masalah najis dan suci walaupun bukan ibadah secara langsung tapi menjadi sarana sahnya ibadah shalat. Dalam kaidah ushul fikih: Sesuatu yang menjadi sarana atas suatu kewajiban, maka ia juga menjadi wajib (ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب)

Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan


NAJIS DAN SUCI


assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
saya ingin bertanya seputar najis
jadi waktu itu saya memiliki selimut yang basah lalu di selimut itu
terlihat bangkai semut karena setahu saya bangkai semut adalah najis namun diampuni bila di air jadi saya buang saja bangkai semut nya jadi yang ingin saya tanyakan apakah yang saya lakukan benar lalu bagaimana hukum selimut tersebut apakah menjadi najis dan bagaimana hukum nya bila dari selimut basah tersebut menetes air apakah air itu najis meskipun bangkai semut itu sudah saya buang

terima kasih
assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

JAWABAN

Semut mati atau bangkai semut termasuk najis yang dimakfu. Yang anda lakukan sudah benar. Hukum selimut tidak najis. Air yang menetes dari selimut juga tidak najis. Baca detail: Najis yang Dimaafkan (Makfu)


MASALAH NAJIS KENCING YANG TIDAK KELIHATAN


Bismillah
Assalamu'alaikum
Keponakan saya beser saat mau menuju ke kamar mandi. Saya tidak tahu dia mulai beser dari sebelum pintu kamar mandi atau sesudahnya. Saya melihat jelas hanya setelah masuk pintu kamar mandi. Dan sisi2 dekat kamar mandi saya cek ada sedikit bau seperti bau kencing cuma saya ragu iya atau tidak, jadi cuma saya lap pakai tangan dan air beberapa kali untuk hati-hati (untuk warna tidak jelas karena kondisi kamar mandi memang basah).

Sesudah itu saya lap dengan tisu kering, namun masih ada baunya. Sehingga saya beranggapan kemungkinan itu bukan bekas air kencing. Memang bau saja. Semakin hari saya jadi berat hati karena sudah belakangan ini dilanda was-was najis, sehingga semakin membuat sedih dan sesak di hati saya. Pun, karena keponakan saya yang masih kecil dan suka tidak terkendali saat buang air. Saya sangat kesal karena khawatir jika terkena najis akan mempengaruhi sholat saya. Kekesalan saya juga jadi ke semua orang dan saya merasa bersalah telah bersikap buruk kepada anak kecil dan keluarga saya.
1. Bagaimana status kamar mandi saya tersebut? Apakah sudah suci atau najis?
2. Bagaimana solusinya untuk keluarga yang punya balita yang terkadang tidak terkendali membuang air? Apakah itu dianggap darurat dan dimaafkan?
3. Benarkah najis sedikit yang tidak diketahui pasti letaknya seperti kasus saya itu dimaafkan? Karena saya sudah berusaha semampu saya untuk menjauhinya. Namun, saya benar-benar takut jika memang ada najisnya di sisi lain kamar mandi
4. Apa saya berdosa jika mengambil yang yakin bahwa najisnya mulai dari tempat yang saya yakini saja?

JAWABAN

1. Kamar mandi yang terkena najis harus disiram dengan air. Kalau itu sudah dilakukan maka sudah suci.

2. Setiap najis harus disucikan. Caranya, tempat yang terkena najis dilap pakai tisur kering lalu disiram pakai air.

3. Ya, dimaafkan. Baca detail: Percikan Kencing Najis yang Dimakfu

4. Tidak dosa. Bahkan boleh menganggap tidak ada najis kalau memang tidak melihat najis itu. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

HUKUM AIR BEKAS NAJIS HUKMIYAH MENGALIR KE NAJIS HUKMIYAH LAIN


Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh saya ingin bertanya bagaimana hukumnya jika air bekas mensucikan najis hukmiyah mengalir ke najis hukmiyah yang lainnya apakah najis tersebut menjadi suci atau justru air tersebut menjadi najis dan bagaimana hukumnya najis hukmiyah yang sudah dibersihkan tadi apakah harus dibersihkan ulang?
Terimakasih assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh

JAWABAN

Najis hukmiyah yang terkena air bekas menyucikan najis hukmiyah hukumnya tetap najis. Karena air tersebut termasuk mustakmal yang tidak dapat menyucikan najis. Najis baru bisa suci apabila dialiri air mutlak yang suci dan menyucikan. Baca detail: 4 Jenis Air

Sedangkan air hukmiyah tadi menjadi najis karena ketularan najis menurut madzhab Syafi'i. Namun suci (tapi tidak menyucikan) menurut mazhab Maliki. Baca detail: Najis Hukmiyah Kering Terkena Benda Basah Menurut Madzhab Maliki

Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

Godaan Setan agar Manusia Mencela Allah

GODAAN SETAN UNTUK MENCELA ALLAH


Assalamu'alaikum, sebelum saya bertanya izinkan saya bercerita.
Saya merasa mendapat was was dari syaiton untuk mencela Allah. Dan dari perkataan pada hati saya saat itu, saya merasa telah mencela Allah. Sungguh saya tidak ingin melakukan hal tersebut.

Saya juga pernah mendengan hadist yang berbunyi Nabi muhammad SAW bersabda "sungguh Allah memaafkan umatku dari was was dalam hati selama tidak dilisankan dan dilakukan dengan perbuatan"

Tapi setelah kejadian tersebut saya sungguh menyesal, saya bertaubat kepada Allah dengan lisan saya berkata "ya Allah ampunilah saya, saya sangat menyesal karena mengucapkan *((kata mencela Allah))* pada hati saya, ampunilah saya ya Allah"

Pertanyaanya

Waktu saya bertaubat kepada Allah kan saya melisankan kata kata tersebut, apakah karena melisankan kata kata tersebut bisa membuat murtad??

Apakah orang yang murtad boleh dan bisa masuk lagi ke islam??

JAWABAN

1. Tidak berakibat murtad. Tuhan itu Maha Pintar dan Maha Tahu. Maka, Dia tidak akan menghukum hambaNya yang berbuat salah tanpa disengaja. Lagipula, suara hati tidak berdosa. Apalagi karena was-was/OCD. Baca detail: Berbuat Dosa Tanpa Sengaja

Saat Anda berdoa itu kan dalam konteks memohon ampun bukan untuk mencelaNya. Maka, sangat berbeda dengan apabila mengucapkan itu dalam konteks mencela bukan dalam keadaan memohon ampun. Malah menyebutkan 'kesalahan' saat meminta maaf pada sesama manusia itu dianggap baik. Baca detail: Cara Taubat Nasuha

Kasus anda ini seperti kasus penderita OCD. Jadi dimaafkan seandainya pun anda sampai mengucapkannya secara lisan. Apalagi kalau cuma dalam hati. Baca detail: Was-was karena OCD

Murtad ini menurut ulama Ahlussunnah Wal Jamaah adalah perkara besar. Dan baru terjadi apabila dilakukan dalam keadaan sadar dan bukan karena tekanan. Baik tekanan psikologis (karena was-was) atau tekanan pihak luar. Baca detail: Penyebab Murtad

2. Boleh dan bisa masuk Islam lagi. Semua dosa sebesar apapun akan diterima taubatnya oleh Allah selagi taubatnya itu dilakukan saat masih hidup. Termasuk dosa syirik sekalipun. Allah Maha Pengampun. Baca detail: Cara Taubat Nasuha

Adapun cara masuk Islam adalah dengan membaca dua kalimat syahadat sebagaimana orang kafir masuk Islam. Baca detail: Cara Orang Murtad kembali ke Islam

CATATAN:

Was-was akidah terkadang disebabkan oleh salah bacaan agama. Hati-hati dan hindari membaca artikel-artikel yang ditulis oleh kalangan radikal dan sesat seperti Wahabi Salafi karena akan membuat wawasan anda akan semakin menyempit, bukan meluas. Salah satu akibatnya dapat membuat anda jadi selalu was-was murtad. https://www.fatihsyuhud.net/islam/

PERNAH IKUT NATAL, APA PERLU SYAHADAT ULANG?


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustadz, saya muslim yg belum lama hijrah. Sebelumnya saya hidup jauh dari ilmu syari'at. Dan saya pernah bergaul dengan orang non muslim.

Semasa kuliah dulu tahun 2008 saya pernah ikut dalam acara perayaan natal di senayan jakarta karena rasa penasaran saya tentang apa yang dilakukan oleh orang-orang non muslim dalam peribadatan mereka. Seingat saya ketika acara berlangsung, saya mengucapkan kalimat istighfar berkali-kali namun saya tetap berada di tempat tersebut. Sekarang sedikit demi sedikit saya belajar ilmu syari'at, saya sadar bahwa itu adalah salah. Lalu
bagaimana saya harus memperbaiki kesalahan saya ustadz, apa kah perlu saya bersyahadat ulang? Jika memang perlu, apakah harus di hadapan imam dan ada saksi-saksi?

Kedua, kemarin saya bingung dengan diri saya. Ketika marak kasus penghinaan rasulullah, tiba-tiba dalam hati saya pun seperti berkata menghina rasul. Saat tu saya langsung beristighfar kemudian selang beberapa hari terjadi lagi seperti itu. Hanya dalam hati dan saya pun langsung beristighfar. Sekarang saya khawatir, apakah saya termasuk orang yg kafir setelah beriman atau murtad? Apa yang harus saya lakukan ustadz. Mohon bantu saya. Terima kasih.

JAWABAN

1. Tidak perlu bersyahadat ulang. Karena anda tidak murtad atau keluar dari Islam. Hukum mengikuti ritual hari raya agama lain adalah haram dan berdosa. Tapi tidak murtad. Adapun apabila hanya mengucapkan "selamat natal" saja tanpa ikut ritualnya, maka ulama berbeda pendapat. Ada yg menyatakan haram, ada pula yg menyatakan boleh. Baca detail: Hukum Ucapan Selamat Natal

Yang diperlukan adalah bertaubat nasuha dan tidak mengulangi. Baca detail: Cara Taubat Nasuha

2. Menghina Rasulullah yang berakibat murtad adalah apabila a) diucapkan; b) disengaja. Apabila tidak terpenuhi kedua unsur itu maka tidak masalah. Baca detail: Hukum Lintasan Hati

CATATAN

Anda dalam proses hijrah atau taubat. Itu sangat baik. Dalam proses hijrah ini, harap berhati-hati dalam memilih guru, ustadz dan artikel online yang dibaca agar tidak terjebak dari satu kesalahan (perbuatan maksiat) menuju kesalahan lain (aliran sesat). Terperangkap masuk aliran sesat justru akan lebih berbahaya karena ia biasanya dibungkus dalam bingkai agama sehingga anda tidak merasa bahwa anda sedang berbuat dosa, berbeda halnya ketika terperosok dalam lingkaran maksiat di mana kita merasa salah dan berbuat dosa.

