21/05/19

Cara Menghitung Zakat Profesi

CARA MENGHITUNG ZAKAT PENGHASILAN

Latar Belakang:

- Saya memiliki pekerjaan sebagai penulis dan analis dengan penghasilan yang berbeda-beda setiap bulannya (kisaran 15-25 juta/bulan, terkadang lebih, tergantung project).

- Diketahui pada 16 Ramadhan 1439H saya memiliki simpanan harta sebesar Rp. 90 juta dan 90 Gram Emas. Kemudian pada 16 Ramadhan 1440 sisa simpanan harta saya (dari hasil pekerjaan saya dikurangi dengan kebutuhan2/pengeluaran2) sebesar Rp. 200 juta dan 100 Gram Emas .

Pertanyaannya:

1. Apakah saya wajib membayar zakat? jenis zakat apa yang saya bayar?

2. Jika saya wajib membayar zakat, bagaimana cara menghitung zakatnya (termasuk Nishob dan Haulnya), berapa zakat yang dikeluarkan, dan bagaimana cara mengeluarkan zakatnya (bolehkah keseluruhan dalam bentuk uang)?

3. Bolehkah saya berniat membayar zakat melebihi wajib zakat untuk kehati-hatian dengan niat kelebihannya diniati shodaqoh?
sebagai contoh: emas yang saya miliki saat ini sebenarnya 76 gram emas murni (24 karat) dan 24 gram emas perhiasan yang disimpan, dengan kadar karat berbeda-beda (namun tidak diketahui berapa karat), sehingga sebagai bentuk kehati-hatian saya hitung zakat untuk 100 gram emas murni, kelebihannya saya niati shodaqoh.

4. Untuk zakat periode/tahun selanjutnya, apakah saya harus menghitung secara detail penambahan harta setiap waktu hingga tiba Haul zakat, atau cukup mengitung sisa simpanan harta?

Jika tidak merepotkan disertai ibaroh dari Madzhab Imam Syafii dan diambilkan pendapat yang mashur, namun memudahkan untuk penghitungan dan pelaksanaannya (jalan tengah).

Terima kasih. Jazakumullah.

JAWABAN

1. Ya, anda wajib bayar zakat karena sudah terpenuhi dua syarat yaitu haul (masa setahun) dan nishob (batas minimum) karena nishob zakat harta adalah senilai 85 gram emas. Jenis zakatnya adalah zakat harta.

Syekh Wahbah Az-Zuhayli dalam Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, hlm. 3/1949, mengatakan:


وَالْمُقَرَّرُ فِيْ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ أَنَّهُ لَا زَكَاةَ فِي الْمَالِ الْمُسْتَفَادِ حَتَّى يَبْلُغَ نِصَاباً وَيَتِمَّ حَوْلاً
Artinya, “Ketetapan dalam 4 madzhab bahwa tidak ada kewajiban zakat dalam harta penghasilan kecuali mencapai satu nishab dan sempurna satu tahun.”

Sedangkan batas satu nishob uang penghasilan profesi adalah satu nishab senilai harga emas 85 gram atau kurs harga perak 543,35 gram. Nilai persentase yang wajib dikeluarkan adalah 2,5 persennya.

2. Yang wajib bayar zakat adalah harta simpanan yang sudah mencapai haul. Yakni harta yang pada Ramadan 1439 sudah sampai nishob maka harta tersebut pada Ramadan 1440 sudah mencapai haul dan wajib bayar zakat. Sedangkan harta lain yang belum sampai haul bulan ini (Ramadan) maka tidak wajib dizakati pada bulan Ramadan tahun ini. Misalnya, pada bulan Dzulhijah 1439 ada tambahan harta yang mencapai nishob, maka harta tersebut baru wajib zakat pada bulan Dzulhijah 1440. Namun boleh dibayarkan bersamaan dengan yang Ramadan karena hukum mempercepat pembayaran zakat itu boleh.

An Nawawi dalam Minhajut Tolibin, hlm. 39, menyatakan:

لا يصح تعجيل الزكاة على ملك النصاب ويجوز قبل الحول، ولا تعجل لعامين في الأصح. انتهى
Artinya: Tidak boleh mempercepat sebelum nishob, tapi boleh sebelum haul. Tapi tidak boleh menyegerakan zakat untuk dua tahun ke depan menurut pendapat yang paling sahih.

