Tampilkan postingan dengan label Ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibadah. Tampilkan semua postingan

11/06/20

Salah dalam Menyucikan Najis

SALAH DALAM MENYUCIKAN NAJIS

Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh saya ingin bertanya bagaimana jika kita telah melakukan kesalahan dalam membersihkan najis karena waktu itu saya pernah lupa dalam hal ini karena waktu itu saya langsung menyiram najis darah yang ada di lantai dengan air padahal mungkin seharusnya saya menghilangkan najis di lantai terlebih dahulu

dan apakah yang saya lakukan itu tidak sah karena saya tahu cara nya tapi lupa karena saya takut air yang saya siram tadi sudah menyebar mana mana dan sudah mengenai benda lain terimakasih assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh

JAWABAN

Pertama, menghilangkan dan menyucikan najis yang terlihat (najis ainiyah) memang semestinya dilakukan dg dua tahap: a) menghilangkan benda najisnya dg kain atau tisu kering; b) bekas najis yang sudah tidak terlihat kemudian disiram dg air suci. Dg cara ini, maka bekas air siraman hukumnya tetap suci sehingga tidak menularkan najis apabila air menyebar ke mana-mana. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

Kedua, cara yang anda lakukan tidak masalah. Dalam arti tetap bisa menghilangkan najis darah tersebut asalkan najis yang disiram itu hilang dari lokasi asal. Akan tetapi, siraman pertama hukumnya najis dan apabila mengalir ke tempat lain maka tempat lain itu ikut tertular najis.

Namun tidak usah kuatir, apabila air najis tadi sudah mengering maka statusnya menjadi najis hukmiyah. Najis hukmiyah bisa suci dg cara cukup disiram dg air suci satu kali sebagaimana diterangkan di poin "pertama" di atas. Baca detail: Menyucikan Najis Hukmiyah

Sedangkan terkait kesalahan yang tidak disengaja atau karena tidak tahu, maka dimaafkan. Ke depannya harap lebih hati-hati. Baca detail: Hukum Melakukan Perkara Haram karena Tidak Tahu

TERKENA LEBIH DARI SATU JENIS NAJIS MAKFU

Assalamualaikum.

Adakah jika LEBIH dari SATU jenis najis dimaafkan mengenai pakaian/ bagian-bagian tubuh yang berlainan masih dihukum Makfu?

Contohnya seseorang itu terkena sedikit debu jalanan yang diyakini najis. Kemudian dia terkena pula najis sedikit yang tidak dapat dilihat mata. Seterusnya dia terkena pula percikan basuhan najis.

JAWABAN

Iya masih dimaafkan. Baca detail: Najis yang Dimaafkan (Makfu)

AIR PUTIH DI MULUT

Assalaamu’alaikum...

Pak Ustad, setelah minum air putih saat sahur, saya merasa kesulitan untuk meyakinkan diri saya apakah air putih yang ada di sekitar bibir dan di dalam bibir sudah benar-benar hilang atau belum, pertanyaannya:

1) Bagaimana cara menghilangkan sisa air putih yang ada di antara bibir yang saling bertemu saat mulut menutup?
Apakah dengan membasahi bagian tersebut dengan lidah yang terdapat air liur bisa langsung menghilangkan air putih tersebut? Padahal kan malah air liur menjadi bercampur dengan air putih.


2) Apa bukti kalau air putih yang ada di dalam mulut, di sekitar bibir, dan pada bagian antara kedua bibir saat mulut menutup memang sudah benar-benar hilang?

3) Misalkan saya meludahkan air wudhu yang ada pada mulut, kan pasti terdapat sisa air wudhu pada bibir dan yang terletak di bagian antara bibir yang saling bertemu saat mulut menutup. Itu bagaimana cara menghilangkan airnya?

Saya tidak tahu apakah yang saya tanyakan tersebut merupakan karena kurangnya ilmu dari diri saya atau karena malah mempersulit diri saya sendiri.

Tolong Pak Ustad, untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut dengan jelas dan lengkap, dengan harapan saya tidak menjadi ragu-ragu lagi berkaitan dengan hal tersebut.

Demikian dari saya,
Wassalaamu’alaikum...

JAWABAN

Anda sedang menderita was-was. Sembuhkan lebih dulu was-was anda agar supaya pertanyaannya lebih relevan. Baca detail:  Cara Sembuh Was-was Najis, Wudhu, Mandi, Shalat

NAJIS DAN PERPINDAHANNYA, APAKAH SATU QODIYAH?

Assalamu'alaikum,, Pa Ustad saya mau bertanya, apakah najis dan perpindahannya adalah satu qodiyah atau qodiyah yg berbeda ??

JAWABAN

Ya, satu qodiyah. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

NAJIS KERING ATAU LEMBAB?

Assalamualaikum

Saya berjalan di jalan yang agak lembab. Setelah beberapa langkah (agak banyak), saya terpijak tanah bernajis yang kering.

Saya was-was sama ada tapak sandal saya lembab atau kering. Jika kering saya yakin ia tidak najis. Tetapi jika lembab pastinya akan menular najis daripada tanah itu.

Apakah saya bisa mengaggap tapak sandal saya sudah kering kerana telah berjalan agak jauh? Atau perlu dianggap lembab aja?