Silahkan baca beberapa artikel berikut sebagai pembuka wawasan dalam soal aliran:

- https://www.alkhoirot.com/beda-wahabi-hizbut-tahrir-jamaah-tabligh-dan-syiah/
- https://www.fatihsyuhud.net/islam/
- Konsep Tauhit Bid'ah Salafi Wahabi

06/06/20

Hukum Model dalam Islam

HUKUM MODEL DALAM ISLAM


Assalamualaikum.

Saya berniat berjualan gamis atau hijab. Hanya karna keterbatasan modal, saya baru bisa menjadi Dropshipper dengan skema Salam yang pembeli membayar duluan. Media promosi yang umum adalah dengan membayar jasa model atau selegram. Hanya biasanya model wanita didandani agar lebih menarik. Ada referensi yang mengatakan haram memakai jasa model. Yang ingin saya tanya:

1. Jika Suplier saya yang mempromosikan gamis & hijab di toko online nya memakai jasa model, lalu saya membuat toko online sendiri dengan promosi hanya foto produk tanpa model, apakah saya ikut berdosa karna kerja sama dengan Suplier yang memakai jasa model & selegram?

2. Jika nanti saya sudah punya modal lalu dari Dropshipper menjadi Reseller, bolehkah saya tetap membeli dari Suplier yang memakai jasa model? Karna walaupun saya mencari Suplier offline, kebanyakan toko juga memakai jasa model walau tidak semua baju dipakai

3. Jika memang haram karna dianggap membantu keburukan, bagaimana hukum membeli pakaian di toko offline/online yang dipromosikan model?

Terima kasih banyak.

JAWABAN


1. Tidak ikut berdosa. Dalam soal halal haram suatu bisnis, yang dihitung adalah barang yang dibisniskan itu termasuk barang halal atau haram. Dan gamis hijab termasuk barang halal. Maka hukumnya halal. Baca detail: Bisnis dalam Islam

Contoh yang lebih spesifik adalah seandainya ada orang bekerja di bank konvensional tapi bukan di bagian yang riba, misalnya sebagai satpam, maka gaji si satpam adalah halal karena dia bekerja di bagian yang halal. Baca detail: Hukum Bank Konvensional

2. Boleh. Selagi barang yang dijual adalah barang halal, maka hukumnya halal. Tanpa melihat pada proses sebelumnya.

3. Pertanyaan ini tidak lagi relevan.


CARA TAUBAT DOSA SUAP


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ustadz, bagaimana hukumnya seorang anggota polri yang ketika daftar dan menjalani serangkaian tes untuk menjadi polisi, memakai uang dan itu sudah jadi rahasia umum di kalangan masyarakat. Apakah itu termasuk sogok yang diharamkan? Lalu bagaimana cara bertaubat apabila itu termasuk sogok. Mohon penjelasannya ustadz, terima kasih.

JAWABAN


Pertama, menyuap agar diterima termasuk sogok. Dan sogok hukum asalnya adalah haram. Namun, kalau suap itu sudah menjadi praktek yang umum sementara anda secara kualifikasi berhak untuk diterima, maka suap itu
tidak berdosa bagi si penyuap tapi berdosa bagi penerima suap. Baca detail: Hukum
Korupsi


Kedua, tapi kalau ternyata anda secara kualifikasi sebenarnya tidak memenuhi syarat tapi karena nyogok jadi lolos, maka hukumnya haram bagi penyuap dan penerima suap. Sesuai hadis bahwa "Penyuap dan yang disuap sama-sama masuk neraka." Cara taubatnya adalah dengan menyesali dan memohon ampun pada Allah serta tidak mengulanginya lagi. Baca detail: Cara
Taubat Nasuha


Ketiga, kalaupun yang terjadi adalah kasus kedua, maka gajinya tetap halal apabila pekerjaan sehari-hari yang dilakukan adalah pekerjaan halal. Baca detail: Hukum Masuk PNS karena Suap

PERKARA YANG MEMBATALKAN MANDI JUNUB


Assalamu'alaikum wr. wb.

Saya mau tanya ustadz. Apabila kita sedang mandi wajib, lalu terlintas pikiran untuk membatalkan mandi tersebut tapi kita belum membatalkannya. Apakah yang terlintas itu menyebabkan batalnya mandi wajib?
Mohon jawabannya ustadz.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

JAWABAN


Tidak. Pikiran untuk membatalkan mandi itu tidak membatalkan mandi junub. Karena ia tidak termasuk perkara yang membatalkan atau yang berakibat junub/hadas besar. Hal yang membatalkan mandi junub antara lain: keluar mani, hubungan badan, haid, nifas. Baca detail: Pembatal Mandi Wajib / Penyebab Mandi Besar

MEMBATALKAN JANJI DENGAN TEMAN, APA DOSA?


Assalamualaikum ustadz saya ingi bertanya apabila saya dan teman teman saya saling berjanji untuk pergi ke suatu tempat tapi karna ada kesibukan sekolah dll dan tidak ada uang akhirnya saya membatalkan tapi saya meminta maaf ke dia, dan dia pun memakluminya.

apakah saya berdosa ustad? sekalian ustadz saya ingin bertanya saat teman saya berulang tahun dia pernah meminta kado dengan bercanda dan saya dengan bercanda juga menanyakan nya dia ingin kado apa tapi niatnya hanya untuk bercanda apa kah itu termasuk janji dan harus ditepati? terimakasih ustadz

JAWABAN


Hukum asal janji harus ditepati. Namun kalau sudah meminta maaf, maka tidak masalah. Janji adalah urusan antar sesama manusia dan diselesaikan (dg meminta maaf) juga pada manusia yang bersangkutan. Baca detail: Hukum Janji dalam Islam

Kalau sama-sama tahu bahwa itu adalah canda, maka tidak masalah.

26/04/20

Yang Prinsip dalam Niat Ibadah

Yang Prinsip dalam Niat Ibadah
YANG TERPENTING DALAM NIAT IBADAH

Assalamualaikum

Saya mau tanya, jika niat itu adalah pembeda suatu ibadah yang satu dengan yang lainnya, apa hal yang paling minimal harus ada dalam niat ibadah ?

Selama ini saya berniat seperti ini pak ustadz :

-Untuk wudhu : Ya Allah saya wudhu
-untuk mandi wajib : ya Allah saya mandi wajib atau hanya mandi wajib karena Allah
-untuk sholat fardhu : ya Allah saya sholat zuhur
-sholat sunnah : ya Allah saya sholat tahiyatul mesjid
-untuk puasa ramadan : ya Allah saya puasa ramadan esok hari

Apakah niat saya diatas dibenarkan dan sah niatnya ?

JAWABAN

Semua niat yang anda ucapkan di atas sudah benar.

Sebagai tambahan, untuk shalat fardhu apabila dilakukan secara berjamaah dan jadi makmum, maka yang wajib adalah menyebutkan nama shalat (misalnya, zhuhur) dan menjadi makmum.

Baca detail:
- Cara Niat
- Niat Tanpa Nawaitu, apa sah?

CARA NIAT IBADAH (2)

1. Berarti untuk sholat boleh hanya "sholat zuhur" saja jika tidak jadi makmum dan jika jadi makmum "sholat zuhur jadi makmum" ?

2. Kalau untuk sholat sunat apakah harus sholat sunat duha atau hanya sholat duha saja ?

3. Sering saya temui di internet terkait niat mandi wajib ada beberapa artikel yang saya temui niat mandi wajibnya berganti menjadi niat mandi besar atau mandi junub, dan didalam artikel tersebut disebutkan juga bahwa jika niatnya berbeda tergantung penyebab hadastnya.

Ada juga yang tidak sama sekali menyebutkan mandi wajib, mandi besar ataupun mandi junub, tetapi niatnya "aku mengangkat hadas yang besar" (yang ini dapat dari video ust. Azhar idrus malaysia).

Pertanyaannya, apakah sama mandi wajib dengan mandi besar dan mandi junub itu ? Lalu bolehkah niat mandi wajib tanpa ada kalimat mandi wajib, mandi junub ataupun mandi besar ?

5. Masih terkait dengan no.4 tetapi jika diterapkan di wudhu apakah juga boleh niat seperti yang no.4 tersebut dengan hanya mengganti hadas besar menjadi hadas kecil ?

6. Yang saya pahami dari semua konsultasi saya, jika niat itu tidak perlu ada kata "saya niat", "karena Allah", dan jika sholat (fardhu dan sunah) tidak perlu ada kata "fardhu dan sunah".

Bisa niat dengan hanya
-"sholat zuhur atau saya sholat zuhur"
-"sholat duha atau saya sholat duha"
-"wudhu karena Allah atau saya wudhu"
-"mandi wajib karena Allah atau saya mandi wajib"

Apakah betul demikian pak ustadz ?

JAWABAN

1. Betul. Al-Malibari dalam Fathul Muin menyatakan:

(فيجب فيها) أي النية (قصد فعلها) أي الصلاة، لتتميز عن بقية الافعال (وتعيينها) من ظهر أو غيرها، لتتميز عن غيرها، فلا يكفي نية فرض الوقت.

Artinya: Di dalam niat shalat wajib a) bersengaja melakukan shalat (dengan mengatakan saya niat shalat) agar berbeda dari perbuatan yang lain; b) wajib menentukan nama shalat seperti Zhuhur atau lainnya. Maka tidak cukup "niat shalat fardhu".

Baca detail: Niat Tanpa Nawaitu, apa sah?

2. Shalat dhuha saja sudah cukup. Tapi kalau ditambah menjadi "shalat sunnah dhuha" juga baik (dianggap sunnah). Al-Jaziri dalam Al Fiqh alal Madzhahib Al Arba'ah menyatakan:

الشافعية قالوا: صلاة النافلة إما أن يكون لها وقت معين؛ كالسنن الراتبة، وصلاة الضحى، وإما أن لا يكون لها وقت معين، ولكن لها سبب، كصلاة الاستسقاء؛ وإما أن تكون نفلاً مطلقاً، فإن كان لها وقت معين، أو سبب، فإنه يلزم أن يقصدها ويعينها، بأن ينوي سنة الظهر مثلاً، وأنها قبلية أو بعدية؛ كما يلزم أن يكون القصد والتعيين مقارنين لأي جزء من أجزاء التكبير، وهذا هو المراد بالمقارنة والاستحضار العرفيين، وقد تقدم مثله في صلاة الفرض، ولا يلزم فيها نية النفلية، بل يستحب،

Artinya: Madzhab Syafi'i berpandangan bahwa shalat sunnah itu adakalanya (a) shalat yang punya waktu khusus seperti shalat sunnah rawatib dan shalat dhuha. (b) Adakalanya tidak punya waktu khusus tapi ada sebab seperti shalat istisqo'; (c) adakalanya shalat sunnah mutlak. Shalat sunnah waktu khusus atau punya sebab itu wajib berniat shalat dan menentukannya (menyebut nama shalat) seperti "Niat sunnah zhuhur" dan menyebut qabliyah atau ba'diyah. Wajib juga bersengaja (shalat) dan menentukan (nama shalat) yang keduanya bersamaan dengan salah satu bagian takbirotul ihram.Ini yang disebut dengan bersamaan dan menghadirkan yang uruf (umum). Tidak wajib niat sunnah, tapi sunnah mengucapkan kata "sunnah".

