28/05/19

Hukum Mengubah Penggunaan Harta Wakaf

WAKAF: MENGUBAH PENGGUNAAN HARTA WAQAF

Assalamu'alaikum wr. wb.

1. Bila wakaf tanah dan bangunan yg semula oleh wakif dimaksudkan untuk pesantren tapi oleh nadzir dijadikan sekolah, bagaimana hukumnya?

2. Setelah dikelola alhamdulillah berjalan dan berkembang,apakah boleh hasil (keuntungan) dari pengelolaan tersebut masuk kantong pribadi yang mengelola?

3. Bila keuntungan tersebut dibelikan tanah & bangunan baru untk pengembangan sekolah(wakaf), bisakah tanah tersebut diklaim milik pribadi yang mengelola sehingga sewaktu-waktu bisa dijual?

4. Bila kemudian keluarga wakif berkeras ingin turut serta mengelola wakaf tersebut, apakah memang wajib ditaati sehingga kemungkinan harus memberhentikan beberapa pengurus lama?

Mohon jawabannya. Terima kasih.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

JAWABAN


1. Hukum asalnya tidak boleh. Namun bisa dilakukan apabila dianggap lebih maslahat oleh nazhir waqaf.

Ibnu Hajar Al Haitami dalam Al Fatawa Al Kubro, hlm. 3/338, menyatakan:


إن قصد الواقف يراعى بحيث إذا حدد طريقة صرف الوقف فإن ذلك يعتبر، أو عرف مقصده بأن جرت العادة في زمنه بأشياء مخصوصة، فينزل عليها لفظ الواقف.
Artinya: Tujuan dari waqif (pewakaf) harus dijaga dalam arti apabila dia memberi batasan atas penggunaan harta wakaf maka hal itu dianggap (harus dilaksanakan). Atau diketahui tujuannya berdasarkan kebiasaan yang berlaku di zamannya dengan sesuatu yang khusus, maka ucapan waqif diarahkan padanya (apabila tidak ditentukan secara khusus).

Namun, sebagian ulama madzhab Hambali membolehkan pengalihan manfaat apabila dianggap lebih maslahat. Mustofa Al Rohibani dalam Matolib Ulin Nuha fi Syarhi Ghayatil Muntaha, hlm. 4/370, menyatakan:

يجوز تغيير شرط واقف لما هو أصلح منه، فلو وقف على فقهاء أو صوفية واحتيج للجهاد صرف للجند. اهـ
Artinya: Boleh merubah syarat yang diucapkan waqif (pemberi wakaf) pada tujuan yang lebih maslahat. (Misalnya) apabila waqif mewakafkan hartanya untuk ulama fikih atau sufi lalu harta itu dibutuhkan untuk jihad, maka boleh digunakan untuk biaya tentara.

2. Tidak boleh. Haram, kecuali secukupnya untuk gaji. Tentang nilai gaji, apabila sudah ditentukan di muka, antara waqif dan nazhir wakaf, maka jumlah yg ditentukan itu yang boleh diambil. Apabila belum ditentukan, maka bisa mengambil gaji menurut aturan yang berlaku umum (ujroh misil).
Al-Khatib Al-Syarbini dalam Mugnil Muhtaj ila Makrifati Alfazhil Minhaj, hlm. 3/553-554, menyatakan:

: [(ووظيفتُهُ -أي ناظر الوقف-) عند الإطلاقِ أو تفويضِ جميع الأمور (العمارةُ والإجارةُ وتحصيلُ الغلة وقسمتُها) على مستحقيها وحفظُ الأصولِ والغلاتِ على الاحتياط؛ لأنه المعهود في مثله.. ولو شرط الواقف للناظر شيئًا من الريع جاز وإن زاد على أجرة مثله؛ كما صرح به الماوردي] اه
Artinya: Tugas dari nazhir wakaf secara umum adalah mengurus, menyewakan, menghasilkan laba dan membagikannya pada yang berhak serta menjaga harta pokok dan laba secara hati-hati... Apabila waqif (pemberi wakaf mensyaratkan pada nazhir bagian dari keuntungan, maka itu dibolehkan walaupun itu melebihi gaji umum sebagaimana dijelaskan oleh Al Mawardi.
Baca detail: Hukum Wakaf dalam Islam

3. Tidak bisa. Seluruh keuntungan dari harta wakaf statusnya sebagai harta wakaf yang penggunaannya sesuai dengan ucapan dari waqif. Nazhir hanya berhak pada bagian gaji yang sudah disepakati atau gaji umum sebagaimana disebut dalam poin 2.

4. Soal ini sifatnya tidak prinsip. Jadi lebih ke masalah sosial. Apabila memasukkan keluarga waqif itu lebih maslahat untuk menjaga kelestarian dan transparansi harta wakaf, maka itu lebih baik.
Baca detail: Wakaf dalam Islam

Ingat, harta wakaf adalah harta amanah untuk keperluan sesuai pesan dari waqif. Menggunakan untuk kepentingan pribadi sama dengan mencuri hak dari mustahiq dan mengkhianati waqif dan melanggar syariat. Hukumnya dosa besar. Baca detail: Dosa Besar dalam Islam

Dapatkan buku-buku Islam karya A. Fatih Syuhud di sini.. Konsultasi agama, kirim via email: alkhoirot@gmail.com


EmoticonEmoticon