JAWABAN

Pertama, tanah yang anda anggap bernajis itu apakah sudah pasti najis? Kalau masih belum jelas dan masih dugaan, maka tanah itu pada dasarnya suci. Baca detail: Yakin Tidak Hilang oleh Keraguan

Kedua, kalau memang tanah itu pasti najisnya dalam arti ada kotoran najis di tanah tsb. maka anda harus pastikan sandal anda kering atau basah. Kalau memang lembab, maka berarti sandal anda tertular najis. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

10/06/20

Najis Hukmiyah

NAJIS HUKMIYAH

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Saya baru tahu tentang najis hukmiyah, dan saya jadi cemas dan was-was setiap hari karena mencurigai setiap sudut dan perabotan di rumah saya sudah terkena najis. Perasaan was-was itu disebabkan oleh sikap saya sebelumnya yang kurang begitu memperhatikan saat istinja, cara buang air kecil yang benar dan cara membersihkan najis yang melekat di barang-barang di rumah saya. Pertanyaannya:

1. Jika kita sadar bahwa najis hukmiyah sudah terlanjur menyebar ke setiap pelosok rumah kita, bagaimana cara pembersihannya? Saya jadi merasa kesulitan karena banyaknya barang-barang yang kemungkinan besar terkena sentuhan dan pegangan tangan saya, contohnya barang-barang elektronik seperti HP, laptop, headset, dsb. Begitu pula dengan perabotan seperti lemari, meja, furnitur, sampai-sampai setiap pegangan laci juga saya khawatirkan terkena najis hukmiyah.

2. Jika kita sudah tahu tentang najis hukmiyah itu, apakah boleh jika kita tidak membersihkannya dan berhati-hati saja untuk ke depannya? Karena jika dituruti, saya jadi meyakini kalau seluruh benda-benda di rumah saya sudah kena dan membersihkannya pasti sangat merepotkan dan membutuhkan waktu lama dan tenaga ekstra. Sejauh ini saya hanya mengepel lantai. Apakah itu sudah cukup?

3. Apakah benar di madzhab Maliki menganggap najis hukmiyah tidak menular meskipun salah satu medianya basah / lembap? Dan apakah kita boleh mengikuti madzhab Maliki khusus di bagian najis hukmiyah itu saja sementara kita sholat dan yang lainnya tetap mengikuti madzhab Syafi'i? Soalnya yang saya tahu sejak dulu bahwa najis itu cukup hilang saja warna, rasa dan baunya, maka tempat itu sudah suci.

4. Saya selalu dihantui was-was seperti ada kencing yang keluar, baik itu ketika melakukan kegiatan sehari-hari ataupun shalat 5 waktu. Ada syeikh yang mengatakan bahwa itu hanya perasaan saja, karena syetan ingin mengganggu kita beribadah. Tapi pernah suatu ketika saya buang angin, terasa seperti ada air kencing yang keluar, dan saat saya periksa ternyata ada noda-noda air yang muncul di celana dalam saya. Tapi kebanyakan, dari kejadian buang angin itu tidak menyebabkan noda apapun di celana dalam saya alias kering-kering saja. Pertanyaannya: Jika saya mengikuti saran syeikh tersebut untuk tidak mempedulikan apapun yang saya rasakan dan membiarkannya begitu saja, apakah itu boleh? Karena rasa was-was itu selalu mempengaruhi saya, dan saya tidak bisa lagi membedakan yang mana perasaan "keluar kencing" yang palsu dan yang asli karena saking miripnya, dan membuat saya terus-menerus menduga bahwa kencing saya keluar dan memaksa untuk mengecek celana dalam saya lagi dan lagi. Tapi jika benar-benar ada yang keluar seperti kejadian yang saya alami sebelumnya, apakah Allah akan mengampuni saya karena tindakan ketidakpedulian saya dengan tidak mengecek sama sekali itu? Dan apakah shalat saya sah? Saya sangat takut shalat saya tidak sah dan ditambah lagi malah menyebabkan najis hukmiyah yang baru.

5. Akhir-akhir ini saya jadi sangat boros menggunakan air di kamar mandi rumah saya karena was-was bahwa ada bagian tubuh saya yang masih belum bersih saat istinja. Di dalam hati saya selalu ada ancaman bahwa najis hukmiyah itu akan kembali lagi jika saya tidak banyak menggunakan air. Pertanyaannya:

a. Khusus untuk laki-laki, jika kita buang air kecil (dengan berjongkok), biasanya akan ada percikan di paha dan betis. Lalu jika kita siram, biasanya percikannya akan mengenai dinding kamar mandi dan dinding bak. Lalu, jika kembali masuk kamar mandi lagi dan kita terkena dinding kamar mandi / dinding bak itu, apakah bagian dari diri kita yang terkena dinding itu jadi bernajis?

b. Jika kita istinja setelah buang air kecil, berapa kali kita harus membasuh kemaluan (untuk laki-laki)? Lalu bagaimanakah tata caranya? Apakah dibasuh yang di bagian luar saja, atau airnya dimasukkan sedikit ke dalam lubang kemaluan? Karena saya selalu was-was kalau-kalau sisa kencingnya masih ada dan bisa-bisa membasahi celana dalam saya.

c. Jika kita membersihkan kaki kanan kita dari percikan kencing, lalu kemudian membersihkan kaki kiri, tapi saat mencuci kaki kiri, air basuhan dan percikannya mengenai kaki kanan kembali, apakah kita harus mencuci kaki kanan lagi? Kejadian itu terus-menerus menimpa saya dan akibatnya saya jadi frustrasi karena harus menyiram kedua kaki saya silih berganti dan air bak mandi pun banyak yang terkuras. Bagaimanakah cara yang benar supaya bisa menghemat air?

6. Apabila tangan kita basah dan menyentuh kain bekas air mani dan madzi yang dalam keadaan sudah mengering begitu saja (bukan karena cahaya matahari), najis apakah yang menular ke tangan kita? Ainiyah atau hukmiyah?