3. Mandi wajib, mandi besar dan mandi junub sama ketiganya. Yakni, kondisi di mana orang sedang mandi untuk menghilangkan hadas besar.

4. Jika berniat mandi wajib tanpa ada kalimat seperti yang dijelaskan di no.3 dibolehkan dan sah, berarti jika berniat mandi wajib hanya dengan "mengangkat hadast besar karena Allah", "bersuci dari hadas besar karena Allah" atau "menghilangkan hadas besar karena Allah" juga diperbolehkan ?

4. Ya, boleh.

5. Ya, boleh juga diterapkan di wudhu.

6. Betul.
Baca detail:
- Cara Niat
- Niat Tanpa Nawaitu, apa sah?

19/03/20

Hukum Bayi Tabung dalam Islam

Hukum Bayi Tabung dalam Islam
BAYI TABUNG DALAM ISLAM

Assalamu'alaikum Wr. Wb. Saya Sigit Ahmad Fauzan dari Universitas Indraprasta PGRI Ingin bertanya..

Melihat perkembangan zaman dan teknologi yang semakin berkembang, banyak fenomena yang terjadi seperti kasus bayi tabung, dimana orang bisa punya keturunan ataupun anak tanpa harus mengalami proses hamil. Misal seperti kasus almarhumah Julia Perez, beliau pernah ingin punya anak tapi karena rahimnya tidak kuat, karena faktor penyakit, sehingga mencari jalan pintas yaitu dengan cara bayi tabung, namun belum terwujud.

Bagaimanakah dalam pandangan agama tentang bayi tabung, jika itu berhasil? Apakah nantinya si bayi itu mempunyai hak waris atau tidak? Ulama mana yang membolehkan dan tidak, dalam kasus bayi tabung tersebut! Mohon penjelasannya. Terimakasih. Wassalamualaikum Wr. Wb

JAWABAN

Pertama, secara teknis, metode bayi tabung (Arab: atfal anabib - أطفال الأنابيب) atau inseminasi buatan (Arab: talqih shina'i) ada dua cara yaitu:

a) FERTILAZION INI Vitro (FIV) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri kemudian di proses di vitro (tabung) dan kemudian kalau sudah terjadi pembuahan lalu ditranfer di rahim istri.

b) Gamet Intra Felopian Tuba (GIFT) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri dan setelah dicampur terjadi pembuahan, maka segera ditanam di saluran telur (Tuba palupi).

Kedua, dua metode bayi tabung di atas dibolehkan dengan syarat,
a) sperma pria dan ovum/mani wanita yang dimasukkan ke dalam alat berasal dari pasangan suami istri yang sah. Tidak boleh sperma dari pria dan ovum wanita yang tidak ada hubungan suami istri.

b) Hasil inseminasi tidak boleh diletakkan di rahim wanita lain. Harus ditaruh di rahim ibunya sendiri / pemilik ovum. Walaupun wanita lain itu adalah salah satu istri si pria.

Hal ini berdasarkan pada
a) dalil umum haramnya berzina pada QS Al-Isra 17:32.
b) Hadis Nabi atas haramnya meletakkan mani pria di rahim wanita bukan istrinya sebagaimana terdapat dalam Al-jami’ul Shoghir hadis no. 8030

شرك أعظم عند الله من نطفة وضعها رجل فى رحم لايحل له. رواه ابن الدنا عن الهشيم بن مالك الطائ الجامع الصغير

Artinya: Tidak ada dosa yang lebih besar setelah syirik (menyekutukan Allah ) disisi Allah dari pada maninya seorang laki-laki yang ditaruh pada rahim wanita yang tidak halal baginya. (HR. Ibnu Abid-dunya dari Hasyim bin Malik al-thoi).

Dan hadis sahih sebagaimana disebut dalam kitab Hikmat Tasyri’ wa Sifatuhu, hlm. 2/48 Nabi bersabda:

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يسق ماءه زرع غيره

Artinya: Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali menyiram air (maninya ) pada lahan tanaman (rahim) orang lain.

Cara mengeluarkan sperma harus dengan cara yang muhtarom artinya dibolehkan secara syariah.
Al-Hashni dalam Kifayah al-Akhyar fi Hilli Ghayah al-Ikhtishar, hlm. 1/478, menyatakan:

(فَائِدَةٌ) لَوِ اسْتَمْنَى الرَّجُلُ مَنِيَّهُ بِيَدِ امْرَأَتِهِ أَوْ أَمَتِهِ جَازَ ِلأَنَّهَا مَحَلُّ اسْتِمْتَاعِهَا

Artinya: Seandainya seorang lelaki berusaha mengeluarkan spermanya (beronani) dengan tangan istrinya , maka hal tersebut boleh karena istri itu memang tempat bersenang-senangnya.

Hal ini dijelaskan dengan lebih detail dalam kitab Bujairami Iqna’, hlm. 4/36, sbb:

المراد بالمنى المحترام حال خروجه فقط على ما اعتمده مر وان كان غير محترم حال الدخول، كما اذا احتلم الزوج وأخذت الزوجة منيه فى فرجها ظانة أنه من منىّ اجنبى فإن هذا محترم حال الخروج وغير محترم حال الدخول وتجب العدة به إذا طلقت الزوجة قبل الوطء على المعتمد خلافا لإبن حجر لأنه يعتبر أن يكون محترما فى الحالين كماقرره شيخنا.

Artinya: (Kesimpulan) yang dimaksud mani muhtarom (mulia) adalah pada waktu keluarnya saja, seperti yang dikuatkan Imam Romli, meskipun tidak muhtarom pada waktu masuk. Contoh: suami bermimpi keluar mani, dan istrinya mengambilnya (air mani tersebut) lalu dimasukan ke farjinya dengan persangkaan, bahwa air mani tersebut milik laki-laki lain (bukan suaminya) maka hal ini dinamakan mani muhtarom keluarnya, tapi tidak muhtarom waktu masuknya ke farji, dan dia wajib punya iddah (masa penantian) jika suaminya menceraikan sebelum disetubui. Menurut yang mu’tamad, berbeda dengan pendapatnya imam Ibnu Hajar yang mengatakan, kriterianya harus muhtarom keduanya (waktu masuk dan keluar) seperti ketetapan dari Syaikhuna (Rofi’i Nawawi).

Pendapat di atas berdasarkan hasil keputusan KEPUTUSAN MUNAS ALIM ULAMA
Di Kaliurang Yogyakarta Pada Tanggal 30 Syawal 1401 H. / 30 Agustus 1981 M sebagaimana dimuat di buku Ahkamul Fuqaha no. 331

Selanjutnya pada 1986 terdapat Hasil Keputusan Akademi Fikih Islam Dunia (Majmak Al-Fiqh Al-Islami) yang diadakan di Makkah, Arab Saudi, pada 8-13 Sofar 1407 H; 11 s/d 16 Oktober 1986 dan dimuat di Majallah Al-Majmak, edisi 3/1/423, menjelaskan sbb:

بعد استعراضه لموضوع التلقيح الصناعي " أطفال الأنابيب " ، وذلك بالاطلاع على البحوث المقدمة ، والاستماع لشرح الخبراء والأطباء ، وبعد التداول تبين للمجلس : "أن طرق التلقيح الصناعي المعروفة في هذه الأيام هي سبع :

الأولى : أن يجرى تلقيح بين نطفة مأخوذة من زوج وبييضة مأخوذة من امرأة ليست زوجته ثم تزرع اللقيحة في رحم زوجته .

الثانية : أن يجرى التلقيح بين نطفة رجل غير الزوج وبييضة الزوجة ثم تزرع تلك اللقيحة في رحم الزوجة .

الثالثة : أن يجرى تلقيح خارجي بين بذرتي زوجين ثم تزرع اللقيحة في رحم امرأة متطوعة بحملها .

الرابعة : أن يجرى تلقيح خارجي بين بذرتي رجل أجنبي وبييضة امرأة أجنبية وتزرع اللقيحة في رحم الزوجة .

الخامسة : أن يجرى تلقيح خارجي بين بذرتي زوجين ثم تزرع اللقيحة في رحم الزوجة الأخرى .

السادسة : أن تؤخذ نطفة من زوج وبييضة من زوجته ويتم التلقيح خارجيا ثم تزرع اللقيحة في رحم الزوجة .

السابعة : أن تؤخذ بذرة الزوج وتحقن في الموضع المناسب من مهبل زوجته أو رحمها تلقيحا داخليّاً .

وقرر :

أن الطرق الخمسة الأول كلها محرمة شرعا وممنوعة منعا باتا لذاتها ، أو لما يترتب عليها من اختلاط الأنساب ، وضياع الأمومة ، وغير ذلك من المحاذير الشرعية .

أما الطريقان السادس والسابع فقد رأى مجلس المجمع أنه لا حرج من اللجوء إليهما عند الحاجة مع التأكيد على ضرورة أخذ كل الاحتياطات اللازمة " انتهى .

Artinya: Setelah meninjau topik seputar inseminasi buatan "bayi tabung" dan meninjau pembahasan yang lain dan mendengar penjelasan para pakar dan dokter dan setelah diskusi maka menjadi jelas bagi majlis bahwa metode inseminasi buatan atau bayi tabung yang populer di zaman ini ada tujuh cara:

Yang pertama: melakukan inokulasi antara sperma yang diambil dari seorang suami dan sel telur yang diambil dari seorang wanita yang bukan istrinya, dan kemudian ditanamkan di dalam rahim istrinya.

Yang kedua: Bahwa penyerbukan terjadi antara sperma lelaki selain dari suami dan sel telur isteri, maka penyerbukan itu ditanamkan di dalam rahim isteri.

Yang ketiga: bahwa pembuahan eksternal dilakukan di antara benih pasangan yang sudah menikah, dan kemudian penyerbukan ditanamkan di dalam rahim wanita sukarelawan (surrogate) yang mengandungnya.

Keempat: vaksinasi eksternal dilakukan antara benih pria asing dan telur wanita asing, dan hasilnya ditanamkan di dalam rahim istri.

Kelima: bahwa pembuahan eksternal dilakukan antara benih pasangan yang sudah menikah, dan kemudian hasilnya ditanamkan di dalam rahim istri yang lain.

Keenam: mengambil sperma dari suami dan telur dari istrinya, dan penyerbukan dilakukan secara eksternal, dan kemudian hasilnya ditanamkan di dalam rahim istri.

Ketujuh: Benih suami diambil dan disuntikkan ke posisi yang sesuai dari vagina atau rahim istrinya.