Al Romli dalam Nihayatul Muhtaj, hlm. 3/141, menyatakan:

يجوز تعجيلها في المال الحولي قبل تمام الحول فيما انعقد حوله ووجد النصاب فيه؛ لأنه صلى الله عليه وسلم أرخص في التعجيل للعباس
Artinya: Boleh mendahulukan pembayaran zakat harta sebelum sempurnanya masa haul apabila sudah sampai nishob karena Rasulullah pernah membolehkan hal itu pada Al Abbas.

Pembayaran zakat dilakukan dalam bentuk uang. 2.5 persen dari harta. Untuk zakat emas, maka konversi ke mata uang menurut harga emas waktu mengeluarkan zakat.

3. Boleh. Yang tidak boleh dan tidak sah apabila kurang dari 2.5 persen.

4. Apabila mengikuti madzhab Syafi'i, maka harus jelas membedakan dan memisahkan harta yang sudah sampai nisob dan haul dengan harta tambahan yang sudah sampai nisob tapi belum sampai haul. Di mana harta yang sudah nisob dan sampai haul wajib dizakati segera, sedangkan harta yang sudah nisob tapi belum sampai haul ada dua pilihan: a) wajib dibayar ketika sudah sampai haul; b) boleh disegerakan. Sedangkan menurut madzhab Hanafi, kedua harta (yang sudah haul dan yang belum haul) harus digabungkan jadi satu.

Cara termudah adalah apabila mengikuti madzhab Hanafi. Di mana anda bisa langsung menghitung seluruh harta simpanan anda lalu dikalikan 2.5% zakatnya. Tanpa harus repot-repot memisahkan dulu mana harta yang sudah sempurna setahun, dan mana yang belum sampai haul. Apakah boleh ikut madzhab Hanafi dalam soal ini? Boleh. Apalagi secara prinsip tidak ada perbedaan mendasar antara madzhab Syafi'i dan madzhab Hanafi. Hanya beda cara saja. (untuk ibarot, lihat di bawah).

Terkait harta berupa emas, ada dua jenis emas, yaitu emas perhiasan perempuan dan emas simpanan. Emas perhiasan yang dipakai dan dimiliki perempuan tidak wajib zakat. Sedangkan emas selain itu, yakni emas lantakan dan emas perhiasan tapi dimiliki laki-laki maka wajib zakat apabila sampai nisob dan haul.

An Nawawi dalam Roudoh At Tolibin, hlm. 2/260, menjelaskan:

: أَمَّا الْحُلِيُّ الْمُحَرَّمُ فَتَجِبُ الزَّكَاةُ فِيهِ بِالْإِجْمَاعِ انتهى
Artinya: Perhiasan emas yang diharamkan maka wajib bayar zakat berdasarkan ijmak (kesepakatan ulama).

Apa maksud emas yang diharamkan? Dalam Al-Mausuah Al-Fiqhiyah, hlm. 18/113, dijelaskan:

اتفق الفقهاء على وجوب الزكاة في الحلي المستعمل استعمالاً محرماً , كأن يتخذ الرجل حلي الذهب للاستعمال
Artinya: Ulama sepakat atas wajibnya zakat atas perhiasan yang dipakai dengan pemakaian yang haram seperti laki-laki memakai perhiasan emas.

URAIAN

Harta penghasilan (al-mal al-mustafad) terbagi dalam dua jenis: pertama, harta simpanan yang bertumbuh (nama' al-ashl) seperti laba perdagangan atau hasil produksi, maka laba tersebut digabung dengan harta pokok dan membayar zakat juga digabungkan dengan harta pokok (berdasarkan omset) walaupun harta tambahan tersebut belum sampai setahun.