Terima kasih...
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

JAWABAN

1. Najis Hukmiyah adalah najis yang sudah tidak ada benda najisnya. Hanya tinggal statusnya masih najis karena belum disucikan dengan air. Adapun hukum najis hukmiyah, apakah menular atau tidak, ulama berbeda pendapat. Menurut madzhab Syafi'i menularkan najis apabila ada yang basah di salah satu pihak.

Namun menurut madzhab Maliki, najis hukmiyah tidak menularkan najis. Anda bisa mengikuti pendapat ini agar tidak lagi bingung dan was-was. Baca detail: Najis Hukmiyah Kering Terkena Benda Basah Menurut Madzhab Maliki

SISA MANI SETELAH MANDI


Assalamualaikum pak ustadz izin tanya.

1. Bagaimana hukumnya sisa mani yang keluar saat mandi wajib ? Apakah membatalkan mandi wajib yang sedang dikerjakan ? Atau hanya membatalkan wudhu ?

2. Saat mencoba membersihkan kemaluan saya tidak ada tanda-tanda seperti licinnya mani, yang saya rasakan waktu itu seperti keluar sesuatu. Sebelumnya saya membasuh kemaluan dari arah depan kemaluan drngan shower dengan siraman yang agak sedikit deras. Sebelum merasakan seperti ada yang keluar itu sebelumnya saya sudah buang air kecil terlebeih dahulu, bahkan saya buang air kecil 2 kali, sebelum mandi dan saat mandi untuk memastikan tidak ada sisa mani lagi. Apakah yang saya rasakan seperti ada yang keluar itu adalah air yang saya siramkan ketika membasuh kemaluan atau itu sisa mani pak ustad ? Tetapu jika itu sisa mani, sewaktu saya coba bersihkan kemaluan tidak ada tanda-tanda seperti licin mani.

JAWABAN

1. Kalau yakin mani yang keluar, maka itu membatalkan mandi wajib yang sedang dikerjakan. Baca detail: Satu Mandi untuk Junub dan Haid

Namun kalau yang keluar itu madzi atau wadi, maka hanya membatalkan wudhu saja. Baca detail: Beda Mani, Madzi, dan wadi

2. Kemungkinan sisa air yang keluar atau bisa saja wadi. Dari dua kemungkinan itu tidak mewajibkan mandi wajib lagi. Hanya perlu dibasuh karena najis. Baca detail: Cara Wudhu dan Mandi Wajib


09/06/20

Fidyah dan Cara Niat

NAJIS BABI DAN FIDYAH


Assalamu'alaikum Wr. Wb.. Ustadz, mohon bertanya ;

1. Kalau fidyah itu harus pakai niat kah ? Seperti zakat. (Dan kalau harus niat, niatnya bagaimana ?) Lalu apakah orang yang kita kasih fidyah harus tahu kalau beras tersebut beras fidyah, dan apakah dia (orang yang kita kasih fidyah) harus tahu "dari siapa" fidyah tersebut ?, juga apakah dia harus tahu penyebab fidyahnya ? (Misal karena menyusui, dsbg.) Jadi misalnya saya akan kasih fidyah ke si A, saya harus terus terang "(saya niat fidyah) lalu saya bilang Ini fidyah saya, sebab saya menyusui" atau tidak usah seperti itu, jadi saya hanya kasih saja berasnya tanpa mengucap alasannya ?

2. Saya baru tahu kalau kuas eterna china bristles itu mengandung bulu babi, sedangkan setiap membersihkan bak mandi, kami pakai itu. Lalu saya cari hukumnya dan ketemu di website Alkhoirot juga ternyata bulu babi itu suci menurut Imam Maliki, kami bisa taqlid ke sana.

Pertanyaannya, apakah saya sah jika taqlid ke Imam Maliki setelah kita memakai bulu babi itu ? Karena setahu saya di dalam ibadah itu yang wajib kita yakini ada 2 ; dzonn mukallaf dan nafsul amri, sedangkan gambaran saya di sini, saya belum tahu itu dari babi, saya pun belum tahu pada hukum Imam Maliki, setelah saya tahu dari babi, saya telah memakainya, saya tiba-tiba taqlid, itu bagaimana ?

Lalu jika ternyata tidak sah, berarti sholat saya sekeluarga, para tamu yang pernah berkunjung ke rumah dan memakai kamar mandi tersebut, itu tidak sah juga ? Dan semua alat-alat rumah, pakaian-pakaian itu najis mugholadzoh ? Mengingat pasti tercampur dengan air dari bak mandi tersebut.

Mohon pencerahannya ya Ustadz, ini berat sekali buat kami, kami mana sanggup menyucikan serumah dengan 7x cucian dan salah satunya pakai tanah itu, kami juga merasa berat harus mengqodlo sholat bertahun-tahun, dan kami mana sanggup memberi tahu para tamu masalah ini, dan lain-lain. Tapi tolong tetap katakan saja hukumya walau berat, tapi semoga ada rukhsoh di fiqih nya 🙏 syukron Ustadz

Wassalamu'alaikum Wr. Wb

JAWABAN

1. Membayar fidyah harus ada niat. Ar-Ramli dalam kitab Fatawa Ar-Ramli fi Furu' Al-Fiqh Al-Syafi'i, hlm. 200, menyatakan:

سئل: هل يلزم الشيخ الهرم إذا عجز عن الصوم وأخرج الفدية النية أم لا، وما كيفيتها؟ وما كيفية إخراج الفدية هل يتعين إخراج فدية كل يوم فيه أو يجوز إخراج فدية جميع رمضان دفعة سواء كان في أوله أو في وسطه أو لا

فأجاب: بأنه تلزمه النية لأن الفدية عبادة مالية كالزكاة والكفارة فينوي بها الفدية لفطره ويتخير في إخراجها بين تأخيرها وبين إخراج فدية كل يوم فيه أو بعد فراغه، ولا يجوز تعجيل شيء منها لما فيه من تقديمها على وجوبه لأنه فطرة. انتهى.