Dari praktek yang terjadi di atas, Majelis memutuskan:

Bahwa lima metode pertama semuanya dilarang oleh hukum dan dilarang keras untuk diri mereka sendiri, atau karena percampuran garis keturunan, kehilangan peran sebagai ibu, dan tindakan pencegahan hukum lainnya.

Adapun jalan keenam dan ketujuh, dewan melihat bahwa tidak ada yang salah dengan menggunakan jalan itu saat dibutuhkan, sambil menekankan perlunya mengambil semua tindakan pencegahan yang diperlukan.

KESIMPULAN

Bayi tabung atau inseminasi buatan adalah boleh dengan syarat:
a) Sperma berasal dari suami dan ovum dari istri yang sah.
b) Hasil bibit harus ditanamkan di rahim istri. Tidak boleh ditaruh di rahim perempuan lain.

Baca juga: Menikahi Wanita Hamil Zina, Bolehkah?

29/02/20

Hukum dan Cara Menyucikan Najis di Lantai

NAJIS DI LANTAI:

Bismillah.

Assalamu'alaikum.

Beberapa bulan ini saya dilanda was-was luar biasa. Sehingga membuat hati saya terasa sesak dan sedih. Karena ada beberapa kejadian yang saya tidak tahu/ragu harus mengambil sikap bagaimana. Sampai saat ini saya belum punya guru yang bisa ditanyai perkara fiqih. Jadi saya hanya mengandalkan apa yang saya baca dan pahami semampu saya.

Yang ingin saya konsultasikan:

1. Dulu pernah ada keponakan yang kencing di kasur saya. Namun, saya tidak ingat apakah kencing itu mengenai kasur atau sprei saja. Saya juga tidak tahu dan ingat sudah disucikan dengan benar atau tidak. Saya tanya ibu saya sudah dibersihkan sepertinya. Biasanya memang kalau ada najis langsung dibersihkan. Namun saya ragu sudah dengan cara yang benar atau tidak dilakukan oleh mereka. Dan saya khawatir ada atau tidak rembesan kencing terkena di kasur. Saya cek tidak ada lagi bau kencing di segala sisi kasur. Jika warna tidak bisa dilihat karena kasurnya hitam. Apa yang harus saya lakukan? Saya jadi was-was setiap mengenai kasur dalam keadaan kaki basah. Apa solusi terbaik dan pandangan 4 mazhab terhadap status kasur saya tersebut dan cara utk mengatasi rasa was-was saya ini?

2. Selain itu, di kasur lainnya di rumah, kakak saya sepertinya pernah membersihkan bekas kencing dengan menggunakan air pewangi. Sehingga tidak ada lagi bekas dan warna najisnya. Bagaimana status kasurnya dan sah kah cara membersihkannya. Bagaimana sebenarnya pandangan islam menurut 4 madzhab mengenai najis di kasur, pakaian atau kain?

3. Bagaimana hukum mengelap lantai yang ada najis seperti kencing atau kotoran balita. Saya pernah baca menurut madzhab hanafi sah. Karena di rumah, kakak saya pernah membersihkan najis dengan kain kering hingga hilang bekasnya dan mengelap lagi dengan kain basah hingga hilang tidak ada lagi baunya. Saya selalu was-was tentang hal ini. Saya takut berdampak pada sah tidaknya wudhu dan sholat saya. Apakah cara tersebut dibenarkan dalam islam?


Jazakillah khoiron.

JAWABAN

1. Kalau di kasur anda tidak ada najis yang terlihat, maka berarti kasur anda suci. Dalam keadaan di mana suatu benda suci diduga terkena najis tapi tidak ada bukti najis, maka statusnya kembali ke status awal yaitu suci. Baca detail: Saat Ragu, Status Benda kembali ke Hukum Asal

Kalau toh seandainya di kasur itu ada rembesan kencing, maka najis kencing yang tidak kelihatan lagi disebut najis hukmiyah. Najis hukmiyah menurut madzhab Maliki tidak menular najisnya. dengan kata lain sudah dianggap suci. Baca detail: Najis Hukmiyah Madzhab Maliki

2. Setiap benda suci yang terkena najis maka hukumnya menjadi najis (mutanajis). Adapun cara menyucikannya harus (a) dibuang benda najisnya; dan (b) tempat najis tsb dibasuh dg air. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

Jadi, cara yang dilakukan kakak anda itu tidak benar. Karena air yang digunakan harus air mutlak, bukan air/cairan pewangi. Baca detail: 4 Macam Air

Namun sekali lagi, apabila bekas najisnya sudah tidak ada, maka ia menjadi najis hukmiyah yang hukumnya tetap najis tapi tidak menularkan najis menurut madzhab Maliki. Baca detail: Najis Hukmiyah Madzhab Maliki

3. Seperti disebut di no.2, cara menyucikan najis ada dua tahap: a) membuang najisnya yg bisa dilakukan dg tisu atau kain; b) menyiram bekas najis dengan air suci dan menyucikan. Baca detail: 4 Macam Air

Pendapat madzhab Hanafi dan Maliki tidaklah berbeda secara prinsip dengan cara di atas, terutama poin (a). Hanya saja, untuk poin (b) madzhab Hanafi membolehkan mengusap (al-masah), tidak harus menyiram (al-ghusl). Mengusap di sini maksudnya, tangan atau kain yang basah diusapkan pada tempat najis itu sudah cukup bisa menyucikan.

Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 2/621, menjelaskan perbedaan madzhab empat soal ini:

إذا أصابت النجاسة شيئاً صقيلاً كالسيف والسكين والمرآة ونحوها لم تطهر بالمسح ولا تطهر إلا بالغسل كغيرها، وبه قال أحمد وداود، وقال مالك وأبو حنيفة: تطهر بالمسح.

Artinya: Apabila ada najis yang mengenai benda seperti pedang, pisau, kaca, dll maka tidak bisa suci hanya dengan diusap saja kecuali dengan dibasuh sebagaimana (cara menyucikan najis) yg lain. Ini juga pendapat Ahmad bin Hanbali (madzhab Hanbali) dan Dawud. Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah menganggap suci dengan diusap saja. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan


KARENA WAS-WAS JADI BOROS KONSUMSI AIR

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Akhir-akhir ini saya sangat boros menggunakan air di kamar mandi rumah saya karena was-was bahwa ada bagian tubuh yang masih belum bersih saat istinja. Pertanyaannya:

a. Saat istinja dari buang air besar dan kecil, biasanya akan ada percikan / terkena air cebok tadi di paha dan betis saya. Apakah air yang mengenai paha dan betis saya itu suci? Haruskah air bekas cebok yang mengenai saya tadi dibasuh juga? Lalu, jika saya siram, biasanya percikannya akan mengenai dinding kamar mandi dan dinding bak. Apakah dinding kamar mandi dan dinding baknya juga harus dibasuh? Jika saya ke kamar mandi lagi dan bagian tubuh saya terkena dinding kamar mandi yang belum disiram itu, apakah saya juga terkena najis?

b. Jika saya menyiram kaki kanan dari percikan kencing, lalu kemudian air basuhan itu mengenai kaki kiri, apakah kaki kiri saya jadi ikut bernajis? Lalu, jika saya menyiram kaki kiri, lalu percikannya malah mengenai kaki kanan, apakah kaki kanan saya jadi bernajis lagi?

c. Saya was-was saat cebok dari buang air kecil, dan saya sering berusaha memasukkan sedikit air ke dalam (maaf) lubang kemaluan saya supaya lebih bersih. Apakah tindakan saya salah?

Terima kasih atas perhatiannya.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

JAWABAN

A. Percikan yang sedikit dari najis hukumnya dimakfu (dimaafkan). Dimakfu artinya tidak masalah. Baca detail: Percikan Kencing Najis yang Dimakfu

B. Sama dengan jawaban A. Hukum dari najis yang sedikit itu dimaafkan. Dimakfu itu mirip dengan suci.

C. Salah. Yang wajib dibasuh dalam cebok adalah bagian luarnya saja. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan



08/02/20

MURTAD SELINTAS BAGAIMANA HUKUMNYA?

MURTAD SELINTAS BAGAIMANA HUKUMNYA?

Assalaamu'alaikum wr.wb,

Alhamdulillaah, jazaakumullaah khayran katsiiran atas tersedianya akun konsultasi ini. Semoga menjadi jalan manfaat untuk Ummat.

Ustadz, izinkan saya bertanya mengenai hal yang sangat privasi dan urgent menurut saya. Saya seorang perempuan usia 24 tahun, baru menikah beberapa hari lalu. Sebelum menikah, saya memang pernah memiliki penyakit was was sejak SD, namun sudah sembuh saat SMA. Was was saat itu lebih kepada was was ibadah, misal saat wudu.

Namun, seiring berjalannya waktu, tepatnya saat kuliah, saya merasa was was saya bergeser ke arah akidah. Saya kurang faham apakah ini sekedar bisikan syaitan atau Saya memang sudah murtad. Karena pada dasarnya, Saya selalu bertekad akan beriman sampai mati, dan enggan meninggalkan diin ini.

Saya bisa bersyahadat berkali-kali setiap harinya ketika tiba" ada yang terbesit dalam hati dan mengarah kepada kekafiran. Namun, itu terjadi seketika. Misal, saya membaca terjemahan Al-Quran, tiba-tiba terlintas ragu. Namun, sesaat itu saya beristighfar dan kembali bersyahadat. Demikian pula saya pernah tiba-tiba latah dalam hati seolah-olah menghina Allah, 'auudzubillaahimin dzaalik. Tapi, seketika itu saya insyaf dan bersyahadat lagi. Saya selalu rutin dzikir pagi petang, tahajud, baca Quran. Tapi mengapa bisa begini?

Pikiran ini sangat mengganggu, ustadz. Apalagi Saya sudah menikah. Saya takut apakah pernikahan saya bisa fasakh karena ini. Bahkan, untuk lebih meyakini, saya kini setiap hari masih mencari jawaban agar mantap.

Pernah Saya membaca sebuah artikel bahwasanya ini bukanlah murtad, tapi was was. Karena ada hadits bahwasanya Allah memaafkan apa yang terlintas di hati selagi tidak diucapkan dan dilakukan.

Maka, pertanyaan Saya, apakah ini murtad karena keraguan atau was was saja? Adakah batasan waktu sehingga orang bisa dicap murtad? Apakah ragu" / terbesit keraguan hanya dalam beberapa saat masuk ke dalam kategori murtad?

Demikian pertanyaan saya, semoga Allah menjaga Saya dan tetap menjadikan Saya Muslimah sampai wafat nanti. Aamiin, Allaahummaa aamiin..