Kedua, harta simpanan yang tidak bertumbuh (ghair nama' al-ashl) seperti zakatnya harta hasil simpanan dari kelebihan gaji bulanan seperti dalam kasus Anda. Dalam hal ini ada dua pandangan ulama yang berbeda.

a) Madzhab Hanafi berpendapat bahwa harta simpanan digabungkan pada harta pokok walaupun tidak bertumbuh darinya. Dengan demikian, maka wajib bagi pegawai penerima gaji bulanan untuk menghitung kapan hartanya sampai nishab. Kemudian, setelah tiba masa haul (setahun) menurut hitungan hijriah, maka dia hendaknya membayar zakat seluruh harta yang dia miliki termasuk harta simpanan gaji yang belum sampai setahun. Ini hukumnya wajib.

b) Madzhab Syafi'i dan Hambali berpendapat berbeda. Menurut kedua madzhab ini, harta simpanan yang tidak bertumbuh itu dihitung secara tersendiri. Misalnya, ketika harta mencapai nishab seperti bulan Ramadan 1439, maka saat itulah si pemilik mulai menghitung waktu dan menunaikan zakat pada Ramadan 1440. Sedangkan harta kelebihan gaji yang dihasilkan pada pertengahan tahun, misalnya bulan Rajab 1439, maka ia dikeluarkan zakatnya pada bulan Rajab 1440. Namun demikian, apabila pemilik harta hendak membayar zakat dari harta kedua itu bersamaan dengan harta pertama pada bulan Ramadan 1440, maka itu dibolehkan dengan niat menyegerakan zakat (ta'jil al zakat). Karena menurut madzhab Syafi'i dan Hambali, menyegerakan bayar zakat yang belum waktunya ditunaikan itu dibolehkan.

Ibnu Qudamah dalam Al Mughni, hlm. 2/258, menjelaskan (ini ibarot dari jawaban di atas):

وإن كان عنده نصاب لم يخل المستفاد من ثلاثة أقسام: أحدها: أن يكون المستفاد من نمائه كربح مال التجارة، ونتاج السائمة، فهذا يجب ضمه إلى ما عنده من أصله، فيعتبر حول بحوله، لا نعلم فيه خلافاً، لأنه تبع له من جنسه، فأشبه النماء المتصل، وهو زيادة قيمة عروض التجارة. الثاني: أن يكون المستفاد من غير جنس ما عنده، فهذا له حكم نفسه، لا يضم إلى ما عنده في حول ولا نصاب، بل إن كان نصاباً استقبل به حولاً وزكاة، وإلا فلا شيء فيه، وهذا قول جمهور العلماء.. الثالث: أن يستفيد مالاً من جنس نصاب عنده قد انعقد عليه حول الزكاة بسبب مستقل، مثل أن يكون أربعون من الغنم مضى عليها بعض حول، فيشتري أويتهب مائة، فهذا لا تجب فيه الزكاة حتى يمضي عليه الحول أيضا وبهذا قال الشافعي، وقال أبو حنيفة يضمه إلى ما عنده في الحول ، فيزكيهما جميعا عند تمام حول المال الذي كان عنده ،
Artinya: Apabila dia memiliki harta yang mencapai nisob, maka penghasilannya tidak lepas dari tiga macam: pertama, penghasilan dari harta yang bertumbuh seperti laba harta dagangan, hasil ternak, maka wajib digabungkan dengan harta pokok. Maka masa haulnya ikut pada haulnya harta pokok. Dalam hal ini ulama sepakat. Karena ia ikut pada jenisnya sehingga menyerupai pertumbuhan yang terkait yaitu bertambahnya harta barang dagangan. Kedua, penghasilan tidak sejenis. Ini memiliki hukum tersendiri dan tidak digabungkan dengan harta yang lain dari segi haul dan nisob. Apabila ia mencapai nisob maka ia disendirikan dari segi haul dan zakatnya. Apabila tidak sampai, maka tidak ada kewajiban zakat atasnya. Ini pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Ketiga, memiliki penghasilan harta sejenis dengan yang dimiliki sebelumnya, maka sah baginya haul zakat dengan sebab yang tersendiri. Misalnya, memiliki 40 kambing yang sudah lewat masa haul. Lalu dia membeli atau menerima hadiah 100 kambing lagi. Maka, kambing yang terakhir tidak wajib zakat kecuali setelah sampai masa haul juga. Ini pendapat madzhab Syafi'i. (namun) menurut Abu Hanifah (madzhab Hanafi) harta kedua dikumpulkan atau digabung dengan harta pertama yang sudah mencapai haul. Jadi, kedua harta tersebut dizakati bersamaan ketika harta pertama sudah sampai haul.

Baca detail:
- Panduan Zakat
- Sedekah

Dapatkan buku-buku Islam karya A. Fatih Syuhud di sini.. Konsultasi agama, kirim via email: alkhoirot@gmail.com


EmoticonEmoticon