Artinya: Ar-Ramli ditanya, apakah orang tua yang tidak mampu berpusa lalu mengeluarkan fidyah apakah wajib niat atau tidak dan bagaimana cara niatnya? Apakah harus mengeluarkan fidyah setiap hari atau boleh mengeluarkan fidyah seluruhnya sekaligus baik di awal atau di tengah atau tidak? Ar-Ramli menjawab: Niat bayar fidyah itu wajib karena ia merupakan ibadah harta seperti zakat dan kafarat, maka ia harus berniat membayar fidyah karena tidak puasa. Adapun waktu mengeluarkan fidyah maka boleh memilih antara membayar di akhir atau bayar fidyah setiap hari atau setelah habisnya puasa. Tapi tidak boleh mempercepat bayar fidyah karena itu berarti mendahului kewajiban.

Adapun niat bayar fidyah sbb:

a) Niat membayar fidyah bagi wanita hamil dan menyusui:

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ فِدْيَةَالْمُرْضِعِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالٰى

"aku berniat mengeluarkan fidyah bagi orang yang menyusui fardhu karena Allah Ta'ala"

Niat membayar fidyah bagi orang sakit parah yang diperkirakan susah atau tak kunjung sembuh lagi:

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ فِدْيَةَالْمَرَضِ الَّذِيْ لاَ يُرْجٰى بَرَؤُهُ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالٰى

"aku berniat mengeluarkan fidyah bagi orang yang sakit fardhu karena Allah Ta'ala."

Memberitahu yang dibayari fidyah itu tidak wajib. Namun memberitahunya itu lebih baik agar tidak terjadi pembayaran fidyah dua kali. Namun kalau tidak memberitahu juga tidak apa-apa. Oleh karena itu, membayari fidyah orang yang sudah meninggal, atau berkorban untuk orang meninggal, hukumnya sah.

Rujukan lain terdapat dalam beberapa kitab berikut:

(a) An-Nawawi dalam kitab Al-Majmuk, hlm. 6/260, menyatakan:

"اتفق أصحابنا على أنه لا يجوز للشيخ العاجز والمريض الذي لا يُرجى برؤه تعجيل الفدية قبل دخول رمضان، ويجوز بعد طلوع فجر كل يوم، وهل يجوز قبل الفجر في رمضان؟ قطع الدارمي بالجواز، وهو الصواب".

(b) dalam Mughnil Muhtaj, hlm. 2/176, menyatakan:

"وليس لهم -أي الهرم والمريض- ولا للحامل ولا للمرضع تعجيل فدية يومين فأكثر، كما لا يجوز تعجيل الزكاة لعامين، بخلاف ما لو عجل من ذكر فدية يوم فيه أو في ليلته فإنه جائز.

(c) dalam Syarhul Muqaddimah Al-Hadhramiyah, hlm. 578, menyatakan:

"لو أخر نحو الهرم الفدية عن السنة الأولى، لم يجب شيء للتأخير؛ لأنّ وجوبها على التراخي.

2. Tidak masalah ikut madzhab Maliki dalam soal ini. Prinsipnya, orang awam tidak wajib ikut satu madzhab. Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab


SIKAT BEKAS MENYIKAT NAJIS APAKAH NAJIS?


Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Maaf ustadz menyambung pertanyaan tadi

1. Apakah sikat yang di pakai untuk menyikat teras yang dilaluinya juga najis,, namun najisnya tidak terlihat

JAWABAN

1. Apabila mengikuti pandangan madzhab Syafi'i maka hukumnya najis. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

Kalau ikut madzhab Maliki maka tidak najis. Baca detail: Najis Hukmiyah Kering Terkena Benda Basah Menurut Madzhab Maliki


NAJIS KENCING DI TOILET YANG SUDAH DISIRAM, APA MASIH NAJIS?


Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Maaf sebelumnya ustadz,, saya bertanya

1. apakah lantai di kamar mandi akan menjadi najis jika seseorang kencing dilantai kamar mandi tetapi sudah disiram dengan air bersih

2. Jika ban motor terkena bangkai tikus ketika hujan, apakah cara mensucikannya seperti pada sendal

Terima kasih ustadz sebelumnya

JAWABAN

1. Kalau najis kencing sudah disiram dengan air suci, maka latainya menjadi suci. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

2. Apabila bekas bangkai tikusnya sudah tidak ada di ban, maka dianggap sudah suci karena terkena air hujan. Tapi kalau bangkainya masih ada di ban maka cara menyucikannya adalah dg membuang bangkai itu sampai bersih setelah itu disiram dengan air. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan


07/06/20

Hukum Bermazhab Syafii dan Maliki, Bolehkah?

MENCAMPUR AJARAN MADZHAB


Mohon maaf tanya lagi ustad.
Saya dan muslim di tempat tinggal saya bahkan di Indonesia mayoritas bermahzab syafii. Mengenai najis kotoran anjing tadi apakah boleh saya memakai ajaran mahzab imam Maliki hanya untuk najis anjing ini? Mengenai ibadah yang lain saya ikut mahzab Imam Syafii.

Apakah boleh mencampur ajaran mahzab seperti itu ustad.?