JAWABAN

Yang anda alami adalah was-was. Apalagi anda sudah pernah mengalami was-was dulunya. Dan cara mengobatinya adalah dengan mengabaikannya sama sekali. Karena, semakin dipikir, bisikan itu akan terus ada dan semakin menjadi obsesi. Baca detail: Cara Sembuh Was-was Najis, Wudhu, Mandi, Shalat

Betul apa yang pernah anda baca, bahwa jalannya pikiran tidak berakibat murtad. Apalagi kalau itu tidak sampai terucap. Baca detail: Hukum Lintasan Hati

Perlu juga diketahui, bahwa murtad itu adalah perbuatan atau ucapan yang menimbulkan murtad yang dilakukan dengan sukarelanya hati. Kalau ucapan atau perbuatan penyebab murtad itu dilakukan karena terpaksa atau karena was-was maka tidak jatuh ke dalam kategori murtad. Ini terutama bagi penderita OCD. Di mana anda tampaknya salah satu penderita OCD tsb. Baca detail: Was-was karena OCD



WAS-WAS AKIDAH

Assalamu'alaikum.Saya penderita was-was yang parah,dan kadang karena saya was-was,muncul rasa ketakutan aneh-aneh.Misalnya,Ka'bah berwarna hitam,lalu akibat rasa ketakutan aneh-aneh saya,saya mempunyai anggapan jika saya menginjak warna hitam berarti saya telah menginjak Ka'bah.Tentunya anggapan saya ini muncul bukan karena saya memang ingin menginjak Ka'bah lalu saya menganalogikan jika menginjak warna hitam sama saja menginjak Ka'bah,tapi analogi aneh-aneh tersebut muncul karena saya memang memiliki penyakit mental.Dan kadang cara melawan penyakit aneh saya adalah dengan cara menginjak warna hitam sambil merasa marah dan berkata dalam hati "dasar analogi aneh!dasar analogi aneh".Saya sangat takut sekali jika ternyata saya telah murtad,sehingga selesai Sholat saya Istighfar dan membaca 2 kalimat Syahadat (saya berpikir jika saya ternyata telah murtad toh saya juga sudah Taubat dengan cara Istighfar dan bersyahadat).Yang ingin saya tanyakan,jika saya suatu hari menginjak warna hitam,apakah analogi aneh saya Dianggap oleh Allaah sehingga saya berarti ingin menginjak Ka'bah?

JAWABAN

Cara sembuh dari was-was apapun adalah abaikan. Berpalinglah darinya. Jangan dipikir. Baca detail: Cara Sembuh Was-was

Baca juga: Cara Sembuh Was-was Najis, Wudhu, Mandi, Shalat

NAJIS:

Bismillah
Assalamu'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh

1. Dulu pernah ada keponakan saya muntah dan sudah saya bersihkan semua pakaiannya ternyata setelah bilasan terakhir masih ada satu pakaian yang ada kotoran yang melekat kuat dan harus dikerik. Padahal saya sudah berusaha keras membersihkannya namun ada satu pakaian yang masih ada satu kotoran yg tidak terlihat sebelumnya. Saat itu saya pernah dengar kalau muntah najis. Saya jadi takut tentang keadaan pakaian lain yang ikut tercuci bersama pakaian bekas muntahan sedikit itu. Jadi saya hanya cuci ulang yang ada bekas sisa muntah dan yang lain langsung dijemur. Karena keadaan air saat itu tidak ada tercemar oleh bekas sisa muntah yang sedikit itu, karena memang bekas muntahnya sedikit sekali dan melekat kuat (tidak lepas dan menyatu dengan air). Namun, setelah saya belajar dan baca lebih lanjut ada pendapat kuat bahwa muntah tidak najis. Lalu saya berubah dan menguatkan pendapat ini. Yang saya ingin tanyakan bagaimana status pakaian saya yang lainnya yg saya yakini tidak tercemar dengan muntahan? Apa hukumnya saa berpindah pendapat dan apakah memengaruhi pendapat sebelumnya?

2. Di rumah saudara saya punya anak kecil yang dulu pernah kencing di lantai sembarangan dan ada pelihara kucing yang pernah buang kotoran sembarangan. Saya tidak tahu apa mereka sudah membersihkan dengan tepat atau belum. Bagaimana sikap saya seharusnya?

3. Apa hukumnya bila saya berganti atau berpindah pendapat dari 4 madzhab? Misalnya seperti dalam hal masalah najis. Dalam satu kasus mengikut pendapat madzhab Hanafi dan dalam kasus lain mengikuti pendapat madzhab lainnya. Yang terkadang pendapat para imam madzhab terlihat berbeda jauh. Tujuan saya bukan ingin meringan-ringankan diri dalam perkara agama. Saya hanya ingin melawan rasa was-was dengan berpegang pada pendapat lain yang kiranya bisa sesuai dan menguatkan masalah saya. Karena sudah beberapa waktu belakangan ini saya terkena was-was yang membuat hati saya sempit. Apakah cara tersebut sah dan tidak dianggap berdosa? Atau apakah ada baiknya jika setelah itu saya mencari guru dan belajar satu madzhab saja, kemudian konsisten terhadapnya?

Jazakallah khoiron
Semoga Allah memberikan banyak keberkahan dan rahmat kepada tim Al Khoirot. Aamiin.

JAWABAN

1. Anda tidak menjelaskan cara mencuci baju-baju itu bagaimana? Apakah dicuci satu-satu lalu dibasuh di kran atau dicampur dalam satu ember yang ada airnya lalu kemudian dibilas satu-satu? Apapun itu, cara cuci baju yang benar apabila ada salah satu baju yang ada najisnya, maka baju itu harus dipisah, lalu dicuci tersendiri pakai air baru setelah itu dimasukkan ke ember dg baju yang lain. Baca detail: Cara Cuci Baju di Mesin Cuci

Terkait soal muntah, baca detail: Muntah

Terkait soal ikut pendapat lain atau madzhab lain, itu dibolehkan. Apabila ada pendapat yang menyatakan suci. Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab

2. Kalau najis kencing atau kotoran kucing itu sudah tidak terlihat, maka statusnya menjadi najis hukmiyah apabila masih belum disiram air. Status najis hukmiyah ada dua: a) madzhab Syafi'i menyatakan masih menularkan najis apabila basah; b) madzhab Maliki menyatakan tidak lagi menularkan najis walaupun basah. Anda bisa ikut pendapat kedua ini. Baca detail: Najis Hukmiyah Kering Terkena Benda Basah Menurut Madzhab Maliki

3. Boleh ikut pendapat madzhab yang berbeda apabila dibutuhkan. Apabila dapat memberi solusi pada masalah yang sedang dihadapi. baik masalah was-was atau masalah yang terjadi di lingkungan sekitar.
Baca artikel berikut untuk lebih detail:
- Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab
- Hukum Ganti Madzhab

26/01/20

Sedekah dan Zakat dengan Harta Haram

Sedekah dan Zakat dengan Harta Haram
MENGGUNAKAN HARTA HALAL BERCAMPUR HARAM UNTUK ZAKAT DAN SEDEKAH

Sebelumnya saya menemukan jawaban di alkhoirot.net tentang hal yang ingin saya ketahui, yakni tentang hukum laba dari modal haram. Jawabannya tertulis di alkhoirot.net bahwa ada perbedaan pendapat dari para ulama, yang saya garis bawahi menurut pendapat Imam Syafi'i laba tersebut merupakan hak pelaku (si pencuri atau penghosob) dan dihukumi halal, saya mengikuti pendapat tersebut.

1. Pertanyaannya jika kita belum atau tidak mengembalikan modal haram tersebut, kemudian kita hanya mengambil labanya saja sesuai prosentasenya, hukumnya apa ? Halal/haram/makruh, karena ada harta yang bercampur disitu yaitu modal (haram) dan laba (halal) yang mungkin bisa syubhat.

Saya mengambil laba tersebut juga untuk memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga selain itu untuk shadaqah dan zakat. Apakah boleh dan sah shadaqah juga zakatnya ?


2. Barang yang dibeli dari harta haram (hasil mencuri, korupsi dan lainnya)/ barang curian yang kemudian digunakan untuk bekerja dan dari hasil pekerjaan tersebut mendapatkan gaji/keuntungan.
Hukum gaji/keuntungan tersebut apa ? halal/haram/makruh

Sedangkan harta haram yang digunakan untuk membeli barang tersebut belum dikembalikan atau barang tersebut belum dikembalikan, apakah masuk kategori tercampur antara halal dan haram yang mungkin dihukumi syubhat

Hal ini mirip seperti pertanyaaan diatas.

Saya menggunakan harta tersebut untuk kebutuhan pribadi, keluarga selain itu untuk shadaqah dan zakat.
Apakah boleh dan sah shadaqah juga zakatnya?

Contoh:

-Motor yang dibeli dari harta haram, dan digunakan untuk ngojek kemudian saya mendapatkan uang dari situ.

-Laptop yang dibeli dari harta haram kemudian digunakan untuk bekerja sebagai desainer dan mendapat gaji.

Hukum gaji/keuntungannya? dan belum mengembalikan uang haram tersebut.

3. Hukum menggunakan harta yang disitu bercampur antara halal dan haram ?

Selain itu harta halal yang terindikasi tercampur harta haram tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga, bersedekah, zakat.
Apakah boleh dan sah sedekah dan zakat tersebut ?

4. Semua pertanyaan diatas apakah masuk pada ikhtilaful ulama/ furu'iah, yang masing-masing ulama bisa berpeda pendapat atau berbeda menghukuminya? Kalau iya baiknya saya mengikuti pendapat yang mana.

NB:
Saya sedang dalam proses bertaubat tapi masih bingung dengan persoalan tersebut, karena saya juga mengamati kasus seperti diatas banyak ditemui/lazim di masyarakat dan belum tuntas dalam penyelesainnya.

Apa yang harus dilakukan sedangkan saya gak benar-benar terpisah dari hal yang saya tanyakan diatas ? walaupun saya sudah berganti pekerjaan yang dulunya di Pemerintahan dan Partai Politik, tapi sisa-sisa harta yg saya dapatkan dulu masih ada baik berupa uang atau pun benda ?

JAWABAN

1. Kalau yang digunakan adalah labanya maka sah sedekah dan zakatnya. Karena hukum labar dari modal harta haram adalah halal sebagaimana yang sudah anda baca. Baca detail: Bisnis Halal dari Modal Harta Haram

2. Halal. Baca detail: Bisnis Halal dari Modal Harta Haram

Untuk harta haram yang belum dikembalikan atau dikeluarkan, maka anda berkewajiban untuk melakukannya apabila memungkinkan sebagai tahapan untuk menyucikan harta anda. Baca detail: Hukum Harta Syubhat dan Cara Membersihkan Harta Haram

3. Menggunakan harta yang bercampur antara halal dan haram hukumnya boleh. Baca detail: Hukum Harta Syubhat dan Cara Membersihkan Harta Haram

Terkait zakat dan sedekah dengan harta haram maka hukumnya tidak sah. Kalau memang harta haram tersebut tidak lagi dibutuhkan, maka sebaiknya anda keluarkan seluruh harta haram tersebut dg rincian: a) kalau harta itu milik orang lain (hasil mencuri) maka kembalikan pada pemiliknya; b) kalau harta itu tidak pemiliknya (seperti harta riba), maka hendaknya dikeluarkan dan diberikan pada yayasan sosial (masjid, pesantren, anak yatim) atau orang miskin. Dalam kitab Al-Mausuah Al-Fiqhiyah (Eksikolopedi Fikih), hlm. 23/248, dijelaskan secara rinci pandangan ulama 4 madzhab:


المال الحرام كالمأخوذ غضبا أو سرقة أو رشوة أو ربا أو نحو ذلك ليس مملوكا لمن هو بيده , فلا تجب عليه زكاته ; لأن الزكاة تمليك , وغير المالك لا يكون منه تمليك ; ولأن الزكاة تطهر المزكي وتطهر المال المزكى لقوله تعالى : ( خذ من أموالهم صدقة تطهرهم وتزكيهم بها ) وقال النبي صلى الله عليه وسلم: ( لا يقبل الله صدقة من غلول ) .
والمال الحرام كله خبث لا يطهر .
والواجب في المال الحرام رده إلى أصحابه إن أمكن معرفتهم وإلا وجب إخراجه كله عن ملكه على سبيل التخلص منه لا على سبيل التصدق به , وهذا متفق عليه بين أصحاب المذاهب .
قال الحنفية : لو كان المال الخبيث نصابا لا يلزم من هو بيده الزكاة ; لأنه يجب إخراجه كله فلا يفيد إيجاب التصدق ببعضه .
وفي الشرح الصغير للدردير من المالكية : تجب الزكاة على مالك النصاب فلا تجب على غير مالك كغاصب ومودَع .
وقال الشافعية كما نقله النووي عن الغزالي وأقره : إذا لم يكن في يده إلا مال حرام محض فلا حج عليه ولا زكاة , ولا تلزمه كفارة مالية .
وقال الحنابلة : التصرفات الحكمية للغاصب في المال المغصوب تحرم ولا تصح , وذلك كالوضوء من ماء مغصوب والصلاة بثوب مغصوب أو في مكان مغصوب , وكإخراج زكاة المال المغصوب , والحج منه , والعقود الواردة عليه كالبيع والإجارة " انتهى .

Artinya: "Harta haram itu sama dengan harta yang diambil secara ilegal seperti karena ghosob, mencuri, suap, riba, dll itu tidak menjadi milik yang memegangnya. Maka tidak wajib zakat, karena zakat itu berdasarkan kepemilikan/hak milik. Yang bukan pemilik tidak punya kepemilikan. Dan karena zakat itu untuk menyucikan pelaku zakat dan harta berdasarkan firman Allah dalam QS At-Taubah 9:103 dan Sabad Nabi: "Allah tidak menerima zakat/sedekah dari barang curian."

Harta haram adalah kotor yang tidak bisa suci. Yang harus dilakukan terkait harta haram adalah mengembalikan pada pemiliknya apabila bisa diketahui. Apabila tidak, maka wajib mengeluarkan seluruh harta haram itu dari kepemilikannya dengan tujuan membersihkan bukan untuk bersedekah.

Pandangan ini disepakati ulama madzhab empat. Madzhab Hanafi berpendapat: Apabila harta yang kotor itu mencapai nisob maka tidak wajib zakat bagi pemiliknya. Karena, harta itu wajib dikeluarkan semuanya karena itu tidak ada gunanya mewajibkan zakat pada sebagiannya. Madzbah Maliki berpendapat: Wajib zakat bagi pemilik harta yang mencapai satu nisob namun tidak wajib zakat pada harta yang bukan miliknya seperti harta ghosab atau titipan. Mazhab Syafi'i berpendapat: Apabila seseorang tidak punya harta lain kecuali harta haram saja maka tidak wajib haji dan tidak wajib zakat dan tidak wajib kafarat harta. Madzhab Hanbali berpendapat: Penggunaan harta ghosob bagi pelakunya itu haram dan tidak sah. Seperti tidak sahnya wudhu dengan air ghosob dan shalat dengan baju ghosob atau di tempat ghosob. Sebagaimana mengeluarkan zakat dari harta ghosob dan haji dari harta ghosob. Juga tidak sah transaksinya."

4. Ya, termasuk masalah khilafiyah. Anda bisa mengikuti pendapat yang manapun. Dalam keadaan sempit (kepepet) anda bisa ikuti pendapat yang lebih ringan. Dalam keadaan lapang, anda bisa ikuti pendapat yang lebih berhati-hati.
Baca detail: Hukum Harta Syubhat dan Cara Membersihkan Harta Haram

SEDEKAH DENGAN HARTA HARAM (2)

Menyambung pertanyaan sebelumnya, maaf kalau saya kritis dalam bertanya,

1. Berarti modal (haram) dan laba (halal) tidak masuk kategori harta yang bercampur antara halal dan haram (syubhat) yang dihukumi makruh penggunanaanya ?. . . .

Karena kita hanya mengambil labanya saja, yang dihukumi halal

2. Menggunakan harta halal yang bercampur haram (syubhat) yang mungkin dihukumi makruh seperti modal haram yg bercampur labanya, keuntungan/gaji yang didapat dari menggunakan barang yg dibeli dari harta haram/barang curian.
Kemudian digunakan untuk keperluan pribadi, shadaqah dan zakat apakah tetap sah ?
Karena hanya mengambil laba dan gajinya saja.

JAWABAN

1. a) Kalau modal dan laba anda campur, berarti disebut harta syubhat/harta campuran; b) Kalau keduanya dipisah maka yg modal disebut harta haram, yg laba disebut harta halal. Dalam kasus poin (a) maka penggunaannya adalah makruh. Baca detail: Hukum Harta Syubhat dan Cara Membersihkan Harta Haram

Makruh dalam pengertian fikih madzhab Syafi'i adalah kebalikan sunnah. Yakni, mendapat pahala kalau ditinggalkan, tidak dosa kalau dilakukan. Baca detail: Hukum Wajib Sunnah Makruh Mubah

Kalau memang yang halal yang digunakan, dan anda tidak lagi membutuhkan yang haram, maka sebaiknya yang haram segera dikeluarkan dari simpanan anda agar harta anda menjadi jelas halalnya.

2. Untuk zakat harus murni dari harta yang halal 100%. Jadi, kalau anda punya harta 50% halal dan 50% haram, lalu yg 50% yang halal itu sudah mencapai nisob, maka wajib bayar zakat. Dan zakatnya sah. Terkait dengan sedekah, karena sedekah itu sifatnya tidak wajib, maka tidak ada kaitannya dg sah atau tidak. Artinya, kalau anda sedekah dengan menggunakan harta syubhat, maka bagian yang halal dianggap sedekah; sedangkan yang haram dianggap sebagai hibah untuk menyucikan harta haram.
Baca detail: Hukum Zakat dengan Harta Haram

Hukum Berkata "Bersaksi Atas Diriku"

HUKUM BERKATA "BERSAKSI ATAS DIRIKU"

Assalamu'alaikum

Mohon pencerahan atas pertanyaan saya berikut :

Disuatu ketika saya sangat kasihan melihat ibu saya yg sudah tua masih terus bekerja sedangkan penghasilan saya belum bisa menutupi kebutuhan keluarga.
Saya menangis melihat keadaan ibu saya dan saya berkata pada Allah
"Ya Allah aku bersaksi atas diriku bahwa selama ini ibuku telah merawatku dengan kasih sayang. Maka ampunilah dosanya dan masukanlah dia ke surgaMu kelak"

Di suatu ketika saya takut mengenai pertanggungjawaban atas perkataan saya yg berkata "bersaksi atas diriku" yg artinya mempertaruhkan diri saya sendiri. Bagaimana jika dalam merawat saya, ibu saya pernah ada perasaan jengkel atau pernah sesekali tak ada rasa sayang, karena saya tak bisa melihat isi hati ibu saya. Apakah benar ibu saya merawat saya dengan kasih sayang ? Entah kenapa itu menjadi keraguan dalam diri saya. Saya takut apa yg akan terjadi pada saya kelak atas perkataan saya. Karena perkara akhirat bukan perkara yg mudah.

Karena takut, saya ingin menarik kembali kata kata saya, tapi jika perkataan itu saya tarik kembali saya merasa begitu dzolim pada ibu yg telah membesarkan saya, sama seperti saya tidak mengakui kasih sayangnya selama ini. Padahal ibu telah bekerja keras untuk merawat saya. Bagaimana bisa saya mempertanyakan kasih sayang ibu saya sedangkan saya lahir dari rahimnya. Begitu jahatnya saya.

Pernah waktu kecil ibu memukul saya tapi bukan berarti pukulan itu bisa menutupi seluruh kasih sayang yg ibu berikan pada saya. Dan saya sadar begitu banyak dosa yg telah saya lakukan pada ibu saya. Mungkin jika sisa umur saya habis untuk berbakti pada ibu saya tidak akan sebanding untuk membalas kebaikannya. Ibu adalah orang yg sangat berjasa dalam hidup saya.

Apa yg harus saya lakukan ? Haruskah saya menarik perkataan saya kembali ?

Saya hanya ingin yg terbaik untuk ibu saya di dunia dan di akhirat kelak. Saya tak kuasa jika harus melihat ibu saya di siksa, saya ingin Allah mengabulkan doa saya agar ibu saya bisa masuk surgaNya kelak di akhirat.

Saya juga tidak ingin terjadi apa apa pada saya kelak di akhirat. Saya takut jika perkataan saya salah maka bagaimana saya mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah.
Dan saya takut jika perkataan itu salah apa yg akan terjadi pada saya karena telah mempertaruhkan diri saya sendiri dalam perkataan itu.
Dan bagaimana saya bisa berkata bahwa perkataan saya tentang kasih sayang ibu adalah salah. Betapa durhakanya saya pada ibu saya sendiri yg telah begitu besar berkorban untuk saya.

Apakah kekawatiran dalam diri saya ini di tunggangi oleh syetan ?

Saya tidak tau harus bagaimana.

Mohon pencerahannya.

JAWABAN

Tidak ada yang perlu anda lakukan atas kesaksian anda tentang ibu anda. Karena persaksian anda itu tidak ada dampak hukumnya bagi anda. Ini berbeda dengan sumpah atas nama Allah, di mana apabila melanggar sumpah tersebut harus membayar kafarat.
Baca detail:
- Hukum Nadzar
- Hukum Nadzar dan Sumpah

Kesaksian yang anda ucapkan dalam bentuk pujian pada ibunda itu justru baik.

Ibnu Hajar di dalam kitab Fathul Bâri 3/2014 dengan berdasar pada keumuman hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menyatakan:


مَنْ أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

Artinya: “Orang yang kalian puji dengan kebaikan wajib baginya surga.”