Sebab kalau tentang air liur dan bersentuhan dengan anjing InsyaaAllah bisa dihindari dan itupun jarang terjadi. Kalaupun terkena akan saya basuh 7 basuhan dan pakai tanah. Tapi kotoran anjing sangat susah untuk dihindari karena anjing buang kotoran sembarangan. Kotorannya kadang terinjak, kadang tergilas ban motor. Motor saya kalau malam dimasukkan ke dalam rumah, dan tentunya bannya mengenai lantai rumah. Dan itu akan menimbulkan was was najis akan menyebar ke lantai lain karena terbawa jejak ban dan injakan orang rumah jika dalam keadaan kaki sedang basah. Akan sangat menyulitkan jika membasuh seluruh lantai rumah dengan 7 basuhan dan pakai tanah.

Mohon pencerahannya ustad.
1. Apakah boleh mencampur ajaran mahzab untuk keadaan serperti yang saya ceritakan diatas?
2. Apakah saya termasuk menyepelekan /meringan-ringankan ajaran agama jika saya memakai ajaran mahzab yang lebih mudah dan tidak menyulitkan saat beribadah?
Tujuan saya hanya untuk membunuh was was yang mengganggu saat beribadah.
Contohnya seperti perlakuan saya mensucikan najis kotoran anjing ikut mahzab Maliki sedangkan saya bermahzab Syafii. Hanya untuk perlakuan najis anjing saya pakai mahzab Maliki, itupun perlakuan pada najis kotorannya, untuk ibadah yang lain saya ikut mahzab Syafii.

Mohon maaf saya banyak tanya ustad. Saya masih dalam proses belajar.
Terima kasih banyak sebelumnya atas bantuannya. Semoga Allah membalas kebaikan ustad dan selalu diberkahi Allah. Aamiin.

JAWABAN

1. Boleh. Tidak masalah memakai madzhab Maliki untuk soal najis anjing dan untuk masalah lain memakai madzhab Syafi'i. Karena pada dasarnya orang awam tidak wajib ikut satu madzhab. Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab

2. Tidak akan dianggap seperti itu. Pindah-pindah madzhab dibolehkan apabila diperlukan dan bertujuan untuk memberi solusi pada kehidupan sehari-hari. Baca detail: Hukum Ikut Beberapa Madzhab

KERINGAT WANITA SAAT HAID


Assallamuallaikum wr. wb.

Izin bertanya, saya pernah baca jika keringat wanita haid di bagian manapun ia letaknya di tubuh, statusnya tetap suci. Lalu apakah keringat wanita haid yg berada di sekitar kemaluan statusnya tetap suci? Mengingat keringat mungkin saja bertemu dengan darah haid.

Wassallamuallaikum wr. wb

JAWABAN

Ya, keringat hukumnya suci. Adapun keringat di dekat kemaluan maka tetap suci selagi tidak bercampur dengan darah haid. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

AIR CIPRATAN PERMUKAAN NAJIS


Assalammualaikum.

Baju saya basah dan airnya (suci) menetes ke permukaan yang bernajis (juga ada air bergenang di atas permukaan ini) dan kemudiannya terciprat terkena saya. Adakah air yang terciprat terkena saya ini menjadi najis?

Bisakah saya menganggap air yang terciprat ini SUCI karena tidak tahu air ini telah berubah sifat (warna, bau atau rasa) atau tidak?

Terima kasih.

JAWABAN

Ya, menurut madzhab Syafi'i air suci yang mengena benda najis maka cipratannya menjadi najis. Akan tetapi najis yang dimakfu. Baca detail: Najis yang Dimaafkan (Makfu)

Baca juga: Air Cipratan Menyiram Najis

PAKAIAN BEKAS DIPAKAI DOSA APA BOLEH BUAT SHALAT?


Assalamu'alaikum wr. Wb. Pak ustad saya mau bertanya apakah pakaian bekas digunakan maksiat lalu dipakai sholat, sah dan diterimakah oleh Allah SWT. Sholatnya? Mohon penjelasannya.terima kasih. Wassalam.

JAWABAN

Shalatnya sah selagi pakaian tersebut dalam keadaan suci. Tidak terkena najis. Karena syarat pakaian yg boleh dipakai salat adalah apabila suci. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

Terkait masalah diterima atau tidak oleh Allah, maka itu tergantung dari apakah kita sudah bertaubat nasuha atas dosa yang kita lakukan. Apabila kita sudah taubat nasuha, maka insyaAllah dosa kita akan diterima. Baca detail: Cara Taubat Nasuha


Menyucikan Benda Mutanajis Dengan Sekali Siram

MENYUCIKAN BENDA MUTANAJIS DENGAN SEKALI SIRAM


assalamualaikum warahmatulahi wabarokatuh saya ingin bertanya seputar najis yang saya ingin tanyakan adalah
a.apakah bisa menyucikan benda yang terkena air mutanajis dengan sekali siraman atau haruskah lebih dari satu siraman

b.bolehkah menyiram lantai kamar mandi yang terkena air kencing hanya di daerah yang terkena air kencing tersebut atau yang harus disiram adalah seluruh lantai kamar mandi karena seluruh lantai di kamar mandi saya basah namun bukan karena air kencing

c.bagaimana jika saya lupa sudah membersihkan najis atau belum kemudian saya berpikir itu hanyalah was was namun jika ternyata saya belum menyucikan najis tersebut apakah itu dimaafkan karena saya menganggap itu hanyalah was was

d.bagaimana hukum berganti ganti mazhab untuk menghindari was was
terima kasih
assalamualaikum warahmatulahi wabarokatuh

JAWABAN

A. Tergantung: kalau sudah berupa najis hukmiyah maka cukup sekali siram. Kalau masih najis ainiyah (najisnya terlihat) maka harus sampai hilang najisnya.