Pandangan Ibnu Hajar Asqalani ini menegaskan bahwa memuji kebaikan seseorang (dan tidak menyebut keburukannya) itu adalah hal yang baik.

Bahkan kesaksian yang biasa kita lihat saat jenazah hendak dikebumikan itu juga dianggap baik.

Dalam hadis sahih riwayat Bukhari, Sahabat Anas bin Malik radliyallâhu ‘anhu menuturkan:

مَرُّوا بِجَنَازَةٍ، فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَجَبَتْ» ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا، فَقَالَ: «وَجَبَتْ» فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَا وَجَبَتْ؟ قَالَ: «هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا، فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا، فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ

Artinya: “Sahabat Anas bin Malik berkata, orang-orang lewat membawa satu jenazah, mereka memujinya dengan kebaikan. Maka Rasulullah bersabda, “Wajabat (wajib).” Kemudian lewat lagi orang-orang membawa satu jenazah, mereka mencelanya dengan kejelekan. Maka Rasulullah bersabda, “Wajabat.” Sahabat Umar bin Khathab berkata, “Apa yang wajib, ya Rasul?” Rasulullah bersabda, “Jenazah ini yang kalian puji dengan kebaikan wajib baginya surga. Dan orang ini yang kalian cela dengan kejelekan wajib baginya neraka. Kalian adalah para saksinya Allah di muka bumi.”

Dari hadis di atas jelas sekali menegaskan, bahwa bersaksi baik pada seseorang, baik ia masih hidup atau sudah mati, akan berdampak kebaikan pada orang yang dipuji tersebut.

Jadi, apa yang anda lakukan pada ibu anda itu sudah benar. Dan sama sekali tidak ada beban pertanggungjawaban apapun.

Imam Ahmad, Ibnu Hiban dan Hakim dari jalur Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَشْهَدُ لَهُ أَرْبَعَةٌ مِنْ جِيرَانِهِ الْأَدْنَيْنَ أَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ مِنْهُ إِلَّا خَيْرًا إِلَّا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَدْ قَبِلْتُ قَوْلَكُمْ وَغَفَرْتُ لَهُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Tidaklah seorang muslim meninggal kemudian empat orang tetangganya yang paling dekat memberikan kesaksian kepadanya bahwa mereka tidak mengetahui dari orang tersebut kecuali kebaikan, kecuali Allah berkata, “Aku terima ucapan kalian dan aku ampuni apa-apa yang tidak kalian ketahui.”

أَيُّمَا مُسْلِمٍ شَهِدَ لَهُ أَرْبَعَةٌ بِخَيْرٍ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ فَقُلْنَا وَثَلَاثَةٌ قَالَ وَثَلَاثَةٌ فَقُلْنَا وَاثْنَانِ قَالَ وَاثْنَانِ ثُمَّ لَمْ نَسْأَلْهُ عَنْ الْوَاحِدِ
صحيح البخاري

“Tiadalah empat orang muslim bersaksi bahwa seorang jenazah itu orang baik, maka Allah masukkan ia ke sorga”, maka kami berkata : Bagaimana jika cuma 3 orang yg bersaksi?, beliau saw bersabda : “walau tiga”, lalu kami berkata : jika cuma dua?, beliau bersabda : “walau dua”. Lalu kami tak bertanya jika hanya satu” (Shahih Bukhari)

Baca detail: Hukum Taat dan Berbakti pada Orang Tua

25/01/20

Mengapa Ulama Berbeda Soal Hukum Musik

Mengapa Ulama Berbeda Soal Hukum Musik

HUKUM MUSIK ADA YANG HALAL ADA YANG HARAM, MENGAPA ULAMA BERBEDA?

Assalâmu'alaikum wr wb,

Saya mau tanya tentang musik, saya tahu bahwa ada ulama yang mengatakannya haram dan ada ulama Yang mengatakannya tidak haram dengan batasan-batasan yang ada. Bagaimana dalam pandangan Hadits Al Nasa'i 4066 yang berbunyi:

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى قَالَ حَدَّثَنَا مَحْبُوبٌ يَعْنِي ابْنَ مُوسَى قَالَ أَنْبَأَنَا أَبُو إِسْحَقَ وَهُوَ الْفَزَارِيُّ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ قَالَ كَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْوَلِيدِ كِتَابًا فِيهِ وَقَسْمُ أَبِيكَ لَكَ الْخُمُسُ كُلُّهُ وَإِنَّمَا سَهْمُ أَبِيكَ كَسَهْمِ رَجُلٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَفِيهِ حَقُّ اللَّهِ وَحَقُّ الرَّسُولِ وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَمَا أَكْثَرَ خُصَمَاءَ أَبِيكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَكَيْفَ يَنْجُو مَنْ كَثُرَتْ خُصَمَاؤُهُ وَإِظْهَارُكَ الْمَعَازِفَ وَالْمِزْمَارَ بِدْعَةٌ فِي الْإِسْلَامِ وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَبْعَثَ إِلَيْكَ مَنْ يَجُزُّ جُمَّتَكَ جُمَّةَ السُّوءِ

Apakah hadits tersebut menyimpulkan bahwa musik itu bid'ah atau itu hanya dalam keadaan tertentu saja, dan apakah hadits tersebut kesahihannya diragukan oleh para ulama, dari segi sanad

Jika hadits tersebut kesahihannya disepakati oleh seluruh ulama, mengapa ada ulama yang membolehkan musik?

JAWABAN

Pertama, Untuk kemanfaatan para pembaca yang lain, hadis yang anda kutip di atas maknanya sbb: "Telah mengabarkan kepada kami 'Amr bin Yahya, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Mahbub yaitu Ibnu Musa, ia berkata; telah memberitakan kepada kami Abu Ishaq yaitu Al Fazari dari Al Auza'I, ia berkata; Umar bin Abdul Aziz mengirim surat kepada Umar bin Walid yang isinya adalah: dan pembagian ayahmu kepadamu seperlima seluruhnya, sesungguhnya bagian ayahmu seperti bagian seseorang dari kaum muslimin dan didalamnya ada haq Allah dan haq rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan Ibn Sabil, maka betapa banyak penuntut ayahmu pada hari kiamat kelak, dan bagaimana ia bisa selamat orang yang banyak penututnya, dan engkau menampakkan alat musik dan seruling adalah bid'ah didalam Islam dan sungguh aku ingin mengirim seseorang kepadamu untuk memotong rambutmu yaitu rambut yang buruk. (H.R An-Nasa'i)"

Dan sebagaimana anda baca sendiri, "hadis" di atas bukanlah hadis melainkan ucapan dari Umar bin Abdul Aziz. Salah seorang penguasa era Dinasti Ummayyah. Ia lahir pada 61 Hijrah/681 M dan wafat pada 101 H atau 720 M. Artinya, ia lahir 61 tahun setelah era Nabi. Dengan kata lain, ia termasuk kalangan Tabi'in. Bahkan bukan Sahabat. Sehingga ucapannya berlaku sebagai ucapan Tabi'in. Bukan ucapan Nabi. Dengan demikian, maka ucapannya tidak memenuhi syarat untuk disebut hadis karena hadis hanya dipersandingkan pada ucapan Nabi.

Kedua, dengan fakta pada poin pertama di atas (bahwa itu bukan hadis), maka masalah ini sudah selesai. Tidak perlu argumen lebih lanjut. Artinya, yang dikatakan Umar bin Abdul Azis adalah pandangan pribadinya atau hasil ijtihadnya. Bukan hadis Nabi.

Namun agar bermanfaat bagi anda dan para pembaca lain, maka di sini perlu kami jelaskan sedikit soal tahapan pembuatan hukum Islam (syariah) yang dilakukan para ulama sbb:

a) Quran dan hadis adalah sumber utama proses pembuatan hukum. Sumber sekundernya adalah ijtihad ulama. Baca detail: Ijtihad

b) Dari penelitian mendalam atas Quran dan Hadis, maka Ulama mujtahid kemudian membagi hukum syariah menjadi 5 yaitu wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah. Dalam Quran dan Sunnah kelima kategori hukum itu terkadang tidak disebut secara tegas. Maka, di sinilah ijtihad ulama itu berperan untuk menjelaskannya. Dalam menjelaskan hal itu, terkadang terjadi ijmak (kesepakatan) para mujtahid seperti jumlah rakaat shalat 5 waktu dan haramnya zina, dll. Tapi tidak jarang terjadi perbedaan seperti soal najisnya anjing dan babi. Nabi menjamin, bahwa perbedaan ulama mujtahid itu tidak dilarang dan dianggap sama-sama benar. Baca detail: Ijtihad

c). Termasuk perbedaan pendapat ulama mujtahid juga meliputi perbedaan dalam menghukumi soal musik. Baca detail: Hukum Musik

d) Mengapa bisa terjadi perbedaan dalam mengambil kesimpulan hukum padahal sumber utamanya sama yakni Quran dan sunnah? Ada banyak faktor. Beberapa di antaranya adalah: i) Kesimpulan hukum itu diambil setelah menganalisa dari beberapa dalil Quran dan hadis; ii) Quran yang dianalisa meliputi sejarah turunnya dan mana yang lebih dulu dan lebih akhir diturunkan; iii) Hadis yang dianalisa selain meliputi teks-nya juga menyangkut status sahih tidaknya suatu hadis. Selain itu, dalam hadis sahih sendiri ada tingkatannya lagi seperti hadis Ahad dan Mutawatir, dll.

Ketiga, kalau anda dan pembaca ingin sedikit lebih tahu soal proses tahapan pengambilan hukum ini, maka berikut ilmu agama yg bisa anda pelajari:

a) Ilmu Ushul Fikih Baca detail: Ushul Fikih

b) Ilmu Kaidah Fikih. Baca detail: Kaidah Fikih dan Ushul Fikih

c) Ilmu Musthalah Hadis. Agar tahu seluk beluk level kesahihan hadis. Baca detail: Ilmu Mustolah Hadits

d) Ilmu Asbanun Nuzul. Baca detail: Ilmu Asbabun Nuzul

Kesimpulan:

1. Kalau anda sama sekali sekali awam akan ilmu-ilmu di atas, maka menanyakan "mengapa ulama membolehkan musik padahal ada hadis yg mengharamkan" adalah pertanyaan yang salah dan menunjukkan anda sama sekali tidak tahu kompleksitas ulama mujtahid dalam mengambil kesimpulan hukum syariat.

2. Pertanyaan semacam ini sebenarnya karena kesalahan sebagian golongan dalam Islam, seperti kelompok Wahabi Salafi dan yang terinspirasi atau terafiliasi padanya, yang sering menggaungkan slogan "Kembali pada Quran dan Sunnah secara langsung tanpa perlu penafsiran ulama." Slogan seperti ini adalah slogan sesat dan menyesatkan. Anehnya, kalangan yang sama sering merujuk pada pendapat para ulama mereka atas suatu masalah. Patut dipertanyakan kenapa tidak merujuk ke Quran dan hadis secara langsung?