B. Cukup yang terkena najis. Namun kalau airnya mengalir ke tempat yang tidak najis juga, maka yang teraliri najis itu juga menjadi najis dan harus disiram.

C. Tergantung mana yang diyakini lebih dulu. Kalau yakin ada najis lalu lupa apakah sudah membersihkan atau belum, maka dianggap belum membersihkan. Jadi, harus dibersihkan/disiram air. Kalau asalnya tidak ada najis lalu ragu apakah ada najis atau suci, maka kembali ke asal benda tersebut: kalau asalnya suci maka dianggap suci. Contoh, anda masuk ke toilet lalu ragu apakah lantai toilet najis atau suci, maka kalau tidak ada tanda-tanda najis maka dianggap suci. Baca detail: Kaidah: Suci tidak hilang karena Asumsi Najis

D. Berganti-ganti madzhab boleh apabila diperlukan. Termasuk diperlukan untuk menghindari was-was. Baca detail: Hukum Ganti Madzhab

NAJIS DAN SUCI:


Assalaamu’alaikum...

Pak Ustad tolong untuk pertanyaan ini segera dijawab :(. Dulu saya pernah mengalami ada darah sedikit dibagian dalam kuku, setelah berhari-hari, darah sedikit tersebut berada di bagian luar kuku saya dalam keadaan menempel. Yang mau saya tanyakan yaitu:

1) Apakah darah kering yang berada di bagian bawah kuku tersebut bisa disebut sebagai koreng?

2) Kalau misalkan memang koreng, dan saya melakukan wudhu ketika ada koreng tersebut, apakah wudhu yang telah saya lakukan sah?

Saya menduga kuat, bahwa darah kering tersebut menghalangi terkenanya air di bagian kuku.

Demikian pertanyaannya,
Wassalaamu’alaikum...

JAWABAN

1. Ya. Atau sebut saja darah kering. Hukumnya dimakfu.

2. Sah wudhunya karena dimaafkan. dan dianggap bagian dari tubuh. Baca detail: Kotoran Kuku dan Koreng jadi Penghalang Mandi dan Wudhu?

NAJIS TANAH JALANAN


Assalamualaikum.

Sepatu saya terkena tanah bernajis semasa berjalan. Saat di dalam mobil, sepatu ini (bagian yg bernajis) terkena/menyentuh sedikit kursi mobil. Saya tidak pasti sama ada najis tanah itu benar-benar menempel pada kursi atau tidak karena susah untuk dilihat.
Setelah beberapa lama, kaki saya terkena bagian ini.

Adakah kaki saya dianggap bernajis?

JAWABAN

Bagaimana anda yakin tanah itu bernajis? Apakah anda melihat langsung ada najisnya atau hanya asumsi? Apabila hanya dugaan najis, maka tanah itu sebenarnya tidak najis karena dugaan. Jadi status tanah kembali ke status awal yaitu suci. Baca detail: Yakin Tidak Hilang oleh Keraguan

Apabila anda melihat memang ada benda najis di tanah itu, seperti kotoran hewan, darah, dll, maka kalau sedikit dimakfu (dimaafkan) dan kalau banyak dianggap najis. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

Terkait kaki anda, kalau tidak pasti menyentuh najis tersebut, maka dianggap tidak najis. Baca detail: Yakin Tidak Hilang oleh Keraguan

JADI WAS-WAS KARENA BAK MANDI KURANG DARI 2 KULAH


Assalamu'alaikum, Pa Ustad Afwan saya mau bertanya masalah najis,,
Dirumah saya bak mandinya kurang dari dua qullah,terus saya sering kena was was tentang kesuciannya,pertanyaanya,,

1.apakah saya boleh talfiq ke mazhab maliki,bahwa air yg sedukit itu tdk najis kalau kejatuhan najis asal tdk berubah sifatnya ??
2.maaf ustad kalau saya tetap mengikuti mazhab safi'i,saya selalu menguras air d bak itu,dan itu sangat memberatkan disampinh itu juga memubazirkan air,mohon solusi dan penjelasannya,sebelummnya saya ucapkan terimakasih,wassalamu'alaikum wr.wb

JAWABAN

1. Boleh ikut madzhab Maliki dalam soal ini saja sedang masalah lain ikut madzhab Syafi'i. Baca detail: Hukum Ikut Beberapa Madzhab

Namun sebenarnya anda tidak perlu sampai pindah madzhab, karena Imam Ghazali sendiri (ulama madzhab Syafi'i) memiliki pandangan yang sama denga madzhab Maliki: yaitu bahwa air yang kurang dua kulah tidak najis walaupun terkena najis apabila tidak berubah sifatnya. Baca detail: Najis menurut Imam Ghazali

Baca juga: Air Dua Kulah

Air Kurang Dua Kulah menurut Al-Ghazali

AIR KURANG DUA KULAH MENURUT IMAM AL-GHAZALI


Assalaamu’alaikum...

Pak Ustad,
1) apakah menurut Imam Ghazali, air suci mutlak kurang dari dua qulah bila terkena najis baik najis ainiyah maupun najis hukmiyah itu dimaafkan selagi tidak ada rasa, bau, dan warna pada air?

2) Misalkan dalam masalah najis, ada yang saya gunakan pendapat dari mazhab Syafi’i, tetapi dalam masalah najis yang lain, saya menggunakan mazhab Imam Malik. Apakah saya boleh mencampurkan penggunaan mazhab dalam masalah najis?

3) Apakah masalah najis termasuk satu ibadah dengan sholat?

Demikian,
Wassalaamu’alaikum...

JAWABAN

1. Ya. Baca detail: Najis menurut Imam Ghazali

2. Boleh kalau memang diperlukan. Karena pada dasarnya ikut satu madzhab itu tidak wajib bagi orang awam. Baca detail: Orang Awam Tidak Wajib Ikut Satu Madzhab

3. Ya. Masalah najis dan suci walaupun bukan ibadah secara langsung tapi menjadi sarana sahnya ibadah shalat. Dalam kaidah ushul fikih: Sesuatu yang menjadi sarana atas suatu kewajiban, maka ia juga menjadi wajib (ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب)

Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan


NAJIS DAN SUCI


assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
saya ingin bertanya seputar najis
jadi waktu itu saya memiliki selimut yang basah lalu di selimut itu
terlihat bangkai semut karena setahu saya bangkai semut adalah najis namun diampuni bila di air jadi saya buang saja bangkai semut nya jadi yang ingin saya tanyakan apakah yang saya lakukan benar lalu bagaimana hukum selimut tersebut apakah menjadi najis dan bagaimana hukum nya bila dari selimut basah tersebut menetes air apakah air itu najis meskipun bangkai semut itu sudah saya buang

terima kasih
assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

JAWABAN

Semut mati atau bangkai semut termasuk najis yang dimakfu. Yang anda lakukan sudah benar. Hukum selimut tidak najis. Air yang menetes dari selimut juga tidak najis. Baca detail: Najis yang Dimaafkan (Makfu)


MASALAH NAJIS KENCING YANG TIDAK KELIHATAN


Bismillah
Assalamu'alaikum
Keponakan saya beser saat mau menuju ke kamar mandi. Saya tidak tahu dia mulai beser dari sebelum pintu kamar mandi atau sesudahnya. Saya melihat jelas hanya setelah masuk pintu kamar mandi. Dan sisi2 dekat kamar mandi saya cek ada sedikit bau seperti bau kencing cuma saya ragu iya atau tidak, jadi cuma saya lap pakai tangan dan air beberapa kali untuk hati-hati (untuk warna tidak jelas karena kondisi kamar mandi memang basah).

Sesudah itu saya lap dengan tisu kering, namun masih ada baunya. Sehingga saya beranggapan kemungkinan itu bukan bekas air kencing. Memang bau saja. Semakin hari saya jadi berat hati karena sudah belakangan ini dilanda was-was najis, sehingga semakin membuat sedih dan sesak di hati saya. Pun, karena keponakan saya yang masih kecil dan suka tidak terkendali saat buang air. Saya sangat kesal karena khawatir jika terkena najis akan mempengaruhi sholat saya. Kekesalan saya juga jadi ke semua orang dan saya merasa bersalah telah bersikap buruk kepada anak kecil dan keluarga saya.
1. Bagaimana status kamar mandi saya tersebut? Apakah sudah suci atau najis?
2. Bagaimana solusinya untuk keluarga yang punya balita yang terkadang tidak terkendali membuang air? Apakah itu dianggap darurat dan dimaafkan?
3. Benarkah najis sedikit yang tidak diketahui pasti letaknya seperti kasus saya itu dimaafkan? Karena saya sudah berusaha semampu saya untuk menjauhinya. Namun, saya benar-benar takut jika memang ada najisnya di sisi lain kamar mandi
4. Apa saya berdosa jika mengambil yang yakin bahwa najisnya mulai dari tempat yang saya yakini saja?

JAWABAN

1. Kamar mandi yang terkena najis harus disiram dengan air. Kalau itu sudah dilakukan maka sudah suci.

2. Setiap najis harus disucikan. Caranya, tempat yang terkena najis dilap pakai tisur kering lalu disiram pakai air.

3. Ya, dimaafkan. Baca detail: Percikan Kencing Najis yang Dimakfu

4. Tidak dosa. Bahkan boleh menganggap tidak ada najis kalau memang tidak melihat najis itu. Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

HUKUM AIR BEKAS NAJIS HUKMIYAH MENGALIR KE NAJIS HUKMIYAH LAIN


Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh saya ingin bertanya bagaimana hukumnya jika air bekas mensucikan najis hukmiyah mengalir ke najis hukmiyah yang lainnya apakah najis tersebut menjadi suci atau justru air tersebut menjadi najis dan bagaimana hukumnya najis hukmiyah yang sudah dibersihkan tadi apakah harus dibersihkan ulang?
Terimakasih assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh

JAWABAN

Najis hukmiyah yang terkena air bekas menyucikan najis hukmiyah hukumnya tetap najis. Karena air tersebut termasuk mustakmal yang tidak dapat menyucikan najis. Najis baru bisa suci apabila dialiri air mutlak yang suci dan menyucikan. Baca detail: 4 Jenis Air

Sedangkan air hukmiyah tadi menjadi najis karena ketularan najis menurut madzhab Syafi'i. Namun suci (tapi tidak menyucikan) menurut mazhab Maliki. Baca detail: Najis Hukmiyah Kering Terkena Benda Basah Menurut Madzhab Maliki

Baca detail: Najis dan Cara Menyucikan

26/04/20

Yang Prinsip dalam Niat Ibadah

Yang Prinsip dalam Niat Ibadah
YANG TERPENTING DALAM NIAT IBADAH

Assalamualaikum

Saya mau tanya, jika niat itu adalah pembeda suatu ibadah yang satu dengan yang lainnya, apa hal yang paling minimal harus ada dalam niat ibadah ?

Selama ini saya berniat seperti ini pak ustadz :

-Untuk wudhu : Ya Allah saya wudhu
-untuk mandi wajib : ya Allah saya mandi wajib atau hanya mandi wajib karena Allah
-untuk sholat fardhu : ya Allah saya sholat zuhur
-sholat sunnah : ya Allah saya sholat tahiyatul mesjid
-untuk puasa ramadan : ya Allah saya puasa ramadan esok hari

Apakah niat saya diatas dibenarkan dan sah niatnya ?