3. Kalau anda dari kalangan Aswaja, maka kami sarankan lebih selektif dalam membaca artikel agama di internet.
a) Bacaan yang dianjurkan: Daftar Situs Aswaja

b) Bacaan yang tidak dianjurkan: Daftar Situs Wahabi Salafi


Semoga anda tercerahkan.

09/01/20

Ragu Apakah Ada Kaki Yang Tak Terbasuh Saat Wudhu


RAGU APAKAH ADA KAKI YANG TAK TERBASUH SAAT WUDHU

Assalamu'alaikum ustadz,

Saya mau bertanya,

1. Saya bulan puasa lalu saya berwudhu dengan mengguyur kaki saya dengan gayung, tetapi hari ini saya ragu apakah ada bagian kaki yg tidak terbasuh pada waktu itu? Apakah sholat saya pada waktu itu sah?

2. Jika di jalan kita menginjak kotoran, tetapi kita tidak mengetahui itu kotoran apa? Apakah itu kotoran kucing, anjing, manusia atau yg lain, bagaimana hukumnya?

3. Saya pada bulan puasa lalu merasa ragu batal atau tidak sholatnya, dikarenakan saya membunyikan persendian kaki, saya ragu melebihi 3x membunyikannya pada waktu bersamaan atau kurang dari itu, apakah sholat saya sah?

Terima kasih atas jawabannya
Jazakallah khoir

JAWABAN

1. Kalau kaki sudah diguyur air, maka hukum wudhunya sah. Karena diduga kuat airnya sudah merata. Dugaan kuat itu sudah cukup, tanpa harus ada kepastian. Baca detail: Dugaan kuat meratanya air sudah sah

2. Hukumnya diambil dari yang paling umum. Kalau umumnya kucing, maka kotoran kucing.

3. Shalat anda sah. Karena gerakan 3x yang membatalkan shalat itu apabila melakukan gerakan yang dianggap besar; bukan gerakan kecil seperti membunyikan persendian jari-jari. Gerakan yang besar itu seperti langkah kaki berturut-turut 3x atau pukulan.

Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 4/25, menyatakan:

وأما ما عده الناس كثيرا كخطوات كثيرة متوالية وفعلات متتابعة فتبطل الصلاة، قال أصحابنا على هذا الفعلة الواحدة كالخطوة والضربة قليل بلا خلاف والثلاث كثير بلا خلاف. انتهى.

Artinya: Yang dianggap gerakan yang banyak itu seperti langkah kaki yang banyak dan berturut-turut dan perbuatan yang berturut-turut maka membatalkan shalat. Ulama Syafi'iyah menyatakan satu perbuatan (yang besar) itu seperti langkah dan pukulan satu kali itu dianggap sedikit tanpa perbedaan. Tiga kali dianggap banyak tanpa perbedaan.

Terkait apa saja perbuatan kecil di luar gerakan salat yang tidak membatalkan shalat, Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 4/24, menjelaskan:

فلا يضر ما يعده الناس قليلا كالإشارة برد السلام، وخلع النعل، ورفع العمامة ووضعها ولبس ثوب خفيف ونزعه، وحمل صغير ووضعه، ودفع مار، ودلك البصاق في ثوبه، وأشباه هذا.

Artinya: Maka tidak apa-apa (tidak membatalkan shalat) perbuatan yang oleh manusia dianggap kecil seperti memberi isyarat untuk membalas salam, melepas sandal, mengangkat surban dan meletakkannya, memakai baju yang ringan dan melepasnya, membawa anak kecil dan meletakkannya (di lantai), menolak orang lewat (di depannya), mengusap/mengorek ludah di baju, dll.
Baca detail: Shalat 5 Waktu


NIAT SEBELUM AWAL IBADAH

Assalamualaikum

Saya mau tanya pak ustadz. Ada mazhab yang membolehkan berniat sebelum sesaat rukun pertama ibadah ataupun bersuci dan ada yang mengharuskan berbarengan dengan rukun pertama ibadah maupun bersuci.

Pertanyaannya

1. Bagaimana jika saya berniat sebelum sesaat rukun pertama ibadah atau bersuci dan juga berniat berbarengan rukun pertama ibadah ataupun bersuci, mana niat yang akan diterima dan sah ? Yang sebelum atau berbarengan ?

2. Bagaimana Jika diantara kedua cara berniat seperti no.1 itu ada yang salah, misalnya niat yang berbarengan rukun pertama salah tapi yang sesaat sebelum rukun pertama yang benar apakah niat yang sesaat sebelum rukun itu yang sah ?

Dan atau niat sebelum sesaat rukun pertama yang salah, tetapi niat saat berbarengan rukun pertama benear, mana yang diterimana niatnya dan sah ?

3. Boleh kah berniat 2 kali seperti saya pak ustad demi kehati-hatian ?

JAWABAN

1. Dua hal itu sama-sama sah menurut madzhab Syafi'i. Jadi, cukup pilih salahsatunya. Baca detail: Niat Sebelum Perbuatan

2. Karna niat cukup satu kali, maka pertanyaan ini tidak relevan.

3. Bagi penderita was-was seperti Anda sebaiknya yang dilakukan cukup cara yang pertama, yakni niat sebelum perbuatan. Jangan mencari cara lain yang justru akan kembali menimbulkan was-was pada Anda. Baca detail: Niat Sebelum Perbuatan


AIR MUSTAKMAL SAAT WUDHU

Assalaamu’alaikum...
Pak Ustad, saya mau bertanya mengenai masalah bersuci

1) Saat berwudhu kan pasti ada air mustakmal yang menyiprat di kaki, nah ketika saya sampai pada bagian membasuh kaki, apakah air suci mutlak yang mengalir bercampur dengan air mustakmal yang dimaafkan berada pada kaki itu boleh langsung saya ratakan ke semua bagian kaki?

2) Apakah air mustakmal yang menyiprat dan menetes ke tubuh saya ketika saya mandi junub itu dimaafkan?

3) Ketika saya akan membasuh kaki saat mandi junub kan, pasti kaki saya ada air mustakmalnya. Apa yang harus saya lakukan Pak Ustad? Apakah saya harus menghilangkan air mustakmalnya dulu baru dibasuh, atau langsung saya basuh kaki saya yang masih ada air mustakmalnya?

Demikian pertanyaannya,
Wassalaamu’alaikum...

JAWABAN

1. Boleh. Baca detail: Hukum Air Suci Terkena Bekas Wudhu

2. Ya, dimaafkan.

3. Langsung saja dibasuh. Baca detail: Batasan air Jadi Musta'mal

21/12/19

Hukum Menggambar Karakter Tak Bernyawa Yang Diberi Kaki Dan Tangan

MENGGAMBAR KARAKTER TAK BERNYAWA YANG DIBERI KAKI DAN TANGAN

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh

Bissmillah

Sebelumnya saya sudah membaca artikel tentang haram tidaknya menggambar, saya sudah baca semua beserta komentar-komentar. Tapi dari situ ada poin yang saya masih belum paham.

Belakangan ini saya punya ide untuk membuat komik yang memotivasi tetapi tidak mempunyai karakter, kalau ada pun hanya benda benda mati yang diberi tangan kaki.

Saya ingin bertanya, apakah menggambar makhluk tak bernyawa (semisal vas bunga, potongan puzzle, dan semacamnya) yang diberi tangan kaki (hanya tangan kaki) itu termasuk haram atau boleh-boleh saja?

Terima kasih sebelumnya
Assalamualaikum warrahmatullah wabarakatuh

JAWABAN

Boleh.
Baca detail:
- Hukum Gambar dan Patung
- Hukum Patung tidak sempurna

FIRASAT KEMATIAN

Assalamualaikum
Ustad saya mau tanya, saya pas lagi sholat tarawih awal tiba" berkata dalam hati bahwa saya tidak akan sampai tahun depan karena rasanya beda dari puasa lalu, apa itu merupakan firasat bahwa saya akan meninggal tahun depan?mohon penjelasannya terimakasih
Wassalamu'alaikum

JAWABAN

Itu hanya ilusi atau delusi pikiran anda. Hilangkan perasaan semacam itu. Hanya Allah yang Maha Tahu kapan seseorang akan meninggal. Sekarang, fokuskan untuk mengisi hari-hari anda untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain. Baca detail: Tanda Kematian


HUKUM MEMAKAI SHAMPO PENGHITAM RAMBUT

Assalammualaikum,,,, Bagaimana hukum menggunakan shampo penghitam rambut,,,Apa hukumnya sama dengan cat/pikok rambut hitam tidak Boleh?
Bagaimana Jika sudah Terlanjur menggunakan shampo penghitam Rambut,Apa Harus Di Gunduli?

JAWABAN


Tidak apa-apa menggunakan shampo penghitam rambut asalkan terbuat dari bahan yang suci / tidak najis menurut sebagian ulama. Baca detail: Hukum Cat / Semir Rambut


BOYONG DARI PONDOK SEBELUM SELESAI TUGAS, APAKAH DOSA?

Assalamualikum wr. Wb
Salam ta'dzim ustad
Saya mau bertanya ustad, tentang hukum seorang santri hafal qur'an. Di pondok saya jika udah hapal qur'an itu disuruh bersumpah untuk pengabdian selama 4 tahun. Menurut keluarga itu terlalu berat. Belum ada 4 tahun udah disuruh boyong.sedangkan saya belum lancar2 sekali qur'annya ustad. Saya pernah mendengar bahwa penghafal qur'an itu harus jelas sanadnya.karna itu termasuk tanggungan akhirat.
Pertanyaan saya
1.berdosakah saya jika guru saya tidak meridhoi atas Boyongnya saya
2.masihkah bisa selamat quran saya nanti di akhirat karna tak mendapat sanad
3.jikalau saya berangkat mondok berdosakah juga jika membuat ortu marah
Cukup sekian ustad yang saya tanyakan semoga ustad berkenan untuk menjawab
Terimakasih banyak
Wassalamualaikum wr. Wb

JAWABAN

1. Berdosa karena anda sebelumnya sudah menyanggupi kewajiban itu. Itu sama dg berbohong. Dan bohong itu dosa. Baca detail: Bohong dalam Islam

2. Masih. tidak ada kewajiban syariat untuk memiliki sanad dalam menghafal Al Quran. Baca detail: Hukum Ijazah Sanad Al Quran


BAYAR HUTANG YANG TIDAK DIKETAHUI ALAMATNYA

assalamualaikum ustadz saya mau tanya, bagaimana cara membayar hutang kepada orang (sudah tidak ada kontaknya lagi bahkan saya juga tidak tau sekarang dia tinggal dimana) ?

JAWABAN

Keluarkan senilai hutang tersebut untuk fakir miskin. Baca detail: Hutang dalam Islam