JAWABAN

Semua niat yang anda ucapkan di atas sudah benar.

Sebagai tambahan, untuk shalat fardhu apabila dilakukan secara berjamaah dan jadi makmum, maka yang wajib adalah menyebutkan nama shalat (misalnya, zhuhur) dan menjadi makmum.

Baca detail:
- Cara Niat
- Niat Tanpa Nawaitu, apa sah?

CARA NIAT IBADAH (2)

1. Berarti untuk sholat boleh hanya "sholat zuhur" saja jika tidak jadi makmum dan jika jadi makmum "sholat zuhur jadi makmum" ?

2. Kalau untuk sholat sunat apakah harus sholat sunat duha atau hanya sholat duha saja ?

3. Sering saya temui di internet terkait niat mandi wajib ada beberapa artikel yang saya temui niat mandi wajibnya berganti menjadi niat mandi besar atau mandi junub, dan didalam artikel tersebut disebutkan juga bahwa jika niatnya berbeda tergantung penyebab hadastnya.

Ada juga yang tidak sama sekali menyebutkan mandi wajib, mandi besar ataupun mandi junub, tetapi niatnya "aku mengangkat hadas yang besar" (yang ini dapat dari video ust. Azhar idrus malaysia).

Pertanyaannya, apakah sama mandi wajib dengan mandi besar dan mandi junub itu ? Lalu bolehkah niat mandi wajib tanpa ada kalimat mandi wajib, mandi junub ataupun mandi besar ?

5. Masih terkait dengan no.4 tetapi jika diterapkan di wudhu apakah juga boleh niat seperti yang no.4 tersebut dengan hanya mengganti hadas besar menjadi hadas kecil ?

6. Yang saya pahami dari semua konsultasi saya, jika niat itu tidak perlu ada kata "saya niat", "karena Allah", dan jika sholat (fardhu dan sunah) tidak perlu ada kata "fardhu dan sunah".

Bisa niat dengan hanya
-"sholat zuhur atau saya sholat zuhur"
-"sholat duha atau saya sholat duha"
-"wudhu karena Allah atau saya wudhu"
-"mandi wajib karena Allah atau saya mandi wajib"

Apakah betul demikian pak ustadz ?

JAWABAN

1. Betul. Al-Malibari dalam Fathul Muin menyatakan:

(فيجب فيها) أي النية (قصد فعلها) أي الصلاة، لتتميز عن بقية الافعال (وتعيينها) من ظهر أو غيرها، لتتميز عن غيرها، فلا يكفي نية فرض الوقت.

Artinya: Di dalam niat shalat wajib a) bersengaja melakukan shalat (dengan mengatakan saya niat shalat) agar berbeda dari perbuatan yang lain; b) wajib menentukan nama shalat seperti Zhuhur atau lainnya. Maka tidak cukup "niat shalat fardhu".

Baca detail: Niat Tanpa Nawaitu, apa sah?

2. Shalat dhuha saja sudah cukup. Tapi kalau ditambah menjadi "shalat sunnah dhuha" juga baik (dianggap sunnah). Al-Jaziri dalam Al Fiqh alal Madzhahib Al Arba'ah menyatakan:

الشافعية قالوا: صلاة النافلة إما أن يكون لها وقت معين؛ كالسنن الراتبة، وصلاة الضحى، وإما أن لا يكون لها وقت معين، ولكن لها سبب، كصلاة الاستسقاء؛ وإما أن تكون نفلاً مطلقاً، فإن كان لها وقت معين، أو سبب، فإنه يلزم أن يقصدها ويعينها، بأن ينوي سنة الظهر مثلاً، وأنها قبلية أو بعدية؛ كما يلزم أن يكون القصد والتعيين مقارنين لأي جزء من أجزاء التكبير، وهذا هو المراد بالمقارنة والاستحضار العرفيين، وقد تقدم مثله في صلاة الفرض، ولا يلزم فيها نية النفلية، بل يستحب،

Artinya: Madzhab Syafi'i berpandangan bahwa shalat sunnah itu adakalanya (a) shalat yang punya waktu khusus seperti shalat sunnah rawatib dan shalat dhuha. (b) Adakalanya tidak punya waktu khusus tapi ada sebab seperti shalat istisqo'; (c) adakalanya shalat sunnah mutlak. Shalat sunnah waktu khusus atau punya sebab itu wajib berniat shalat dan menentukannya (menyebut nama shalat) seperti "Niat sunnah zhuhur" dan menyebut qabliyah atau ba'diyah. Wajib juga bersengaja (shalat) dan menentukan (nama shalat) yang keduanya bersamaan dengan salah satu bagian takbirotul ihram.Ini yang disebut dengan bersamaan dan menghadirkan yang uruf (umum). Tidak wajib niat sunnah, tapi sunnah mengucapkan kata "sunnah".

3. Mandi wajib, mandi besar dan mandi junub sama ketiganya. Yakni, kondisi di mana orang sedang mandi untuk menghilangkan hadas besar.

4. Jika berniat mandi wajib tanpa ada kalimat seperti yang dijelaskan di no.3 dibolehkan dan sah, berarti jika berniat mandi wajib hanya dengan "mengangkat hadast besar karena Allah", "bersuci dari hadas besar karena Allah" atau "menghilangkan hadas besar karena Allah" juga diperbolehkan ?

4. Ya, boleh.

5. Ya, boleh juga diterapkan di wudhu.

6. Betul.
Baca detail:
- Cara Niat
- Niat Tanpa Nawaitu, apa sah?